Up Close and Personal with Monica Anggen Kulwap #ODOPfor99days

Perkenalan saya pertama kali dengan Monica Anggen dimulai sejak Juli 2015. Kenapa saya ingat? Karena itu terpatri sebagai tanggal pembelian buku Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh…! (Grasindo, 2015). Sebagai orang yang maha perhitungan kalau membeli buku, tumben-tumbenan saya terpincut oleh sebuah buku hijau yang penuh grafis menarik. Sebuah buku yang begitu sempurna menghipnotis dengan judulnya yang to the point seperti hendak menyindir saya yang kebanyakan teori, isinya mudah dicerna walau hanya dibaca sekilas di toko buku, dan materinya memang bagus. Langsung deh bungkus buku seharga Rp 59.000,- ini.

Walau sempat terpuruk terlupakan selama beberapa hari, buku ini hanya memakan waktu 2-3 jam untuk dilahap habis. Dan saya langsung jatuh cinta sama penulis asal Banjarmasin kelahiran 1978 ini. Siapakah dia? Dan menyebalkan sekali, ketika tidak menemukan penjelasan berarti tentang si penulis kecuali alamat sosmednya. Tengah malam setelah tamat membaca buku, saya langsung so akrab sok kenal say hello ke si penulis. Eh…dijawab dong. Terharu nggak sih…

Dari sejak itu, mulailah saya mengoleksi buku-buku keren Monica Anggen. Seperti 99 Cara Perbedaan Cara Mengelola Waktu Miliarder dan Orang Biasa yang sempat saya buat ulasannya. Sebenarnya nggak mau ngoleksi, tapi buku-buku Monica itu seperti punya tampang memelas yang selalu minta diadopsi oleh kita dari toko buku.

Saya pun bermimpi, kalau saya buat buku, pengennya seperti buku-bukunya Monica Anggen. Bagaimana ya caranya? Ehm, sepertinya kita harus mulai dengan tanya-tanya dulu. Untung penulis produktif satu ini Pramuka yang baik hati dan tidak sombong. Ajakan untuk Kuliah WhatsApp (Kulwap) di grup #ODOPfor99days selama 1 jam disambut baik. Akhirnya pada Jumat, 5 Agustus 2016 pk 11.30 – 12.30 WIB jadilah para fans Monica Anggen bertubi-tubi mengajukan pertanyaan seputar rahasia menulis 5 buku best seller dari penulis yang telah menulis sekitar 40 buku ini.

Berikut sejumlah pertanyaan yang diajukan teman-teman di grup #ODOPfor99days:

#1 Pertanyaan Yola – Bandung

Mba Monic saya sangat tertarik dengan tulisan pentingnya administrasi rapi bagi penulis (note: bisa baca dalam blog Monica Anggen tentang Pentingnya Administrasi Rapi Bagi Penulis). Sangat terasa oleh saya kesulitannya mencari hasil-hasil tulisan saya karena seringnya menulis di selembaran kertas di sela-sela waktu sekolah ataupun kerja, terutama hasil translate seringkali acak-acakan sehingga ketika hendak membacanya kembali saya kesulitan mencarinya.

1. Menurut hemat mbak apakah saya harus meninggalkan kebiasaan menulis di selembaran kertas dan mulai menuliskannya secara rapi dan serius di file komputer ataupun note di hape? Sedangkan saya sangat sempit waktu melakukannya. Adakah trik tertentu untuk menyiasatinya?

2. Dalam penyusunan file saya lihat mba melakukannya per penerbit (maaf bila salah). Apakah perlu bila menyusunnya pertema pula? Terutama hasil translate ada yg cerita untuk anak ada juga yang untuk dewasa. Mohon pencerahannya mbak, terima kasih.

Jawaban:

  1. Jangan ditinggalkan. Menulis dengan tangan sebenarnya jauh lebih baik daripada menulis langsung di laptop. Untuk menyiasatinya, gunakan kertas loose leaf. Nanti kertas-kertas yang sudah terisi bisa disimpan di binder berdasarkan kategori-kategori yang sudah Yola tentukan.
  1. Boleh per penerbit dan boleh sekaligus per tema jika tidak terlalu merepotkan. Intinya sih senyamannya kita.

#2 Pertanyaan Marina – Bandung

Mbak Monica kan sudah punya banyak karya baik fiksi maupun nonfiksi. Menurut mbak, apakah seorang penulis yang baik harus menguasai keduanya? Bagaimana khususnya untuk penulis pemula yang baru belajar, apa sebaiknya memfokuskan salah satu jenis dulu atau boleh coba-coba semuanya sekaligus?

Jawaban:

Mbak Marina, tidak ada penulis yang bagus atau jelek. Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Nah, artinya ya tidak ada keharusan kita menguasai fiksi dan nonfiksi. Senyamannya kita dan mana yang membuat kita enjoy saat menuliskannya.

Untuk pemula, coba keduanya dulu. Rasakan mana yang paling terasa menyenangkan saat dikerjakan. Nanti setelah menguasai salah satunya, boleh lanjut untuk mempelajari yang berikutnya.

 

#3 Pertanyaan Lendy – Bandung

Saya sering lihat mba Monic menceritakan kegiatan mba Monic selain menulis sebagai mee time. Misalnya : nonton drama Korea.

  1. Apakah itu hanya mengisi leisure time atau memang dijadikan sarana untuk mencari ide?
  1. Adakah tulisan mba Monic yang terinspirasi dari drama Korea yang mba Monic tonton?

heehhe…mengingat saya juga KDrama addict.

  1. Ada rekomendasi drama Korea yang “mba Monic” banget ga?

Jawaban:

  1. Nonton drama korea jadi salah satu sarana mencari ide, Mbak Lendy.
  1. Ada. 2 novel saja yang bergenre korea ada yang ambil ide awalnya dari k-drama, tapi alur, plot, dan sebagainya saya kembangkan sendiri.
  1. Yang aku banget nggak ada. Tapi yang aku suka banyak. Hahaha… Sekarang aku lagi nonton W, Doctors, and Unstopable Ponds.

#4 Pertanyaan Nita – Bandung

1. Saya lihat bukunya banyak yang terinspirasi dari Sherlock Holmes ? Apa penggemar Sherlock Holmes seperti saya kah? Dan kok kepikiran membuatnya.

2. Dan rata-rata judul novelnya angka 9 ? *pertanyaan yang membuat saya penasaran

3. Selama menulis pernahkah mengalami mood yang males banget buat menulis padahal sudah banyak ide dan cara mengatasinya mba monic bagaimana ?

Jawaban:

  1. Penggemar Sherlock tapi bukan penggemar fanatik. Ide untuk bikin Sherlock ini terpikir saat lagi brainstorming sama editorku.
  1. Bukan novel ya, tapi buku nonfiksi yang menggunakan angka 99. Ini penerbit yang menentukan.
  1. Pernah dan cukup sering. Aku ini tipe orang dengan mood swing yang lumayan parah. Cara mengatasinya: dengar lagu, pikirkan buku yang bakal selesai dan di pajang di toko buku, kerja di luar. Intinya: malasnya harus dikalahkan.

(Note: Cerita tentang Cerita di Balik Penulisan Buku 99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes, pernah di share Monica di blognya)

#5 Pertanyaan Monika – Belanda

Mbak Monic kan menyarankan kalau mau membuat buku kita harus membuat outlinenya dulu sebagai pegangan.

Saat menuliskan bab-bab berdasarkan outline bisakah di tengah jalan berubah jalan ceritanya? Karena tiba-tiba terpikir ide yang lebih menarik.

Jawaban:

Iya. Sebaiknya membuat outline agar proses penulisan tidak melebar ke mana-mana. Kalau di tengah jalan muncul ide baru. Tulis di kertas, memo, atau folder lain dulu. Nanti setelah kita selesai dengan naskah pertama, baru ide-ide baru tersebut diolah.

Oh ya, coba buat bank ide kalau memang sering muncul ide di tengah jalan. Mengenai bank ide sudah saya ulas di buku outline.

#6 Pertanyaan Wini Nirmala – Bandung

  1. Adakah tips menulis dalam Bahasa Inggris dengan percaya diri? Sementara sehari-harinya jarang sekali menggunakan Bahasa Inggris.
  1. Pernahkah merasa terjebak dalam brainstorming/mind map sendiri. Maksudnya baper gitu.

Jawaban:

  1. Jika tidak yakin menulis dalam bahasa Inggris, sebaiknya hindari.
  2. Pernah. Atasi dengan ajak teman yang dipercaya untuk diskusi.

Tanggapan Wini:

Kalau mau tak mau harus nulis pakai bahasa Inggris tapi ngga keliatan ‘ga PD’nya bagaimana ya?

Jawaban:

Kalau terpaksa menulis pakai bahasa Inggris, coba tuliskan semampunya dulu, terus minta teman yang bahasa Inggrisnya bagus untuk mengoreksi. Atau pakai jasa penerjemah.

 

#7 Pertanyaan Mesa – Bandung

Beberapa karya nonfiksi mba adalah mengenai cara, langkah dan tips praktis untuk mencapai suatu tujuan, sehingga pembaca merasa isinya aplikatif namun tetap sarat makna. Bagaimana proses mba menuliskannya? Bagaimana mengubah teori/konsep yang ada kebanyakan  ke bahasa praktis? Apakah kesemuanya merupakan pengalaman yang sudah mba lalui, sehingga dapat secara luwes memadukan teori dengan praktik menjadi poin-poin yang mudah dicerna?

Jawaban:

Aku mencoba menuliskan proses yang sudah aku lalui dengan tujuan berbagi. Nah dalam proses penulisannya, aku coba memadukan sedikit teori dengan pengalaman yang sudah aku lalui ditambah data/referensi pendukung. Cara menuliskannya, buat seakan kita sedang berbicara dengan seseorang.

 

#8 Pertanyaan Shanty – Bandung

Buku-buku Monica itu kalau kata saya bikin ketagihan. Karena isinya padat dan mudah dicerna dengan info grafis yang menarik.

  1. Ide buat buku banyak grafis itu dari penerbit atau dari pengarangnya?

2. Bagaimana prakteknya kerjasama penulis buku dengan ilustrator? Apa sudah ada gambaran kasarnya dulu dan tinggal digambar dengan software oleh si designer. Atau cukup ngasih materi tertulis dan ide grafis murni dari designer. Saya pengen tau khususnya untuk buku-buku seperti Nggak Usah Kebanyakan Teori deh, atau buku 9 langkah cepat.

3. Kalau menulis buku apa Monic menulis satu buku selesai dulu sampai tuntas, baru pindah ke buku yang lain? Atau sesuai kondisi hati dan deadline penerbit misalnya?

4. Biasanya satu buku selesai ditulis dari persiapan menulis sampai publish itu berapa lama? Pengen tahu khususnya untuk buku-buku bestseller.

Jawaban:

  1. Ide buku dengan infografis, saya yang usul, editor nanggapi, lalu kita diskusi bagaimana baiknya.
  1. Saya tidak langsung berhubungan dengan ilustrator karena ada editor yang jadi penghubung. Saya hanya menuliskan desain atau tampilan apa yang saya inginkan dengan kalimat/kata-kata. Sisanya, illustrator mengembangkan imajinasinya sendiri. Menurut saya, alangkah baiknya masing-masing orang boleh berkreasi sesuka hati demi hasil yang lebih baik.
  1. Satu per satu. Kalau pikirannya bercabang ke banyak naskah, hasil tidak akan maksimal.
  1. Tidak sama untuk setiap buku. Ada yang dalam waktu 1 bulan setelah saya mengirimkan naskah ke penerbit. Ada yang sampai 6 bulan. Malah novel trilogi saya di BIP ini udah hampir satu tahun prosesnya dan belum rampung karena harus revisi dan editing berkali2.

#9 Pertanyaan Afina – Bandung

Karena pertanyaan teman-teman sudah tentang menulis semua, saya mau nanya satu aja. Saya suka penasaran sama orang-orang hebat, jadwal kesehariannya gimana, karena pasti ada sesuatu yang lebih yang kita gak tau. Boleh dibocorin sedikit buat kita-kita. Intinya, Bagaimana sih jadwal keseharian mba monic dari bangun sampai tidur lagi?

Jawaban:

Saya tidak punya jadwal harian karena seperti yang saya bilang, mood swing saya lumayan parah. Saya hanya punya agenda untuk mencatat tanggal deadline proyek atau naskah yang harus selesai. Saya normalnya menulis selama 6 jam dan dibagi menjadi 3 bagian. Tapi karena saya sudah fulltime di bidang ini, kadang saya bisa menulis sampai 12 jam (terutama klo udah mepet deadline… hehehe).

Pekerjaan rumah tangga, saya bagi tugas sama suami. Intinya, pekerjaan lain selain nulis yang bisa didelegasikan, akan saya delegasikan. Contoh: cuci baju kalo bisa laundry seminggu sekali akan menghemat waktu banyak dan ini bisa digunakan untuk nulis. Acara ngerumpi dgn teman pakai jadwal janjian… hehehe. Di luar itu sebaiknya waktu dimanfaatkan buat baca, nonton, jalan-jalan, atau nulis. Yah semacam itulah. Tidak ada jadwal khusus. Karena masih ada waktu tersisa, kami ngobrol-ngobrol santai selama beberapa menit.

#10 Pertanyaan Shanty Bandung

Monica pernah ikut kursus menulis formal nggak? Belajar menulisnya dimana bisa kaya sekarang?

Jawaban:

Lebih sering ikut workshop yang diadakan penerbit. Pernah beberapa kali ikut kursus nulis online, tapi selebihnya belajar sendiri.

Ngomong-ngomong, dulu aku pernah belajar intensif nulis lewat chat dengan Donatus A. Nugroho. Dia salah satu guru yang berperan besar di awal-awal proses aku belajar menulis

 

Tahun 2010-2011 dulu banyak workshop penulisan. Contoh: tiga serangkai mengadakan workshop penulisan buku anak. Selain itu sering kan penerbit atau toko gramedia ngundang penulis untuk sharing, nah saya datanglah ke acara begitu.

 

Pesan Penutup dari Monica Anggen

Kesibukan rumah tangga jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis. Saya yang sekarang bisa menulis 12 jam sehari, dulu juga punya anak kecil, single parent, dan masih bekerja sebagai sales yang dari jam 6 pagi sampe jam 8 malam harus keliling di jalanan. Alhamdulillah saya diberi jodoh lagi, dan perjuangan saya merintis karier jadi penulis akhirnya membuahkan hasil hingga saya melepas pekerjaan saya dan full menulis di 2012.

Bayangkan, dari 2012… baru di 2015 ada yang best seller.

Intinya, selama mau dan tekad yang kuat, pasti bisa!

Kata kuncinya: konsisten dan nggak mudah menyerah.

Tidak terasa 1 jam berlalu. Senang sekali rasanya dapat ilmu dan semangat baru. Terlebih karena Monica Anggen mau ikut bergabung dengan teman-teman di grup #ODOPfor99days untuk bersama-sama berkomitmen menulis setiap hari. Terima kasih banyak sharingnya Monica. Insya Allah sangat bermanfaat bagi kami-kami yang lagi semangat belajar menulis.

Monica Anggen
Monica Anggen. Siapa tahu ketemu di jalan dan mau minta tanda-tangan. (Sumber: FB Monica Anggen)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: