Passion, dimanakah dirimu?

Apa sih Passion? Sembunyi dimana sih si Passion ini?

Si Passion mah nggak kemana-mana. Ada dalam diri setiap kita. Memaksa untuk keluar. Tapi separuh diri kita tidak mengijinkannya.

Kenapa?

Bisa jadi karena kita membatasi Passion pada UANG. Passion itu harus bisa menghasilkan uang. Kalau nggak jadi uang (dalam waktu singkat) bukan Passion namanya.

Jadilah Passion kita minder. Pundung.
Merengkut di sudut terdalam pada diri kita.

Si Passion tau sih, kita mencari-cari dirinya. Cuma dia sendiri pun galau mau menunjukkan dirinya. Karena kita selalu mengaitkan dirinya dengan uang. Padahal ia hingga saat ini belum bisa menjanjikan itu. Ia sendiri masih buruk rupa dan terpuruk dipojokan dalam keadaan compang camping tidak terurus.

Yang ia bisa berikan pada kita hanya sekedar perasaan senang di hati saat bermesraan dengan kita. Saat kita berdua berkencan, dunia serasa berhenti. Waktu berlalu dengan cepat. Kita menjadi relax, penuh senyum dan merasa bahagia.

Sayang, terkadang waktu kencan bersama menjadi langka. Kita terlalu sibuk mencari-cari selingkuhan yang lain yang lebih menggoda dan menjanjikan.

Kita tidak menyadari, bahwa dengan setia pada si Passion, ia akan tumbuh menjadi pasangan terbaik. Passion hanya perlu dicintai sepenuh hati. Dengan tulus dan ikhlas. Diterima segala kekurangan dan kelebihannya. Agar bisa berubah dari si buruk rupa dipojokan menjadi pasangan yang bisa dibanggakan.

Do what you love
Do what you love

***

Apa sih minat/passion? Apa pula bakat/talent? Silakan cari di kamus atau buka buku dari pakar ya. Saya punya jawaban sendiri soal ini.

Setiap manusia diberikan KEUNIKAN dalam dirinya oleh Tuhan YME untuk membuatnya bermanfaat bagi orang lain selama hidupnya.

Keunikan ini ditandai dengan minat pada sesuatu. Misalnya ada seorang yang sangat suka menyanyi. Ia begitu bahagia setiap kali mendendang sebuah lagu. Ia selalu ingin bernyanyi setiap saat. Tanpa ia sadari, ternyata ia telah bernyanyi begitu sering jauh diatas rata-rata orang lain lakukan. Orang lain bilang ia mahir bernyanyi. Padahal sebenarnya ia hanya berlatih bernyanyi lebih sering dibanding orang lain.

Disini bedanya orang yang punya passion alami dengan passion yang diarahkan. Passion yang diarahkan, biasanya akan mengalami kebosanan dan patah semangat. Sedangkan Passion alami akan terus meningkat usaha memperbaiki dirinya. Selalu menyukai tantangan.

***

Pernah pada suatu masa, saya mendapat pekerjaan sebagai 3D Artist pada sebuah konsultan arsitektur. Tugas saya adalah membuat gambar-gambar cantik seperti yang biasa ada di brosur-brosur marketing properti.

Sebelumnya saya hanya berkutat dengan gambar-gambar kerja 2 Dimensi yang menjadi bahasanya arsitek dan kontraktor atau tukang saja. Jadi sebagai 3D Artist, saya perlu belajar lagi menggunakan sejumlah software canggih seperti 3D Max, Sketch Up, Vray, Photoshop dan para sepupunya. Dari nol, saya belajar dengan penuh semangat. Akhirnya bisa juga. Atasan memuji gambar saya bagus dan memiliki kemajuan pesat.

Saya pun mencanangkan cita-cita menjadi master dalam hal ini. Tapi begitu lihat para master, saya langsung ciut dan patah semangat. “Gila ya ni orang, canggih abis. There is no way, saya bisa menyamai mereka. Dan kok saya nggak merasa perlu menyamai atau menyaingi mereka.” Perlahan semangat saya mempelajari bidang 3D Artist menjadi memudar. Dan akhirnya hilang.

Ini berbeda dengan Passion menulis yang baru saya temukan beberapa tahun terakhir. Saya baru sadar, bahwa saya selalu menulis dari jaman dahulu kala. Saya baru nyadar kalau punya setumpuk diary yang nggak berani saya buka saking noraknya isinya. Setiap kali ada masalah, saya pasti menulis. Saat rapat di kantor saya menulis. Saat marah menulis. Saat stress menulis. Saat senang menulis. Saat lapar menulis (stttt ini rahasia kurus ala Shanty).

Hobi saya adalah membaca. Buat saya buku itu seperti makanan yang sangat lezat. Lapar mulu bawaannya kalo liat buku. Pengennya langsung di lahap. Bukunya ya. Bukan makanan.

Its so true for me. Saya lupa kapan terakhir kali saya pasang alarm untuk bangun pagi.
Its so true for me. Saya lupa kapan terakhir kali saya pasang alarm untuk bangun pagi.

Saya tidak terintimidasi oleh penulis bestseller. Semakin hebat tulisan mereka, semakin terpacu semangat saya untuk membedah karya mereka.

Terobsesi ingin menjadi seperti mereka?

Ingin. Tapi nggak maksa. Saya menikmati nge-blog. Saya nggak maksa harus punya buku yang bestseller. Saya sangat menikmati setiap tulisan saya sendiri. Saya itu fans berat tulisan saya sendiri. Saya nggak pernah baca tulisan orang lain sesering saya baca tulisan saya sendiri. Narsis berat lah ceritanya.

Apa saya punya prestasi dalam bidang menulis? Dapat uang dari menulis?

Sampai hari ini nggak!

Dan entah mengapa, kenyataan itu nggak menyurutkan semangat saya untuk menulis.

Dengan menulis saya belajar dari kehidupan. Dengan menulis saya berbagi. Dengan menulis saya merasa berarti dan bermanfaat buat orang lain.

Thats all that matters.

Sudah siap merawat Passionmu yang lagi meringkuk tak terurus dipojokan?

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: