Oleh-oleh Seminar Pendidikan bersama Arief Rachman (bagian 2)

Bagian 1 dari materi ini bisa dibaca di Oleh-oleh Seminar Pendidikan bersama Arief Rachman dan Neno Warisman (bagian 1).

Mengenai pendidikan karakter

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D (2004), Pendidikan Karakter adalah upaya sadar dan yang disengaja serta terprogram untuk menolong manusia agar mengerti, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar ETIKA. Kita menginginkan anak-anak untuk mampu menilai apakah sesuatu itu BENAR, PEDULI terhadap sesuatu yang BENAR, dan MELAKUKAN yang mereka yakini sebagai sesuatu yang BENAR, meskipun dalam keadaan yang TERTEKAN dan DILEMATIS.

Sentuhan pembelajaran itu harus mencakup ETIKA (nilai IMAN yang menunjukkan mana yang halal dan haram), ESTETIKA (PERASAAN hati enak atau sebel), LOGIKA (AKAL yang menunjukkan benar dan salah).

Masuk akal nggak suami selingkuh karena istrinya marah aja?

Perasaan enak nggak selingkuh?

Tapi halal apa haram ya?

Sedikit saya kutip tulisan mengenai Iman, Akal, dan Perasaan dari buku Arief Rachman Guru (Esensi, 2015), yang dibagikan gratis kepada seluruh peserta acara ini.

Allah SWT memberi manusia bekal yang sangat luar biasa, yakni iman, akal, dan perasaan. Dengan iman, seseroang bisa mengetahui apakah pilihannya sudah selaras atau membentur norma agama yang dianutnya. Dengan akal, seseorang mampu memilah dan memilih untuk melakukan sesuatu yang berarti, sehingga hidupnya makin berkualitas. Serta, tahu mana yang benar dan salah. Sedangkan dengan perasaan, seseorang dapat menimbang-nimbang kadar estetika suatu benda, kejadian dan pengharapan sehingga tetap dapat menyenangkan diri tanpa menyakiti hati orang lain.

Semakin gila sebuah zaman, semakin berat pilihan-pilihan yang datang ke hadapan kita. Maka, tak ada pilihan lain, dalam memilih dan memilah. Hendaknya iman yang memimpin. Bisa jadi, menurut akal, hal itu tepat, dan menurut perasaan juga menyenangkan. Tetapi, menurut iman, hal itu berbenturan dengan aturan dari Allah SWT. Hanya iman yang bisa membuat kita selamat dunia dan akhirat.

Aturannya kalau punya masalah harus dibicarakan dan diselesaikan, jangan dirahasiakan. Disinilah kadang-kadang sekolah menjadi lemah, karena takut pada dinas atau pemerintah. Padahal harusnya takutlah kepada Allah.

 

Nilai karakter

Jadi bagaimana caranya menanamkan nilai karakter bisa ditanamkan dalam diri anak?

  1. Harus dekat dengan Allah
  2. Harus jujur pada diri sendiri.
  3. Harus sadar kepada lingkungan
  4. Dan Mempunyai nilai kebangsaan

Dengan Tuhan: tercermin dari sikap bertakwa dan religius

Dengan Diri Sendiri: tercermin dalam sikap jujur, bertanggungjawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, kreatif, inovatif, mandiri, mempunyai rasa ingin tahu.

Dengan sesama dan lingkungan: tercermin dalam sikap sadar hak dan kewajiban, patuh pada aturan sosial, menghargai karya orang lain, santun dan demokratis, peduli sosial dan lingkungan.

Nilai kebangsaan: tercermin dalam sikap nasionalis dan menghargai keberagaman, pemahaman terhadap budaya dan ekonomi.

Proses Pendidikan harus memperhatikan nilai personal (nilai-nilai keluarga, adat istiadat, lokal), interpersonal (kekuatan berkomunikasi dalam ke-‘Bhinekaan Tunggal Ika-an), interkultural (memahami kekuatan perbedaan bangsa, ras, agama lain), dan global (masalah ekonomi, perdamaian dan lingkungan). Harus ada kegiatan dengan sekolah-sekolah lintas agama dan ras. Jadi anak kita biasa jika harus bergaul dengan keberagaman di dunia global.

Profesionalisme Guru

Seseorang dikatakan memiliki profesionalisme yang baik jika memiliki 6 hal berikut:

  1. Values / Nilai
  2. Ethic / Etika
  3. Attitude / Sikap
  4. Habits / Kebiasaan
  5. Knowledge / Ilmu Pengetahuan
  6. Skill / Keterampilan

Guru yang diharapkan adalah yang berorientasi pada siswa (pupil centered), dinamis, dan demokratis. Ada 4 mutu guru yang diharapkan, yaitu: Kemampuan AKADEMIS yang mumpuni, secara PSIKOLOGIS harus stabil, secara METODOLOGI pembelajaran bervariasi, dan secara SOSIOLOGIS memiliki banyak teman.

slide
Pak Arief Rachman menunjukkan kecederungan sifat guru

Pak Arief menunjukkan sebuah diagram yang menunjukkan kecenderungan sikap guru yang stabil dan tidak stabil. Jadilah guru berhati tenang dan sejuk, bersemangat, gembira dan hangat. Guru itu harus hati-hati, tenggang rasa, damai, terkendali, dapat dipercaya dan emosinya seimbang. Ia juga harus optimis, aktif, bermasyarakat, berorientasi gembira, pemimpin yang merdeka, fleksibel dan memahami perbedaan, dan senang berkomunikasi.

Jangan jadi guru yang dingin, gampang sedih, atau malah gampang bergejolak dan panasan. Guru tidak boleh gampang murung, tegang, tidak bersemangat, penuh perhitungan, kaku, dingin, pendiam, pasif, perasa, tidak tenang, agresif negatif, dan berubah-ubah. “Guru yang kaya begini biasanya cepat meninggal,” kata Pak Arief yang disambut tawa panjang para peserta.

Pak Arief mengajak peserta untuk mendendangkan Lagu Taman Kanak-kanak,

Taman yang paling indah hanya taman kami. Tempat bermain berteman banyak. Itulah taman kami taman kanak-kanak.

Setelah SMP menjadi: Tempat mendengar, tidak boleh bicara.

Masuk SMA lebih gawat lagi, menjadi: Tempat penjara.

Menurut Prof.Dr.Conny R.Semiawan, guru besar IKIP Jakarta dan penasihat Labschool, SU – asana sekolah sekolah itu harus mengundang. Jadilah guru yang dirindukan siswanya.

Ada anak TK yang tidak mau sekolah karena gurunya galak. E…malah sama orangtuanya dimarahi, “Ade, sekolah itu mahal tau!”

“Bagaimana mau senang sekolah kalau SU – asana tidak menyenangkan,” cerita Pak Arief sambil mempraktekkan guru TK yang galak. “BARIS. Lurus ke depan pegangan tangan. Nanti hilang! Ya Alloh sabaraha kali dibejaan ieu. Ceurik deui…ceurik deui…”  Horor banget nggak sih ada guru model begini?

10S bersama Pak Arief Rachman

Guru harus ingat 10 S.

Senyum – sambil jari telunjuk ditempelkan ke pipi dan kepala digoyangkan ke kiri dan ke kanan.

Salam – sambil tangan kanan dibuka dan digoyangkan

Sapa – sambil kelima jari dibuka dan ditutup

Sabar – sambil mengeluskan tangan ke dada

Syukur – sambil tangan dibuka sejajar pundak

Sehat – sambil tangan dikepalkan sejajar dada

Sugih (kaya) – sambil tangan kanan dikepalkan dan ditempatkan mendekat dengan tangan kiri

Semangat – sambil tangan kanan dikepalkan dan diangkat sejajar dagu

Sukses – sambil tangan kanan dikepalkan dan ditinjukan sejajar dada.

Surga – telapak tangan dibukan dan dihadapkan di atas.

 

Biasanya orang menyepelekan SENYUM, SAPA, dan SALAM. Padahal dari sanalah kita mulai mengisi kehidupan. Sikap SABAR dan SYUKUR adalah perisai hidup kita, yakni ketika kekurangan kita bersabar dan ketika berlebih atau dicukupkan kita bersyukur. Tuhan memberi modal SEMANGAT, SEHAT, dan KEKAYAAN kepada kita tak lain untuk beribadah kepada-Nya. Dengan demikian, diharapkan ktia bisa SUKSES di dunia dan selamat di akhirat, sehingga mencapai rida Allah dan ditempatkan di SURGA-Nya. (dari Buku Arief Rachman Guru, hal 22)

Pak Arief menceritakan pengalamannya bertemu guru yang masuk dengan galak meminta murid membuka bukunya. “Kenapa sih ketus amat jadi guru?”

“Alah, uang transport kecil saja minta macam-macam,” kata Pak Arief menyuarakan isi hati sebagian guru.

Kalau HATInya sudah beres, OTAKnya bener, PERASAANnya hangat, BADANnya kuat, SILAHTURAHMInya keren, pasti pendidikannya melejit. Bagi kita rengking tidak lagi terlalu perlu. Tapi di mata Allah harus benar dulu. Dengan mengingat Kuatkan Imanku, semestinya tidak ada yang perlu ditakutkan.

Sebuah ilustrasi kocak yang menunjukkan bagaimana rasa takut membuat seseorang menjadi tidak mau terbuka. Seorang bapak mengatakan bahwa ia pernah mengaku pada istrinya, “Bu, kayanya Bapak mules.”

Istrinya menjawab, “Alah, gitu aja mules. Ibu ngelahirin anak Bapak aja mules nggak bilang-bilang.”

Setelah itu suaminya diam saja. Besoknya istrinya nanya, “Bapak kenapa diem aja? Mules?”

Suaminya jawab, “Ibu ini maunya apa, Bapak ngomong marah, Bapak diem marah.”

“Duit! Mules nih nggak ada duit,” jawab istrinya.

 

Watak yang penting dikembangkan

Dalam slide terakhir, Pak Arief menyampaikan watak yang penting untuk dikembangkan peserta didik:

  • Bertakwa
  • Fleksibel
  • Keterbukaan
  • Ketegasan
  • Berencana
  • Mandiri
  • Toleransi
  • Disiplin
  • Berani ambil resiko
  • Sportif
  • Setia kawan
  • Integritas (jujur, istiqomah, tidak lain kata lain perbuatan)
  • Orientasi masa depan

Sesi pertanyaan

Ketika ada pertanyaan seorang guru mengenai bagaimana caranya untuk bisa sabar menghadapi anak didik, Pak Arief hanya memberikan jawaban pendek. Sabar itu tidak ada batasnya. Guru harus profesional. Jangan guru ikut cengeng saat anak cerita masalahnya.

Selanjutnya ada pertanyaan tentang bagaimana cara mendidik anak menjadi pendengar yang baik. Pertanyaan ini dijawab dengan pertanyaan kembali, “Kita lebih suka diberi contoh atau diberi tahu?” “Diberi contoh,” jawab para peserta serempak.

Guru biasa itu bercerita

Guru pintar itu menjelaskan

Guru bagus itu mendemonstrasikan

Guru super itu menginspirasi.

Syukur memiliki 3 arti. Belum bersyukur jika kita tidak berterima kasih, memelihara nikmat, dan melihat ke depan. Jangan terus terpaku pada masa lalu. Masa depan memiliki banyak harapan atas perubahan yang lebih baik.

“Mengajarlah dengan cita-cita. Mau anak masuk ITB atau masuk surga? Hanya saja jalan untuk masuk surga bisa lebih mudah jika masuk ITB dan memiliki ilmu yang lebih banyak dibandingkan hanya lulus SMA,” kata Pak Arief.

Pesan terakhir dari Pak Arief untuk para guru yang hadir: jagalah kesehatan, janganlah berhenti belajar mencari ilmu – khususnya dari Al Quran dan Hadis, dan jangan putus silahturahmi.

Demikianlah sebuah pemaparan yang luar biasa dari seorang yang benar-benar terlahir untuk menjadi seorang guru, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. Seorang yang melakukan profesinya dengan sepenuh hati, dan membuat profesi guru terasa begitu keren dan luhur. Pemaparan Pak Arief hari ini, benar-benar membuat saya kembali percaya pada profesionalitas institusi pendidikan.

Lebih banyak tentang pemikiran Pak Arief Rachman bisa dibaca dalam buku Arief Rachman Guru yang di tulis berdasarkan catatan Ukim Komarudin (Esensi, 2015).

buku
Buku Arief Rachman Guru, yang dibagikan gratis kepada semua peserta Seminar Pendidikan Peran Guru dalam Membentuk Siswa Berakhlak Mulia

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: