Oleh-oleh Urgensi Public Speaking Bagi Seorang Ibu bersama Febrianti Almeera

Dalam acara launching Rumah Belajar (RB) Public Speaking Institut Ibu Profesional (IIP) Bandung, 15 Mei 2016 di Gedung Graha Ganesha jl. Tubagus Ismail Bandung, Febrianti Almeera benar-benar membuka mata saya tentang pentingnya Public Speaking bagi seseorang. Pengantin baru kelahiran 1991 yang biasa dipanggil Pepew ini sempat pamer kalau ia dikagumi kemampuannya sebagai pembicara oleh suaminya, “Dia nge-fans sama saya. Pembicara perempuan pertama yang beliau kagumi katanya saya.” Setelah sekitar 1 jam mendengarnya bicara, saya pun antri jadi fans-nya.

Keren banget kan? Its really the power of Public Speaking.

Padahal awalnya saya datang ke acara ini, bukan karena ingin mendengar Pepew bicara. Terus terang saya nggak kenal. Saya datang ke acara ini karena ini merupakan rangkaian pertama dari 10 materi di kelas RB Public Speaking. Ini kelas yang buat oleh teman-teman di IIP Bandung yang cukup dermawan berbagi ilmu kepada kami yang grogian bahkan untuk sekedar memimpin pengajian di kompleks.

Berikut 10 Materi pertemuan RB Public Speaking yang rencananya akan dilaksanakan 1 bulan sekali:

  1. Urgensi Public Speaking bagi seorang ibu
  2. Trik tampil lebih percaya diri
  3. Opening & Closing Technique
  4. Be Expert Story Telling
  5. Rahasia mempengaruhi orang dengan kata-kata (Persuasive Technique)
  6. Vocal Technique
  7. Body Language Technique
  8. Metode NLP yang dinamis
  9. Great Slide Presentation
  10. Final Presentation

 

Tentang Febrianti Almeera

Febrianti Almeera
Febrianti Almeera

Ternyata ia penulis buku Be Great Muslimah: Syari, Berprestasi, Menginspirasi. Ya Allah, saya lupa kalau punya buku itu. Tahu gitu saya bawa bukunya yang nyelip di lemari. Saya baru ingat nggak baca buku itu, karena beda segmen. Itu buku untuk para remaja. Ya Pepew adalah penggagas Komunitas Muslimah Hijrah. Sebuah komunitas bagi teman-teman remaja yang ingin hijrah ke jalan yang lebih baik. Keren deh! Belum ada ini jaman dulu. Mungkin nanti Pepew bisa buat Komunitas Emak-emak hijrah.

Ia juga adalah seorang penulis, trainer, dan singer, dengan sejumlah prestasi yang membanggakan seperti Finalis Kartini Next Generation 2013 (saat itu pemenangnya adalah Bu Septi Peni Wulandani), peraih Djarum Beasiswa Plus 2012, Mahasiswa berprestasi UPI 2011, dan Best Announcer OZ Radio Bandung 2010.

 

Mengapa perlu Public Speaking?

Bicara adalah bentuk komunikasi yang tujuannya menyampaikan informasi/pesan. Komunikasi tidak bisa dikatakan berhasil jika pesan tidak diterima dengan baik. Perlu dipahami bahwa ada Personal Speaking (dengan suami, anak-anak, atau orang tertentu) dan ada Public Speaking (menghadapi banyak orang). Beda ilmunya. Menyapa anak-anak atau suami pulang kerja tentunya tidak cocok kalau menerapkan ilmu Public Speaking untuk membuka acara sebuah seminar. Kocak banget saat Pepew memperagakan kalau ibu-ibu menggunakan ilmu Public Speaking untuk menyambut suami pulang ngantor.

Diingatkan kembali tentang tujuan Bu Septi ketika menggagas IIP adalah untuk mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik dalam keluarganya, berperan sebagai manager dalam keluarga, pribadi mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga, berakhlak mulia dan teladan bagi keluarga serta masyarakat. Jadi peran ibu itu bukan hanya sebatas di rumah, tapi juga di masyarakat. Salah satu tools-nya adalah komunikasi.

Seringkali kualitas sebuah bisnis ditentukan dari bagaimana komunikasi pimpinan perusahaan kepada bawahannya. Demikian juga kualitas sebuah keluarga ditentukan dari bagaimana kemampuan orangtua berkomunikasi dengan anaknya. Apakah bicaranya menginspirasi, menggerakkan orang, atau dianggap angin lalu.

MC Lia Amalia dan Ummi Eti
MC Lia Amalia dan Ummi Eti

Seperti disampaikan MC Lia Amalia dan Ummi Eti Fatimah Nur Muhammad, RB Public Speaking mengambil tagline Ibu Bicara, Ibu Berkarya. Harapannya ketika para ibu bicara, bicaranya bukan sekedar ngerumpi biasa, namun bisa menginspirasi dan bermanfaat.

Urgensi public speaking bagi seorang ibu adalah untuk:

 

  • Naik kelas

Pepew sempat cerita pengalamannya sebagai penulis blog yang kemudian meningkat menjadi penulis buku. Dari situ, ia mulai diminta untuk menjadi pembicara. Mengaku sempat pingsan saking tegangnya saat masa awal-awal diminta menjadi pembicara, ia mulai mengasah kemampuannya bicara di depan umum dengan belajar di  Akademi Trainer-nya Jamil Azzaini. Kemampuannya bicara di depan publik ini yang akhirnya membuat finalis Kartini Next Generation 2013 semakin menaikkan nilai jual dirinya sebagai pembicara yang dicari banyak orang.

Jamil Azzaini
Jamil Azzaini, Pak Guru Public Speakingnya Pepew.
  • Berbicara membuka banyak peluang untuk berkarya

Dengan kemampuan bicara, Pepew membuka peluang sebagai trainer, host acara TV digital Inspira, berkarya dalam sebuah pagelaran, menyanyi, mengisi acara di TV Nasional, dan berkarya dalam Komunitas Great Muslimah.

Pepew juga menyampaikan tentang hukum pareto 20:80. Dimana 20% orang-orang tertentu menguasai 80% sektor kehidupan. Orang-orang top of mind ini, adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bicara. Orang-orang yang go to public and speak. Profesi mereka bisa dokter, olahragawan, atau penulis, yang pasti mereka adalah orang-orang yang bicaranya jelas, sistematis, dan punya ciri khas. Orang-orang ini lah yang menjadi 20% penguasa sektor kehidupan.

Mau jadi yang 20% atau 80%? Dan Public Speaking adalah modal penting menjadi 20% itu.

 

Pola pikir adalah yang utama

Pertemuan pertama adalah pertemuan pola pikir.

Mindset – action – result.

Pola pikir – tindakan – hasil.

Pola pikir adalah yang pertama harus benar, selanjutnya tindakan dalam bentuk teknis pun akan benar, maka Insya Allah hasilnya benar. Teknis itu gampang dipelajari ketika setiap peserta mampu menjawab mengapa public speaking penting buat dirinya dan peluang apa yang terbuka bagi dirinya dengan mempelajari public speaking. Jika pertanyaan ini tidak dijawab pada pertemuan pertama, maka 9 pertemuan selanjutnya tidak akan ada gairahnya.

 

Modal utama Public Speaking adalah PD

Bukan Percaya Diri ya. Tapi Percaya DIA. Yang harus dipercayai itu DIA, bukan diri sendiri yang terbatas ini.

Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Ada maksudnya sesuatu itu terjadi. Everything happen for a reason.

“Saya paling takut sharing sama ibu-ibu. Saya biasanya menghadapi anak muda perempuan. saya takut tapi mengambilkan kesempatan,” aku Pepew.

“Setiap orang punya takutnya masing-masing. Ketakutan itu pasti punya dasarnya. Suami saya paling takut kalau bicara di depan orang-orang yang lebih profesional. Kalau saya paling takut bicara di depan ibu-ibu. Dibenak saya, ibu-ibu itu lebih senior, berpengalaman, pengetahuannya lebih banyak. Sepertinya kalau saya bicara, tidak ada apa-apanya. Bener nggak?”

Ah nggak, itu hanya perasaan dek  Pepew saja.

Nah itu masalahnya. Perasaaan kita mendominasi pikiran kita. Pepew mengajak membayangkan memegang jeruk nipis, potong dan rasakan. Tidak terasa air liur kita keluar. Pikiran kita tidak tahu mana kenyataan mana imajinasi.

“Saya berpikirnya, ini bukan kebetulan. Saya sudah di desain harus ada disini oleh Dia. Ini pasti ada maksudnya. Setiap dapat kesempatan tawaran jadi MC, pikirkan kenapa kita yang ditawari. Pasti ada maksudnya. Bahkan nanti kalau tidak ada yang nawarin, kita mengajukan diri sendiri sampai bosen audiencenya.”

Dengan percaya Dia, maka kita bisa percaya diri.

Peserta Urgensi Public Speaking
Peserta Urgensi Public Speaking

 

Teknisnya Public Speaking

#1 Lakukan persiapan

  • Walk the talk atau menyampaikan apa yang sudah di lakukan. Lakukan yang dibicarakan.

Public speaker terbaik adalah yang sudah mengalami. Jalanilah peran sebagai ibu sebaik-baiknya, karena itu modalnya. Jangan pernah mengatakan hal-hal yang tidak kamu lakukan, karena akan terasa kosong.

Ini yang membuat Pepew paling takut kalau harus bicara di depan ibu-ibu. Sebagai pengantin baru, ada rasa takut karena itu peran yang belum ia lalui. Ia tidak tahu banyak soal itu. Tapi ia memang tidak bicara mengenai ibu-ibu, ia bicara tentang hal yang ia kuasai, yaitu public speaking.

  • Siapkan pesan dengan baik

Untuk mempersiapkan acara ini, Pepew kepo dulu tentang Ibu Profesional untuk memastikan ia bisa menyampaikan pesan dengan tepat. “Hari ini pesan saya ibu-ibu sadar bahwa public speaking ini penting dan mau mempelajarinya.”

  • Siapkan penampilan terbaik. Penampilan yang prima dan enak dilihat. Pelajari ilmu tentang personal grooming untuk pembicara. Di sini berlaku judge book by its cover. Gaya jalan saja dapat memperlihatkan sikap pemalu atau terintimidasi.

#2 Menjaga Fokus

  • Fokus pada keunggulan anda

Jangan bicara tentang hal yang ibu-ibu nggak passion di sana. Pastikan kontennya ibu kuasai.

Ini seperti yang dicontohkan Pepew dalam kehadirannya hari ini. Sebagai ‘anak kemarin sore’ dihadapan ‘emak-emak senior’, apalah arti seorang Pepew.  Tapi ia memulai acara dengan menyampaikan sesuatu yang memang keunggulannya. Langsung deh ‘emak-emak senior’ bertekuk lutut termehek-mehek menyimak materi yang ia sampaikan.

Yang bikin public speaking itu enak dilihat adalah ketika pembicaranya enjoy.

  • Mereka butuh anda. Yakinlah bahwa pembicara membutuhkan materi yang perlu disampaikan.
  • Mereka teman anda.

Ini terbukti pada pertemuan kali ini. Beberapa diantara peserta yang diminta bicara di depan teman-teman, tidak terlihat grogi. Bukan karena jago, tapi karena merasa ini adalah teman-temannya. Kemungkinan ceritanya akan lain jika kita diminta bicara di depan ratusan orang yang tidak dikenal.

Biasanya para pembicara akan berusaha datang lebih awal dan berbincang-bincang dengan peserta sebelum memulai acara. Ini adalah salah satu cara untuk membantu membangun rasa hubungan pertemanan dengan audience.

#3 Mengambil kesempatan

Kalau ada kesempatan ambil. Nggak ada kesempatan, buat kesempatan. Tidak dikasih, maksa. Banyaklah berlatih dengan mengambil kesempatan.

Kang Ulum dan Pepew
Terima kasih kepada pengantin baru, Kang Ulum dan Pepew yang sudah mau berbagi dengan RB PS IIP Bandung

 

Perlukah sekolah Public Speaking?

Ini yang sejak awal menjadi perhatian saya. Apa iya kita perlu sekolah Public Speaking? Apa tidak cukup dengan jam terbang saja, dan kita akan pasti bisa karena biasa.

Menurut Pepew dua-duanya perlu. Ilmu teori dan jam terbang sama-sama diperlukan. Ada teknik-teknik yang perlu dipelajari dalam public speaking, dan perlu banyak berlatih. Itu sebabnya, kita harus berani mengambil setiap kesempatan yang tersedia untuk berlatih bicara di depan public.

Ilmu public speaking itu jadi bahan kue, tepung, telur, terigu, gula. Bahan itu perlu diolah dan di aduk dengan mixer dalam bentuk praktek atau jam terbang, agar dapat menjadi kue yang bisa dinikmati.

Contohnya ada ilmu opening STB – Senyum Tatap Bicara. Tebarkan pandangan sebelum memulai pembicaraan. Teorinya sederhana, namun ternyata prakteknya tidak semudah itu.

Jam terbang menurut penelitian perlu 10 ribu jam untuk jadi expert. Bukan 10 ribu jam praktek hal yang sama berulang kali, tapi deliberate practice – latihan dengan peningkatan. Awalnya di keluarga dengan anak dan suami, selanjutnya majelis taklim, kecamatan, kelurahan. Ada tingkat kesulitan yang semakin meningkat. Baru bisa dihitung sebagai latihan 10 ribu jam yang efektif untuk meningkatkan kemampuan sebagai expert.

Public Speaker wannabe IIP Bandung
Public Speaker wannabe IIP Bandung

Baca juga liputan teman-teman wartawan #ODOPfor99days tentang acara ini:

Ceritanya Shona http://www.ibubahagia.com/2016/05/ibu-bicara-ibu-berkarya-itulah-jargon.html

Ceritanya Putri Yudha https://putriyudha.wordpress.com/2016/05/16/resume-menggali-urgensi-public-speaking-sebagai-seorang-ibu-bersama-febrianti-almeera/

Ceritanya Lendy https://lendyagasshi.wordpress.com/2016/05/17/reportase-launching-rb-public-speaking/

Sumber tambahan:

https://febriantialmeera.wordpress.com/

http://www.febriantialmeera.com/

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

8 thoughts on “Oleh-oleh Urgensi Public Speaking Bagi Seorang Ibu bersama Febrianti Almeera

  • May 25, 2016 at 5:32 am
    Permalink

    Siap siap terima job jadi narsum yaa…teh Shan..

    Reply
    • May 25, 2016 at 9:30 am
      Permalink

      dag dig dug gemetar

      Reply
  • May 25, 2016 at 10:40 am
    Permalink

    klo saya, bicara di dpn umum utk presentasi atau apapun, bahkan di dpn bule, alhamdulillah pede, krn kan udah persiapan dl sebelumnya…
    tapi klo lg ngumpul terus tiba2 diminta perkenalan atau menyampaikan pendapat, saya pasti grogi berat, kaget & ga ada persiapan mental, hihihi…

    Reply
    • May 25, 2016 at 6:15 pm
      Permalink

      Oh…bisa gitu ya? Persiapan memang penting banget sepertinya.

      Reply
  • May 25, 2016 at 12:01 pm
    Permalink

    Whoaaa.. review materiny keren pisan. Meuni lengkap teh Shan. Nuhun ya, belajar ngeblog ah sama teh Shanty 😀

    Reply
    • May 25, 2016 at 6:14 pm
      Permalink

      Itu mah gimana pemateri. Pematerinya keren, reviewnya bisa kebawa keren.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: