Catatan Hati Ibunda, Chicken Soup Penghangat Jiwa Bagi Para Ibu

Membaca 19 kumpulan cerita dari Asma Nadia dan kawan-kawan dalam buku Catatan Hati Ibunda, membuat mata saya terbuka mengenai berbagai sudut pandang peran seorang ibu. Jika selama ini kita hanya ribut soal peran ibu di rumah vs ibu bekerja, ibu ASI vs ibu Sufor, ibu melahirkan normal vs operasi, ibu bubur diaduk vs tidak diaduk. Coba deh baca buku ini dulu. Insya Allah kita akan berhenti memusingkan hal itu dan bisa lebih menempatkan peran ibu secara lebih proporsional.

Saya sendiri sejujurnya sering terbebani (tepatnya membebani diri) dengan keinginan menjadi ibu ideal buat keluarga. Ibu yang cantik kinclong, pintar masak makanan enak, rumahnya rapi, bisa mendidik anak-anaknya sehat sholeh bin santun, bisa punya penghasilan sendiri, suaminya kaya dan ganteng. Tapi sebenarnya, adakah sosok ibu ideal itu? Dan pertanyaan sebenarnya adalah, perlukah kita menjadi ibu ideal yang sepertinya bebas masalah?

Membaca kisah pertama dari Asma Nadia berjudul A Confessesion of A Terrible Mom membuat saya langsung memutuskan mengembat buku ini dari lemari buku ipar saya, Mita. “Pinjam ya, untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.”

Asma Nadia si penulis produktif papan atas Indonesia ini, sering saya kagumi sebagai ibu 2 anak yang ideal. Ia punya Publishing House sendiri dan karya-karyanya banyak difilmkan. Dalam buku ini, ia membuat pengakuan dosa bahwa ia tumbuh dengan kondisi fisik lemah, tidak cakap mengurus rumah tangga, bahkan tidak bisa masak. Loh kok kaya mirip-mirip saya ya, cuma ada perbedaan ‘sedikit’ di soal karir profesional.

Juga ada cerita dari penulis Sofie Dewayani mengenai seorang ibu yang hidupnya selalu teratur dan terjadwal dengan sempurna. Ini benar-benar sosok impian yang belum pernah berhasil saya terapkan dalam hidup. Selama sebelas tahun pernikahan dengan 3 anak, dimana orangtua harus berhemat dana beasiswa, bagi Sofie kedisiplinan menjadi kunci. Dalam keteraturan itu ternyata si bungsu memberikan pelajaran berharga dengan hobi barunya mengompol dan berbohong untuk menutupi kegalauannya.

“Tiba-tiba saya menemukan sesuatu yang tak tercatat di buku agenda: RASA.” (hal 22)

Cerita Sofie membuat saya berpikir kembali bahwa hidup ini bukan lah deret angka yang sempurna dan serba teratur. Ada ruang-ruang untuk menarik napas, beristirahat. Ada saatnya kita berani mengakui dan bisa mengekpresikan rasa cemas dan kegalauan. Ini sangat manusiawi.

Ketika Buah Hati Sakit

Beberapa bunda juga bercerita bagaimana mereka menemani buah hati yang sakit parah di rumah sakit. Asma Nadia menceritakan pengalamannya saat merawat Adam yang mengalami pendarahan di otak ketika bayi dan Siska Susantrin yang menceritakan masa-masa ia harus merawat 2 buah hatinya yang mengalami masa kritis Demam Berdarah. Atau kisah Yoga yang kakinya harus diamputasi dan menjalani kemoterapi. Kita akan ikut terharu membaca doa para ibu yang begitu khusyu demi kesembuhan buah hati mereka.

Dan bagaimana jika doa itu tidak dikabulkan? Ketika Allah lebih menyayangi buah hati kita dengan mengambilnya secara begitu mengejutkan. Alifadha Pradana menceritakan kisah memilukan ketika putra sulungnya Alif Rizky Patria meninggal karena tenggelam di Bendungan Kamun. Siapa sangka kesedihan yang berusaha dibalut keikhlasan ternyata menimbulkan selentingan tuduhan bahwa ia bukan ibu yang baik karena tidak terlihat kehilangan.

“Kok bisa sih, anak baru meninggal, udah bisa ngobrol dan tertawa kaya gitu? Kalau saya mah, pasti nggak akan bisa bangun dari tempat tidur.” (hal 244).

Ah… betapa mudahnya kita berprasangka pada orang lain.

Apakah teman-teman suka memberi saran ini itu pada orang lain padahal tidak di minta? Seperti cerita Mariskova ketika saat akan melahirkan yang ia tuliskan dengan judul Sekolah Jadi Ibu. Sebuah harapan agar ia tidak perlu bingung menghadapi sejumlah saran yang seringkali malah bertentangan.

Kata Mertua, aku harus minum rendaman air rumput Fatimah. Kata teman, aku harus banyak minum air madu supaya jalan lahirnya mulus. Kata saudara, madunya harus dicampur telur ayam kampung mentah. Kata Papa, aku harus banyak jalan supaya bayinya bisa turun ke jalan lahir. Kata Mama, lebih baik latihan mengepel di rumah. Kata dokter, aku harus banyak istirahat karena tensi yang rendah. (hal 64)

Ok deh….kebayang…

Working Mom

Cerita dari Nadhira Khalid tentang suka dukanya menjadi ibu yang bekerja di sebuah perusahaan tambang di Pulau Sumbawa dan meninggalkan anaknya di pulau Bali terasa sangat hidup bagi saya. Saya juga pernah tinggal di tempat yang sama dengan Nadhira dan bekerja untuk PT Newmont Nusa Tenggara di Maluk Sumbawa pada tahun 1999. Ehm, jangan-jangan kami memang pernah bertemu. Saat itu saya masih lajang dan lebih banyak berteman dengan para lajang di camp yang sama. Ternyata ada kisah seperti Nadhira yang begitu pilu karena hanya bisa bertemu seminggu sekali dengan buah hatinya.

Ditambah lagi pandangan orang lain yang memandangnya bersalah karena tega-teganya meninggalkan anak dan keluarga di tempat lain. Padahal ada kondisi yang belum memungkinkannya menjadi seperti ibu rumah tangga lain yang bisa pergi kumpul-kumpul arisan, berderet manis di depan ATM setiap hari gajian suami, atau sekedar menghadiri acara-acara anaknya di sekolah.

“Aku bahkan tak pernah bisa ikut rapat wali murid di sekolah anakku.” (hal 40)

Ada rasa unik memikirkan bahwa sebenarnya kondisi saya saat ini, yang disebut Nadhira sebagai ‘ibu rumah tangga lain’ bisa menjadi impian bagi sebagian perempuan. Sekedar ibu rumah tangga biasa, yang menikmati hobinya menulis, bermain dengan anak-anaknya, tidur kalau capek, santai nonton film sambil mendaki gunung setrikaan, gigit jari kalau ingin beli sesuatu tapi dompet kosong. Hidup ini memang hanyalah masalah sudut pandang…

Menjadi working mom itu memang berat. Apalagi ketika terpaksa harus meninggalkan anak keluar kota dengan seorang pembantu yang baru bekerja satu minggu. Kita bisa baca tulisan Sari Meutia tentang ketakutan anak semata wayangnya diculik saat harus bertugas ke Jakarta.

Single parent

Apakah teman-teman ada yang single parent? Ada kisah menarik dari Susan S.Mada yang harus keluar dari rumah suaminya dan berpisah dengan 2 buah hatinya. Ketika pandangan sosial menyudutkannya sebagai pihak yang bersalah, ia hanya bisa bersimpuh dalam tahajud menahan kerinduan terhadap anak-anaknya. Ternyata di tempat lain, anaknya menelepon dan menyatakan baru selesai salat tahajud karena merindukan ibunya juga. Rindu kami bertemu di Tahajud menjadi judul cerita itu. Waktunya ambil tissue.

Bagi para single parent, janganlah kalian berputus harapan. Ummy Isyka yang memiliki 2 anak dan merasa bukan perempuan muda yang menarik bercerita tentang guru TPA anaknya yang mencuri perhatian. Sadar diri bahwa itu terlalu sulit untuk diraih, ia hanya mampu memanjatkan doa.

“Ya Allah, Engkau pasti tahu segala sesuatu yang ada di dalam hatiku. Engkau pasti tahu betapa aku tertarik dengan laki-laki ini…

Ya Allah, aku tahu hanya kepada-Mu aku berdoa dan bermohon karena hanya Engkau yang Mahakuasa, Mahatahu apa yang terbaik untuk hidupku.

Ya Allah, jika boleh aku memohon kepada-Mu dan jika memang Engkau berkehendak, jadikanlah dia pendamping hidupku, jadikanlah ia ayah bagi anak-anakku, dan jika menurut Engkau ini yang terbaik, maka kabulkanlah doaku.” (hal 129)

Terkabulkah doa Ummy Isyka? Bagaimana ceritanya? Baca saja sendiri kisahnya dalam cerita Doa untuk Lelaki Berwajah Sholih.

Apa yang kita lakukan ketika anak melakukan hal yang tidak pantas?
Apa yang kita lakukan ketika anak melakukan hal yang tidak pantas?

Masih banyak kisah-kisah unik lain tentang seorang ibu yang membesarkan anak yang memiliki keunikan, tentang ibu yang 2 anak gadisnya sangat berbeda karakter, tentang bagaimana menghadapi anak-anak yang mulai berani membantah, tentang ibu yang melihat anaknya melakukan hal yang tak pantas, dan lain-lain.

Belum pernah saya baca ontologi, dimana seluruh ceritanya menarik dan mengesankan. 19 cerita loh! Wajar saja hanya memerlukan 3 hari menjelang tidur malam untuk menamatkan buku setebal 300 halaman ini. Ini buku yang diperlukan buat para ibunda untuk bisa melihat sisi lain dari peran seorang ibu.

Catatan Hati Ibunda
Selain di rak buku saudara, buku Catatan Hati Ibunda bisa juga didapatkan di sejumlah toko buku offline dan online.

Judul                     : Catatan Hati Ibunda

Pengarang          : Asma Nadia, dkk

Penerbit              : AsmaNadia Publishing House, September 2013

Halaman              : viii + 304 hlm; 14×20,5cm

Harga                    : Rp 50.400,-

 

(1200 kata)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: