Pohon Kehidupan (bagian 3)

Cerita Sebelumnya

Seperti melayang, tiba-tiba ia telah berada di hamparan hutan yang terasa sangat aneh. Belum pernah ia melihat jenis pohon-pohon di hutan seperti ini sebelumnya. Ada pohon yang batang utamanya begitu tinggi dan kokoh seperti beringin, ada juga yang kecil-kecil seperti bonsai.

“Ukuran pohon menentukan jatah umur,” jelas si Malaikat Magang seperti tahu apa yang ia pikirkan.

“Jadi kalau pohonnya besar, umurnya juga pasti panjang ya?”

“Belum tentu juga. Itu kalau kamu jalannya lurus. Kalau banyak belok-belok, ya umurmu bisa berhenti di ranting-ranting rapuh itu.”

Sebagaimana pohon di dunia, pohon kehidupan juga memiliki dahan-dahan disekelilingnya. Hanya saja pada pohon ini dahannya banyak sekali. Bersilang-silangan ruwet bagai kabel kusut.

Hingga ketinggian tertentu, batang utama terlihat bersih dari dahan. Baru pada bagian atasnya, batang terlihat mulai bercabang. Ada dahan yang menjauhi batang utama dan ada yang mendekati.

“Kamu lihat kan dahan yang bercabang-cabang itu? Itu lah pilhan hidup yang bisa diambil manusia. Dalam setiap tarikan napasmu, kamu bisa memilih untuk tetap lurus pada jalan hidupmu. Jika kamu sudah tersesat jauh dalam keruwetan dahan-dahan itu, pilihan menuju ke batang utama tetap ada. Atau kamu bisa juga untuk memilih menyesatkan diri semakin dalam arah ranting-ranting rapuh itu.”

“Dan ujung ranting menunjukkan akhir kehidupan?”

“Begitulah.”

“Berarti umur saya kemungkinannya sebanyak ranting itu dong ya? Fleksibel. Bisa mati hari ini, bisa besok, bisa lusa?”

“Kira-kira begitu. Sebenarnya Big Boss sudah menetapkan umurmu pada batang utama. Tapi karena kamu salah pilih pilihan hidup, jadilah umurmu hilang tak bermakna.”

Tibalah mereka pada sebuah pohon yang terlihat kurang gizi.

“Kita sudah sampai, ini pohonmu. Sentuhlah!”

Dipandanginya pohon itu. Dahan utamanya begitu kurus. Dahan-dahannya terlihat rapuh, apalagi ranting-rantingnya.

Disentuhnya batang pohon yang terlihat merana itu. Perlahan. Seberkas cahaya terpedar dari batang tempat jari-jarinya berada. Cahaya itu mulai merambat ke atas. Membelok ke sebuah dahan. Membelok lagi. Lagi. Dan lagi. Hingga sampai pada sebuah ranting. Pohon itu seperti menyala oleh pedar garis cahaya itu.

“Itu jalan yang kamu pilih. Kamu lihat betapa jauhnya dari batang pohon yang utama kan? Kamu tersesat terlalu jauh.”

“Saat manusia tersesat terlalu jauh, apakah ia bisa kembali ke arah batang utama?”

“Bisa. Coba kamu lihat, bagaimana sebenarnya ujung-ujung batang itu selalu punya pilihan ke arah mendekati batang utama, atau malah menjauh. Kamu bisa lihat pilihan-pilihan itu dengan menyentuhnya.”

Dengan takut-takut, disentuhnya sebuah dahan.

Ia lihat sebuah bayangan di sana. Bagai film yang dijalankan oleh proyektor. Tampak seorang gadis SMA yang telah berdandan seksi. Ya, itu dirinya tengah mempersiapkan pergi ke sebuah pesta. Ia memang cantik, pikirnya mengagumi diri mudanya sendiri.

“Kamu tidak boleh pergi, apalagi dengan pakaian seperti itu!” bentak ibunya.

“Semua orang pergi Ma. Mama ingin aku dianggap aneh oleh teman-temanku?”

“Pokoknya kamu tidak boleh pergi. Itu acara tidak bener. Ngapain anak perempuan malam-malam ke acara di pub seperti itu?”

“Tapi aku sama teman-teman Ma?”

“Tidak boleh!”

“Mama jahat!” jerit gadis muda itu sambil membanting pintu kamarnya.

Dengan kesal, ia menjatuhkan badannya di tempat tidur. Air matanya menggenang menahan rasa kesal dan kecewa.

Bip bip. SMS masuk.

From Ganteng: Sudah siap? Aku sudah di depan kompleks.

From Cantik: Nggak tahu ni. Si Mama rese. Nggak boleh pergi.

From Ganteng: Kamu harus datang! Aku kangen kamu.

Gadis itu mulai berpikir bagaimana caranya ia bisa keluar tanpa ketahuan Mamanya. Ia tidak ingin pacarnya menunggu lama. Ia juga kangen. Sudah sejak pulang sekolah siang tadi mereka tidak bertemu. Rasanya seperti bertahun-tahun.

Pelan-pelan dibukanya jendela kamar. Ada bagusnya juga jendela ini tidak menggunakan teralis. Mama memang tidak suka rumah berjendela teralis. Takut kalau kebakaran dan kita terjebak di dalam rumah katanya. Untuk pertama kalinya ia merasakan manfaat pilihan sang Mama. Ia juga tidak suka terjebak di dalam rumah dalam kondisi apapun. Terlebih saat orang tercinta menunggu di depan kompleks.

Tidak ada yang bisa melarangku pikirnya bangga. Mama memang kolotnya kebangetan. Ini kan cuma acara biasa.

Mereka menikmati malam itu bersama-sama. Untuk pertama kalinya malam itu ia tahu yang namanya mabuk bersama orang tersayang. Dan menyerahkan segala-galanya.

***

Buru-buru diangkatnya tangannya dari dahan itu. Disamping dahan yang tadinya berwarna merah menyala, ada dahan yang tidak dipilihnya. Apa yang terjadi jika ia tidak pergi malam itu? Ia tidur dirumah, bangun keesokan paginya dengan segar dan bertemu dengan kesempatan lain. Sebuah dahan yang membawanya ke arah mendekati dahan utama. Tapi bukan itu yang dipilihnya.

***

“Cobalah sentuh bagian yang lain,” saran si Malaikat Magang.

Ia perlahan menyentuh sebuah dahan. Kembali sebuah proyektor film berjalan. Seorang wanita hamil. Umurnya saat itu 18 tahun, tepat 2 bulan menjelang Ujian Nasional.

Ayahnya memandanginya dengan penuh kegeraman. Ibunya tak henti-hentinya menangis. Ia sendiri tidak terlalu tahu harus bersikap apa. Sepertinya memang ada yang salah kalau melihat kegeraman ayahnya dan tangisan ibunya. Mereka terlalu histeris. Terlalu ribut. Ia bingung. Ia mual. Bisa jadi akibat janin muda yang tumbuh diperutnya. Buah cintanya dengan sang pacar.

“Kamu harus menggugurkan kandunganmu!” titah ayahnya.

“Tidak!” katanya tegas. Dahan menyala terang mendekati batang utama. Sebuah keputusan benar.

“Kalau begitu kamu harus mau menikah dengan Dimas. Ia sudah tertarik padamu sejak lama.”

“Tapi saya mencintai Rico Pa, saya ingin menikah dengan ayah anak ini.”

“Bagaimana mungkin kamu mau menikah dengan orang yang tidak becus mengurus dirinya sendiri? Umur perkawinan kalian tidak akan lama. Percaya sama Papa, kamu perlu orang yang lebih mapan seperti Dimas.”

Ia hanya bisa menunduk pasrah.

Batang terang mengarah menjauhi batang utama. Sebuah keputusan salah.

“Apakah Dimas perlu tahu keadaannya Pa?”

“Jangan. Ia tidak boleh tahu dulu, nanti kita sampaikan setelah keadaan tenang,”  tentang Papanya.

Sebuah keputusan yang salah. Sangat salah.

***

Dipandanginya batang menyala terang dipohonnya. Betapa banyak keputusan salah yang telah dipilihnya. Ada yang benar, tapi sangat sedikit.

Berada di dahan yang benar pun terkadang terasa pahit dan menyakitkan.

“Saya sempat punya pikiran bahwa lebih baik menggugurkan kandungan, tetap melanjutkan sekolah dan tidak harus menikah dengan Dimas. Mungkin hidup saya akan lebih baik,” kata wanita itu berandai-andai.

Malaikat Magang menarik napas panjang, “Terkadang Big Boss menguji manusia dengan pilihan yang tidak enak rasanya.”

“Namanya juga ujian ya, pasti tidak enak. Karena kalau enak, namanya hadiah,” potong wanita itu.

“Tapi manusia sering tidak sabaran. Buru-buru mau cari jalan pintas yang terasa lebih enak. Padahal sebenarnya malah membuatnya makin menjauh dari kebenaran pada batang utama.

Ujian itu membawamu kepada jalan pintas menuju batang utama. Semakin sakit kamu melaluinya, biasanya semakin cepat kamu akan tiba di jalur yang benar,” jelas si Malaikat Magang.

Wanita itu pasrah ketika tangannya diletakkan diatas sebuah dahan oleh sang Malaikat Magang. Sebuah adegan terproyeksi di sana.

Saat itu ia dan Dimas tengah kelelahan sepulang berbelanja perlengkapan bayi. Walau demikian, Dimas terlihat antusias mempersiapkan segala sesuatu buat menyambut kehadiran seorang jagoan cilik di rumah mereka. Hampir semua daftar belanjaan yang telah dipersiapkan telah dilengkapi. Dari yang standar seperti pakaian bayi, selimut bedong, ember, hingga yang ajaib-ajaib seperti sedotan ingus, termometer bayi, tilam ompol, pompa ASI dan banyak lagi.

Anehnya, orang-orang di toko perlengkapan bayi selalu menyapa dengan “Anak pertama ya?”

Sepertinya belanja banyak hanya untuk anak pertama. Masih kalap. Belum tahu mana yang benar-benar perlu dan mana yang tidak. Wanita itu ingat, sebagian besar barang yang dibelinya hari itu tidak terpakai hingga setahun berikutnya.

Ada rasa sedih dan bersalah melihat betapa semangatnya Dimas menyambut kelahiran anak pertamanya. Bukan anak Dimas. Dan Dimas tidak tahu itu. Sampai kapan ia sanggup merahasiakannya?

“Mas,” katanya berusaha mencoba membuka percakapan yang selalu berusaha dihindarinya.

“Ya?”

Bagaimana ya cara bilangnya? Ia sudah menundanya sedemikian lama. Berusaha mencari waktu baik yang sepertinya tidak pernah ada. Ia sebenarnya ragu, apakah ada waktu baik menyampaikan hal buruk?

“Ini bukan anakmu. Maafkan saya.”

Bret! Seperti menarik tensoplast dari luka. Cepat. Perih. Sakit.

Dimas hanya memandangnya dalam-dalam. Seperti berusaha mencari kemungkinan istrinya bercanda. Sayang ia tidak menemukannya.

Sebuah keputusan benar, walau sangat menyakitkan.

*  *  *

Bersambung ke bagian 4

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: