Oleh-oleh Mendidik Anak di Era Digital oleh Seto Mulyadi

Terus terang saya sangat terharu akhirnya bisa bertemu langsung dengan Psikolog yang telah berprofesi sebagai guru TK selama 46 tahun ini. Kak Seto atau Dr. Seto Mulyadi, Psi. Msi masih persis sama dengan bayangan saya tentang sosok Kak Seto sejak saya kecil.  Padahal ayah 4 anak ini aslinya kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951. 64 tahun! Orang kok ya bisa awet gitu to ya.

Beberapa poin penting disampaikan Kak Seto, yang lulusan Psikologi Universitas Indonesia (S1 tahun 1981, S2 1989, dan S3 1993) dalam Seminar Great Gadget Great Generation di Aula Unisba, 12 Mei 2016 diantaranya:

#1 Semua anak cerdas

Kak Seto Mulyadi, Mendidik Anak di Era Digital
Kak Seto Mulyadi, Mendidik Anak di Era Digital

Kak Seto membuka materinya dengan mendongeng memperkenalkan kelima mantan muridnya yang kebetulan laki-laki semua.

Yang pertama hobinya membuat pesawat, bernama Rudi Habibie.

Yang kedua jago bulutangkis, bernama Rudi Hartono.

Yang ketiga jago menggunting rambut, bernama Rudi Hadisuwarno.

Yang keempat paling suka berakting di depan kamera, bernama Rudi Salam.

Yang kelima paling suka memasak, bernama Rudi Choirudin.

Diantara mantan murid TK saya ini mana yang paling cerdas otaknya?

Kak Seto menyampaikan bahwa semua anak pada dasarnya cerdas. Cerdas itu spektrumnya luas. Ada cerdas matematika, cerdas menari, cerdas bernyanyi, cerdas mengaji, cerdas masak, cerdas olahraga.

Apakah dia Raden Mas Maradona, Kanjeng Michael Jackson, Mozart, Briptu Norman, Einstein, Pablo Picasso, semuanya cerdas pada bidang yang berbeda. Bayangkan kalau dulu Maradona dipaksa matematikanya harus 100, atau apa jadinya kalau Einstein dipaksa ikut Idola Cilik.

IQ bukanlah segalanya

Intelegensia Quotient atau IQ bukanlah segala-galanya. Ada juga yang namanya Creativity Quotient, Adversity Quotient (tidak mudah menyerah), Spiritual Quotient, Multiple Intelligences, dan Emotinal Intelligence.

Dalam Multipel Intelligences dikenal 8 kecerdasan, yaitu cerdas angka, cerdas kata, cerdas gambar, cerdas musik, cerdas gerak, cerdas teman, cerdas diri, dan cerdas alam. Kenali kecerdasan ini dalam diri anak, agar mereka bangga dengan diri mereka sendiri.

Anak yang cerdas musik akan lebih mudah belajar matematika dengan iringan lagu. Ini akan sangat membantu anak mengembangkan kecerdasan lainnya.

#2 Beban sekolah yang terlalu padat

Beban pelajaran yang ada saat ini memang diakui terlalu padat dan menyebabkan anak jenuh. Disuruh ngapalin nama mentri, istri mentri, hingga anak mentri. Kurikulum kurang berpihak pada hak anak.

Belajar untuk anak itu hak atau wajib? Jangan salah, belajar adalah hak anak. Dan merupakan kewajiban negara untuk memenuhinya.

Kita lebih bangga anak kita pintar calistung dibanding pintar mengantri. Semua anak pada dasarnya senang belajar. Kalau anak tidak senang belajar, yang salah adalah lingkungannya.

#3 Belajar yang efektif adalah dengan suasana gembira

Cara belajar yang efektif adalah dengan suasana gembira. Caranya bisa dengan bernyanyi. Kak Seto mencontohkan bagaimana memperkenalkan matematika atau belajar biologi dengan nyanyi. Dengan nada-nada indah yang menyenangkan anak.

Kemampuan seorang anak untuk belajar 50% pada usia 0-4 tahun, 30% pada usia 4-8 tahun, dan 20% sisanya. Jangan malah melepaskan masa-masa emas ini pada pengasuh dan baby sitter.

Membaca, menulis, matematika dan bahasa bisa dipelajari anak dalam suasana yang menyenangkan. Dalam belajar harus mengandung unsur kognitif (ilmu), afektif (kasih sayang), dan psikomotorik (gerak). Belajar menjadi lebih efektif dengan suasana hiburan, permainan, warna-warni, berpikir positif, badan segar dan emosi sehat. Bukan dalam suasana penuh ketegangan.

#4 Lindungi anak dari kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan dalam rumah tangga sering tanpa sadar terjadi dalam rumah sehingga anak mencari pelarian dengan berperilaku menyimpang. Bosen mendengar ibunya ngomel-ngomel melulu kaya ember. Anak dipaksa belajar, nggak boleh bermain, padahal ibunya nonton sinetron. Bukan bola yang ditendang, malah anak yang ditendang.

Kalau kesal sama anak, coba masuk dapur bersihkan saja panci dan wajan. Kalau masih kesal, kosek kamar mandi. Nanti menghadapi anak sudah tinggal senyum.

Marilah budayakan senyum menghadapi anak. Latihan senyum di depan kaca setiap pagi. “Kalau saya senyum, saya bisa lebih cantik dari Syahrini.”

Orangtua akurlah, jangan malah ribut sendiri. Siapa yang masih 3 hari sekali masih membisikkan “Darling, I love you ditelinga pasangannya?” tanya suami Ibu Deviana ini.

Ada pasal dalam UU Perlindungan Anak yang melindungi anak dengan hukuman maksimal 3 tahun 6 bulan, ditambah sepertiganya jika yang melakukannya orangtuanya sendiri. Jadi orangtua pada posisi paling depan untuk melindungi anak.

Kak Seto meminjam lagunya Ahmad Dhani:

Tuhan kirimkanlah aku

Ayah ibu yang baik hati

Yang mencintai aku

Apa adanya….

Para ayah mohon jangan merokok di dekat anaknya. Kalau mau merokok mohon jauh-jauh di Samudra Hindia sana.

Cyber bullying

Kenali tanda-tanda anak mengalami cyber bullying seperti perubahan emosi anak saat menggunakan ponsel atau internet (menjadi murah marah dan sedih), menarik diri dari pergaulan dan kegiatan yang biasa dijalankannya, nilai sekolah menurun, dan anak terlihat depresi yang tidak biasa.

Kadang-kadang orangtua tidak peka melihat perubahan anak. Kasus JIS itu baru 2 bulan setelah kejadian orangtuanya tahu.

Bagaimana merespons perilaku cyber bullying?

  • Simpan dan cetak bukti cyber bullying
  • Identifikasi pelaku cyber bullying
  • Kontak si pelaku untuk menghentikan cyber bullyingnya
  • Hubungi orangtua pelaku dengan bukti yang cukup. Jika diperlukan, beri peringatan untuk mengambil langkah hukum.
  • Hubungi pihak sekolah sebagai langkah protektif
  • Jangan ragu laporkan polisi jika sudah mengarah pada kekerasan, pemerasan atau seksual.

Tayangan yang merusak

Prosentase Iklan TV
Prosentase Iklan TV

Tayangan TV kita 40% adalah iklan, sinetron 31%, berita 16%, film 9%, hiburan musik 7%, olahraga 1%. Sedangkan pendidikan hanya 0,07%. Kita harus waspada dengan tayangan televisi.

Kak Seto sempat juga bercerita mengenai pengalamannya tidak punya tv karena sempat rusak selama beberapa bulan. Tanggapan anak-anaknya adalah, “Selama ayah dan ibu masih mau mendongeng untukku, tidak apa-apa tidak ada TV.”

Jika ada tayangan yang tidak baik, segera sampaikan pada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Jl. Gajah Mada 8 Jakarta 10120, telp 021-6340713, www.kpi.go.id. Sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Fakta menunjukkan bahwa 67% dari 2.818 siswa kelas 4-6 SD pernah mengakses informasi pornografi (Sumber: Yayasan Kita dan Buah Hati). Fakta lain menyebutkan bahwa 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia, 97% pernah menonton sesuatu yang berbau pornografi (Sumber: Komnas Anak 2007).

Anak kecanduan pornografi karena orangtua sering:

  • Tidak peduli dan tidak punya waktu

Siapa ibu-ibu yang masih punya waktu untuk mendongeng dengan anaknya?

Siapa ibu-ibu yang masih punya waktu masak bersama keluarga?

Punya waktu untuk rapat keluarga?

Waktu untuk makan malam atau makan pagi bersama?

  • Gagap teknologi. Banyak orang tua tidak bisa baca bahasa alay yang terdapat dalam gadget anaknya.
  • Melupakan kecerdasan moral dan spiritual

#5 Hargai pencapaian anak

Besarkan hati anak dengan dengan menghargai pencapaiannya. Acungkan jempol. Katakan Ibu bangga padamu. Ayah bangga padamu. Kamu pada dasarnya hebat dan baik.

 “Saya dulu waktu kecil matematika dapat 4. Alhamdulillah masih hidup sampai sekarang. Tidak bisa matematika bukanlah akhir segala-galanya.”

Hargai bahwa semua anak itu unik. Biasakan mengapresiasi anak. Jangan membandingkan dengan orang lain, tapi dengan dirinya sendiri sebelumnya. “Sekarang kakak hebat sudah bisa berhitung sampai 10.”

Jadi penasaran bagaimana Kak Seto dididik orangtuanya dari kecil?

“4 tahun kepala saya sudah bocor dijahit, makanya selalu pakai poni untuk menutupi jahitan. Keceplung dari sungai. Jatuh dari pohon. Orangtua saya tidak mencap saya sebagai bandel atau nakal. Tapi energi yang berlebihan dialihkan kesejumlah kegiatan. Selasa olahraga pingpong, rabu kungfu, kamis menggambar, teater, puisi, pramuka. Dengan cara demikian energi tersalurkan dengan cara positif. Kalau anak-anak diarahkan potensinya, maka mereka akan berkembang dengan optimal.”

Senyum dan Cinta dari Jet Li
Senyum dan Cinta dari Jet Li

#6 Jadilah orangtua yang kreatif

Kunci sukses menghadapi anak adalah menjadi orangtua KREATIF. Biasakan anak boleh bertanya dan mengeluarkan pendapat. Orangtua harus jadi artis serba bisa. Jadi pendongeng, penyanyi, seniman, pelawak, pesulap, ilmuwan. Dalam kesempatan ini, Kak Seto juga mempratekkan kemampuannya menyulap dan mendongeng dengan sebuah boneka.

Siapa yang PD menjadi orang kreatif? Betapa banyak lagu anak yang dimulai dengan mi fa sol. Balonku, Burung kutilang, Indonesia Raya, Naik Kereta Api, Saputangan Bapucuk Ampat, Rasa Sayange. Kak seto memancing dengan 2 paragrap pertama dan peserta mampu melanjutkan dengan 2 paragrap terakhir. Dan benar saja para peserta bisa kreatif menciptakan lagu baru.

Jadi percaya saja bahwa kita sebagai orangtua bisa kreatif menciptakan lagu-lagu indah buat anak-anak. Jangan lagu-lagu dewasa yang tidak mendidik. Dan kak seto kembali menghibur peserta dengan bernyanyi  dan menari bersama. Pokoknya full senyum deh selama sesinya Kak Seto. Sepertinya ini rahasia awet mudanya kak Seto. Hidup penuh keceriaan dan senyuman.

Rekaman keceriaan bernyanyi bersama Kak Seto dalam Seminar Great Gadget Great Generation bisa disimak di sini.

Merdunya suara Kak Seto bernyanyi lagu Komnas Anak
Merdunya suara Kak Seto bernyanyi lagu Komnas Anak

#7 Kuncinya ada di komunikasi

Kuncinya ada di membangun komunikasi yang efektif dengan anak. Jadilah pendengar aktif dengan tidak langsung mematahkan penjelasan anak. Metode penyelesaiannya adalah win win solution. Jangan terlalu arogan dan bossy menghadapi anak.

Siapa bapak ibu yang percaya diri diidolakan anak-anaknya sendiri?

Ayah dari 4 anak: Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, Nindya Putri Catur Permatasari, sempat berbagi cerita mengenai Sidang Umum MPR. Bukan MPR yang terletak di Senayan, melainkan Majelis Permusyawaratan Rumah. Sebuah rapat keluarga rutin untuk minta ijin keluarga. Selain itu juga ada diskusi lewat grup whatsapp.

Dalam forum itu dibahas apa yang kalian tidak suka dari ayah dan bunda. Kak Seto sempat dikritik oleh anaknya sebagai munafik.  Jadi Ketua Komnas Anak untuk membela anak orang lain, sedangkan anak sendiri dilupakan. Jadi anak menuntut untuk sebelum mengikuti acara harus meminta ijin keluarga. Pernah suatu ketika Kak Seto terpaksa menolak acara penting di Aceh karena anaknya tidak mengijinkan. Ternyata saat itu terjadi bencana Tsunami Aceh. Bagi Kak Seto Mendengar suara anak bagaikan mendengar suara rakyat.

Jangan mimpi punya anak penurut, kita akan frustasi. Mimpilah punya anak yang bisa bekerja sama.

Jurus jitu menghadapi anak: komitmen kuat, kompak dengan mitra, peduli pada hak anak, terus belajar, dan kreatif.

Kepercayaan diri dan kedekatan dengan orangtua akan melindungi anak dari pengaruh buruk gadget dan perilaku menyimpang yang lain. Stop kekerasan dalam dunia pendidikan.Kekerasan hanya akan merusak karakter positif anak. Impian anak-anak adalah rumah dan sekolah yang ramah anak. Anak-anak bandung tersenyumlah.

Anak-anak Bandung bahagia karena kita semua mendidik dengan cinta.

Mendidik dengan C – I – N – T – A.

Terima kasih Kak Seto!

Materi sebelumnya dari Kang Mumu Kakatu mengenai memahami dan melindungi anak dari kecanduan games dapat di baca dalam post Oleh-oleh Seminar Nasional Great Gadget Great Generation dan Materi dari Agus Sofyandi Kahfi dapat dibaca dalam post Oleh-oleh  Gadget dalam Perspektif agama (Islam).

(1560 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: