#7 Kriteria Mencari Sekolah Ideal untuk Anak

Ini pengalaman mencari sekolah pertama untuk Raka yang saat itu berusia 4 tahun dan sudah waktunya masuk TK. Di awal tahun 2011 itu, saya baru punya bayi usia hampir 1 tahun. Lagi ribet-ribetnya karena tengah belajar jalan. Ada rasa ingin cepat-cepat menyekolahkan Raka, agar ia segera punya teman dan kesibukan sendiri. Jadi saya bisa fokus dengan adiknya.

Raka Raisya di akhir tahun 2011
Raka Raisya di akhir tahun 2011.

Sebagai anak pertama, tentunya kami belum punya pengalaman menentukan pertimbangan apa yang akan dipakai untuk memilih sekolah. Apalagi saat itu iklan sekolah begitu bertubi-tubi. Antara kualitas dan harga saling balap-balapan.

 

#7 Kriteria Mencari Sekolah

Untuk menyempitkan pilihan mencari sekolah ideal, kami menyusun #7 kriteria seperti berikut:

 

#1 Jarak yang dekat

Untuk anak usia TK dan SD, kami tidak ingin anak-anak lelah di jalan. Jadi harus sedekat mungkin dengan rumah. Bila perlu harus bisa dicapai dengan jalan kaki atau maksimal dengan sepeda. Pertimbangan jarak bahkan kami nilai lebih penting daripada kualitas sekolah. Alasannya pendidikan dasar seperti TK dan SD masih  sederhana. Ilmu-ilmu dasar bagi mereka sebenarnya cukup dari orangtua. Sekolah sekedar sebagai pelengkap.

Sebenarnya saya sempat tergoda untuk survey ke sekolah-sekolah keren yang jaraknya lebih jauh. Tapi suami tidak setuju. “Kebayang nggak nanti repot antar jemputnya? Mana masih ada bayi lagi. Juga pertimbangan biaya transportasi jika harus naik kendaraan setiap hari,” kata suami.

 

#2 Biaya yang terjangkau

Dan jangan terkecoh, biaya ini bukan hanya untuk uang masuk saja. Tapi juga harus dipertimbangkan mengenai SPP bulanan, biaya kegiatan tahunan yang akan terus bertambah setiap tahun, sampai ke biaya untuk 2 anak di sekolah yang sama. Nggak lucu kan kalau saat ini kita mampu menyekolahkan anak di sekolah yang mahal, pas adiknya kita kehabisan bensin dan terpaksa menyekolahkan adiknya di sekolah yang biayanya lebih murah.

Kami bahkan mempertimbangkan kondisi sosial sekolah. Sekolah mahal tentunya memiliki gaya hidup yang berbeda dengan sekolah yang lebih murah. Mungkin akan sering ada perayaan ulang tahun, kumpul-kumpul orangtua, dan sejenisnya yang akan menguras kantong lebih dalam.

Setelah mengukur kemampuan, kami tetapkan rentang budget sekolah yang sanggup kami penuhi tanpa rasa stress.

 

#3 Guru yang memiliki konsep pendidikan yang sama

Sebagai orangtua, kami punya konsep tentang pendidikan untuk anak-anak. Kami bukan orangtua yang ingin anaknya terburu-buru pintar baca, tulis, dan berhitung. Bahkan cenderung masuk golongan orangtua yang mengharamkan hal itu pada anak usia TK. Nah jangan sampai anak-anak harus bersekolah di sekolah yang memasang target yang tinggi seperti bisa calistung, hapal Quran, dan sejenisnya.

Untuk bisa mendapatkan guru yang sevisi, tentunya harus ngobrol dulu dengan santai dengan gurunya. Apakah guru memiliki pengalaman mengajar anak kecil yang cukup? Apakah gurunya punya anak kecil? Apakah guru bisa melihat keunikan setiap anak dan tidak mudah memandang anak nakal hanya karena mereka tidak bisa diam?

 

#4 Sekolah dengan muatan agama

Sejujurnya saya tidak merasa ini terlalu penting karena menurut saya soal agama itu bukan doktrin dari luar, tapi contoh dalam keluarga. Tidak berpengaruh banyak muatan agama di sekolah, jika di rumah tidak disiram dengan teladan yang nyata dari orangtuanya. Tapi suami mensyaratkan hal ini dengan pertimbangan biar anak mendapat ilmu agama dari pihak yang lebih ahli. Ok, baiklah.

 

#5 Tempat bermain yang cukup dan skala sekolah yang ideal

Kegiatan fisik luar ruangan di pendidikan dasar seperti TK dan SD sangatlah penting. Untuk itu kami ingin sekolah yang memiliki tempat bermain terbuka yang cukup untuk anak-anak. Jadi sekolah-sekolah yang hanya bisa bermain di dalam ruangan atau tempat yang sempit, langsung kami coret dari daftar.

Skala sekolah yang ideal itu maksudnya kapasitas sekolah. Sekolahnya kecil, tentu kapasitasnya kecil dan lingkungannya lebih akrab. Sedangkan sekolah besar menampung banyak murid yang tentunya belum tentu nyaman untuk anak kami.

 

#6 Sekolah yang bersih, terang, dan sehat

Cek toiletnya! Ini wajib. Anak akan berada di sekolah selama sekitar 4 – 6 jam. Tentunya ia butuh ke kamar mandi. Walau tidak sekinclong toilet di rumah, setidaknya anak bisa merasa nyaman di toilet sekolah.

Pastikan juga ruangan kelasnya tidak gelap dan cukup mendapatkan cahaya matahari. Buat saya fasilitas sekolah seperti perabot atau mainan mahal bukanlah hal yang terlalu penting.

Dan usahakan juga tidak ada kantin di sekolah, sehingga anak tidak perlu jajan. Kalau perlu makan, hanya bisa dari bekal yang disiapkan orangtuanya dari rumah. Lagi pula jika ingin jajan, tidak perlu di sekolah. Nanti pulang sekolah kan bisa mampir ke minimarket bersama orangtua jika perlu.

Sekolah favorit yang menyediakan kantin yang memungkinkan orangtua bisa berlangganan cemilan buat anaknya sehingga tidak perlu menyiapkan dari rumah, langsung termasuk yang di coret dari daftar. Ada loh ternyata.

 

#7 Sekolah yang anak suka

Last but not least, sekolah yang ada chemistry-nya dengan anak. Anak merasa nyaman dengan lingkungan sekolah, memancing rasa ingin tahunya, sampai ke perasaannya dengan guru, adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Untuk ini kita memang perlu meminta free trial setidaknya 2x pertemuan. Sebenarnya saya inginnya free trial itu seminggu.

 

Demikianlah #7 Kriteria yang kami tetapkan. Dari sejumlah sekolah yang ada di kota Bandung, adakah sekolah ideal yang memenuhi kriteria kami tersebut?

Raka di salah satu acara TK
Raka di salah satu acara TK

Percaya tidak, saya menemukan sebuah sekolah yang iklannya memasang target anak menghormati orangtuanya. Bukan bisa calistung dan kemampuan kognitif lainnya. Ini yang membuat saya tertarik dengan Yayasan HAS Darul Ilmi yang kebetulan letaknya di depan kompleks kami. Sebuah sekolah baru yang saat itu baru menjalani tahun pertamanya. Raka akan menjadi angkatan kedua di TK. Di tahun pertamanya 2010-2011, sekolah ini memiliki kelas TK A, TK B, dan SD kelas 1. Jumlah total muridnya saat itu hanya sekitar belasan orang untuk TK dan 4 orang anak SD.

Dari segi jarak, tentunya sangat ideal. Karena letaknya langsung bersebrangan dengan pintu kompleks perumahan kami. Terbayangnya urusan pulang sekolah, tinggal minta tolong Satpam sekolah atau guru menyebrangkan, dan anak-anak bisa aman pulang sendiri tanpa harus dijemput (#Mama_malas). Kriteria #1 cek.

Saya pun meminta ijin free trial dan mendapatkan 2x pertemuan. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengamati pengajaran di kelas dan mengobrol dengan guru kelasnya. Saat itu memang cuma Raka yang free trial. Jadi bisa agak santai ngobrol dengan gurunya yang bernama Bu Ai.

Senang sekali mengetahui ternyata Bu Ai adalah guru TK yang berpengalaman dan memiliki anak bungsu yang akan seangkatan dengan Raka di TK A. Kami pun banyak mengobrol dengan konsep pendidikan yang ideal dan sepakat soal pengajaran calistung yang tidak perlu mendominasi kegiatan anak TK.

“Cuma memang Bu, saat ini orangtua banyak yang menginginkan anak mereka bisa calistung sedini mungkin,” terang Bu Ai.

“Untuk anak saya, tolong cukup ditemani main saja Bu. Urusan calistung, biar jadi masalah saya. Ha…ha…”

Asyik nih, kalau bisa mengobrol hangat dengan guru di sekolah anak. Bukan guru yang cuma membaca flyer brosur dan biaya saja. Kriteria #3 cek.

Yayasan HAS Darul Ilmi adalah sekolah baru yang didirikan Kakek Haji Aceng Suhari dengan berbasis akhlak islami. Si Kakek yang juga memiliki toko besi di sentra besi Jl. Bogor, menghabiskan hari-harinya di sekolah sambil mengawasi pembangunan sekolah. Sepertinya si Kakek begitu menikmati masa tuanya sambil mengamati anak-anak yang asyik bermain. Bangunannya baru dan kokoh. Jadi Kriteria #4, #5, dan #6 cek semua.

Raka sendiri ternyata senang di sekolah ini. Ada halaman bermain yang cukup luas untuk dipakai berlarian. Bisa jadi juga karena letak sekolah begitu dekat rumah, Raka tidak terlalu merasa asing dengan sekolah yang selalu dilihatnya setiap hari jika keluar kompleks. Dan kriteria #7 yang terpenting pun cek.

Masalah yang agak mengganggu adalah karena HAS Darul Ilmi adalah sekolah baru. Siapa orang yang berani mempertaruhkan anaknya pada sekolah baru yang mungkin saja tutup sewaktu-waktu, atau masih mencoba-coba konsep selama beberapa tahun ke depan? Saya sendiri berpandangan, sebuah sekolah pasti akan berada pada masa transisi setidaknya selama 10 tahun sejak pendiriannya. Semua sekolah-sekolah yang kami nilai bagus, umurnya minimal 10 tahun. Tapi kami memberanikan diri untuk mencoba. Toh anak-anak masih di pendidikan dasar yang masih memungkinkan kami untuk pindah jika memang tidak memuaskan.

Sekarang tinggal masalah biaya. Sebagai sekolah baru, harga sekolah ini memang agak mahal. Walau demikian, harganya masih lebih murah dibandingkan sekolah berbasis islami yang lain. Terlebih karena tidak ada biaya transportasi untuk sekolah ini. Namun yang paling penting, biayanya masih masuk dalam budget kami. Jadi kriteria #2 cek lah.

Dan jadilah Raka bersekolah di HAS Darul Ilmi sebagai angkatan kedua. Masuk sebagai anak TK A pada tahun ajaran 2011-2012. Pada Juli 2016 tidak terasa SD HAS Darul Ilmi telah mengeluarkan lulusan pertamanya. Raka sendiri kini telah kelas 4 SD dan adiknya Raisya masuk TK B di sekolah yang sama. Terima kasih kepada Yayasan HAS Darul Ilmi yang telah menjadi mitra kami untuk mendidik anak-anak selama 5 tahun terakhir.

Gerbang HAS Darul Ilmi 2016
Gerbang HAS Darul Ilmi 2016

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “#7 Kriteria Mencari Sekolah Ideal untuk Anak

Leave a Reply

%d bloggers like this: