Andai Saya Menteri Pendidikan

Sebagai ibu 2 anak usia 6 dan 9 tahun, entah kenapa saya merasa sangat punya kapabilitas untuk diangkat sebagai Menteri Pendidikan oleh Presiden Jokowi. Sadar diri sih saya bukan guru, praktisi pendidikan, apalagi orang yang memiliki latar belakang profesor doktor dalam ilmu pendidikan. Bahkan saya bukan orang partai!

Tapi entah kenapa saya gatal sekali ingin merombak sistem pendidikan yang ada di Indonesia selama ini. Yang saya anggap berantakan, terlalu padat nggak penting, kehilangan esensi, buang-buang waktu, buang-buang uang, tidak efektif, dan tidak tepat sasaran. Intinya: Nggak Banget deh.

Karena kesal, saya pun melamar posisi Menteri Pendidikan ke Pak Presiden. “Mau saya bantu nggak Pak Jokowi?” tawar saya. “Emang kamu mau ngapain kalau jadi Menteri,” jawab beliau.

Maka saya pun memberikan pola pendidikan yang akan saya terapkan seandainya menjadi Menteri Pendidikan. Berikut beberapa hal yang begitu ingin saya lakukan untuk merombak sistem pendidikan yang ada sekarang:

#Usia 3 tahun ke bawah

Anak usia 3 tahun kebawah harus bersama SALAH SATU dari kedua orangtuanya selama 24 jam penuh. Berada dalam pengawasan orangtuanya dan bukan orang lain yang latar belakang pendidikannya lebih rendah dari orangtuanya.

Tidak ada lagi istilah cuti melahirkan 3 bulan yang membuat seorang bayi yang baru lahir dipaksa dipisahkan dari ibunya. Cuti melahirkan itu 2 tahun! Dan ibu yang menyusui itu dibiayai oleh negara. Digaji untuk menyusui bayinya sebagai tunas-tunas bangsa. Tidak ada lagi ibu yang diperas tenaganya sekedar untuk membeli susu formula yang mahal sebagai pengganti ASI.

Tidak ada lagi ibu yang kebingungan dan stress karena tuntutan profesionalitasnya sebagai pekerja dan totalitasnya menyusui bayinya. Tugas utama ibu yang baru melahirkan hanya satu: Menyusui dan Merawat bayinya. Tidak semua perempuan mendapat anugrah tugas suci ini. Hanya wanita terpilih yang diberi kesempatan untuk bisa melahirkan seorang manusia di muka bumi ini. Tidak lama-lama kok Bunda, cukup 2 tahun saja. Dan Bunda berhak mendapat gaji untuk tugas ini. Setelah itu Bunda bebas mengejar karir setinggi langit.

3 tahun pertama anak adalah peletakan pondasi terpenting dalam hidup seorang manusia. Seyogyanya, orangtua terpilih yang mengemban amanah itu. Seperti kata Bunda Elly Risman,

“Orangtua itu babysitternya Allah.”

Pada masa ini kebutuhan dasar anak dipenuhi dengan memberikan curahan kedekatan, kasih sayang, dan teladan akhlak yang santun dari orangtua. Hemat saya, jika anak sudah dikenalkan akhlak yang santun dari bayi oleh orangtuanya, semestinya kita tidak perlu repot cari sekolah mahal hanya demi anak diajarkan kesantunan atau pendidikan karakter di sekolah.

#Usia 3-5 tahun

Anak usia 3-5 tahun sangat dianjurkan memiliki teman bermain sebaya di lingkungannya. Tidak perlu sekolah formal yang terstruktur selama beberapa jam yang kaku. Anak bisa bebas bermain sesuai kebutuhannya. Boleh pagi, siang, sore. Ia bebas bermain sesuka hatinya. Anak mulai belajar bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga intinya dengan cara yang nyaman buatnya dan alami.

Tidak ada lagi anak usia 3 tahun yang dipaksa bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Di sekolah ia dituntut untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang telah diatur oleh gurunya. Jika ia tidak mau dan memilih berlari keliling kelas, ia akan dianggap anak yang tidak bisa mengikuti aturan. Anak umur 3-5 tahun didukung untuk mengeluarkan energinya, keingintahuannya, dan imajinasinya dengan pengawasan orang dewasa di sekitarnya.

#Usia TK 5-7 tahun

Baru di usia 5 tahun, seorang anak diijinkan untuk memasuki pendidikan semi formal Taman Kanak-kanak (TK) selama 2 tahun. Anak mulai dikenalkan dengan yang namanya sekolah, dengan teman sekelas sekitar 10 – 15 orang anak sebayanya.

Anak dikenalkan dengan peraturan dan menghargai perbedaan dengan orang lain dibawah bimbingan seorang pendidik profesional. Anak diberi kebebasan berekspresi tanpa aturan yang terlalu kaku. Tugas guru TK lebih ke ‘tempat penitipan anak’ yang profesional. Guru TK diminta bantuannya untuk mengamati anak dengan kacamata profesional seorang pendidik. Warna alami anak diharapkan bisa keluar di masa penuh imajinasi ini. Jangan dibatasi eksplorasinya. Ketika anak sedang asyik menggambar, jangan dibatasi dengan jam belajar yang kaku. Anak tidak perlu di kotak-kotakkan dalam waktu, jam segini harus belajar ini dan itu.

Saya sangat mendukung sistem kelas TK yang berbentuk 3 pojok aktivitas. Anak boleh memilih ingin melakukan yang mana. Ada pojok seni, ada pojok literasi/bacaan, dan pojok logika misalnya. Anak-anak boleh berpindah-pindah untuk melakukan kegiatan yang diinginkannya.

Guru bertugas mengamati dan menjadi teman bermain anak. Anak bisa belajar untuk tidak rebutan dan mengembangkan minat mereka secara alami. Selain mengamati, kreativitas guru juga dituntut untuk mendekorasi pojok-pojok aktivitas ini berganti setiap minggu, sehingga anak tidak bosan dan selalu bersemangat ke sekolah.

Anak boleh saja dikenalkan dengan huruf dan buku. Tidak ada tuntutan untuk belajar membaca, menulis, berhitung atau menggambar dengan rapi. Tapi dengan dikenalkan dengan buku dan cerita, diharapkan keluar kebutuhan alami anak untuk bisa membaca, menulis, berhitung dan mengekspresikan diri gambar dan bicara.

Berdasarkan pengalaman, jika kebutuhan alami ini muncul, biasanya anak sangat cepat bisa membaca. Semestinya anak umur 6 tahun sudah bisa membaca secara alami tanpa pengajaran khusus. Tapi jika memang belum tertarik pun tidak apa-apa. Mungkin ia lebih berminat pada hal yang lain.

Pada masa TK anak akan belajar untuk mandiri terhadap dirinya sendiri. Anak bisa makan sendiri, memiliki kebiasaan makan sehat, dan mampu menjaga kebersihan dirinya.

#Usia kelas 1-2 SD 7-8 tahun

Pada usia 7 tahun, anak memasuki sekolah dasar. Ini terinspirasi dari hadis Nabi Muhammad,

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka 7 tahun, dan pukullah saat usia mereka 10 tahun jika tidak shalat. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” – HR Abu Dawud

Di usia 7 tahun, anak dipandang sudah cukup siap secara mental dan fisik untuk menerima pengajaran shalat dan tentu saja ilmu-ilmu lainnya. Dengan jumlah teman sekelas 20-30 orang, anak mulai dimasukkan kurikulum membaca, menulis dan berhitung dasar. Bagi yang sudah bisa, diarahkan untuk pondasi kecerdasan literasi dan kemampuan berkomunikasi. Anak diharapkan suka membaca, menuliskan apa yang ia rasakan, menceritakan kejadian yang ia sukai, dan mendengarkan orang lain. 4 hal ini adalah pondasi komunikasi yang menjadi modal penting bagi seorang anak.

Pelajaran PPKN dan sejenisnya ditunda dulu untuk dipelajari nanti saja di kelas yang lebih tinggi. Bahkan saya merekomendasikan hanya menggunakan BAHASA IBU hingga kelas 2 SD. Anak harus memiliki kefasehan yang cukup untuk membaca, menulis, bicara dan mendengar dalam satu bahasadulu, sebelum diperkenalkan dengan bahasa baru. Silakan dipilih saja bahasa yang biasa dipakai si Ibu. Bebas apakah mau bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, Mandarin, silakan saja. Yang penting jangan dicampur aduk seperti gado-gado.

#Usia Kelas 3 SD 8-9 tahun

Baru di kelas 3, mata pelajaran ditambah sebagai persiapan menghadapi kelas 4 yang mata pelajarannya lengkap. Anak bisa mulai dikenalkan dengan yang namanya pelajaran bahasa indonesia, matematika, sosial, science (IPA), seni, olahraga. Agama dan Bahasa asing bisa menjadi daya tarik di sekolah-sekolah tertentu. Sedangkan urusan akhlak dan budi pekerti tidak perlu menjadi sebuah pelajaran terpisah, namun menyatu ‘blended’ dalam keseharian di semua pelajaran.

Kembali lagi ke awal, jika urusan akhlak dan budi pekerti ini sudah diteladankan orangtua sejak usia dibawah 3 tahun, semestinya hal ini tidak akan menjadi isu penting lagi pada masa SD.  Tidak ada lagi orangtua yang marah-marah karena menganggap sekolah tidak bisa mendidik karakter anak mereka dengan baik, padahal sekolah baru bertemu anak mereka sejak usia 6-7 tahun. Halooo…orangtuanya kemana saja dalam 6 tahun pertama kehidupan si anak?

#Usia kelas 4-6 SD 10 -12 tahun

Nah dengan pondasi yang kokoh, anak siap untuk belajar dengan target UN seperti sekarang. Padatkan saja materi untuk UN itu dalam 3 tahun terakhir. Dengan semangat belajar yang sehat, akan mudah bagi seorang anak menyerap informasi.

Di masa ini anak dikenalkan pada sejumlah profesi yang ada. Diharapkan ketertarikan anak pada profesi tertentu bisa mulai terlihat. Nantinya pilihan profesi ini akan menjadi arah pendidikan mereka setelah tamat UN. Harus lulus UN dengan nilai standar tertentu jika ingin belajar ilmu yang mereka minati di jenjang yang lebih tinggi.

Tidak ada lagi anak UN hanya dengan alasan sekedar mau masuk SMP, kemudian SMA, kemudian Kuliah, setelah itu bekerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang ia pelajari bertahun-tahun sebelumnya.

#Usia SMP 12-15 tahun

Di usia SMP anak mulai menekuni bidang-bidang yang mereka minati secara spesifik. Jadi penjurusan itu bukan di SMA, melainkan di SMP. Masa-masa ABG labil seperti ini, perlu penyaluran energi yang tepat sesuai minat mereka. Dengan memilih bidang yang mereka benar-benar sukai, diharapkan fokus mereka lebih terarah pada hal yang positif.

Diharapkan istilah ‘masa-masa paling nakal di SMP’ bisa dikurangi. Tidak ada lagi pelajaran SMP yang membosankan. Yang ada adalah anak-anak yang semangat mempelajari bidang yang mereka minati bersama dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama.

Ada SMP untuk ilmu eksakta, ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu sejarah, ilmu memasak, ilmu jurnalistik, dan lain sebagainya. Sejenis SMK sekarang tapi untuk anak SMP.

#Usia SMA 15 – 18 tahun

Setelah 3 tahun mempelajari ilmu yang mereka sukai, di masa SMA saatnya anak belajar untuk memanfaatkan ilmu tersebut bagi orang lain. Mereka mulai magang dan belajar untuk menjual keahlian mereka. Lulus SMA pada umur 18 tahun, diharapkan anak telah sanggup menjadi manusia yang mandiri baik secara mental dan finansial.

#Usia 18 tahun keatas

Selepas SMA, anak siap memasuki dunia perkuliahan untuk mempertajam keahlian mereka secara spesifik. Tidak ada lagi mahasiswa yang memilih jurusan dengan sistem hitung kancing atau sekedar karena keren, kemudian lulus dan memilih profesi yang sangat bertolak belakang dengan keilmuan yang telah dipelajarinya.

Sebelum duduk di bangku kuliah, ada syarat kompetensi keahlian tertentu yang telah pernah mereka amalkan di masyarakat. Mereka harus tahu mengapa mereka perlu mempelajari suatu ilmu tertentu di bangku kuliah. Para pengajar di Perguruan Tinggi seharusnya adalah para pakar di bidangnya yang juga bekerja sebagai profesional pada masyarakat. Jadi jangan malah dilarang dosen untuk bekerja sampingan yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitarnya. Atau membatasi ruang gerak dosen hanya fokus mengajar anak didiknya.

#Sekolah orangtua

Last but not least, akan dibuat sekolah untuk para orangtua. Menjadi orangtua itu ada ilmunya dan perlu dipelajari bersama.Bila perlu dibuat sertifikasi menjadi orangtua.

Gimana, keren nggak program kerja saya? Benar saja, Presiden Jokowi sangat terkesan dengan program ini. Makanya kemarin saat resuffle kabinet, saya ditelpon berulang kali. Sayang sekali saya lagi sibuk jadi nggak sempat angkat telpon. Akhirnya tugas suci sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ke-30 ini diberikan kepada Muhadjir Effendy.

Ya sudahlah…Mungkin memang belum rejeki. Selamat bertugas Pak Menteri, semoga pendidikan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 

***

Tulisan ini awalnya diposting di Kompasiana.

(1600 kata)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: