Oleh-oleh Seminar Pendidikan bersama Arief Rachman (bagian 1)

Dalam rangka Milad 27 tahun Lembaga Pendidikan Salman Al Farisi Bandung, pada 21 Agustus 2016 di GSG Mesjid Salman ITB Bandung diadakan sebuah Seminar Pendidikan dengan tema Peran Guru dalam Membentuk Siswa Berakhlak Mulia. Untuk membahas tema ini, diundang pakar pendidikan Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. dan Bunda Neno Warisman untuk bicara didepan 450 orang peserta yang sebagian besar berprofesi sebagai guru.

flyer
Flyer Seminar Pendidikan Arief Rachman dan Neno Warisman

Pak Arief yang menolak CVnya dibacakan moderator, membuka materi pagi itu dengan meminta kameramen dan kamera segede gabannya yang berada di tengah ruangan untuk dipindah.

“Mas, bisa nggak kameranya jangan ada di situ. Itu ada peserta yang tidak bisa melihat saya,” katanya sambil disambut tepukan tangan riuh para peserta.

Serius ya, ini perlu dicatat para penyelenggara acara, jangan pernah sekalipun meletakkan kamera di tengah ruangan. Apalagi jika posisinya setinggi mata peserta. Itu sangat mengganggu bagi para peserta yang ingin melihat pembicara atau mengambil gambar pembicara di panggung. Untung saja Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO sejak 2001 ini cukup peka mendengar jeritan hati peserta.

Kembali ke panggung yang tidak terhalangi, menurut Pak Arief – selain Guru, orangtua dan masyarakat juga memberikan kontribusi besar untuk membentuk siswa berakhlak mulia.

Dari 10 sekolah terbaik di Jakarta, 7 diantaranya adalah sekolah non muslim. Sebuah kenyataan yang menyedihkan. Mengapa ini terjadi? Masih banyak sekolah yang tidak membuat RPP – Rencana Program Pembelajaran. Masih ada guru yang masuk kelas dan bertanya, “Minggu lalu pelajaran kita sudah sampai mana ya anak-anak?”

RPP bukan sekedar untuk dilihat dan ditandatangani oleh kepala sekolah. RPP idealnya dibuat sehari sebelumnya. “Disini RPP dikerjakan nggak?” tanya Pak Arief yang dijawab dengan gelengan kepala di sana sini. “Pulang dari sini, semua buat RPP ya,” pintanya.

Kalau sekolah masuk pk 8.00, Kepala sekolah seharusnya sudah ada di sekolah pukul 7.00 atau 7.15. Pk 7.30 semua guru dikumpulkan untuk menyampaikan rencana pengajarannya. Setiap guru itu semestinya sudah tahu dan mempersiapkan sebaik-baiknya apa yang akan mereka sampaikan di kelas.

 

Pentingnya SU – asana belajar

Menurut UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1, Pendidikan adalah usaha SADAR dan TERENCANA untuk mewujudkan SU – asana belajar dan proses pembelanjaran agar peserta didik SECARA AKTIF  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan SPIRITUAL KEAGAMAAN, PENGENDALIAN DIRI, KEPRIBADIAN, KECERDASAN, AKHLAK MULIA, serta KETERAMPILAN yang diperlukan DIRInya, MASYARAKAT, BANGSA dan NEGARA.

“Mana yang lebih penting materi pelajaran atau SU – asana belajar?” tanya Pak Arief dengan memberikan penekanan yang melengking pada kata SU.

“Apa ada yang dikelasnya, dengan nada kecewa murid-muridnya berkata: Ya…gurunya masuk….?

SU – asana belajar sangat penting. SU – asana itu adalah tanah dimana semua benih pendidikan akan berkembang. Kalau tanahnya tidak subur maka apa pun yang ditanam tidak akan tumbuh dengan baik. SU – asana yang mendukung akan membuat potensi berkembang.

Jadi kalau ada suami yang makin lama makin bodoh, itu bisa jadi karena istrinya tidak bisa memberikan SU – asana. Kalau istri makin lama makin cepat tua – umur 27 seperti 72, itu bisa jadi karena suaminya otoriter. Banyak perempuan yang seperti ini. Dan perempuan yang seperti ini jadi guru lagi!

Makanya jadi kepala sekolah itu tidak boleh menakutkan. Potensi kecerdasan tidak akan sampai dalam SU – asana yang menegangkan. Inovasi dan kreatifitas hanya bisa muncul dari orang yang berani. Bukan orang yang takut. Seperti pada masa Rasulullah, beliau memberikan kebebasan kepada umatnya untuk berpikir, berkreasi dan mengembangkan kemampuannya.

“Coba saya mau tanya: How are you?”

Serentak peserta menjawab: “Fine.”

Aneh ya, ratusan orang jawabannya bisa sama. “I’m fine thank you.” Bahkan lengkap dengan lanjutannya, “And you?” Kenapa tidak ada yang menjawab, I’m Ok? Itu karena gurunya mengajarkan begitu. Tidak timbul kreatifitas.

Pendidikan yang sukses

Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu mengantarkan anak menjadi:

  • Bertakwa
  • Berkepribadian matang
  • Berilmu mutakhir dan berprestasi
  • Mempunyai rasa kebangsaan
  • Berwawasan global

Suksesnya pendidikan itu sebenarnya bukan nilai. Melainkan TAKWA. Menurut QS Al Baqarah 2:177, indikator TAKWA itu adalah Iman, Ikhlas, Sholat, Sabar, dan Syukur.

Ada nggak orang yang sholat terus tapi nggak sabaran?

Ada nggak orang yang sabar tapi jarang sholat?

Ada nggak orang yang sabar, sholat, tapi mengeluh terus?

Ingat QS Ibrahim 14:7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

“Coba para bapak guru pernah bohong sama istri? Ibu guru, apa pernah bohong sama suami atau bergosip tentang temannya sendiri?” yang disambut dengan sejumlah guru yang mesem-mesem.

Kenapa ya itu dilakukan? Padahal kan harusnya beriman itu takut sama Allah. Malah ini bergosip tentang temannya sendiri, pakai bawa-bawa nama Allah. Dilakukan di ruang guru lagi!” sambil Pak Arief menirukan gaya para ibu guru yang asyik bergosip.

Guru juga harus punya rasa rasa kebangsaan. “Betul kita orang Islam, tapi jangan sibuk bela Palestina saja. Coba itu urus banjir di Bandung Selatan. Nomor satu urus bangsa sendiri, baru urus bangsa lain. Garuda di dadaku, ku yakin hari ini pasti menang. Biar kalah, pokoknya yakin saja dulu. Kobarkan semangatku. Tunjukkan sportivitasku.”

Tahapan pembentukan karakter

Karakter itu dibangun melalui tahapan: Disiplin, Kemartabatan (honour), dan Struktur (hierarchy)

A. Disiplin

  • Tanggungjawab (responsibility)
  • Ketepatan kerja (punctuality)
  • Keterikatan (commitment)
  • Keteraturan (orderly manner)
  • Kemampuan (competent)

Karakter itu dibangun dengan Disiplin. Disiplin itu bukan ditegakkan dengan peraturan. Tapi dengan diberi TANGGUNG JAWAB. Jangan disiplin dengan aturan. Itu salah.

“Kalau ingin suami disiplin, coba kasih tanggung jawab. ‘Bapak nanti kalau pulang, tolong pagar di cat.’  Mau dia bayar orang untuk mengerjakannya itu tidak mengapa. Yang penting ada tanggung jawab atas tugas yang diberikan.”

Sekolah harus ada keterikatan dan keteraturan. Menyikapi kasus orangtua yang memukul guru, Pak Arief menceritakan pengalamannya selama 32 tahun menjadi kepala sekolah SMA Labschool Rawamangun Jakarta. Orangtua tidak boleh langsung menemui guru di kelas. Kejadian di Makasar ini, menunjukkan ketidaktaatan orangtua pada peraturan sekolah.

Menurut Guru Besar UNJ kelahiran Malang tahun 1942 ini, tidak semua orangtua itu sopan. Untuk itu tidak dibenarkan orangtua bisa langsung menemui guru atau peserta didik. Ada kepala sekolah yang menjadi tameng untuk melindungi suasana mengajar yang tengah berjalan. Yang namanya kepala sekolah, harus tahu apa yang terjadi di sekolah. Namanya juga KEPALA, kata Pak Arief sambil menunjukkan kepalanya. “Dina sirah teh aya naon?”

Seseorang baru bisa dikatakan sholeh apabila ia IMAN kepada Allah, memiliki ILMU pengetahuan, dan mengAMALkannya untuk kebaikan manusia.

 

 B. Kemartabatan (honour)

  • Kejujuran (honesty)
  • Semangat juang (patriotik)
  • Keberanian untuk benar – adil (courageous)
  • Kemuliaan/kepatuhan/keunggulan (excellent)
  • Ketekunan-keajegan (persistent)
  • Tahan cobaan (perserverence)

Berani karena benar. Bang Imad (Muhammad Imadudin Abdulrahim) dikeluarkan dari ITB atau Pak Arief dikeluarkan dari UNJ berkali-kali. Tidak masalah, nanti menterinya ganti masuk lagi. Yang penting Allah kita pegang. Harus berani pada sesuatu yang adil dan benar.

Ada tidak alumni ITB yang masuk KPK? Alumni UI? Dirjen? Kenapa? Sebab tidak berani mempertahankan yang benar. Ada istri yang menggoda suaminya dengan rayuan gombal untuk ‘sedikit’ korupsi. Untuk itu kita perlu istiqomah.

“Saya sering bertanya pada anak-anak. Lebih baik nilai tinggi tapi nyontek atau nilai rendah tapi Jujur? Bagaimana kalau nggak naik kelas? Biasanya lama anak-anak ini mikir. Makanya kalau mau naik kelas belajar, Sayang…” Jadi anak-anak mengerti tahapan-tahapan dan bisa memilih mana yang benar.

Perbedaan adalah cobaan yang harus kita hadapi. Sekolah ini memang sekolah Islam, tapi harus dididik untuk menghadapi orang yang berbeda agama dan suku.

 

C. Struktur (hierarchy)

  • Mata rantai peraturan (chain of rules)
  • Profesional
  • Kesetiaan (loyal)
  • Kerjasama (teamwork)
  • Ketaatan (obedient)
  • Saling memperhatikan (care-share)

 

21 karakter yang diharapkan

Dalam kesempatan ini, Pak Arief mengajak para peserta yang hadir untuk mengucapkan karakter yang diharapkan pada peserta didik sesuai angka yang beliau sebutkan. Ada 21 karakter yang diharapkan dari peserta didik:

  1. Yakin akan kehadiran Allah SWT
  2. Semangat kerja keras
  3. Berpikir luas dan terbuka
  4. Berusaha untuk sanggup bekerja dan bertanggung jawab
  5. Hangat, optimis dan bersyukur
  6. Bersih, tertib dan rapi
  7. Berani untuk benar
  1. Bersedia memberi dan meminta maaf
  2. Toleran kepada kekurangan (fleksibel)
  3. Penolong
  4. Kreatif, imaginatif, keluar dari kebiasaan untuk hal yang baik
  5. Mandiri, yakin akan kekuatan diri tetapi tetap rendah hati
  6. Mau belajar dan berpikir ilmiah
  7. Ajeg, konsisten memakai nalar
  1. Halus perasaan, kasih, cinta dan sayang
  2. Hormat, disiplin, dan taat azas
  3. Sopan santun
  4. Dapat dipercaya (amanah)
  5. Dapat mengendalikan diri
  6. Bersikap adil dan sportif
  7. Berikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT (bertakwa)

Ragam Potensi Kecerdasan

Ada 5 potensi kecerdasan yang perlu diasah dari peserta didik, yaitu: Potensi spiritual,

Potensi Spiritual:

  • Mampu menghadirkan Tuhan/Keimanan dalam setiap aktifitas
  • Kegemaran berbuat untuk Allah
  • Disiplin beribadah
  • Sabar berupaya
  • Berterima kasih/bersyukur atas pemberian Tuhan kepada kita

Potensi Perasaan:

  • Mengendalikan emosi
  • Mengerti perasaan orang lain
  • Senang bekerjasama
  • Menunda kepuasaan sesaat
  • Berkepribadian stabil

Potensi Akal:

  • Kemampuan berhitung
  • Kemampuan verbal
  • Kemampuan spasial
  • Kemampuan membedakan
  • Kemampuan membuat daftar prioritas

Potensi Jasmani:

  • Sehat secara medis
  • Tahan cuaca
  • Tahan bekerja keras

Potensi Sosial:

  • Senang berkomunikasi
  • Senang menolong
  • Senang berteman
  • Senang membuat orang lain senang
  • Senang bekerjasama

Untuk memberikan pemahaman lebih terhadap kelima potensi ini, Pak Arief mengajak para peserta untuk mengikuti gerakan beliau.

Kuatkan Imanku (Potensi Spiritual),” sambil tangan diletakkan di dada.

Haluskan Perasaanku (Potensi Perasaan),” sambil tangan mengelus dada.

Cerdaskan Akalku (Potensi Akal),” tangan diletakkan di pelipis kanan.

Sehatkan Badanku (Potensi Jasmani),” dengan tangan dikepalkan.

Eratkan Silahturahmiku (Potensi Sosial),” dengan tangan saling bergandengan dengan teman di sebelah.

Mantan guru bahasa Inggris yang telah mengajar selama lebih dari 50 tahun ini, juga menyampaikan padanan kata diatas untuk bisa dipratekkan dengan murid-murid di sekolah,

  • My Heart
  • My Feeling
  • My Head
  • My Hand
  • My Friend
  • My Behavior
  • My Feeling
  • My Brain
  • My Body
  • My Body Guard

Karena terlalu panjang, materi ini dilanjutkan ke Oleh-oleh Seminar Pendidikan bersama Arief Rachman dan Neno Warisman (bagian 2).

Peserta
450 peserta seminar memenuhi RSG Mesjid Salman Bandung

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: