Pengalaman Mengecat Rumah

Lebaran tahun ini kami tidak beli baju lebaran karena belum dapat baju lebaran yang dibutuhkan. Lagi pula sekedar baju bagus untuk dipakai sholat Ied kami masih punya. Kami juga tidak beli kue kering lebaran karena Alhamdulillah dapat beberapa toples parcel lebaran. Untuk opor dan ketupat, langsung dikirim mentahnya ke orangtua dan mertua. Maklum hingga tahun ke-10 pernikahan, urusan lebaran masih nebeng di orangtua dan mertua yang jarak mudiknya hanya 15 menit dengan motor. Nggak pake mahal, nggak pake macet tentunya.

Cat rumah lama yang serba putih
Cat rumah lama yang serba putih

Jadi THR buat apa dong?

Sebenarnya ide pengen mengecat rumah sudah ada sejak tahun lalu. Terakhir kali kami mengecat rumah 3 tahun lalu saat renovasi. Dengan menggunakan 2 peil lebih cat Catylac putih untuk dinding dan plafond. Saat itu si Abah memilih tema putih. Dinding putih, plafond putih, kusen putih, lantai putih. Pokoknya semua putih. Putihnya pun benar-benar putih seputih putihnya. Setelah 1 tahun, putihnya jadi tidak bersih. Bisa jadi karena debu, putihnya jadi kotor. Asli jorok dan nyebelin sekali lihatnya.

Masalah dinding lembab dan terkelupas

Dan yang bikin parah adalah masalah dinding yang terkelupas karena lembab di beberapa tempat. Kalau bagian yang ini joroknya maksimal. Selama ini masih bisa ditutupi dengan disembunyikan di belakang perabot. Tapi ya tetap saja kelihatan.

Dinding lembab yang menjijikkan
Dinding lembab yang menjijikkan

Sebenarnya sebelum renovasi, dinding rumah kami tidak punya masalah dinding lembab. Rumah ini mulai ditempati sejak awal 2009, dan di renovasi dengan meninggikan lantai setinggi 25 cm pada Juli 2013. Sepertinya adukan trasram padat yang biasa digunakan pada bagian bawah dinding agar air dari pondasi tidak naik keatas terlalu rendah. Akibatnya pada saat lantai ditinggikan, adukan transram ikut tertimbun dan air pun menyerap ke dinding.  Jadi deh, beberapa bagian dinding jadi bulukan. Cat dindingnya terkelupas.

Kalau hitung-hitungan kasar untuk mengecat seluruh rumah, rasanya akan menghabiskan biaya yang cukup banyak. Makanya kami selalu maju mundur nggak cantik untuk urusan mengecat rumah ini.

Ada 2 bagian dinding yang paling parah di ruang tamu dan 1 bagian di ruang tidur yang sebenarnya membutuhkan perawatan darurat. Selain karena kelihatan, juga takutnya air akan merusak dinding makin tinggi. Akhirnya diputuskan memperbaiki bagian yang rusak saja dengan No Drop.

Di mulai dengan mengkikis bagian yang terkelupas dengan Scraper (Kape). Kape harganya ada yang Rp 8.000,- sampai Rp 20.000,-. Karena penasaran saya beli 2, yang mahal dan yang murah. Menurut si Mang Kincring – tukang kami, kape yang murah gampang patah dan kecil. Kalau yang mahal lebih tahan lama.

Laden spesial untuk membersihkan dinding lembab
Laden spesial untuk membersihkan dinding lembab

Setelah itu diamplas dengan amplas kasar. Saya sempat salah dengan membeli amplas kayu. Baru setelah itu di kuas dengan No Drop. Ternyata No Drop itu berfungsi juga sebagai cat. Ada berbagai warna yang tersedia. Harganya di Depo Bangunan Rp 40.000,- untuk 1 kg.

Dinding putih kembali setelah dipulas dengan No Drop.
Dinding sehat kembali setelah dipulas dengan No Drop.

Sambil Mang Kincring mengerjakan, saya pun mulai tergoda untuk mengecat setidaknya 1 ruangan. Mang Kincring dan beberapa teman merekomendasikan cat Jotun jika ingin cat yang bisa dibersihkan.

Sebenarnya sebelumnya kami memakai cat merek A yang jargonnya bisa dibersihkan dengan mudah. Khusus untuk bagian bawah dinding setinggi 120cm. Tapi ternyata tidak bisa terbukti bisa dibersihkan. Jangankan dari coretan anak-anak, bahkan dari debu yang menempel pun tidak. Bercak-bercak hitam kotor terlihat dimana-mana. Padahal kan iklannya jelas-jelas menunjukkan tampilan anak yang corat-coret dinding dan tinggal di lap, segalanya bersih kembali. #korban_iklan.

Saya pun berangkat ke Depo Bangunan yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sempat bingung dengan jajaran counter sejumlah brand cat. Semua mengaku mengkilap dan bisa dibersihkan. Saya juga ke counter cat A dan protes soal cat mereka yang tidak bisa dibersihkan.

“Memang Bu, produk lama memang tidak bisa dibersihkan. Yang bisa dibersihkan itu yang produk seri yang mengkilap. Tapi cat yang sekarang, campurannya baru dan memang bisa dibersihkan. Walau bukan dari spidol.”

Hah??? Jadi yang dulu tulisannya mudah dibersihkan itu tapi sebenarnya tidak bisa dibersihkan?

Serius rasanya mau marah banget. Karena dulu saya memang niat bela-belain merogoh kocek lebih dalam buat beli cat ini dengan harapan mendapatkan cat yang bisa dibersihkan. Dan ternyata iklannya bohong!!!

“Bagaimana saya bisa percaya kalau yang sekarang benar-benar bisa dibersihkan?”

“Dicoba saja Bu.”

Harga cat A 2,5 liter Rp 145.000,- sedangkan Jotun 2,5 liter Rp 200.000,-. Sementara rekomendasi tukang dan banyak orang Jotun.

Jadi pilih yang mana ya? Setelah mondar-mandir kaya sterikaan, plus beberapa kali sambungan telpon ke si Abah, akhirnya diputuskan mencoba 1 kaleng merek A warna peach dan 1 kaleng Jotun Majestic warna putih. Biar bisa kita buktikan sendiri hasilnya. Sengaja kami pilih warna peach sebagai aksen. Karena rumah kami mungil, rasanya kami belum terlalu percaya diri untuk pakai warna-warna mencolok seperti marun untuk aksen. Rencananya satu sisi dinding di ruang tamu dan 2 kamar tidur akan diberi aksen warna peach ini. Sedangkan warna dominan tetap kami pilih putih dengan nuansa peach yang sangat tipis.

Aksen dinding peach
Aksen dinding peach untuk daerah televisi

Daya sebar cat

Maka pulang lah saya dengan membawa 2 kaleng cat yang siap diaplikasikan Mang Kincring. Di kaleng Jotun tertulis daya sebar cat 6-8m2/liter untuk 1 lapis. Artinya 1 kaleng 2,5 liter bisa untuk 7-10 m2 untuk 2 lapis. Ini teorinya.

Prakteknya, 2,5 liter cat Jotun bisa digunakan Mang Kincring untuk sekitar 19m2. Dan cat A dipakai untuk sekitar 20m2. Masing-masing dengan 2 lapis cat.

Dan pemenangnya adalah…. Jotun. Hasilnya benar-benar kilap, kinclong dan bisa di lap. Seperti yang saya butuhkan selama ini. Cat A tidak mengkilap seperti Jotun. Semalaman kami sekeluarga mengagumi dinding ruang tamu yang kinclong seperti rumah gedongan. Padahal sebelumnya hanyalah dinding buduk yang buruk rupa.

Wall paper

Kami memang sempat kepikiran mau pakai wall paper untuk menutupi dinding hasil kerjaan pengembang yang jauh dari memuaskan ini. Tapi menurut Mang Kincring, dinding wall paper itu perawatannya lebih repot. Wall paper tidak bagus di dinding yang lembab. Kalau bosan dan ingin ganti, proses pembersihannya repot dan lama. Karena lem dari wall paper lama harus benar-benar dikupas dan dibersihkan. Berbeda dengan cat yang tinggal di pulas lagi.

“Tapi kan dinding rumah kami jelek dan ada retak rambutnya? Bahkan ada yang bukan retak sebesar rambut lagi, melainkan lebih dari beberapa mili.”

“Di bobok dulu sedikit sebelumnya, terus ditutup dengan dempul gipsum sebelum di cat Bu. Gampang itu mah,” ujar si Emang.

“Ah masa sih?” kata saya dengan hati berbunga-bunga oleh harapan dinding buduk ini bisa diperbaiki. Memang ada saatnya kita harus mengakui Tukang lebih pintar daripada Arsitek.

Pintu yang rusak dimakan rayap
Dempul gypsum bisa juga digunakan untuk memperbaiki pintu rumah yang rusak dimakan rayap. Tapi sebelumnya, rayap dimatikan dulu.

Karena puas dengan hasil cat hari pertama, kami bulatkan tekad buat membeli 3 kaleng lagi Jotun Majestic (Rp 200.000,-/kaleng) untuk dinding dalam rumah, 1 kaleng Jotun Jotashield Color Extreme 2,5 liter (Rp 260.000,-) untuk dinding luar rumah, dan 3 kaleng Jotun Essence High untuk cat kusen (Rp 50.000,-/kaleng). Kami sudah jatuh cinta dengan Jotun.

Jadi tidak perlu lagi beli cat ukuran peil yang 20 liter. Rumah 50m2 kami hanya membutuhkan 5 kaleng 2,5 liter saja untuk interior, dan 1 kaleng untuk ekterior. Dan sekitar 3-4 kaleng cat kayu/besi untuk kusen dan pagar.

Menutupi retak dinding

Saya sempat tanya di counter Jotun, “Kenapa harga cat Jotun lebih mahal dibanding cat lain?”

“Karena selain bisa dibersihkan, cat Jotun bisa menutupi retak rambut Bu.”

“Oh ya? Itu yang saya butuhkan.”

Entah ini si Mang Kincringnya yang sakti, atau cat Jotunnya yang memang luar biasa, dalam 5 hari kerja rumah kami kinclong bersinar. Dengan biaya tukang Rp 120.000,-/hari tanpa makan kami puas dengan hasil kerja Mang Kincring. Tidak ada lagi kotor, tidak ada lagi dinding lembab, tidak ada lagi retak rambut, tidak ada lagi kusen putih yang kusam.

Old room
Dinding kamar anak balita yang penuh tempelan, kotor dan retak.

Mengecat ini juga sekaligus perayaan hari ulang tahun Sasya ke-6 pada 3 Juli 2016 lalu.  Sebagai tanda tidak ada lagi anak usia dibawah 6 tahun yang jorok dan boleh corat-coret atau nempel ini itu di dinding. Semua bersih, rapi dan ada tempatnya. Sasya bahagia banget dengan kamar barunya dan galeri tempat menampilkan karya-karyanya dengan lebih representatif.

Kami pun siap menghadapi hari kemenangan dengan rumah yang kinclong. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H

Mengecat rumah? Siapa takut.

Galeri di kamar baru Sasya. Spesial untuk anak umur 6 tahun ke atas.
Galeri di kamar baru Sasya. Spesial untuk anak umur 6 tahun ke atas. Bye bye dinding retak rambut dan penuh tempelan.

(1175 word)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Pengalaman Mengecat Rumah

Leave a Reply

%d bloggers like this: