Pohon Kehidupan (bagian 2)

Cerita Sebelumnya

Gelap.

Dimanakah ia? Rasanya ringan. Tidak ada lagi sesak itu. Ia mengerjapkan mata berusaha melihat. Remang-remang ia mulai melihat seorang wanita sebaya dirinya mendekati.

“Ayo cepat!” seorang wanita muda berkaftan menawan menarik tangannya dengan kasar. Mungkin jika tersenyum, wanita itu cantik juga. Rambutnya panjang berkilau. Lurus seperti iklan shampo. Baju kaftan berwarna putih sempurna terlihat seperti berkilauan. Belum pernah ia melihat pakaian seindah itu. Pasti rancangan desainer terkenal yang sangat mahal harganya. Kainnya terlihat begitu empuk dan lembut. Ia memperhatikan lebih dalam, berusaha mengingat setiap detilnya. Mungkin nanti ia bisa minta dijahitkan ke Pak Idris, penjahit langganannya.

Tapi Aku dimana? Siapa wanita berkaftan ini?

“Ini dimana? Kita mau kemana?”

Emang kemungkinannya dimana lagi? Ya ke Neraka lah?” kata wanita berkaftan dengan nada gusar.

“Saya sudah mati?”

Emang kemungkinannya apa kalau lompat dari lantai 19 gedung?”

“Saya beneran sudah mati?” katanya mencoba meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.

“IYA! Udah ah, ayo cepat buruan. Saya masih banyak urusan lain.”

“Yang benar saja, masa saya sudah susah hidup di dunia, mati pun masuk neraka?” Ini benar-benar tidak adil!!!” protes wanita itu karena merasa terzalimi.

“Ih bego banget sih. Males banget ngomong sama manusia model kamu ini,” kata wanita berkaftan tidak sabaran. Sudah ribuan kali rasanya ia menemukan yang model begini.

Para manusia ini linglung, pikun, atau apa sih? Aturannya sudah jelas, tapi tetap saja bandel. Bener-bener pengen digetok.

Wanita berkaftan mulai tidak yakin sanggup melalui masa magangnya atau tidak, jika menghadapi manusia-manusia model begini. Mereka selalu merampok stok sabarnya secara semena-mena. Ia kagum pada seniornya yang begitu tenang menghadapi segala macam rupa manusia.

“Udah ah cepetan, saya masih harus mengantar banyak orang nih,” lanjutnya tidak sabaran.

“Apakah ini mimpi?” wanita itu masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia tahu bagaimana caranya membedakan mimpi atau bukan mimpi. Ia mencoba mencubit tangannya sendiri. Jika rasanya sakit, berarti itu bukan mimpi. Namun tarikan kasar wanita berkaftan membuatnya kesulitan untuk mencubit tangannya sendiri.

“Mengapa Tuhan menciptakan manusia untuk dibuat menderita di dunia dan dimasukkan ke Neraka di Akhirat? Itu benar-benar tidak adil! Nggak bener itu! Saya protes,” katanya sambil berusaha menghentikan langkahnya.

Wanita berkaftan itu memandangnya dengan pandangan siap menelan bulat-bulat. Sesaat mereka saling menatap penuh kemarahan.

“Kamu siapa sih, kok kasar-kasar amat? Bukan seperti itu gambaran saya tentang malaikat.”

“Saya masih magang. Belum jadi malaikat beneran. Gajinya juga masih sekedar uang transport. Udah ah jangan aneh-aneh, CEPETAN!”

“Tapi tolong jawab dulu pertanyaan saya tadi. Kamu tidak mau magang selamanya kan? Kamu mau lulus jadi malaikat beneran kan? Coba deh mulai belajar jadi malaikat beneran yang berusaha memuaskan kliennya,” rayu wanita itu.

Malaikat Magang itu menarik napas panjang berusaha mengendorkan urat emosinya.

Dengan sabar yang dipaksakan, ia mulai mencoba memberi penjelasan, “Begini ya, Big Boss itu sudah menetapkan jalan kehidupan untuk setiap manusia yang diciptakannya. Sejak umurnya 4 bulan di dalam perut, Ia sudah menanamkan Pohon Kehidupan untuk setiap manusia. Disana terlihat jelas nasib seseorang, umurnya, jalan hidupnya.”

“Pohon Kehidupan?”

Big Boss sudah tahu apa saja kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidupmu. Batang utama yang kokoh adalah jalan lurus yang seharusnya kamu ikuti untuk menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan di dunia dan dapat tempat keren di sini. Namanya Surga. Tempatnya bagus banget, saya sih betah sekali disana.”

“Kalau semua orang ditakdirkan ke Surga, kenapa saya nyangkut ke Neraka? Saya tidak bahagia juga ketika di dunia. Hidup saya selalu dirundung kemalangan dan kesulitan.”

“Itu karena kamu tidak mau berusaha berjalan lurus menuju ke puncak pohon. Kamu malah tergoda berbelok ke dahan dan ranting-ranting kecil di sekitar batang utama. Kamu terlalu pemalas untuk terus berusaha naik.”

“Berbelok ke dahan dan ranting?” wanita itu memandang kebingungan.

Big Boss yang Maha Tahu itu juga sudah memprediksi setiap kemungkinan keputusan yang kamu ambil. Bahkan dalam setiap tarikan napasmu ada satu kemungkinan yang terjadi. Kamu bisa memilih dahan yang mendekati batang utama atau dahan yang menuju ke ranting yang rapuh. Pilihannya ada ditanganmu sendiri.”

“Saya tidak merasa pernah dikasih pilihan.”

Ok, manusia ini benar-benar terdiagnosa linglung bin pikun.

“Bagaimana mungkin kamu bisa bilang tidak dikasih pilihan. Wong saya tiap hari kerjanya melototin Pohon Kehidupan manusia. Melihat bagaimana bertaburannya pilihan hidup manusia dan mereka memilih respon yang salah. Sangat salah! Seperti kamu.

Kamu penuh kemalangan, penderitaan dan kesulitan itu karena pilihanmu sendiri. Wrong choices!”

“Masa sih?”

“Ih, kok pake nggak percaya sih sama malaikat?”

“Tapi kamu kan malaikat magang. Mungkin saja kamu bohong?”

“Bohong gimana? Asal tahu aja ya, itu di ruang sebelah namanya Hutan Kehidupan, tempat seluruh Pohon Kehidupan umat manusia sepanjang masa ditanam.”

“Mana? Mana? Saya mau lihat dong punya saya,” katanya penasaran.

Apa pula itu istilah Pohon Kehidupan? Pilihan hidup katanya?

“Emang kamu itu ke sini mau piknik dan boleh lihat-lihat. Terus selfie dan fotonya di upload di FaceBook? Ya tidak boleh lah.

Hanya staff yang bertugas yang boleh masuk ke Hutan Kehidupan. Manusia tempatnya hanya di alam kubur, Surga dan Neraka. Sedangkan singgasana Big Boss, Hutan Kehidupan, Ruang kerja staff, tidak boleh dimasuki oleh manusia.”

“Saya akan masuk Neraka berapa lama?” tanya wanita itu menerawang.

“Selamanya.”

“Tidak ada kesempatan keluar sekalipun?” ia mulai memelas.

“Tidak ada. Kesempatan itu sudah diberikan banyak kali ketika kamu masih hidup di dunia.”

“Banyak? Masa sih?”

“Buktinya ada di Pohon Kehidupan. Setiap tarikan napasmu, tercipta sebagai dahan pilihan kesempatan yang dapat kamu pilih dalam hidup.

Pilihan dahan yang benar akan membawamu ke arah batang utama yang kokoh. Dan akan membawamu lurus menuju puncak pohon.

Sedangkan pilihan batang yang salah, akan membawamu menjauhi dahan utama. Menuju ranting-ranting yang rapuh.”

“Serius?”

“Biar magang juga, saya sih bukan pembohong.”

“Saya kok tidak percaya. Karena saya tidak ingat diberikan pilihan apapun dalam hidup. Saya dipaksa menjalani kehidupan yang buruk, disodori orang-orang yang menyebalkan di sekeliling saya. Mulai dari suami, anak, teman, pembantu, supir, tetangga, sampai presiden yang menyebalkan. Saya korban yang paling merana di dunia,” suara wanita itu bergetar menahan tangis.

“Klasik,”  kata si Malaikat Magang melengos.

“Kalau tidak melihatnya sendiri saya tidak percaya.”

“Terserah sih, kamu mau percaya apa tidak. Karena Pohon Kehidupan itu benar-benar ada. Saya baru saja selesai melihat punyamu.

Sebelum kami ditugaskan, biasanya kami melihat dulu Pohon Kehidupan seseorang. Sesaat sebelum mereka tiba di sini, manusia kami ijinkan kok untuk melihat Pohon Kehidupannya.”

“Kok saya tidak lihat?”

“Kamu terjunnya buru-buru sih. Belum sempat saya kasih lihat, kamu udah keburu terkapar di kap Lamborghini Aventador yang lagi drop off di depan lobby hotel. Itu perempuan cantik bahenol dengan dandanan gemerlap pemilik mobil sport marah-marah loh. Dia menuduh kamu sengaja bunuh diri di atas mobilnya supaya dia jadi sensasi. Artis sepertinya dia.”

“Kalau begitu ijinkan saya melihatnya sekarang dong,” berusaha mengabaikan fakta tambahan yang tidak penting itu.

Big boss bilang tidak boleh kalau setelah kematian.”

“Tapi kan kamu juga salah karena tidak sempat kasih lihat saya sebelumnya.”

“Masa sih?” si Malaikat Magang mulai ragu.

“Iya lah. Gimana sih kamu nih. Coba nanti kamu cek lagi di Standar Operation Procedure-nya. Pasti ada tuh bagian kalau terjadi kasus seperti gini.

Manusia boleh melihat Pohon Kehidupannya sesudah kematian jika Malaikat (Magang) terlupa atau teledor akan tugasnya. Klausul 17, Pasal 4, Ayat Z, Bagian 4.3.” Wanita itu mulai melihat celah untuk bisa mendapatkan tuntutannya.

“Masa sih?”

“Udah bener, nanti kamu lihat saja. Coba sekarang kita mampir sebentar ke Pohon Kehidupan saya. Toh habis itu saya akan mendekam selamanya di Neraka kan? Tidak ada yang harus tahu. Cincai lah…”

Malaikat Magang mencoba menimbang-nimbang. Ini orang hidupnya memang parah banget. Mungkin memang tak ada salahnya ia dibiarkan sedikit mengintip Pohon Kehidupannya. Lagipula ia tadi memang teledor tidak melakukan tugasnya dengan benar.

“Ya sudah, yuk sebentar kita mampir. Tapi beneran ya kamu cukup lihat saja, nggak pake lama.”

* * *

Bersambung ke bagian 3 Senin depan ya.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: