Kulwap #ODOPfor99days bersama Carolina Ratri

Setelah Kulwap pertama bersama Monica Anggen, pada Kulwap kedua dalam semester 2 #ODOPfor99days kami mendatangkan mastah nge-blog dari Yogyakarta, Carolina Ratri. Bagi para blogger – khususnya saya, buku Blogging: Have fun and get the money (Stilletto Book, 2015) dan blog carolinaratri.com adalah panduan penting untuk menjelajahi dunia perbloggeran.

Tidak hanya sebagai blogger aktif, ibu 2 anak usia 7 dan 5 tahun ini juga menggawangi portal Rocking Mama!  dan Marketing Communicator pada penerbit Stiletto Book. Ratri sendiri sudah mengeluarkan sekitar 20 buku dalam bentuk ontologi fiksi dan indie. Tiga diantaranya buku dengan nama sendiri.

Kok dia bisa? Kok saya nggak?

Padahal kami sama-sama mantan mahasiswa Arsitektur loh. Ratri ternyata jebolan Teknik Arsitektur UGM angkatan 1996 yang sempat malang melintang sebagai desainer pada sebuah perusahan arsitektur, interior dan furniture.

Karena penasaran sama kesaktian Ratri, jadilah kami melayangkan sejumlah pertanyaan yang dijawab Ratri dalam Grup WhatsApp #ODOPfor99days pada Jumat, 19 Agustus 2016 pk 9.00 – 10.00 WIB.

Pertanyaan dan Diskusi

#1 Pertanyaan Anittaqwa Elamien – Surabaya 

Akhir-akhir ini saya kok kehilangan gairah menulis bukan sekedar writing block tapi lebih parah lagi, just saya asyik dengan kegiatannya baru. Bagaimana ya cara mengembalikan semangat menulis?

Jawaban:

Been there done that.  

Kalau sudah asyik dengan mainan baru, memang kadang jadi bikin lupa ya. Tapi, biasanya sih, kalau memang sudah mencintai menulis ya kita akan balik lagi kok. Ada rasa kangennya gitu. Cuma, kalau ditinggalin lama-lama jadi berasanya kayak pedekate lagi ya. Uhuk. Jadi lama aja gitu adaptasinya lagi.

Pelan-pelan saja. Pertama buka dulu dengan membaca tulisan-tulisan lama kita. Kita jadi merasa dekat lagi dengan kegiatan menulis. Lalu lanjut dengan membaca-baca tulisan lain yang bergizi, yang sesuai minat. Jangan baca yang bikin emosi ya, macam berita politik atau berita gosip. Etapi kalau minatnya di politik dan entertainment ya bisa aja sih dua jenis berita itu membakar semangat.

Intinya pancing semangat nulis dengan membaca. Otak ibarat tubuh. Saat dia dikasih nutrisi yang cukup, maka keluarnya juga yang sehat-sehat. Tinggal nutrisi sehat yang tujuannya buat apa kan? Kalau buat nulis, ya banyak baca. Kalau saya sih, it works everytime. Kadang abis baca terus ya, bisa langsung nulis based on apa yang dibaca. Dikembangkan sendiri.

Makin banyak nulis, makin peka kita bisa menangkap ide.

 

#2 Pertanyaan Eva Novita Ungu – Tangsel 

Bagaimana cara mengelola blog supaya layak jual. Apa harus fokus pada satu tema atau beragam tema?

Jawaban:

Saya, pribadi, menyarankan agar teman-teman fokus ke satu tema atau niche. Kenapa? Karena dengan demikian teman-teman sebagai blogger akan lebih mudah dikenali. Misalnya nih, tema ditentukan dari awal adalah parenting. Parenting ini juga masih luas sih. Bisa dipersempit lagi.

Misal, toddler parenting, atau teen parenting. Dengan demikian lebih gampang dikenal, oh si Ibu A itu ya, yang suka nulis teen parenting. Kalau ada hal-hal yang pengin diketahui mengenai teen parenting, orang akan langsung menuju ke blog Ibu A. Nggak akan ke yang lain. Karena pasti di sana, ditemukan jawaban dari permasalahan yang dialami.

Dengan niche atau tema yang kuat, teman-teman juga akan lebih mudah “ditemukan” oleh brand/agency yang membutuhkan jasa teman-teman. Dan pasti kebanyakan yang datang, pasti yang cocok juga dengan tema blog teman-teman.

Bukannya blog dengan beragam tema itu nggak bagus. Bagus juga. Boleh kok, tapi usahakan ada satu kategori yang lebih menonjol ketimbang yang lain.

Dengan blog berniche, kita juga lebih kreatif meramu konten lho. Kayak saya kemarin, diminta untuk bantuin teman campaign soal reksadana. Bagaimana ya, caranya supaya tidak memaksakan masuk ke niche blog saya yang creative writing? Akhirnya saya pilih angle dari sudut freelancer yang lagi mau bikin dana pensiun. Angle tulisan yang berbeda seperti ini biasanya disukai banget sama agency/brand. Kalau mereka suka, next mereka pasti akan nyari lagi kalau butuh. Amin yaaaa.

 

#3 Pertanyaan Monika Puri Oktora – Belanda 

Bagaimana cara mengatasai procrastination saat menulis. Jadi pas nulis tu kadang suka meleng, tadinya cuma mau nyari ‘sinonim kata’ lewat thesaurus, atau cuma mau browsing suatu bahan tulisan. Eh malah merembet browsing yang lain, terus mampir sosmed dan lain-lain deh.

Jawaban:

Eh itu mah penyakit yang biasa menjangkiti kita ya. 

Pekerjaan menulis, termasuk menulis blog, memang bukan pekerjaan yang bisa dianggap gampang. Butuh fokus dan konsentrasi tinggi. Makanya sebelum mulai nulis, singkirkan dulu semua pengganggu.

Menulis blog perlu fokus dan konsentrasi tinggi. Jadi singkirkan semua pengganggu.

Kalau saya caranya gini, saya harus siapkan dulu outline sebelum menulis. Outline selesai, saya cari waktu yang benar-benar bebas gangguan. Saat saya mulai menulis, ya fokus nulis. Just write away. Nggak boleh sambil liat tesaurus, ga boleh sambil riset dll. Cuma nulis. Ancur ya biarin. Pokoknya selesaikan dulu. Karena riset kan seharusnya sudah kita lakukan saat ngerjain outline. Masalah typo dan tesaurus itu kita kerjakan nanti saat self editing. Pokoknya tulis dulu. 

Nulisnya selesai, baru editing. Ini sambil buka tesaurus, buka rima kata dsb. Edit edit. tidak boleh buka medsos sama sekali. Kalau lagi nulis pun, hp selalu saya silent.

 

#4 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin – Bandung

a. Bagaimana ceritanya awal menekuni bidang menulis padahal sebelumnya sempat kerja dalam bidang desain?

Jawaban:

Awalnya ya karena ngeblog. Ngeblog sesuka hati. Terus suka bikin flashfiction. Terus belajar nulis gratisan di blog teman-teman yang lain. Akhirnya keterusan sampai nulis buku dan sekarang urus portal media online. Udah nasibnya ke situ kayaknya.

 

b. Mau tau dong bagaimana ceritanya bisa menggawangi RockingMama yang bagian dari Zetta Media? Padahal Ratri di Yogya dan bukan di Jakarta?

Jawaban:

Itu juga #berkahngeblog tuh. Saya awalnya karena teratur update blog, dan saya share di medsos. Eh, ternyata diamati sama Mas Brilliant Yotenega, founder nulisbuku.com. Akhirnya suatu hari pas Mas Ega datang ke Jogja, saya ditawari untuk bikin portal khusus mama-mama itu. Katanya sih, gaya tulisan saya pas banget sama yang dia cari.

Alhamdulillah ya. Portal media online seperti itu kan nggak terbatas ruang ya. Karena dikerjakan secara online. Jadi bisa dikerjakan oleh siapa pun yang punya koneksi internet. Sudah gitu aja sih. 

 

c. Apa sih beda yang penting saat menulis untuk media online dengan artikel di majalah?

Jawaban:

Sebenarnya sama saja sih. Mungkin di majalah tampaknya lebih ‘mentereng’. Tapi sekarang majalah banyak yang tutup. Beberapa majalah kesayangan saya sudah tutup lho. Kayak Chic, Sekar …  hiks. Katanya sih kalah berkembang sama media online. Majalah mahal sih ya, sedangkan media online kan cenderung lebih murah buat orang-orang. Asal punya kuota kan bisa baca-baca.

 

d. Siapa penulis favorit Ratri dalam dan luar negeri? Kenapa suka mereka?

Jawaban:

Penulis favorit dalam negeri aku banyak, Mbak. Aku suka Agus Noor, SGA, Yetti AKA, Ucu Agustin, Djenar Maesa Ayu, Clara Ng … Banyak! Kalau luar negeri, siapa ya? Kayaknya nggak gitu ngefans sama tulisan penulis tertentu sih kalau luar. Tergantung bukunya aja.

Saya suka banget mereka karena tiap kali selesai baca buku mereka, tiba-tiba semangat menulis saya hidup. Tulisan mereka tuh mood booster banget!

 

e. Ratri biasa menulis berapa jam sehari? Menulisnya di kantor atau di rumah?

Jawaban:

Wah, berapa jam yaaa. Kan aku freelancer. Jadi nggak harus ada di kantor 9 – 5 tiap hari. Jadi aku bisa bebas menentukan sendiri waktu kerjaku. Biasanya sih aku nulis justru di weekend. Sabtu, itu aku bisa seharian nabung artikel. Minggu kalau sore aja sih, karena Minggu siang aku buat anak-anak kalau mereka pengin jalan-jalan. Sehari-hari, aku paling edit-edit aja karena itu aja sudah time consuming ya.

(Diskusi lanjutan)

Target 10 artikel tiap Sabtu Minggu. Kadang tercapai kadang enggak. Kalau nggak tercapai ya nggak apa-apa. santai aja. Kan pemyebabnya saya juga tahu. Intinya, tertarget tapi santai.

Asal anak-anak sudah asyik punya mainan sendiri, aku bisa nulis. Dopingnya kopi palinganlah.

Itu disiapin dulu outlinenya. Jadi tinggal tulis aja. Menyiapkan outline kan bisa kapan pun di mana pun. Dioret-oret di mana pun bisa. Sambil nunggu jemput anak aku juga ngoutline

Tanggapan Miranti:
Mba Ratri, kalo nulis outlinenya cuma di awang-awang maksudnya tidak ditulis di kertas, enaknya diapain yah? Ngebayangin bikin outline di laptop juga kok males yah.

Jawaban:
Kalau di awang-awang itu ketiup angin langsung terbang. Makanya aku selalu bawa notes ke mana-mana.

 

#5 Pertanyaan Dessy Natalia Engel – Bandung 

a. Mba Carra kan punya 2 orang anak dan saya lihat produktif sekali dalam menulis, biasanya kapan waktu yang tepat untuk menulis di rumah?

Jawaban:

Ya itu aku alokasikan. Aku bisa nulis kalau anak-anak sekolah, atau pas mereka tidur. Dan itu aku efektifkan banget. No medsos, hanya menulis.

 

b. Bagaimana cara untuk menentukan prioritas pekerjaan, karena selain blogger, Mba Carra juga bekerja di Rocking Mama dan Stiletto Book? Kadang saya nggak bisa membagi waktu yang baik antara menulis artikel, pekerjaan dan penelitian saya. Ketika harus fokus, yang lain benar-benar ditinggalkan. Bagaimana mba Carra menyiasati pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Jawaban:

Aku bikin time pie. Jam 7 – 9, aku editing RM. Jam 9 – 14 aku ngerjain kerjaan Stiletto Book (masih disela dengan jemput anak sekolah, nyiapin makan mereka dll), terus abis itu aku urus anak-anak. Mandi, belajar, makan malam dll. Terus malam (tergantung aku siumannya jam berapa) aku bisa pake lagi buat nulis atau editing 

 

#6 Pertanyaan Marina Yudhitia Permata – Bandung

Apa ada tips khusus atau do/donts nya jika kita mau membukukan postingan yang ada di blog? Bagaimana membuat penerbit tertarik, padahal pengunjung blog kita masih sedikit?

Jawaban:

Tergantung bahasan blognya ya. Kalau memang topiknya oke, ya bisa saja langsung dikirimkan ke penerbit. Cek saja ketentuan kirim di masing-masing penerbit, karena beda-beda ya. Lalu dipatuhi.

So far sih saya sudah melamar Mbak Ridha Innatika dan Mbak Fitriani Firmansyah, yang dua-duanya food blogger, membukukan blog mereka, bisa dibilang gitu kan ya. Kenapa? Karena memang saat itu Homemade MPASI dan Bento lagi trending ya. Ndilalahnya dua-duanya penjualannya bagus 

Bagaimana membuat penerbit tertarik, ya balik lagi ke konten dan topik, Mbak. Makanya ayo, bikin konten yang bagus dengan topik yang fokus. Kalau topiknya ke mana-mana penerbit juga bingung, ini nanti bukunya bahas apa. 

 

#7 Pertanyaan Afina Raditya – Bandung

Kalau boleh tahu, penghasilan mba Carra dari menulis kira-kira berapa?

Jawaban:

Berapa penghasilan sebagai penulis?
Banyakkkkk buanget, Mbak! Sampe nggak bisa diitung!
Saya bisa bergabung di banyak project, saya kenal dengan orang-orang hebat di dunianya, saya punya ilmu banyak, saya diajak jadi narasumber, saya ditarik menjadi managing editor, saya bikin buku, saya nulis di blog …

Banyak banget kan? 

 

#8 Pertanyaan Wini Nirmala Gunawan – Bandung

Mbak Ratri, pernah dapet komen nggak enak? Bagaimana menanggapinya?

Jawaban:

Seriiiing. Apalagi di artikel-artikel viral. So far saya cuekin aja sih. Pendapat kan boleh beda-beda ya. Kalau semua dibaperin, kita nggak akan pernah maju. Ya down sebentar sih. Abis itu, ah, cuek aja. Tapi kita juga perlu bijak saat berpendapat. Saya misal, kalau soal-soal yang sensitif mendingan keep it private aja. Saya orangnya males ribut soalnya. Down mah biasa. Tapi ya aku prinsipnya, kalau aku nggak merugikan orang secara fisik, mental dan materi, aku nggak akan terlalu musingin.

 

#9 Pertanyaan Miranti Ridla – Bandung

Bagaimana bisa posting artikel di RM? Apa ada jalur khusus buat member grup ini?

Jawaban:

Biasanya aku akan buka lapak nanya kali ada yang punya draft yang sesuai atau artikel di blog. Biasanya aku akan minta link artikelnya ditulis di kolom komen. Nah kalau sesuai, aku akan minta repost di Rocking Mama.

Nah, nanti kalau sudah ada draf di RM, aku akan ajak gabung di RM Writing Labs. Di sana kita akan share dan brainstorming bareng. Sebenarnya bebas aja sih mau posting di RM. Langsung sign in aja kok.

 

Pesan penutup

Tidak terasa 1 jam akhirnya berlalu dengan penuh gizi. Semangat menulis langsung tumbuh berkembang. Apalagi setelah tahu bahwa Ratri bisa sehebat sekarang setelah berpengalaman nge-blog sejak sekitar 10 tahun lalu. Buat kita-kita yang baru nge-blog 1-2 tahun, harus tetap semangat untuk menjalani proses ini. Coba deh simak pesan penutup dari Carolina Ratri berikut:

Ya itulah ya, teman-teman, nikmati saja setiap prosesnya. Jangan buru-buru mikirin hasil. Fokus saja pada apa yang dikerjakan sendiri. Saling berbagi, keep learning. Karena perkembangan zaman itu luar biasa banget.

Intinya, ya kalau setengah-setengah ngerjainnya, hasilnya juga akan setengah aja. Kalau males, ya ntar rezeki juga angot-angotan dateng. Harus dicari cara masing-masing supaya terus semangat.

Terima kasih banget mood boosternya Ratri. Rasanya jadi semangat….semangat….semangat….

Sampai jumpa di Kulwap #ODOPfor99days selanjutnya bersama Langit Amaravati.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Kulwap #ODOPfor99days bersama Carolina Ratri

  • August 24, 2016 at 4:25 pm
    Permalink

    Ow em ji.
    Makasih, Mbak, udah dibikinin resume. Grupnya keren sangadlah!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: