Oleh-oleh Seminar Nasional Great Gadget Great Generation

Masalah penggunaan gadget pada anak dan remaja memang selalu menarik untuk dilihat dari berbagai sudut pandang. Jika pada awal Januari 2016 Kang Mumu bicara dalam sebuah Seminar Bahaya Dibalik Kecanduan Games di FK Unpad bersama Bunda Elly Risman, kali ini Magister Psikologi Profesi Pasca Sarjana Universitas Islam Bandung, mencoba mengangkat tema ini dari sudut psikologi.

Tidak tanggung-tanggung, ada 3 pembicara keren yang dihadirkan di Aula Unisba Bandung pada Kamis, 12 Mei 2016. Muhammad Nur Awaludin atau lebih dikenal dengan Kang Mumu Kakatu, sebagai pembicara pertama menyampaikan materi mengenai memahami dan melindungi anak dari bahaya kecanduan games. Materi kedua disampaikan oleh Bapak Agus Sofyandi Kahfi mengenai gadget dalam perspektif islam. Dan pembicara utama, Kak Seto Mulyadi menyampaikan materi bagaimana mendidik buah hati di era digital. Jadi pembahasannya cukup lengkap dari 3 sudut pandang, yaitu: teknologi oleh Kang Mumu, agama oleh Pak Agus, dan psikologi oleh Kak Seto.

Seminar Nasional Great Gadget Great Generation
Seminar Nasional Great Gadget Great Generation

“Games itu sebenarnya netral,” kata Mumu membuka materinya. Berbeda dengan pornografi yang 100% negatif, games itu bisa negatif bisa positif tergantung pelakunya. Saat ini pemakai gadget di Indonesia jumlahnya 30 juta lebih banyak daripada jumlah penduduknya. Artinya satu orang memiliki lebih dari satu gadget di rumahnya. Ada smartphone, tablet, hingga laptop. Bahkan ada orang yang memiliki beberapa HP.

Ada 3 aktifitas yang biasa dilakukan anak dengan internet, yaitu: sosial media, googling, dan bermain games.

Sosial media memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah sebagai tempat promosi produk dan jasa, memperbanyak teman dan relasi bisnis, memudahkan berkomunikasi dengan teman di dalam dan luar negeri, dan tempat berbagi data dan informasi dengan mudah. Sedangkan dampak negatifnya adalah munculnya tindak kejahatan, membuat malas belajar dan bekerja, mengganggu hubungan dengan pasangan, dan menimbulkan kecanduan.

Sebenarnya sudah ada batasan dalam mengakses konten di dunia online. Seperti FB yang hanya boleh untuk anak usia 13 tahun keatas. Tapi masih sering kita lihat anak-anak usia13 tahun kebawah yang telah memiliki FB sendiri. Demikian juga games, dalam setiap games itu ada rating games yang bisa memandu kita menentukan mana games yang aman untuk anak dan mana yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Sayangnya tidak setiap orangtua perhatian dengan hal ini.

Sebagai mantan pecandu games, Mumu kembali berbagi cerita bagaimana ia yang tadinya berasal dari keluarga harmonis dan taat beragama, bisa sampai terjerumus dalam kecanduan games dan pornografi. Padahal saat kelas 3 SD ia sempat membanggakan piala kejuaraan MTQ-nya dengan sang Ayah. Ayahnya juara kecamatan, Mumu juara kelurahan. Mereka sekeluarga sering bersama-sama mengikuti sejumlah kegiatan. Benar-benar masa kecil yang sempurna.

Lantas dimana masalahnya?

Semua bermula dari kesepian di tinggal sendirian. Seiring waktu kesibukan orangtua mulai meningkat. Sebagai anak bungsu, Mumu pun mulai ditinggal kakak-kakaknya dan lebih banyak bermain sendiri. Maka mulailah ia bermain games di tempat rental untuk mengobati kesepian dan kesendirian. Awalnya sesekali, lama-lama jadi ketagihan.

Hanya perlu waktu 1 tahun untuk membuat Mumu mulai kecanduan games. Mulai berani mencuri uang orangtua untuk menambah jatah bermain games dan berani berbohong. Semakin besar, semakin canggih kemampuannya untuk menuruti keinginan bermain games.

Hobi menonton acara smackdown di TV yang banyak unsur kekerasannya memang tidak langsung membuat anak menjadi hobi memukul. Mengaku sebagai anak yang lebih sering dipukul daripada memukul, Mumu menyebutkan tontonan itu membuatnya menjadi lebih agresif dan mudah marah. Juga menjadi terbiasa melihat kekerasan. “Kalau melihat orang dipukul, itu sih biasa. Tidak perlu cengeng atau lapor guru.” Bisa jadi ini yang membuat mengapa kepekaan anak-anak terhadap kekerasan menjadi menurun.

Mumu Kakatu dalam Seminar Nasional Great Gadget Great Generation Unisba
Mumu Kakatu dalam Seminar Nasional Great Gadget Great Generation Unisba

Cerita lengkap pengalaman Mumu mengatasi kecanduan gamesnya bisa dibaca dalam post Confession of an ex gaming junkie.

Sebenarnya apa sih yang dibutuhkan anak agar tidak kecanduan games dan pornografi?

“Sekedar teman mengobrol dan penghargaan,” kata Mumu.

Dalam dunia nyata, ini sering menjadi langka. Jika mencuci piring tidak bersih atau malas dalam sesuatu, kita akan diomelin. Tapi jika berhasil mencapai sesuatu, dianggap angin lalu yang bukan apa-apa. Sedangkan dalam dunia games, jika kita gagal diminta untuk “Try Again”. Ketika berhasil diberi ucapan “You are great.”

Dalam dunia nyata, anak sering dihina karena kemampuannya, tapi dalam games mereka seperti menemukan alter ego yang membuat dirinya merasa nyaman, kuat, dan dihargai. Inilah yang menimbulkan kecanduan akut pada games dalam diri seorang anak.

“Kok saya lebih merasa dihargai, dibutuhkan, dan diterima di dunia game dibanding dikehidupan nyata.”

Andai saja para orangtua bisa menyadari hal ini, dan berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya dibandingkan apa yang diberikan gadget pada mereka, sepertinya masalah kecanduan games ini tidak akan terlalu rumit.

“Orangtua harus lebih menarik bagi anak dibanding gadget.”

Materi selanjutnya dari Agus Sofyandi dapat dibaca dalam post Oleh-oleh Gadget dalam Perspektif Agama (Islam)  dan Kak Seto dalam post Oleh-oleh Mendidik Anak di Era Digital.

Pre Launching Internet Baik
Pre Launching Internet Baik, 22 Mei 2016

(750 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: