Oleh-oleh The Power of Superdad bersama Tjatur Hendry Juliadi

Pada Kamis, 5 Mei 2016 Sekolah Has Darul Ilmi mengadakan sebuah seminar yang tidak biasa berjudul The Power of Superdad yang dibawakan oleh Tjatur Hendry Juliani. Biasanya Seminar parenting di dominasi oleh ibu-ibu, namun acara kali ini khusus didedikasikan untuk para ayah.

Acara ini diwajibkan bagi para orangtua siswa Has Darul Ilmi, dan terbuka untuk umum. Sebuah lagu berjudul ayah dinyanyikan dengan merdu oleh Farhan dari kelas 6 mengiringi foto-foto para ayah bersama buah hati mereka. Melihat pose-pose itu, tidak terasa mata ini jadi berkaca-kaca. Betapa sosok ayah begitu berarti bagi putra-putrinya.

Foto Abah bersama Raka dan Sasya
Farhan mengiringi foto Abah bersama Raka dan Sasya dalam tayangan kumpulan slide Aku dan Ayahku.

Pembicara Bapak Tjatur Hendry Juliani adalah seorang ayah 1 anak yang juga pengajar Akidah dan Akhlak di Lapas Anak Sukamiskin (sekarang LPKA – Lembaga Pembinaan Khusus Anak) kelas III Sukamiskin Bandung. Ia membuka dengan berbagi cerita mengenai keadaan anak-anak binaan.  Anak-anak itu berada disana dengan berbagai kasus. Yang terbanyak adalah karena asusila seperti pemerkosaan dan pencabulan sebanyak 70%, kekerasan 20% dan Narkoba 10%. Walau belakangan terjadi perubahan. Kejahatan Narkoba meningkat menjadi 20% dan kekerasan 10%.

Kok bisa?

Bisa jadi karena hukuman pada anak-anak itu hanya setengah dari hukuman orang dewasa. Misalnya hukuman pembunuhan bagi orang dewasa 6 tahun. Jika anak-anak yang menghilangkan nyawa orang lain, hukumannya hanya 3 tahun. Ironisnya hal ini dimanfaatkan untuk melibatkan anak-anak menjadi kurir narkoba. Karena dinilai resikonya lebih ringan.

Seperti sering disampaikan Bunda Elly Risman dalam sejumlah seminar, betapa pornografi merusak otak lebih parah daripada narkoba, di LPKA Pak Tjatur menyaksikan sendiri kerusakan itu. Pengalamannya selama 3,5 tahun mengajar di sana, ia bisa membedakan antara anak-anak pelaku kejahatan asusila dan anak-anak pemakai narkoba. Kalau anak-anak korban narkoba, biasanya bicaranya agak tulalit. Tapi kalau anak-anak pelaku kejahatan asusila, biasanya menunjukkan perilaku yang lebih tidak masuk akal.

Pernah ada suatu kejadian, bagaimana anak-anak ini dilaporkan tengah naik menara mesjid yang cukup tinggi.

Ngapain?

Ternyata sekedar mau mengintip para perempuan di lapas sebelah. Atau jika kedatangan tamu wanita, walau dengan menggunakan pakaian rapi, bisa saja muncul komentar-komentar yang tidak sopan. Otak mereka rusak.

“Kalau Narkoba ada terapinya, tapi kalau pornografi, saya tidak tahu juga bagaimana terapinya,” kata ayah satu anak ini.

Pak Tjatur juga sempat menceritakan sebuah kasus seorang anak yang dihukum selama 10 tahun karena kasus pembunuhan. 10 tahun adalah hukuman berat buat anak. Ini hanya untuk kasus khusus. Ternyata si anak melakukan pembunuhan disertai mutilasi, dan sudah melakukan lebih dari sekali pembunuhan.

Yang mencengangkan adalah, anak ini berasal dari keluarga yang cukup agamis dan juara kelas. Sebenarnya di lapas banyak juga anak-anak yang juara tilawah dan mengajinya sangat bagus.

Jadi jangan merasa urusan sudah selesai ketika anak dimasukkan ke sekolah Islam yang mahal, faseh mengaji, dan menjadi juara kelas. Itu bukanlah jaminan anak tidak melakukan kejahatan.

Menanamkan ketauhidan dan keimanan adalah tugas seorang ayah

Hampir semua anak di lapas kehilangan sosok ayah. Ayahnya ada, tapi tidak memiliki peran berarti di mata anaknya. Ayah sebatas sosok laki-laki yang ada dalam keluarga tanpa menjalankan fungsi dan tanggung-jawabnya.

Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya, dan memfasilitasi syahwat (keinginannya). Sementara ia mengira telah menyayanginya, padahal dia sebenarnya telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagian pada anak itu di dunia dan di akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, pada umumnya berasal dari sisi AYAH. (Imam Ibnu Qoyyim)

Tjatur Hendry Juliadi dalam Seminar The Power of Superdad, Has Darul Ilmi Bandung
Tjatur Hendry Juliadi dalam Seminar The Power of Superdad, Has Darul Ilmi Bandung

Disampaikan bahwa dalam Al Quran terdapat 17 dialog antara orangtua dan anaknya. Dimana 14 diantaranya adalah dialog ayah dengan anaknya, 2 dialog antara ibu dengan anaknya, dan sebuah dialog lagi tidak jelas apakah itu dialog antara ayah atau ibu.

Pernyataan ini mengandung pesan yang sangat penting mengenai peran serta para ayah untuk ikut berpartisipasi aktif dalam membesarkan putra-putrinya. Para orangtua dibuka matanya untuk lepas dari paradigma menyesatkan yang memberi batas kaku bahwa ayah bertugas mencari uang saja dan ibu mengurus anak saja.

Dialog antara ayah dan anak dalam Al Quran bisa dibaca dalam artikel di sini.

Dalam hand out The Power of Superdad, dituliskan mengenai perbedaan peran ayah dan ibu sebagai berikut:

  • Kasih ibu bersifat tidak bersyarat, sedangkan cinta ayah bersifat kualitatif dan melekat pada performance anak.
  • Ibu khawatir tentang bagaimana bayinya bisa bertahan hidup, sedangkan ayah berpikir bagaimana anaknya dapat menghadapi masa depan.
  • Ibu mendisiplinkan anak-anak waktu demi waktu, sedangkan ayah mendisiplinkan anak dengan peraturan.
  • Dari ibu, anak belajar segi emosinya, sedangkan dari ayah, anak belajar untuk hidup ditengah masyarakat.
  • Ibu memberitahukan anak-anak untuk hati-hati dalam bermain, sedangkan ayah justru mendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru.

Perbedaan peran ini yang meletakkan ayah dan ibu setara bagi anak-anaknya. Ayah bukan semata-mata bayangan dan bergantung dari para ibu. Ayah perlu terlibat aktif dalam menetapkan peraturan dalam rumah tangga. Jadi bukan hanya berfungsi sebagai ‘bad cop’ untuk menakut-nakuti anak.

“Nanti dilaporkan Ayah loh kalau kamu nakal”

“Cepat selesaikan PR mu sebelum Ayah pulang.”

Peran ayah dalam keluarga

Seorang Ayah harus mendidik anaknya terhadap apa yang dia butuhkan dalam kewajiban agama. Pendidikan seperti ini wajib bagi seorang AYAH dan siapa saja yang menjadi walinya sebelum putra-putrinya mencapai usia akil baligh. (Imam An-Nawawi)

#1 sebagai teman bermain (Player)

Hasil penelitian menyebutkan bahwa laki-laki yang suka selingkuh salah satu faktor penyebabnya adalah karena kurang bermain sama anak.

Masa sih?

Saat bermain sama anak hormon endorfin yang memberikan perasaan senang akan dihasilkan oleh otak. Jika tidak mendapatkannya dari bermain sama anak, maka pelariannya ke selingkuhan.

Makanya bapak-bapak, mending sering main sama anak-anaknya aja.

“Mainnya fisik yang bergerak ya, seperti lari-larian, kuda-kudaan, olahraga. Bukan main PS,” jelas Pak Tjatur yang juga praktisi homeschooling untuk putranya.

“Bapak pernah jadi anak, tapi anak belum pernah jadi bapak. Jadi bapaknya yang harus mengalah dan turun menjadi seperti anak-anak. Jangan jaim. Percayalah, kewibawaan Bapak tidak akan menurun. Bahkan akan makin dihormati anak-anaknya.”

Tapi kan cape pulang kantor.

“Tidak perlu lama-lama. Cukup 5-10 menit dengan pikiran dan hati ada di tempat itu bersama anak tercinta. Matikan gadget dan urusan yang lain. Sekedar main petak umpet di kamar 4×4 meter, bisa sangat berkesan buat anak. Apalagi jika mulai tidak bisa lagi dibedakan mana anak mana bapaknya, saking asyiknya.”

#2 sebagai pendidik dan pengasuh (teacher)

Pak Tjatur juga bercerita bahwa ia lebih suka berbagi mimpinya dengan anak. Kepada istri cukup disampaikan bahwa ingin punya mobil atau rumah. Dan akan diaminkan oleh sang istri. Tapi kalau dengan anak, ceritanya bisa lebih detil.

“Kita mau punya mobil apa Kak?”

“Mobil sport saja.”

“Warnanya apa ya?”

Pembicaraan menjadi berkembang dengan seru, menarik, dan imajinatif. Berbicara dengan anak-anak memang menyenangkan karena pikiran mereka penuh imajinasi dan terbuka dengan berbagai kemungkinan. Jadi jangan menganggap anak-anak tidak bisa diajak bicara.

Menghadirkan pengalaman spiritual pada anak juga terasa lebih bermakna bagi anak dibandingkan hanya menyampaikan teori. Pak Tjatur menyampaikan juga pengalamannya mengajarkan anaknya kekuasaan Allah melalui pengalaman bersedekah.

#3 sebagai pelindung (protektor)

Saran Pak Tjatur, setelah sholat subuh, lebih baik mengajak anak untuk melatih fisiknya dengan bergerak dan berolahraga. “Jangan untuk hapalan dulu, karena malah membuat mengantuk.” Saat ini, ia tengah melatih fisik anaknya dengan Muangthai. Diharapkan anak dapat membela dirinya jika diperlukan.

Peran sebagai pelindung, bukanlah berarti selalu melindungi anak atau membuatnya harus membalas jika ada yang menjahati. Karena tidak selamanya, orangtua akan berada disamping anak untuk melindungi mereka.

Dengarkan keluhan anak dengan sepenuh hati. Biarkan mereka tahu bahwa mereka bisa bercerita dengan bebas tanpa disalahkan.

#4 sebagai mitra (partner)

Disini peran ayah dan ibu harus selaras. Bukan menetapkan hukuman, tapi memberikan kesadaran akan konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan.

Tolong intonasi suara dijaga saat bicara dengan anak. Anak-anak sensitif dengan intonasi suara. Jangan khawatir wibawa akan turun dengan berlemah lembut. Anak-anak bahkan cenderung lebih terbuka dan hormat dengan ayah yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Anak-anak yang lebih dekat dengan ayahnya, cenderung hidupnya lebih sukses.

Teladanilah Rasullullah saat dalam mendidik dan bicara dengan anak-anak.

Tidak perlu berpikiran yang sulit-sulit, cukup bercerita sekitar 5-10 menit setiap hari mengenai kisah-kisah para nabi. Atau sekedar bicara pelan di telinga anak saat anak tidur.

“Ayah berjuang untukmu Nak, jadilah anak yang soleh,…..” Sampaikan doa-doa baik bagi mereka. Insya Allah itu akan masuk dalam alam bawah sadar anak-anak.

Peran ayah itu sangat luar biasa. Tugas menanamkan keimanan dan tauhid adalah tugas ayah. Jangan ada paradigma bahwa ayah cukup cari uang dan anak menjadi urusan bunda sepenuhnya. Hasilnya tidak hanya akan dirasakan di dunia, tapi juga di akhirat.

Pertanyaan-pertanyaan

#1 Bagaimana jika ayah berada diluar kota dan hanya berkumpul dengan anaknya seminggu sekali?

Jawaban:

Saya juga pernah mengalami ini. Cobalah untuk membuat jadwal komunikasi rutin dengan anak dan istri. Selalu pada waktu yang sama. Misalnya setiap selasa malam setelah isya. Jadikan itu kebiasaan. Setelah 1 bulan, biasanya akan menjadi rutinitas yang dinantikan anak-anak. Minta anak untuk menceritakan keseharian mereka, cukup mendengarkan dengan tulus. Biasanya biaya komunikasi akan meningkat. Tapi percayalah, ini adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Sederhana, tapi dampaknya sangat luar biasa.

Ketika bertemu, biasanya para ayah yang hanya berjumpa seminggu sekali akan melampiaskan rasa berdosa dengan mengajak anak jalan-jalan dan membelikan sejumlah mainan. Sebenarnya, waktu yang terbatas itu lebih baik jika digunakan untuk berdialog. Ketika tahu, ayahnya adalah teman mengobrol yang asyik, komunikasi dengan anak menjadi lancar dan terbuka.

#2 Bagaimana peran ayah untuk anak gadis yang memasuki usia puber?

Jawaban:

Pada usia puber, yang paling dibutuhkan anak-anak adalah menjadi sahabat. Untuk itu, jangan terlalu mudah menghakimi anak-anak. Sediakan telinga lebar-lebar. Terkadang mereka sekedar ingin cerita, bukan minta dikomentari atau diberi pendapat. Bahkan ketika mereka bertanya pendapat, kita bisa balik bertanya, “Kalau menurut kamu baiknya bagaimana?”

#3 Ketika ayah lebih banyak dirumah dan istri bekerja diluar rumah, terkadang si anak menjadi kurang menghormati ibunya. Bagaimana cara memperbaikinya?

Jawaban:

Karena sesuatu hal, kondisi seperti itu memang dapat saja terjadi. Misalnya si ayah bekerja freelance di rumah, sementara si ibu lebih banyak diluar rumah. Bagaimanapun juga, anak tetap harus tahu peran masing-masing ayah dan ibu. Ayah memang bertanggung-jawab untuk hal yang bersifat pendidikan, sedangkan ibu lebih sesuai untuk hal yang bersifat pengasuhan seperti memandikan, memakaikan pakaian, menyiapkan makanan. Sesibuk apapun seorang ibu diluar rumah, usahakan tetap memiliki waktu untuk bisa memberikan sentuhan itu pada anak-anaknya.

Ayah yang dirumah juga perlu menanamkan untuk selalu menghormati si ibu. Tidak harus selalu dalam bentuk kata-kata, tapi dari teladan bagaimana memperlakukan istri dan ibunya. Seperti ayah saya yang tidak banyak berkata-kata, tapi masih tertanam erat dalam kepala saya, bagaimana ayah selalu membantu ibu yang kesulitan untuk turun dari tempat yang tinggi karena menggunakan kain. Ayah akan memberikan tangannya untuk dipegang ibu. Begitu juga saat berhadapan dengan ibunya. Tidak pernah membantah dan hanya mendengarkan. Hal-hal seperti ini tertanam dalam pemahaman seorang anak-anak.

Para orangtua murid TK dan SD Has Darul Ilmi sebagai peserta The Power of Superdad
Para orangtua murid TK dan SD Has Darul Ilmi sebagai peserta The Power of Superdad

Intropeksi diri

Jangan berpikir apa-apa itu susah duluan. Tetapkan dalam pikiran dengan mengulang-ulang niat baik 10x sebelum memulai. Banyak-banyak istigfar dan mohon ampun pada Allah. Insya Allah masalah akan dimudahkan. Cobalah untuk intropeksi diri.

Ya Allah, saya ini ketitipan amanah Allah. Sudah benarkah cara saya mendidik dan mengasuh mereka?

Bagaimana dengan single parent?

The Five Key Habits of Smart Dads

Sebuah buku menarik The Five Key Habits of Smart Dads, a Powerful Strategi for Successful Fathering karangan Paul Lewis (Zonderfan, 1996) menyebutkan sebuah hasil riset yang dilakukan terhadap anak-anak yang dibesarkan tanpa adanya peran ayah di tengah kehidupannya cenderung mempunyai beberapa kekurangan psikologis seperti kurang percaya diri, kurang kepedulian sosial, sulit menyesuaikan diri dengan keadaan tertentu dan beresiko tinggi memiliki masalah dalam perkembangan psiko-seksual.

Mengenai single parent sebenarnya tidak dibahas dalam pertemuan kali ini. Namun saya ingin menambahkan sedikit masukan untuk masalah yang satu ini.

Tidak semua anak dan keluarga mendapat keberuntungan untuk memiliki ayah dan ibu yang lengkap dalam keluarga. Karena sesuatu hal, anak-anak hanya memiliki satu orang tua, atau bahkan tidak ada dua-duanya.

Contohnya tidak perlu terlalu jauh. Muhammad SAW ditinggal ayahnya sejak dari dalam kandungan, dan Ibunya meninggal tidak lama setelah mereka berdua mengunjungi makam sang Ayah di Yatsrib. Dalam umur 6 tahun, Muhammad telah menjadi yatim piatu dan diasuh penuh oleh Kakeknya Abdul Muthalib. Contoh lain adalah Nabi Ismail putra Siti Hajar yang harus ditinggal oleh ayahnya Ibrahim di Mekah.

Dalam beberapa tokoh kesayangan anak-anak di televisi pun kita bisa lihat sejumlah karakter yang tidak memiliki orangtua lengkap. Spiderman yang hanya tinggal bersama paman dan bibinya, Upin Upin yang hidup bersama kakak dan nenek mereka, hingga Bo Boy Boy yang tinggal dengan kakeknya. Digambarkan bahwa anak-anak itu tetap tumbuh menjadi anak-anak yang berbahagia dan bermanfaat bagi orang lain.

Yang menarik adalah, walau fisik kedua orangtua mereka tidak lengkap, namun mereka semua memiliki tokoh pengganti karakter orangtua. Peran Abdul Muthalib dan Abu Thalib menggantikan sosok ayah bagi Rasulullah, peran Kakek Dalang sebagai ayah bagi Upin Ipin, atau peran Bibi May dan Paman Ben sebagai pengasuh Peter Parker si Spiderman. Sosok pengganti ini bisa anggota keluarga yang masih ada, guru, atau teman yang dipercaya dan dihormati oleh si anak. Insya Allah, dengan adanya sosok pengganti, mental anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.

 “Laki-laki (suami) itu adalah pemimpin/pelindung bagi kaum wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An Nisa 4:34)

Sasya dan teman-teman TK Has Darul Ilmi di The power of Superdad
Sasya dan teman-teman TK Has Darul Ilmi tengah melantunkan Ayat Al Quran pada Seminar The power of Superdad

(2000 Words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: