Pohon Kehidupan (bagian 1)

Sebuah fiksi

Rencananya, setiap Senin selama bulan Ramadan 1437H, saya akan menayangkan cerber yang sempat saya kirimkan untuk Sayembara Fiksi Femina 2015. Niat awalnya ingin membuat cerita ini menjadi sebuah novel sepanjang 30 ribuan kata. Tapi akhirnya sadar diri kemampuan masih kurang dalam membuat fiksi dan hanya mampu merampungkannya dalam 6000 kata saja. Selamat menikmati fiksi panjang pertama Shanty.

Pohon Kehidupan bercerita tentang seorang wanita bernama Anastasia, yang karena beban hidupnya memilih untuk bunuh diri. Di alam kubur ia bertemu dengan seorang Malaikat Magang yang akan menyeretnya ke Neraka. Wanita itu baru tahu bahwa ternyata ada yang disebut Pohon Kehidupan yang merekam setiap pilihan hidup manusia. Setengah merengek ia merayu Sang Malaikat Magang untuk mengijinkannya menengok Pohon Kehidupannya. Ia pun terperangah ketika dihadapkan pada betapa banyak pilihan yang sebenarnya dapat dipilihnya dan membuat jalan hidupnya berbeda. Walau segalanya telah terlambat karena kini kesempatan itu sudah berakhir.

(Bagian 1)

Dari The 19th, restoran yang terletak di puncak sebuah hotel berbintang 6, Anastasia memandangi hamparan berlian di atas beludru hitam kota itu. Demikianlah kota Bandung di malam hari. Berselimut blouse satin merah tanpa lengan, angin malam menusuk memasuki tulangnya tanpa ampun. Hanya kehangatan sepoci Ginger Tea yang bisa diandalkan untuk menyelimuti.

Mungkin orang-orang akan memandangnya penuh kekaguman. Sakti bener manusia satu ini bisa berpakaian you can see pada malam sedingin ini. Baginya, penampilan yang sempurna adalah segalanya. Semakin banyak bagian kulit mulus yang terlihat, itu semakin baik. Walau itu harus dibayar dengan sedikit kedinginan. Demi penampilan yang sempurna untuk seorang yang spesial.

Malam ini, mereka sudah berjanji untuk bertemu. Cintanya. Seorang laki-laki muda. Berondong kata teman-temannya. Entah kenapa, sejak bertemu Devan sekitar setahun yang lalu, ia merasa begitu bersemangat. Devan tidak saja ganteng, tapi ia juga begitu perhatian. Kini wanita itu merasa kecanduan pada perhatiannya. Hingga ia mabuk kepayang dan berusaha terbang meninggalkan kenyataan.

Devan sudah menikah. Istrinya kini tengah hamil 7 bulan anak kedua mereka. Ia sendiri adalah seorang istri dari suami yang selalu pergi keluar rumah mencari segenggam berlian untuk istri dan 2 anaknya remaja mereka. Sebuah cinta terlarang. Ia tahu dunia menghujatnya.

Sebenarnya terselip rasa takut setiap kali harus Ia harus sembunyi-sembunyi mengatur setiap pertemuan dengan Devan. Berusaha jangan sampai ada kenalan yang melihat. Namun terkadang rasa takut itu menjadi semacam penambah rasa yang membuatnya semakin bersemangat. Bagai sentuhan sejumput bumbu penyedap rasa ber-msg yang membuat masakan menjadi sempurna. Pemicu kanker, tapi bikin enak.

Wanita itu berusaha mengabaikan perasaan galau di hatinya. Entah sudah berapa sesi ia habiskan untuk konsultasi dengan psikiaternya. Tapi itu tidak pernah membantu. Dan ia mulai bosan dengan segala jenis obat-obatan anti depresan yang diberikan untuk bisa menenangkan diri. Tidak! Ia tidak perlu obat jika bersama Devan. Pria itu adalah obatnya. Psikiater terkenal itu tidak bisa mengatasi depresinya, Devan bisa. Orang-orang salah jika menghujat hubungan mereka.

They are not in my shoes! Mereka tidak tahu betapa tersiksanya aku selama ini. Suamiku menghinaku, anak-anakku tidak menghormatiku, aku tidak bisa apa-apa. Aku hanyalah parasit tidak berguna.

Hanya Devan yang mampu membangkitkan harga dirinya. Hanya Devan yang bisa menyentuhnya pada posisi yang tepat dan mampu membuatnya melayang. Dimana? Tepat di hatinya. Devan pasti dapat ide dari Ari Lasso pikirnya sambil mengalunkan refrain lagu itu di kepalanya.

Sentuhlah dia tepat di hatinya

Dia kan jadi milikmu selamanya

Sentuh dengan setulus cinta

Buat hatinya terbang melayang.

Tanpa terasa bibirnya tertarik menyungingkan senyum tipis. Untuk pertama kalinya ia merasa nyaman. Devan tidak pernah melukai harga dirinya. Dukungan dan pujian yang tulus dari pria 25 tahun itu benar-benar membuatnya ketagihan. Ini yang benar-benar ia perlu. Bukan cercaan yang memojokkannya ke ujung tebing atau menekan dadanya hingga sesak napas.

“Kamu itu kenapa tidak bisa usaha seperti teman-temanmu? Jangan hanya bisa ngabisin uang aja?” cecar suaminya

“Mama ini bisanya ngomong aja, tapi nggak pernah melakukannya sendiri,” ujar anak bujangnya.

“Mama sok tahu, hypocrite – munafik!” teriak gadisnya.

Tak terasa air matanya meleleh.

Sedemikian buruknya aku? Aku tahu mereka benar. Semakin mereka benar, semakin hancur harga diriku. Seperti mereka membantu mengingatku untuk selalu memakai label itu di jidat. Aku tidak boleh lupa bahwa aku hanya bisa menghabiskan uang suami, sok tahu, munafik. Tapi kalian semua membuatku terjepit. Aku tidak bisa bergerak di ujung tebing ini. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan dada yang terhimpit!

Tapi bersama Devan, wanita itu merasa berharga. Hanya Devan yang mampu menariknya ke hamparan padang rumput indah penuh bunga beraneka warna. Devan bisa menghargai sejumput kelebihannya. Devan mengagumi rambut ikalnya yang sehat, kerapiannya menata tas, keserasian pakaiannya, atau sekedar memuji senyumnya.

Aku tidaklah seburuk itu. Aku punya kelebihan yang bisa membuat orang lain bahagia dan merasa berarti sebagai manusia. Sebagai wanita.

Jika ingat Devan, senyumnya mengembang. Ia kangen laki-laki itu. Ia ingin bersama selamanya.

Pandangannya melayang ke arah sky walk yang terdapat di ujung restauran. Sepetak balkon kecil dengan lantai kaca. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah meja makan berbuket bunga mawar merah dan 2 buah kursi. Ia membayangkan candle light dinner romantis bersama Devan. Akan kah Devan melamarnya di sini?

Blackberry-nya berbunyi. Foto padang rumput indah penuh bunga memanggilnya. Senyumnya kembali merekah.

“Kamu dimana? Kok lama banget sayang?”

“Maaf, ternyata saya nggak bisa datang.” Diam lama…

“Kenapa?” wanita itu mulai merasa ada yang tidak beres.

“Saya hanya mau bilang, kita tidak mungkin melanjutkan hubungan ini.”

Deg. Wanita itu mati rasa.

“Saya menyayangimu seperti kakak saya sendiri. Tapi saya mencintai istri dan anak saya.

Ijinkan saya menjadi orang yang bisa memenuhi janjinya. Biarkan saya memiliki kebahagiaan saya sendiri. Tolong bantu dengan tidak menghubungi saya lagi. Kembalilah pada keluargamu.”

Beludru hitam kota membekapnya dalam ikatan yang kuat. Ia sesak napas.

Tut…tut…tut…

Ia berjalan gontai menuju balkon kaca itu. Ia melihat lantai kaca itu bagai laron yang tertarik pada lampu. Ia tahu ia bisa mati kepanasan. Sebenarnya ia tidak punya keberanian mendekati lantai kaca itu sendiri. Ia ingin di sana bersama Devan.

Tapi kini Devan tidak akan ada lagi. Devan hilang. Obatnya habis dan hilang dari peredaran. Penyemangat hidupnya.

Ia melangkahkan kaki ke lantai kaca itu. Mobil-mobil lalu lalang di bawahnya. Dipandanginya berlian bertaburan di atas beludru hitam yang kini membekapnya. Sesak napas. Ia harus keluar dari bekapan beludru ini. Harus. Dilepasnya stiletto merahnya. Dipegangnya erat-erat railing kaca pembatas setinggi dada itu. Ia menaikinya. Berusaha terbang bebas bagai kupu-kupu. Melepaskan diri dari bekapan beludru.

* * *

Bersambung ke bagian 2.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: