Repotnya Mempersiapkan Pernikahan

Pada 7 Agustus lalu, adik terkecil kami, yang biasa dipanggil dengan Mang Kiki melangsungkan pernikahan dengan Tante Reta. Suasana persiapan pesta pernikahan yang penuh dengan pernak pernik mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri ketika mempersiapkan pernikahan di tahun 2006.

Ketika saya menikah dulu, itu merupakan acara pernikahan pertama dalam keluarga. Masih newbie lah. Riweuh abis! Rasanya saya trauma urusan mempersiapkan pernikahan. Sampai saya berpikir, mungkin sengaja persiapan pernikahan dibuat bikin stress dan riweuh, supaya orang jangan pernah kepikiran buat menikah lebih dari satu kali seumur hidup.

Saat itu kami belum tahu apa itu Wedding Organizer. Jadi semua printilan diurus satu-satu. Berikut sejumlah keriweuhan yang terjadi yang sempat saya ingat:

Repot #1 Urusan gedung

Urusan dapat gedung pernikahan di Bandung bukan hal yang gampang. Urusan tanggal baik dari para tetua untuk hari menikah dikesampingkan demi tanggal cantik atau kapan saja gedungnya kosong. Gedung dulu yang utama katanya. Setelah gedungnya dapat, baru catering dan lain-lainnya dengan mudah disesuaikan.

Maka mulailah kami berdua keliling dari satu gedung ke gedung yang lain. Ada kira-kira setengah lusin lebih gedung yang kami datangi satu persatu. Ternyata cuma ada 1 yang available dalam waktu terdekat.

Kami pun dengan penuh suka cita laporan ke Papa bahwa ada gedung yang tersedia untuk tanggal tertentu.

Dan Papa pun malah marah-marah. “Nggak ada ngomongin gedung sebelum lamaran!”

O…harus lamaran dulu ya? Baru tau…

Kami itu ketemu di kantor pada bulan Agustus 2005. Dari awal memang sudah niatnya mau menikah. Maklum sudah sama-sama uzur. Jadi di awal 2006 kami sudah sounding ke keluarga. Seperti biasa, muncul dengan ide naif, kami saling mencintai dan ingin sekedar akad nikah dengan sederhana di mesjid dalam waktu yang sesegera mungkin. Nggak pake riweuh, nggak pake mahal.

Sebuah ide yang langsung ditolak mentah-mentah. Terlebih mengingat karena kami berdua anak pertama yang orangtuanya sudah ngebet lihat anaknya duduk di pelaminan di gedung.

Kembali soal gedung vs lamaran. Papa nggak ngasih ijin memberikan uang muka gedung sebelum lamaran. Kalau lamaran dulu, gedungnya keburu disamber orang lain. Bisa nggak jelas lagi kami nikahnya kapan. Bisa jadi malah di tahun depan. Padahal saya nggak mau banget jarak antara lamaran dan menikah lama-lama. Apalagi hanya karena urusan nunggu gedung doang!

Saya kesel. Papa marah-marah. Mama ikutan ribut.

Akhirnya diputuskan lamaran di bulan Februari 2006 dan Papa mengikhlaskan gedung Balai Sartika di DP kan hanya beberapa hari sebelum lamaran untuk tanggal 17 Juni 2006.

Dipikir-pikir lamaran itu acara yang fake banget ya. Seolah-olah kita baru dilamar. Kemudian ditanya mau apa nggak. Padahal itu jelas-jelas gedung sudah dibooking. Jadi mengerti kenapa Papa nggak mau booking gedung sebelum lamaran.

Riweuh #2 Urusan Catering

Gedung sudah, sekarang catering. Dari sejumlah kandidat catering inceran, mulailah didatangi satu demi satu. Lihat menunya. Lihat harganya. Mau pesannya berapa banyak.

Kalau cetak undangan 500 lembar itu artinya kita harus pesan catering yang untuk berapa porsi?

Apa otomatis 1000 porsi? Bagaimana kalau banyak yang tidak hadir karena banyak undangan yang sifatnya pemberitahuan untuk kenalan luar kota? Bagaimana dengan keluarga yang jumlahnya bisa ratusan dan biasanya datang tanpa perlu undangan pulang tanpa perlu souvenir? Orang Catering menyarankan diangka 1200 porsi.

Pembicaraan mengenai jumlah porsi ini lumayan makan waktu. Setelah jumlah porsi beres, lanjut ke menu. Satu demi satu menu dibahas. Udah kenyang duluan ngebahasnya.

Untuk melihat dekorasi meja makanan, kami juga diundang pihak catering ke beberapa lokasi pernikahan yang mereka adakan. Boleh nyobain menu juga kalau nggak malu mah.

Pihak catering ini biasanya merangkap dekorasi pelaminan. Ternyata ada banyak pilihan dekorasi pelaminan. Bukan hanya gayanya, tapi juga panjangnya. Saat itu saya baru tahu bahwa gedung pernikahan yang bagus itu, yang menyediakan tempat pelaminan yang panjang. Ada pelaminan yang 5 meter, ada yang 10 meter, ada yang 15 meter. Mantab kan. Juga ada beragam jenis bunga. Bunga mahal, bunga impor, bunga plastik, dan lain-lain. Urusan catering dan dekorasi pelaminan tidak sesimple yang diduga.

Foto keluarga

Riweuh #3 Urusan Undangan

Untuk undangan, saya iseng banget pengen nyari yang unik. Yang beda dan nggak biasa. Akhirnya nemu di salah satu pojok sebuah pameran pernikahan. Setelah melihat contoh ratusan undangan yang standar banget, ketemu juga nih satu yang agak pas di hati.

Tapi saya ini suka banyak maunya. Saya ingin ada degradasi warna di undangan. Untuk memastikan hal itu, saya sampai nongkrong disamping mesin cetak bersama desainer undangannya untuk mendapatkan warna yang tepat. Ada mungkin puluhan lembar terbuang untuk nyoba-nyoba sampai saya puas. Ditambah lagi, saya minta tolong di print kan buku tamu yang khusus setema dengan undangan dan souvenir. Saya maunya buku tamunya bisa ada tempat untuk para undangan menuliskan doa dan pesan kepada kedua mempelai. Sampai sekarang, buku itu masih suka saya lihat-lihat untuk melihat doa orang-orang.

Kini toko undangan ini sudah tidak ada lagi di tempat yang lama. Entah tutup karena lelah melayani customer seperti saya, atau malah jadi maju. Entahlah…

Jangan tanya soal siapa yang perlu diundang. Saya terlalu pusing untuk mengurusnya.

Buku tamu dan Souvenir
Buku tamu dan Souvenir

Riweuh #4 Urusan Penampilan

Urusan kostum asli top of the top riweuhnya. Bisa jadi efek Mama yang designer wannabe. Semua ide bermunculan.

Ada banyak kostum yang perlu dipersiapkan. Bukan hanya kostum calon pengantin perempuan, tapi juga pengantin laki-laki. Orangtua, saudara, keluarga. Bukan hanya 1 acara, tapi 4!

Dan dulu kami bisa tidak tahu soal kostum pernikahan itu bisa sewa. Saya sama Mama jalan dari butik ke butik buat mencari baju pernikahan yang cocok. Kami akhirnya terpincut pada sebuah baju di majalah pernikahan. Setelah butiknya di telpon dan harganya cocok, jadilah kami bela-belain untuk ke Jakarta untuk melihat langsung, di ukur, nge-pas, sampai mengambil baju yang telah jadi.

Yang lain adalah persiapan pakaian keluarga. Si Mama punya ide baju keluarga pria, keluarga wanita, dan panitia, sama temanya tapi beda warna saja. Karena merasa di Bandung tidak ketemu kain yang sesuai, jadilah si Mama ngubek Tanah Abang Jakarta. Alhamdulillah ketemu dan pamer penuh kebanggaan bahwa sudah menemukan motif yang diinginkan.

Di lain waktu saat kami ke Kings Bandung, tiba-tiba kami melihat motif kain yang sama ada di sebuah toko kecil di sana. Tau…gitu…nggak usah repot-repot ke Tanah Abang.

Kemudian ada lagi urusan pilah-pilih perias yang bisa menyulap kita jadi kinclong. Kembali satu demi satu pernikahan diperhatikan. Siapa saja yang perias pengantin yang merangkap tukang sulap. Setelah melihat langsung hasil karyanya, akhirnya diputuskan memakai jasa seorang perias profesional.

Dirias oleh Yenny
Dirias oleh Yenny

Riweuh #5 Acara yang banyak

Salah satu yang membuat urusan persiapan pernikahan itu riweuh adalah dari banyaknya acara prosesi. Mulai dari paginya pengajian di rumah kedua mempelai. Kalau saya nggak pakai siraman, tapi Abah Yogi pakai. Disiram dengan air dari 7 sumber. Thanks to Tante Bonny yang sudah mensukseskan acara ini di rumah keluarga calon pengantin pria.

Kalau di rumah saya siraman diganti dengan acara malam pengantin yang berupa seserahan dan malam Barodak yang merupakan tradisi Sumbawa, tempat asal si Papa. Cerita mengenai malam Barodak ini pernah saya tulis dalam postingan Mengenal Barodak, Midodareninya Masyarakat Sumbawa.

Ada lagi soal ribetnya nyari kotak hantaran seserahan yang cukup manis. Untung akhirnya nemu juga yang pas di hati dan kantong. Nggak banyak-banyak, tapi Alhamdulillah masih terpakai hingga saat ini.

Seserahan
Seserahan

Sebenarnya untuk isinya yang saya bingung. Saya kan nggak gitu suka barang-barang isi hantaran. Barang-barang wajib perempuan yang kayanya hanya terpakai jarang-jarang. Seperti soal make up. Katanya hantaran harus ada make up-nya. Lah saya nggak pernah pake make up. Tau make up pun tidak.

Jadi kita beli yang gimana? Atas dasar apa milihnya? Yang botolnya bagus gitu? Ade saya akhirnya ngasih ide yang lebih masuk akal. Pilih yang harga menengah aja. Dan alhamdulillah, make up seserahan itu awet sampai anniversary ke-7. Lumayan buat pajangan.

Setelah pusing milih make up, disuruh pula milih baju, sepatu, tas, dan sejenisnya yang bikin bingung milihnya. Kenapa tidak minta dipilihin aja? Wah jangan, nanti takutnya makin salah.

Selanjutnya acara akad nikah di rumah dan resepsi di gedung. Jadi total ada 4 acara selama 2 hari. 4 kostum, 4 dekorasi, 4 menu makanan.

Riweuh  lainnya

Seperti menentukan fotografer dan videografer. Ini juga cari-carinya lama. Saya ingin fotografer yang bisa mendokumentasikan acara dengan cara candid yang luwes. Saat itu tidak mudah nyarinya. Kebanyakan port folio para fotografer wedding terlalu kaku dan standar. Sangat membosankan lihatnya. Namun ada satu album port folio yang saya suka, karena foto-foto candidnya yang bagus. Akhirnya itu yang kami pilih.

Prewed
Salah satu dari 4 foto Prewed

Untuk foto pre-wed yang kayanya wajib banget dalam sebuah acara pernikahan, saya sudah tidak punya energi. Alhamdulillah ada teman yang bisa membuatkan kami foto prewed tanpa kami harus foto prewed. Idenya keren lagi. Dengan memontase foto-foto masa kecil kami. Asli keren banget. Thanks to Mado yang sudah rela ngutak-ngatik foto-foto masa kecil kami.

Printilan lain yang harus diurus adalah menentukan MC, pendaftaran ke KUA, ustad untuk akad nikah, pengisi acara untuk resepsi, menentukan minggu madu kemana (da nggak nyampe sebulan), sampai ke cari rumah untuk tinggal setelah menikah.

Total persiapan pernikahan ini lamanya sekitar 4 bulan. Asli capek banget. Trauma banget. Nggak mau lagi riweuh riweuh kaya gini!

Tapi semua itu memang worth it pas hari H. Semua keluarga jauh berkumpul. Acara berjalan lancar dan sempurna berkat dukungan semua pihak. Saya senang… tapi beneran deh, jangan sampai 2 kali.

Di masa pernikahan adik-adik, keriweuhan ini sudah jauh berkurang berkat adanya jasa wedding organizer. Asal jangan terlalu banyak maunya, segalanya insya Allah beres dengan sempurna tanpa riweuh. Semoga Tuhan memberkati jasa Wedding Organizer.

Menuju pelaminan
Menuju pelaminan

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

3 thoughts on “Repotnya Mempersiapkan Pernikahan

  • August 16, 2016 at 5:35 am
    Permalink

    Ihh.teteh,..saya jadi baper pingin nulis tentang pernikahan juga.
    Saya juga gak pakai jasa WO, tap hasilnya…suka banget.

    Karena semua sesuai dengan yang saya mau.
    Meskipun ada sedikit cela di sana-sini.

    Tapi namanya acara besar, maklum kok.

    Aku mau ngulangin lagi teh…ke anak-anakku nanti.
    Kalau punya anak perempuan, kaya mainan rasanya.

    Kalau di Jawa ada banyak serangkaian acara adatnya.
    Seru teh…

    Bikin ide nulis di grup ODOP teh…

    Reply
    • August 19, 2016 at 4:07 am
      Permalink

      Tulis Len. Biar ada cerita buat anak-anak.

      Reply
  • September 22, 2017 at 1:46 pm
    Permalink

    yap kalo gk pake wo emang ribet tpi hasilnya memuaskan

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: