Pengalaman Operasi 5 Gigi dengan BPJS

Sebuah kebodohan yang luar biasa!

Ini semua karena kesalahan saya tidak rajin merawat gigi. Sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu dokter gigi favorit kami, drg. Allin P Iswari telah menyarankan untuk mengangkat 3 gigi dengan jalan operasi. Tapi karena melihat harga operasi gigi yang harganya jutaan, bikin saya senewen. Sayang ah buat operasi gigi, mending buat beli makanan atau buku atau baju atau lainnya. Masih banyak yang lebih penting untuk dibeli daripada sekedar operasi gigi yang tidak sakit. Lagi pula saya masih trauma operasi gigi bungsu pada masa kuliah dulu di RS Barromeous. Penuh darah dan membuat saya tidak bisa mengeluarkan suara selama beberapa waktu. Belum lagi rasa sakit. Aduh, sudah lewat puluhan tahun, tapi kok traumanya tidak hilang-hilang. Jadi urusan 3 gigi yang harus di operasi ini dimasukkan ke laci yang paling dalam dan kuncinya dibuang ke laut.

 

Bahayanya sakit gigi

Sampai setahun kemudian gigi saya agak bermasalah. Saat pemeriksaan gigi, kembali drg. Allin menyarankan untuk operasi gigi. Saat itu bertambah menjadi 4 gigi. Tapi ada angin surga yang dihembuskan, ternyata bisa pakai BPJS di RS Pindad. Dan gratis. Sebagai pecinta gratisan, maulah saya melirik jalur operasi ini. Apalagi setelah tahu bahwa masalah gigi ini bisa semakin parah jika tidak segera ditangani.

Dari sebuah artikel berjudul Sakitnya di Gigi Ancamannya ke Nyawa di Intisari September 2015 disebutkan bahwa sakit gigi dapat menyebabkan komplikasi seperti alergi, diabetes, jantung, dan stroke. Sepertinya hiperbola ya. Penjelasannya begini. Sisa makanan yang tidak sempurna dibersihkan saat menyikat gigi mengendap menjadi sumber makanan bagi bakteri. Bakteri yang bernama gram negatif itu mengeluarkan racun dan ‘memakan’ gigi kita. Jika didiamkan, racun akan menjalar ke bagian ujung akar gigi.

Nah sebagai pertahanan tubuh terhadap racun bakteri, maka di bagian ujung akar tersebut membentuk reaksi peradangan berupa abses, granuloma, atau bahkan kista. Gejalanya akan muncul seperti sakit saat mengunyah atau timbul bengkak kecil di gusi dekat akar gigi. Lama-kelamaan, racun bakteri menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Itulah sebabnya, gigi benar-benar harus dijaga agar tidak berlubang dan karies. Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan RI 2013 penduduk Indonesia yang memiliki gigi berlubang 93,9 juta orang! Rasanya jadi paham dengan hadis Rasulullah mengenai keutamaan membersihkan gigi.

“Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR Bukhari)

Jadi, OK deh, saya bulatkan tekad melakukan operasi gigi. Kencangkan ikat kepala untuk menerabas sejumlah opini tentang betapa buruknya pelayanan BPJS di Indonesia.

 

Proses BPJS tidak sesulit yang diduga

Dimulai dengan sowan ke drg. Allin dan membuat pengakuan dosa bahwa saya akhirnya mau dioperasi. Sebenarnya gigi saya tidak sedang terasa sakit.  Tapi ya itu tadi, takut makin parah saja. Mengapa sampai 4 gigi harus dioperasi itu karena sudah tidak bisa ditambal lagi. Bolongnya sudah terlalu besar dan terancam menjadi jalan masuk kuman. Kadang-kadang memang terasa sakit. Menurut drg. Allin, itu tergantung kondisi tubuh kita juga. Saat kondisi tubuh lagi lemah, gigi akan mudah terinfeksi.

Saya diminta memulai dengan membuat foto gigi Panoramic untuk dasar diagnosa dokter yang memutuskan perlu operasi atau tidak. Pada 10 Maret 2016, saya memilih ke Laboratorium Parahita di jl. A.Yani Bandung yang tidak terlalu ramai untuk foto gigi. Benar saja, saya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mendapatkan foto gigi keseluhan. Nggak pake antri. Biayanya Rp 160.000,-. Ini belum di cover BPJS. Dengan hasil ini, drg. Allin mengeluarkan surat rujukan ke Spesialis Bedah Mulut di RS Pindad drg. Saskia L Nasrun untuk operasi 4 gigi. Nambah 1 dari diagnosa tahun lalu. Kalau ingin di cover BPJS, saya harus meminta rujukan dari klinik kesehatan.

Klinik kesehatan di kartu BPJS saya tertera Klinik Medika Antapani di jl Purwakarta. Sempat mendapat kabar bahwa ribet banget nih mendapatkan nomor antrian di klinik kesehatan ini karena pasien gigi dibatasi 20 orang per dokter gigi per hari. Ada 2 dokter yang praktek di sini, artinya hanya 40 pasien yang dilayani setiap hari. Loket dibuka dinihari untuk mengambil nomor antrian. Dan katanya akan segera habis. Baru pukul 7 pagi nomor antrian akan ditukarkan dengan slip periksa dokter oleh petugas.

Saya terus terang tidak bisa datang ke klinik dibawah pukul 7. Ada anak yang harus sekolah, belum mandi, kudu FB an dulu, dan banyak alasan lainnya. Saya putuskan minta tolong Mama yang rumahnya dekat dengan klinik untuk sekedar mengambilkan nomor antrian pukul 6 pagi. Ternyata dapat nomor 13.

Saya baru tiba di Klinik sekitar pukul 8 pada Jumat, 1 April 2016 dengan membawa nomor antrian yang diambil Mama saya. Saat daftar ulang, kata petugas sebenarnya jatah 40 orang masih tersisa. Jadi kalau kita tidak mengambil nomor antrian pun sebenarnya aman-aman saja. Tapi memang seringkali nomor antrian sudah habis sekitar pukul 7 pagi. Jadi memang ada faktor keberuntungan disini.

Kalau menurut saya sih, tidak perlu terlalu ketakutan tidak kebagian nomor antrian. Datanglah pada jam sewajarnya saja. Tidak perlu terlalu ketakutan.

 

Masalah antrian di rumah sakit

Soal nomor antrian ini juga sudah pernah saya bahas dengan drg. Allin. Kenapa rumah sakit membuka antrian dari dinihari, sementara dokter datangnya siang? Kok ya tega banget menyiksa orang berlama-lama di rumah sakit. Padahal orang sakit umumnya membawa kuman dan sebaiknya beristirahat di rumah sehingga tidak berinteraksi dengan orang lain. Bila perlu mbok ya pendaftaran itu cukup telepon, dan disampaikan harus berada di RS untuk diperiksa dokter jam tertentu. Jadi pasien cukup 30 menitan di rumah sakit dan segera pulang.

Dan jawaban drg. Allin menarik. “Itu sudah dicoba Bu. Sebenarnya sudah disarankan untuk tidak mengantri dari subuh. Tapi orang-orang ketakutan tidak kebagian jatah periksa. Jadi berusaha datang sepagi mungkin. Pihak rumah sakit tidak tega menolak orang yang sudah mengantri dari subuh.”

Ehm…. Ok, saya jadi mikir juga kalau begitu.

Kembali ke pemeriksaan gigi saya di klinik pertama. Untuk nomor antrian 13, saya menunggu sekitar 1 jam. Bukan waktu yang terlalu lama untuk diisi dengan main henpon. Setelah diperiksa dokter, saya meminta rujukan untuk operasi gigi di RS Pindad. Selembar surat rujukan sakti yang berlaku untuk 1 bulan. Kurang sakti bagaimana coba, operasi gigi yang harganya jutaan untuk satu gigi itu, bisa jadi nol rupiah dengan surat sakti ini.

 

Persiapan Operasi Gigi dengan Surat Sakti BPJS di RS Pindad

Sekarang tinggal membawa surat ini ke RS Pindad. Sekali lagi, selentingannya ribet banget jadi pasien BPJS karena pendaftarannya terpisah dari pasien umum. Selama ini saya selalu ke RS Pindad sebagai pasien umum. Datang bebas jam berapa saja, bahkan bisa via telpon untuk pendaftaran, dan langsung menunggu jadwal pemeriksaan. Sebagai pasien BPJS saya harus membawa fotokopi kartu BPJS, Surat Rujukan, Kartu Keluarga, dan KTP. Buat amannya, siapkan ini rangkap selusin. Di tempat fotokopi di rumah sakit biasanya menyediakan fasilitas ini dengan murah meriah. Mereka sudah paham kebutuhan pasien yang membutuhkan kira-kira setengah lusin data-data tersebut.

Dokter spesialis bedah mulut di RS Pindad adanya siang pk 13.00 – 14.00 (drg. Saskia), jadi saya datang siang. Tanpa ada antrian, saya menyerahkan berkas, dan langsung diberikan slip pemeriksaan untuk ditandatangani di meja BPJS. Setelah itu langsung dibawa ke poli giginya. Tidak pake ribet, tidak pake lama. Padahal saya sudah bawa Novel setebal bantal Intelegensia Embun Pagi-nya Dewi Lestari buat baca-baca.

Setelah diperiksa, ternyata oleh drg. Saskia diputuskan ada 5 gigi yang perlu di operasi. Nambah satu lagi! Dan kalau operasi gigi, harus menjalani bius total yang membutuhkan cek laboratorium yang cukup lengkap. Innalillahi.

Sebagai pasien BPJS, cek laboratorium ini harus dilakukan dalam 5 hari pemeriksaan dan berselang 2 hari. Saya sudah stress saja harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cek lab. Yang nggak asyiknya itu masalah antriannya. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lagi.

 

Tidak ada antrian saat pemeriksaan laboratorium

Tapi ajaibnya, tidak ada antrian yang berarti selama saya melakukan pemeriksaan lab. Saya datang pada siang hari diatas jam makan siang. Daftar dengan membawa berkas fotopi BPJS, dan langsung ambil surat pengantar dari poli gigi yang sudah disiapkan oleh dokternya untuk 5x cek lab, ambil darah di Lab, dan pulang deh. Nggak pake lama, nggak pake ribet. Cuma bayar mang Ojek aja Rp 20.000,- pp setiap kali cek lab. Ada 3 kali ambil darah, foto rontgen (thorax), dan EKG.

Yang agak hampir bikin senewen adalah saat cek ke dokter penyakit dalam. Konon kabarnya mendaftarkan diri untuk diperiksa dokter penyakit dalam di RS Pindad harus dari subuh. Nyusahin amat sih! Berhubung karena butuh, saya jalani saja. Tapi saya tidak mau datang dari subuh. Saya datang jam 7 pagi. Benar saja sudah ramai orang. Alhamdulillah ada ibu petugas yang bisa ditanya dan mondar-mandir memberikan penjelasan kepada para calon pasien untuk duduk sesuai antrian.

“Bu saya mau ke dr penyakit dalam untuk pemeriksaan lab.”

“Mau ke dokter siapa? Sudah pernah sebelumnya?”

“Nggak tahu mau ke dokter siapa. Bebas aja. Saya hanya perlu untuk pemeriksaan lab.”

“Sama dokter A saja, ibu dapat nomor 414.”

Gleg. 414 orang? 3 digit? Saya udah syok duluan.

“Itu artinya ibu nomor 14. Nanti dipanggil bu katanya. Dokternya ada nanti sore jam 3,” kata ibu petugas melihat kekecutan saya.

o…nomor 14 to, rada masuk akal.

Loket akhirnya baru dibuka pk 8.00 pagi. Saya menunggu tidak terlalu lama, mungkin sekitar 30 menitan untuk mendaftar dan mendapatkan surat untuk pemeriksaan EKG dan ke dokter penyakit dalam nanti sore. Pukul 9 pagi EKG sudah beres. Nanti sore saya tinggal menemui dokter penyakit dalam.

Sore itu, tanpa antrian berarti, saya diperiksa dokter penyakit dalam, dan mendapat persetujuan untuk operasi. Pasien resiko ringan katanya. Tapi tetap aja ya, yang namanya operasi dibius total kok ya serem. Ntar gimana kalau saya nggak bangun lagi?

Semua hasil tes lab, saya kumpulkan di poli gigi. Kemudian saya diminta mengisi sejumlah berkas persiapan operasi di poli gigi. Selanjutnya saya akan dihubungi untuk jadwalnya. Sempat tawar menawar enaknya kapan mau operasi. Masih ada waktu 2 minggu untuk mempersiapkan diri dan mengurus cuti suami yang akan mengantarkan. Termasuk juga meminta tolong mertua untuk menemani anak-anak sepulang sekolah.

Saya diminta puasa dari pukul 2 malam. Operasi direncanakan pukul 8 pagi. Paling sore sudah boleh pulang susternya.

 

Hari Operasi

Pagi itu Senin, 16 Mei 2016 jam 7.30 pagi, saya sudah ditelpon dari rumah sakit. Ditanya keberadaannya, karena ruang operasi sudah siap. Waduh, saya kira jam 8 itu maksudnya saya dari rumah. trus antri dulu, nunggu dokter datang dulu, dan operasi mulai pukul 9 atau 10. Ternyata serius mau operasi jam 8. Padahal saya lagi asyik cuci piring dan belum mandi. RS Pindad nggak pake jam karet ternyata. Akhirnya dengan terburu-buru, saya dan suami tiba di RS Pindad pk 8.00. Karena telat, saya diminta jadi pasien operasi kedua. Sekitar 30 menit – 60 menit kemudian. Ya sudah saya daftar dulu. Tidak lama urusan pendaftaran beres karena ruang operasi sudah menunggu.

Disuruh berganti baju operasi dan langsung masuk ruang operasi. Baru tahu saya yang namanya ruang operasi. Asli serem. Warnanya hijau. Lantai, dinding, plafond, hijau semua. Kira-kira kalau ini ruang operasi di cat gambar-gambar lucu, mungkin bisa agak manis dan mengurangi ketegangan.

Saya pun berbaring. Kemudian disuntikkan infus. Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, mulut saya ditutup tabung. Agak bau. Saya berusaha tetap sadar dan mau tahu bagaimana rasanya hilang kesadaran itu. Sakit kah? Apakah itu rasanya mati? Tapi kok ya lama banget hilang kesadaran ini. Sampai tahu-tahu saya merasa di dorong.

“Jadi kapan operasinya?” tanya saya bingung.

“Sudah.”

Loh, kok bisa? Waktu sudah menunjukkan pk 11.00 siang. Dan saya tidak berasa apa-apa. Ya ampun, sudah berusaha menunggu lama-lama kok sudah, ya sudahlah, saya tidur lagi saja. Di ruang pemulihan, saya merasa pipi saya membesar sebesar bola pingpong. Tapi nggak ada rasanya sih. Saya masih merasa melayang-layang. Terus terkapar lagi.

Baru sekitar pukul 2 siang, saya rada segar. Bola pingpong di pipi ternyata adalah kapas. Pas kapasnya dikeluarkan, pipi saya kempot seperti biasa. Siang itu saya dikasih minuman protein untuk pemulihan setelah operasi. Kaya susu putih, tapi enak.

Alhamdulillah, sore itu saya boleh pulang. Sudah baik-baik saja. Nggak pake sakit, nggak pake kantong kering karena asli bayarannya nol rupiah. Dapat oleh-oleh remahan 5 gigi yang bentuknya menjijikkan dalam sebuah tabung suntikan.

gigi operasi
5 gigi hasil operasi dalam bentuk serpihan yang menjijikkan.

Ada daftar perincian obat yang saya terima dari bagian Farmasi. Nilainya sekitar 1,2 juta. Tapi sekedar pemberitahuan, bukan di suruh buka dompet sendiri. Untuk biaya operasinya saya tidak tahu.

Setelah itu saya masih dapat jatah pemeriksaan satu kali lagi untuk kontrol 1 minggu kemudian. Ini aneh juga ya, waktu operasi 1 gigi dulu, saya kesakitan sekali, pas operasi 5 gigi, tidak ada rasa sakit sama sekali. Biasa aja, makan juga biasa. Baru setelah 1 minggu dan jahitannya dibuka, sempat ada rasa sedikit ngilu. Tapi segera hilang dalam 1-2 hari.

Nah sekarang tinggal buat gigi palsu. Pembuatan gigi palsu baru bisa dilakukan minimal 3 minggu setelah operasi. Dan ini harus untuk mencegah pergeseran gigi-gigi yang lain. Sayangnya gigi palsu, ternyata hanya ditalangi Rp 250 rb/gigi dengan BPJS. Padahal harga gigi palsu jutaan. Jadi kayanya, untuk masalah gigi palsu, mending sendiri saja tanpa bantuan BPJS.

Bagaimanapun juga terimakasih BPJS dan RS Pindad yang telah membantu menyingkirkan penyakit dari mulut saya dengan biaya nol rupiah dan pelayanan yang memuaskan. Buat para calon pasien, jangan langsung berpikiran buruk dengan pelayanan BPJS dan rumah sakit. Its not that bad. Atau bisa jadi juga eta mah kumaha amalan masing-masing…

(2079 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

45 thoughts on “Pengalaman Operasi 5 Gigi dengan BPJS

  • July 25, 2016 at 5:14 am
    Permalink

    Gw udah 4x masuk ruang operasi… 1x pengangkatan kelenjar, 3x caesar…. walhasil pas Hasbi mau sunat, gw yg ga bisa tidur dan mimpi buruk 😀

    Reply
    • July 25, 2016 at 7:34 pm
      Permalink

      Akhirnya jadi merasa biasa kali ya? Ruangannya selalu cat hijau gitu?

      Reply
  • December 21, 2016 at 5:47 pm
    Permalink

    Doain aku juga mba ya mudahmudahan ga sampe oprasi, gigi geraham kiri ngilunya udah ga ketulungan banget udah 3 hari dan gaberenti berenti hhhhhhh

    Reply
    • December 21, 2016 at 8:20 pm
      Permalink

      Semoga cepat sembuh Yudho. Iya, kalau bisa jangan sampai operasi gigi dan terpaksa pakai gigi palsu. Ribet urusannya. Rawat gigi selagi bisa.

      Reply
  • December 25, 2016 at 6:00 pm
    Permalink

    Assalamualaikum mba, apakah perlu rontgen dulu sebelumn operasi kecil untuk gigi ??
    Terima Kasih.

    Reply
    • December 25, 2016 at 7:01 pm
      Permalink

      Sepertinya nggak ya. Saya pernah operasi kecil, nggak pakai rontgen. Rontgen hanya waktu operasi yang harus dibius total saja.

      Reply
  • December 30, 2016 at 4:11 pm
    Permalink

    Mba mau nanya apakah bius total brbahaya? Atau pas dcek bagus hasil tes lab dia bs dbius total atau tidak itu kliatan y mba? Sy takut dbius total

    Reply
    • December 30, 2016 at 8:04 pm
      Permalink

      Mungkin berbahaya, makanya perlu di cek lab lengkap. Dari hasil cek lab, nanti kelihatan apakah pasien termasuk resiko tinggi atau rendah. Kalau saya kemarin memang hasil cek labnya baik-baik saja dan termasuk beresiko rendah. Dokter lebih tahu soal ini.

      Reply
  • January 15, 2017 at 12:48 pm
    Permalink

    Saya lagi ada rencana cabut gigi pakai bpjs, nyangkut di sini.. jatahnya ke medika juga. Gustiiii… eta 5 sekaligus, ngadadak jadi linu sendiri

    Reply
  • February 16, 2017 at 1:01 pm
    Permalink

    sya ada dua gigi graham nih yg udah kaga ada pondasinya tinggal akarnya doang,, dan sekarang lagi sakit dan gusinya bengkak di dekat akarnya

    Reply
  • March 25, 2017 at 12:20 pm
    Permalink

    Saya juga mau bedah mulut, sempet takut khawatir makannya entar gimana, sikat giginya gimana, dan katanya mesti opname 3 hari di bulan mendekati saya sidang tugas akhir, semoga aman dan gak sakit amiin

    Reply
  • April 7, 2017 at 12:24 pm
    Permalink

    Ternyata bisa yah operasi gigi pakai bpjs, kalau gitu ga ragu lagi deh periksain gigi anak saya soalnya ada 2 yg tumbuh dibelakang gigi depan & mulai ngeluh sakit

    Reply
    • April 8, 2017 at 12:59 am
      Permalink

      Alhamdulillah bisa pakai BPJS. Makanya sayang kalau tidak dimanfaatkan demi kesehatan kita. Gigi ternyata pengaruh banget ke kesehatan tubuh yang lain. Kalau bisa dirawat dari awal akan lebih baik. Badan sehat, produktifitas meningkat. BPJS itu nggak terlalu ribet kok, asal pintar memilih rumah sakit dan dokter yang tepat. Plus sedikit stok sabar dan tidak banyak mengeluh.

      Reply
      • April 13, 2017 at 8:05 pm
        Permalink

        Teh, ada saran RS lain selain pindad gak buat operasi gigi pake BPJS yang gak ribet?

        Reply
        • April 16, 2017 at 6:00 pm
          Permalink

          Papa Mama saya memilih operasi di RSHS. Dengan pake doa, nggak ribet kok di mana aja. Berdoa aja pas bagian kita nggak dibuat ribet.

          Reply
  • May 3, 2017 at 10:34 am
    Permalink

    Hallo mba, salken dari Batam. Btw itu lima giginya mba sampe harus dicabut karena bolong atau ada faktor lain?
    Yang di cabut sejajar atau selang seling? Gigi saya berlubang juga nih, dan skrg terasa sakit dan gusinya bengkak.

    Reply
    • May 3, 2017 at 10:40 am
      Permalink

      Dokter yang tahu mana yang perlu dicabut mana yang tidak. Ada gigi bolong yang bisa berbahaya karena bisa menyebarkan kuman karena tidak mungkin ditambal lagi saking besarnya. Suami saya juga giginya bolong parah, tapi kata dokternya tidak perlu dicabut setelah dilihat foto rontgennya. Dari foto rontgen baru kelihatan gigi yang perlu dicabut atau tidak.

      Reply
  • June 9, 2017 at 2:12 pm
    Permalink

    wah terima kasih mbak Shanty infonya.. sangat membantu buat saya yang masih mikir perlu dicabut apa enggak setelah mengalami pembengkakan gusi di gigi geraham bungsu sebelah kanan.. mengingat biayanya yang juga tidak kecil.. kalau dari cerita yang saya baca yang ribet malah persyaratan pra-operasi ya.. sempat pernah dapat info nggak mbak kalau tanpa bpjs, operasi geraham bungsu di RS Pindad ada di kisaran berapa juta ? terima kasih

    Reply
    • June 11, 2017 at 8:22 pm
      Permalink

      Ngeri mau nanyanya. Tapi sepertinya di kisaran juta-juta lah. Cek labnya kan lumayan banyak. Mana bius total lagi.

      Reply
  • June 26, 2017 at 10:13 pm
    Permalink

    Mba emang setelah operasi hrs pke Gigi palsu atau tergantung kita mau atau ngga? Klo cuma 1 Gigi yg dioperasi apa hrs pke gigi palsu jg? Makasi..

    Reply
    • July 13, 2017 at 8:52 am
      Permalink

      Nggak rontgen gigi ulang. Tapi kalau perlu diperiksa/cabut gigi lagi, tentunya harus di rontgen ulang. Kan sudah beda.

      Reply
  • July 12, 2017 at 8:17 pm
    Permalink

    mba santi, saya pernah dengar dari teman saya bahwa saat operasi, mulut kita akan dirobek sedikit. apa itu benar ?

    Reply
      • July 13, 2017 at 10:47 am
        Permalink

        iya setau saya memang gusi yang dirobek guna utk mengeluarkan giginya (Seperti operasi pertama saya)
        namun, teman saya cerita saudaranya dioperasi dengan bius total dan mulut nya sempat di robek sedikit jadi lebih lebar.

        Reply
  • July 13, 2017 at 6:36 am
    Permalink

    Kmrin cabut gigi si abang,rencana mo 2 gigi dpn coz udah tumpang tindih.
    Tp sehari hanya 1gigi dgn bpjs,gigi ke 2 byr

    Reply
    • July 13, 2017 at 8:50 am
      Permalink

      Iya betul kalau cabut gigi harus satu-satu. Makanya untuk kasus saya disarankan operasi, biar bisa sekalian.

      Reply
  • July 17, 2017 at 3:18 am
    Permalink

    assalamualaikum, mba maaf mau tanya untuk biaya obat sesudah operasi berapa ya?

    Reply
  • July 20, 2017 at 11:35 am
    Permalink

    mbak kalo boleh tau itu 5 gigi yg dicabut mana aja ya mbak? trus skarang udah pakai gigi palsu mbak?habis brapa mbak bikin 5 gigi palsu?

    Reply
    • July 21, 2017 at 8:13 am
      Permalink

      Atas 4 bawah 1. Trus saya bikin gigi palsu atas 5, bawah 1. Biaya totalnya sekitar 2jt-an.

      Reply
  • July 26, 2017 at 9:45 am
    Permalink

    Mbak saya mau nanya apa bisa operasi merapatkan gigi pake bpjs,soalnya gigi saya ada yang renggang

    Reply
  • August 6, 2017 at 9:36 pm
    Permalink

    Mantap nih cerita pengalamannya. Jadi ada gambaran gimana kalau mau operasi gigi dan segala macam persiapannya. Terima kasih sudah sharing 🙂

    Reply
  • August 10, 2017 at 12:09 am
    Permalink

    Mbak, mungkin tahun depan saya berencana juga mau mengajukan operasi gigi via BPJS, karena gigi saya mungkin sudah kategori kritis, lubang dimana-mana, besar-besar dan banyak yg tinggal akar. Mengerikanlah pokoknya, gigi depan sampai saya tutup gigi palsu dari tukang gigi. hehehe
    Mau tanya mbak, sekarang pakai gigi palsu yang model gimana ya mbak ? saya baca-baca mbak shanty habis 2 jutaan itu, bisa buat makan enggak mbak giginya? soalnya ibu saya pakai gigi palsu juga susah buat makan. Terimakasih

    Reply
    • August 16, 2017 at 11:48 pm
      Permalink

      Valplast kalau nggak salah namanya. Enak sih buat makan, nggak ada kawatnya dan relatif lentur. Cuma saya suka malas aja pakainya.

      Reply
  • August 15, 2017 at 9:28 am
    Permalink

    Assalamu’alaikum mbak shanty. Mau tanya mbak, biaya operasi 1 gigi berapa ya? Adek saya kan mau cabut 4 gigi, bpjsnya kelas 2, tp kita mau pindah kamar ke kelas 1. Biar bisa kira2 total tambah biaya buat kelas 1 nya. Terimakasih

    Reply
  • August 21, 2017 at 2:33 pm
    Permalink

    Asslmualaikm Mbak ak bru baca blog’y mbak shanty.. itu onyakit gigi ak bgt mbak .. ak takut bgt d operasi gigi.. tau jg efek klo gak d cabut atw d operasi .. tp pngalaman mbak jd galau .. antara referensi sm ragu takut jg .. mbak cabut gigi 5 .. klo ak ada kmungkinan lbh dr 5 T.T .. tp makasih bgt mbak jd ak gak blank gmn proses oprasi gigi

    Reply
  • August 24, 2017 at 2:15 am
    Permalink

    Thanks mbak untuk infony.

    Reply
  • August 25, 2017 at 6:05 pm
    Permalink

    klo tanem gigi permanent bisa ga mba abis operasi kaya mba itu ? soalnya malas pakai yg lepas pasang gitu buat gigi palsu nya

    Reply
    • August 25, 2017 at 11:19 pm
      Permalink

      Bisa aja, malah lebih bagus kayanya. Konsultasikan sama dokternya aja bagaimana baiknya.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: