Pertanyaan Kehidupan dalam Rindu-nya Tere Liye

#1 Dalam satu kalimat

Novel dengan kisah 5 orang yang masing-masing memendam pertanyaan tentang perasaan berdosa, kebencian, kehilangan, cinta sejati dan kebebasan tanpa kekerasan.

#2 Poin penting

Cerita bermula saat Kapal Blitar Holland merapat di Pelabuhan Makasar untuk mengangkut jamaah haji menuju Tanah Suci Mekah. Dari Makasar, naiklah seorang ulama terhormat bernama Gurutta Ahmad Karaeng, keluarga Daeng Andipati yang terdiri dari istri, anak – Elsa dan Anna, dan pembantunya. Juga Bonda Upe dan suaminya yang kemudian menjadi guru mengaji untuk anak-anak di kapal. Turut serta pula seorang pelaut yang melamar sebagai kelasi bernama Ambo Uleng.

Dalam perjalanan mereka merapat di beberapa tempat seperti Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, dan Banda Aceh. Di Semarang naiklah sepasang suami istri sepuh Mbah Kakung Slamet dan Istrinya Mbah Putri Slamet, bersama putri mereka.

Sepanjang perjalanan terungkaplah sejumlah pertanyaan yang ada di dalam kepala tokoh-tokoh dalam cerita ini. Ini sebenarnya adalah pertanyaan sejuta umat. Sungguh menarik ketika kita membaca jawaban-jawaban arif yang disampaikan oleh Gurutta Ahmad Karaeng, sebagai ulama terhormat di Makasar.

Pertanyaan pertama dari Bonda Upe yang pernah dijual dan dijadikan pelacur di Jakarta. Apakah Allah akan menerima seorang perempuan pendosa di Tanah Suci?

Jawabannya adalah: berhentilah lari dari kenyataan hidup, berhentilah cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.

Pertanyaan kedua dari Andipati Daeng yang seorang pengusaha sukses lulusan Belanda. Ia memendam kebencian yang luar biasa terhadap ayahnya yang juga orang terpadang namun licik dan ringan tangan terhadap keluarganya. Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya untuk bisa memaafkan dan melupakan masa lalu?

Jawabannya adalah: berhentilah membenci karena sejatinya kita membenci diri kita sendiri karena ketidakmampuan kita merubah keadaan, berikanlah maaf karena kita berhak atas kedamaian dalam hati, dan bukalah lembaran baru.

Pertanyaan ketiga datang dari Mbah Kakung yang merasa begitu kehilangan karena ditinggal belahan jiwanya secara tiba-tiba. Mengapa istrinya harus dipanggil saat mereka berdua seharusnya bergandengan tangan dan melihat Kabah? Mengapa takdir tidak mengenal penundaan?

Jawabannya adalah: yakinilah apa yang terjadi sebagai takdir Allah yang terbaik, biarlah waktu mengobati semua kesedihan, dan lihatlah takdir dengan kacamata yang berbeda.

Pertanyaan keempat mengenai cinta yang tak sampai diajukan oleh Ambo Uleng. Seorang pelaut sejati yang sangat pendiam ini ternyata memendam pertanyaan mengenai cinta sejati. Apakah cinta sejati itu? Apakah ia akan memiliki kesempatan berjodoh dengan gadis pujaan hatinya yang akan dijodohkan dengan orang lain?

Jawabannya adalah: lepaskanlah – jodoh tidak akan kemana, percayalah pada penulis skenario terbaik, jangan merusak diri sendiri secara berlebihan, dan teruslah memperbaiki diri dengan belajar.

Dan pertanyaan terakhir dari Gurutta sang tokoh yang selalu menjawab 4 pertanyaan diatas. Bisakah kebebasan atau kemerdekaan dapat diraih tanpa kekerasan dan peperangan? Pertanyaan ini memiliki 2 konteks. Yang pertama adalah kondisi mencekam saat itu karena kapal mereka dibajak perompak. Yang kedua adalah dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia untuk terbebas dari penjajahan Belanda.

Jawabannya: ada saatnya kita perlu menghadapi kesewenang-wenangan dengan kekerasaan.

#3 Kutipan

Jawaban Gurutta untuk pertanyaan Bonda Upe mengenai rasa bersalah:

“Tidak semua orang sanggup menjalani hidup ini. Maka saat itu ditakdirkan terjadi kepada kita, insya Allah karena kita mampu memikulnya.” (hal 311)

“Jangan pernah lari dari kenyataan hidup. Kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala.” (hal 312)

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Peluk semua kisah itu. Dengan menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.” (hal 312)

“Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Maka, tidak relevan penilaian orang lain. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.” (hal 313)

Jawaban Gurutta untuk pertanyaan Andipati Daeng mengenai kebencian:

“Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi.” (hal 372)

“Kita sebenarnya sedang membenci diri kita sendiri saat membenci orang lain. … Kau benci ayahmu, Nak, karena kau membenci dirimu sendiri yang tidak kuasa mencegahnya berbuat kasar pada ibumu. Kau membenci ayahmu karena kau membenci diri sendiri yang tidak mampu menghentikan, bahkan mengubah perilaku jahat ayahmu. … Dan menariknya, apakah ibumu membenci ayahmu? Dia ternyata memilih tidak. …Dia tidak membenci dirinya yang telah keliru menikah. Tidak membenci dirinya yang tetap bertahan, kenapa tidak sejak dulu pergi. …Dia terima sepenuh hati, maka dia bisa bahagia atas pilihannya.” (hal 373-374)

“Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. …Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.” (hal 374)

“Maka ketahuilah, Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apa pun. Tetapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semua benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.” – hal 375

Pembicaraan  Gurutta dan Mbah Kakung mengenai kehilangan:

“Kenapa harus terjadi sekarang? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. …Aku tidak mendustakan takdir ini Gurutta. Aku menerimanya. Aku ikhlas. Tapi kenapa harus sekarang?”– hal 469

“Kang Mas, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. Sebaliknya segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita.”

Jawaban Gurutta untuk pertanyaan Ambo Uleng mengenai cinta:

…Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. ….Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, Ambo, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.” – hal 492

“…tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri.” – hal 493

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar.” – hal 493

Sajak Gurutta untuk dirinya sendiri

Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri.

Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri. – hal 316

Pembicaraan Ambo Uleng yang meminta Gurutta membuat pesan berantai untuk melawan perompak:

“Gurutta, kita tidak bisa pernah meraih kebebasan kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah. …kita tidak bisa mencabut duri di kaki kita dengan itu, Gurutta. Kita harus mencabutnya dengan tangan. Sakit memang, tapi harus dilakukan.” – Hal 531

#4 Penilaian Pribadi

Yang membuat saya terpikat dan tidak bisa berhenti membaca buku ini adalah karena settingnya yang menarik. Saya benar-benar tertarik ingin mengetahui bagaimana cerita perjalanan haji dengan sebuah kapal laut yang memakan waktu hingga 1 bulan untuk tiba di Mekah. Para jamaah haji masih harus tinggal lama di Mekah untuk menunggu kapal yang mengangkut mereka kembali ke tanah air. Total perjalanan haji hingga kembali ke kota asal memakan waktu hingga 9 bulan. Betapa berbedanya dengan perjalanan haji kita saat ini yang hanya memakan waktu 9 – 10 jam  di pesawat dengan hanya 40 hari bagi Jamaah Haji Reguler dan 19 hari bagi ONH Plus untuk berada di tanah suci.

Terus terang saya jadi tertarik dengan perjalanan selama 1 bulan di kapal tersebut. Bagaimana Anna dan Elsa serta anak-anak lain bisa sekolah di kapal, para orang dewasa bisa memperkaya wawasan agamanya dengan tausiah subuh, Gurutta yang bertekad menulis untuk menyelesaikan sebuah bukunya, dan tentu saja perenungan-perenungan tentang kehidupan sebelum tiba di rumah Allah.

Tere Liye sangat lihai menggambarkan suasana dan kondisi pada saat itu sehingga kita seolah-olah benar-benar ikut dalam kapal tersebut dan menjadi orang di jaman tahun 1938. Saya memang sangat kagum dengan riset yang dilakukan Tere Liye untuk buku ini sehingga bisa memasukkan begitu banyak detil sejarah yang memperkaya cerita. Diceritakan Daeng Adipati adalah lulusan Rotterdam School of Commerce bersama Hatta sang proklamator. Atau kejadian penembakan saat berada di Pasar Turi Surabaya. Ternyata kalau kita browsing mengenai perjalanan haji, informasinya sangat banyak. Bahkan ada foto-fotonya juga.

Selain itu yang agak menarik perhatian saya adalah pada penamaan tokoh-tokoh yang terasa sangat kekinian. Ada 2 gadis putri Daeng Andipati yang bernama Anna dan Elsa. Sasya, putri saya yang baru bisa membaca jadi turut berkomentar. “Ini cerita Frozen Ma?” tanyanya melihat ada 2 nama itu saat mengintip buku yang telah menyita perhatian Mamanya. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana ceritanya Tere Liye kepikiran memasukkan kedua nama ini novelnya. Sepertinya Tere Liye punya ilmu cenayang dan memahami pertanyaan orang-orang. Pertanyaan itu diwakili oleh Gurutta, “Rasa-rasanya baru kali ini aku mendengar nama Anna dan Elsa untuk anak-anak perempuan Bugis, Andi. Nma mereka lebih mirip nama-nama putri-putri dalam dongeng Eropa.” (hal 72)

Ternyata nama lengkap kedua anak itu adalah Anna Sanna Aisyah dan Elsa Sanna Fatimah. Sanna berarti bunga lili dalam bahasa Bugis. Baiklah…akhirnya pembaca mengerti. Sayang Tere Liye tidak mengungkapkan alasan pemilihan nama Kapten Phillips sebagai nahkoda Kapal Blitar Holland. Ingatan kita langsung teringat pada Tom Hanks si Captain Phillips  yang kapalnya di bajak perompak di Samudra Hindia. Dan pastinya bukan kebetulan peristiwa yang sama terjadi di Kapal Blitar Holland.

Mengintip Novel Rindu Tere Liye
Mengintip Novel Rindu Tere Liye

Saya juga ingin menyoroti penggunaan kalimat dan petuah-petuah panjang dalam buku ini. Entah sayanya yang agak telat mikir, perlu 2 hingga 3 kali untuk mengulang-ulang membaca paragrap-paragrap yang penuh petuah untuk bisa memahami maksud yang ingin disampaikan. Saran saya, take your time jika ingin membaca buku ini. Bisa membacanya sekilas dengan cepat untuk memahami plot cerita. Tapi kemudian kembalilah untuk membalik-balik halaman-halaman yang penuh makna untuk kita renungkan. Itu sebabnya saya bilang buku ini kita harus punya. Tidak bisa hanya pinjam.

Buku ini terdiri dari 51 bab dan 1 bab Epilog. Panjangnya 544 halaman. Tanpa daftar isi, tanpa biografi, tanpa ucapan terima kasih. Hanya memberikan 1 lembar judul dan data buku. Penyebutan bab yang tanpa nama judul dan hanya penomeran angka, menurut saya agak menyulitkan ketika kita ingin mencari lagi bagian yang ingin dibaca. Lebih mudah untuk mencari bagian tertentu dari buku jika judul bab berupa kalimat dan ada daftar isinya.

Dan satu pertanyaan besar setelah membolak-balik baca novel ini. Kenapa judulnya Rindu? Karena saya belum berhasil menemukan hubungan kata Rindu dengan jalinan cerita. Tapi kalau disuruh mengusulkan judul, memang bingung juga mensarikan isi buku ini dalam 1 kata judul. Mungkin itu sebabnya Tere Liye memilih kata Rindu.

#5 Perbandingan dengan buku lain

Buku dengan tema Islam yang kental memang selalu disukai di Indonesia. Kita masih ingat bagaimana laris manisnya buku-buku Habiburrahman Elshirazy dengan setting Kairo, atau Trilogi 5 Menara yang berlatar belakang kisah pesantren. Buku-buku seperti ini membantu kita untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang agama. Mereka mengajak pembaca untuk tidak terkungkung dalam wawasan Islam yang sempit dan terkotak-kotak. Bahwa Islam tidak mudah mengkafirkan orang yang berbeda. Islam itu membawa kedamaian bagi banyak orang. Sebuah pesan indah yang universal dan perlu dibaca oleh semua orang. Tidak hanya oleh Muslim.

#6 Tentang Penulis

Berbeda dengan penulis lain yang biografinya terpampang dalam setiap karyanya, Tere Liye sepertinya begitu irit mengumbar data diri dalam buku-bukunya. Tidak ada tentang penulis atau ucapan terima kasih yang biasanya berlembar-lembar dalam buku ini. Bahkan masih banyak yang tidak tahu apakah Tere Liye itu laki-laki atau perempuan. Entah kenapa ia begitu sok misterius. Mungkin sekedar ingin orang-orang lebih fokus dengan karya-karyanya.

Darwis Tere Liye adalah penulis kelahiran Mei 1979. Alumnus SDN 2, SMPN 2 Kikim Timur Lahat Sumatra Selatan, SMUN 9 Bandar Lampung dan Fakultas Ekonomi UI ini adalah seorang anak ke-6 dari 7 bersaudara. Ayah sepasang anak, dan suami dari Rizki Amelia mengaku menulis novel hanya disela-sela kesibukannya dikantor sebagai Akuntan. Loh kok bisa?

Hingga saat ini Tere Liye telah mengeluarkan sekitar 25 Novel yang banyak diantaranya best seller. Hingga saat ini saya baru membaca 2 novel Tere Liye, Rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Grafindo 2006, Republika 2009). Sedangkan Hapalan Shalat Delisa (Republika, 2005) sempat saya tonton filmnya. Dan rasanya saya harus baca lebih banyak lagi novel-novel Tere Liye yang penuh gizi.

Buku-buku Tere Liye
Buku-buku Tere Liye

#7 Rating 8. Must have book!

Data Novel Rindu karangan Tere Liye

Penerbit : Republika Oktober 2014 (cetakan ke-34, Juni 2016)

Halaman : ii + 544 hal; 13,5 x 20,5 cm

Harga : Rp 69.000,-

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Pertanyaan Kehidupan dalam Rindu-nya Tere Liye

  • November 7, 2016 at 3:42 pm
    Permalink

    pertama kali membaca judulnya, yang terbayang adalah novel picisan dengan cerita yang menye-menye. semacam “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” lah…tapi anggapan itu keliru total. Tere Liye sekali lagi memberi kejutan dengan menghadirkan novel yang bersetting tahun 1930an di atas sebuah kapal Belanda dengan interaksi tokoh dari Makassar-Gowa (Sulawesi), Belanda, Jawa, Betawi dan beberapa daerah di Indonesia (Hindia Belanda). saking fasihnya menyajikan tokoh Gurutta (Gowa-Makassar),sampai-sampai saya lupa kalau Tere Liye asli orang Sumatera.
    Selalu menarik ketika membaca novel Tere Liye. Dia selalu konsisten menyampaikan pandangannya mengenai pendidikan, kesederhanaan, kasih sayang, keluarga, keberanian dan keikhlasan. Coba saja baca Novel ini. Seperti membaca “Kisah Sang Penandai”, “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, dan “Hafalan Shalat Delisa” dijadikan satu. Pesan tentang pentingnya sebuah pertanyaan hidup di novel ini juga bisa kita jumpai di “Burlian”. Ya, selalu ada benang merah yang dapat ditarik dari novel-novel Tere liye.
    Tapi juga selalu saja ada hal baru dan menarik yang membuat saya tidak bisa menutup buku dan akhirnya memilih untuk melanjutkan sampai akhir. Entah itu karakter tokoh yang dibangun, jalan cerita yang kompleks, konflik yang tidak tunggal tapi berkembang, pilihan diksi yang cerdas dan tidak menggurui, atau ending cerita yang tidak disangka-sangka. Bagi saya novel ini sangat menarik:)

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: