Jiwa-jiwa yang kerdil dibalik pelaku kejahatan seksual

Minggu-minggu terakhir ini saya eneg untuk mendengar dan membaca berita kasus kejahatan asusila. Kok ya banyak bener ya? Ini bahkan mengalahkan ke-eneg-kan pada berita-berita komedi dari Senayan. Saya benar-benar tidak merasa ada manfaatnya mengetahui berita-berita laporan kejahatan asusila yang hanya memberikan fakta statistik dan sekedar menaikkan emosi sesaat.

Tapi pada Selasa, 24 Mei 2016, sebuah tulisan di Kompas berjudul Jiwa-jiwa yang Kerdil yang ditulis oleh M Zaid Wahyudi, berdampingan dengan tulisan berjudul Hasrat Seksual yang Tak Terkelola berhasil menarik perhatian untuk menjawab sejumlah pertanyaan di kepala.

Jadi kenapa sih seseorang harus memperkosa?

Menurut Nalini Muhdi, Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD dr Soetomo, Surabaya, pemerkosa BUKAN ingin mencari kepuasan seksual. Pemerkosa ialah orang yang butuh menunjukkan dominasi atas ketidakberdayaan orang lain melalui tindakan seksual.

Jadi Seksualitas sekedar sebagai ALAT.

Pemerkosa biasanya memiliki sindrom inferioritas amat kuat dan citra diri (self esteem) buruk. Dengan memerkosa, mereka ingin meninggikan rasa percaya diri. Jadi ini tidak sesederhana ketidakmampuan mengendalikan diri, melainkan ada yang salah dengan jiwa pelaku.

“Masalah pemerkosaan itu ada di antara telinga, bukan di antara pangkal paha,” – Richard Seely, Direktur Program Penanganan Intensif Agresivitas Seksual Minnesota, AS dalam sebuah artikel “The Mind of The Rapist” Newsweek, 22 Juli 1990.

Masalah superioritas ini yang menyebabkan pemerkosaan tidak terkait dengan seks bebas, legalisasi prostitusi, status perkawinan, apalagi cara perempuan berperilaku atau pun berbusana. Buktinya, di negara-negara yang membebaskan urusan seksual warganya, negara yang membolehkan membeli cinta atau negara yang mengatur ketat tindak tanduk dan busana perempuan, tingkat pemerkosaannya bisa tetap tinggi. Bahkan banyak pemerkosa yang sejatinya beristri atau bisa membeli seks. Namun mereka tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya karena istri atau penjaja cintanya lebih superior.

Negara dengan kasus permerkosaan tertinggi

Berikut jumlah kasus per 100.000 orang dari negara-negara dengan kasus pemerkosaan tertinggi, tahun 2011 (Data Litbang Kompas):

Botswana 88

Swedia 69,2

Selandia Baru 30

Amerika 26,6

Brazil 21

Prancis 16,5

Meksiko 13

Israel 13

Kazakhstan 10,9

Jerman 9,2

Filipina 5

Polandia 3.9

Rusia 3.4

Jepang 0,9

Indonesia 0,8

Mengapa pelaku memiliki jiwa-jiwa yang kerdil?

Ternyata hal ini bisa disebabkan oleh pola asuh yang membuat mereka merasa kerdil, tak berdaya mengatasi masalah atau kesulitan hidup, budaya, hingga trauma masa kecil.

Berikut data Robert Prentky dari Sekolah Kedokteran Universitas Boston:

23% pemerkosa tipe oportunis yang memerkosa secara impulsif atau bergerak sesuka hati dan jarang tertangkap.

25% pemerkosa digerakkan fantasi romantis aneh dan biasanya tertangkap.

32% pemerkosa pendendam yang biasanya menyakiti demi menjatuhkan martabat korban.

11% pemerkosa marah atas dunia hingga membenci laki-laki atau perempuan.

Sisanya pemerkosa sadis yang terobsesi penderitaan korban. Kian menderita korban, pemerkosa makin terangsang.

Untuk pemerkosaan beramai-ramai, lebih dari satu pelaku, biasanya dipengaruhi oleh tekanan dan norma dalam kelompok tersebut. Akibatnya, pemerkosaan lebih intens karena seolah tanggung jawabnya berbagi. Sesuatu yang dilakukan bersama membuat tanggung jawab personal turun sehingga pemerkosaan menjadi lebih impulsif.

Seberapa jauh pengaruh alkohol dan pornografi?

Pemerkosaan hanya akan terjadi ketika pelaku yang berjiwa kerdil ini menemukan PENCETUS. Pencetusnya bisa minuman alkohol, tontonan pornografi, hadirnya korban, dan kontrol sosial yang lemah. Jadi alkohol dan pornografi bukanlah penyebab, melainkan pencetus.

Saat mabuk, pertimbangan seseorang turun. Akibatnya, saat ada calon korban, mereka mudah melampiaskan superioritas. Tak peduli korban itu cantik, memiliki kesempurnaan fisik atau pun tidak. Demikian pula dengan tontonan pornografi yang intens dapat mendorong perendahan perempuan.

Bagaimana mengatasi jiwa-jiwa yang kerdil ini?

Menurut Nathanael Sumampouw, dosen Psikologi klinik Fakultas Psikologi UI, “Kemampuan mengelola hasrat dan mengatur emosi, mengembangkan pemikiran non kekerasan dan bertingkah positif bisa dilatih.”

Untuk itu, hukuman bagi pemerkosa tidak hanya menimbang efek jera, tetapi juga perlu rehabilitasi pelaku agar mencegah kambuhnya perilaku tersebut. Namun rehabilitasi ini terkendala terbatasnya psikiater, psikolog klinik, atau pekerja sosial yang paham kesehatan jiwa. Jangankan mengurusi pelaku kejahatan, korbannya saja banyak yang tidak tertangani.

Hukuman kebiri dinilai tak arif karena pemerkosa belum tentu punya soal seksual, tetapi jiwanya. Jadi, mereka masih bisa berbuat kekerasan dan kejahatan nonseksual. Dan saya kira, ini bisa lebih mengerikan efeknya. Nauzubillah min zalik, kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian…

Bagaimana mengendalikan hasrat seksual pada anak?

Dalam tulisan Hasrat Seksual yang Tak Terkelola (Kompas, 24 Mei 2016), Anna Surti Ariani, Psikolog anak dan keluarga di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengatakan, “Sesuai perkembangan biologis dan psikologisnya, anak laki-laki 9 tahun seharusnya belum memiliki dorongan seksual.”

Pubertas dini bisa dipicu oleh kegemukan, stress dalam keluarga, hingga paparan zat kimia tertentu dari lingkungan atau makanan.  Sebenarnya anak bisa belajar untuk mengendalikan dorongan seksualnya melalui pendidikan dan sosialisasi.

Namun alih-alih mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi yang memadai sejak dini, anak justru terpapar stimulus yang tidak tepat seperti pornografi, kekerasan intens dari video gim, tinggal dalam lingkungan atau keluarga yang menoleransi kekerasan, hingga hukuman atas kejahatan seksual.

Parahnya, stimulus negatif itu justru secara tidak sadar diberikan orangtua. “Banyak orangtua tidak siap jadi orangtua. Siap menikah tidak selalu identik dengan siap memiliki anak,” kata Anna.

Masih banyak orangtua yang tidak mau tahu dan tidak mau belajar mendidik anak dengan benar. Mereka justru fokus memenuhi kebutuhan fisik dan materi anak, tanpa memahami perkembangan psikologinya.

“Televisi, gawai, hingga asisten rumah tangga banyak mengambil alih peran orangtua dalam mendidik anak. Pola pendidikan anak juga masih berkutat pada PENGEKANGAN atau sebaliknya terlalu MEMBEBASKAN anak, bukan pada upaya mendisiplinkan anak.

Pendidikan kesehatan reproduksi juga masih sering mendapat persepsi keliru dengan hanya mengajarkan sisi buruk seks bebas. Padahal pendidikan ini juga mengajarkan anak untuk mengenal tubuhnya dan menghargai tubuh orang lain. Pengajaran tentang cara berhubungan seksual memang tidak terhindarkan karena itu diperlukan bagi mereka yang menjelang dewasa agar mereka bisa menyalurkan dorongan seksualnya secara sehat. Anak juga akan diajarkan untuk menjaga kebersihan tubuh dan diri sehingga mampu waspada jika ada orang lain yang menyentuh tubuhnya.

Hal penting lain yang perlu diciptakan adalah lingkungan sekolah dan masyarakat yang aktif bergerak. Dengan gerak aktif membantu anak dan remaja dapat menyalurkan atau mengelola dorongan seksualnya melalui hal-hal positif.

Pemisahan anak laki-laki dan perempuan secara ketat sebenarnya tidak perlu. Interaksi anak berlawanan jenis justru bisa menimbulkan saling kontrol di antara keduanya. Pemisahan pergaulan berdasarkan jenis kelamin justru mengingkari adanya dorongan seksual yang sebenarnya bisa dikendalikan.

Disini saya kembali ingat yang pernah diajarkan Al Quran dalam QS An Nuur 24:30-31.

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Sumber:

Artikel Jiwa-jiwa yang Kerdil dan Hasrat Seksual yang Tak Terkelola di Kompas 14 Mei 2016

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Jiwa-jiwa yang kerdil dibalik pelaku kejahatan seksual

  • May 25, 2016 at 8:26 pm
    Permalink

    sama, saya juga sudah bosan membaca/menonton berita tentang pemerkosaan ini. 🙁
    memang bikin geram sih, tapi ya ndak diberitakan tiap hari juga… 😐

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: