Tentang Keikhlasan Bersedekah

Begitu sering kita mendengar cerita-cerita mengenai  sedekah yang beredar dalam masyarakat. Ketika kita menginginkan sesuatu, bersedekahlah. Sedekah menjadi begitu populer karena memudahkan rezeki, menyembuhkan penyakit, dan memberikan keberkahan dalam hidup. Intinya sedekah menjadi solusi dari segala macam kesulitan hidup.

Sejumlah ayat dalam Al Quran disampaikan untuk menguatkan hal tersebut.

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Al Baqarah 2:245)

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS Al An’am 6:160)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah* (*seperti untuk kepentingan jihad, membangun sekolah, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah, dan lainnya) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS Al Baqarah 2:166)

”Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, dan terus bertambah.” (Hadist Rasulullah SAW)

Sedekah Super Stories

Pertama kali saya mendengar mengenai ‘The power of sedekah’ adalah dari tulisan Muhammad Assad dalam bukunya Notes From Qatar (Elexmedia, 2011). Dalam buku itu, Assad berbagi cerita bagaimana sedekah membawa banyak keberuntungan dalam hidupnya. Dengan hastag #SSS Sedekah Super Stories, Assad mengajak teman-teman untuk berbagi pengalaman hidupnya bersedekah. Tulisan itu bisa dilihat di sini.

Saya pribadi setuju pakai banget dengan ide sedekah. Konsep sedekah adalah sebuah konsep penting dalam Islam yang sangat luar biasa maknanya. Bahkan menjadi salah satu pilar penting dalam 5 Rukun Islam untuk mengeluarkan zakat.

Sejumlah ayat dalam Al Quran menyebutkan tentang keutamaan mengeluarkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita. Dari indeks tematik Al Qur’anulkarim Ar Riyadh (Cordoba, 2015) dapat dilihat bagaimana Allah mengatur tentang kewajiban atas harta, menginfaqkan harta, kewajiban zakat, balasan bagi yang tidak berzakat, hingga ke detil pembagian zakat kepada yang berhak.

The Law of Attraction

Dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne (GPU, 2007) disebutkan tentang The Law of Attraction atau hukum tarik menarik. Ketika kita fokus pada kemalangan, kemiskinan, atau kesulitan hidup, ternyata hidup kita memang semakin dirundung masalah. Tapi begitu fokus hidup kita diarahkan pada kelebihan dan keberuntungan, secara ajaib hidup kita pun akan berubah.

Saya pikir, ini yang ingin disampaikan Al Quran dalam perintah-perintah yang berkenaan dengan menginfakkan sebagian rejeki.

Manusia itu punya kecenderungan untuk selalu merasa kurang dan pelit. Sudah punya 1 juta , ingin 10 juta. Setelah sudah punya 10 juta ingin 100 juta. Bukankah banyak orang sudah punya 1M pun masih terasa kurang?

Perasaan kurang itu yang membuat kita enggan untuk berbagi.

Kalau saya sedekah, ntar budget buat beli buku kepotong dong?

Kalau saya sedekah ntar jadi nggak bisa makan dong?

Allah memintanya kita untuk jangan pelit. Infakkan lah sebagian hartamu. Nggak banyak-banyak kok. Berbagilah hartamu sekedar 2,5% – 10% saja. Ada hak orang lain dalam hartamu. Nggak banyak-banyak kok. Jangan kaya orang susah atuh lah…

Allah pun mengiming-imingi dengan balasan yang banyak jika kita tidak bermental pelit, seperti dalam ayat-ayat diatas. Allah ingin kita bermental orang yang selalu punya uang untuk sedekah dan berbagi. Mentalnya orang kaya. Mentalnya orang-orang tangan diatas.

Mental berkelebihan dan positif seperti ini yang berfungsi sebagai magnet penarik rejeki dalam alam semesta. Ini adalah kebenaran hakiki yang diakui oleh semua agama.

Tapi sayangnya, ternyata masih banyak orang-orang yang kehilangan mental ini saat bersedekah. Ia bersedekah karena merasa kekurangan dan ingin mendapatkan lebih banyak balasan. Ia begitu fokus pada balasan. Sedihnya bahkan seringkali tanpa usaha.

Sedekah 10. Tanpa usaha, orang menggantungkan harapan untuk mendapatkan 100.

Saya jadi teringat perkataan seorang teman di Jepang tentang pandangannya terhadap sedekah yang banyak terdapat dalam Shrine dan Temple di Jepang. Ia sendiri, seperti banyak masyarakat Jepang lainnya, bukanlah penganut agama tertentu yang fanatik. Menurutnya, Tuhan dalam agama itu bisa dibeli. “Lu kaya, lu sedekah, lu masuk surga,” katanya dalam bahasa Inggris logat Jepang.

Orang miskin sepertinya tidak punya tempat di surga karena tidak punya uang untuk banyak bersedekah. Kampanye sedekah membuat orang lupa bahwa sedekah tidak hanya dalam bentuk uang dan materi. Sedekah bisa juga dalam bentuk tenaga, tulisan, bahkan senyuman dan perkataan baik.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah 2:264)

Banyak orang berusaha bersedekah sebanyak-banyaknya, bahkan dengan uang hasil korupsi demi membeli surga. Korupsi atau menipu orang lain tidak masalah, asal ada uang untuk umroh ke Mekah dan mohon ampun.

Semoga kita dilindungi dari yang demikian.

Ketika kita bermental orang susah yang menanti balasan dari Allah, apakah janji sedekah tetap berlaku?

Bisa saja berlaku. Karena kita tidak pernah bisa mengukur keikhlasan orang yang bersedekah. Hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang bisa mengetahui.

Apakah permintaan kita yang terbaik?

Diluar masalah terkabulnya doa, ada hal lain yang perlu kita pahami juga.

Apakah hal yang kita minta benar-benar sesuai buat kita. Apalah kita ini sebagai manusia dengan pengetahuan terbatas. Hingga umur saya 40 tahun ini, saya begitu sering berdoa pada Allah dan meminta ini itu. Dari minta sekolah, jodoh sampai minta uang. Ada yang diberikan langsung, ada yang disuruh muter-muter dulu, ada juga yang langsung ditolak dan diganti dengan yang lain yang tidak saya suka.

Untuk doa yang dikabulkan, apakah saya berbahagia dan menyampaikan rasa syukur dalam bentuk yang Allah inginkan? Tenyata seringkali tidak. Saya meralat doa saya dan meminta yang lain.

Seperti soal sekolah. Ketika SMA saya sangat mengimpikan bisa kuliah di Teknik Arsitektur ITB atau UI. Dengan kacamata kuda, saya letakkan mimpi saya di 2 PTN terbaik negeri ini.

Dengan naifnya saya bertanya pada pembimbing di bimbel.
“Minta saran dong Kak, pilihan 1 ITB dan pilihan 2 UI atau sebaliknya?”
“Memangnya nilai tryout terakhir berapa?” tanya kakak pembimbing melihat ke PDan saya.
“600-an,” jawab saya dengan ke-PD-an yang mulai luntur.
Si kakak hanya senyum. Hanya orang dengan nilai try out 800 atau 900-an yang punya kans memilih 2 PTN terbaik itu. Yang dibawah itu sebaiknya sadar diri.

Si Kakak Pembimbing menyarankan untuk meletakkan pilihan 1 di sekolah impian, dan pilihan 2 di sekolah yang lebih realistis. Akhirnya diputuskan pilihan pertama ITB dengan pemikiran ITB masih yang terbaik untuk bidang teknik, dan pilihan ke-2 Universitas Diponegoro yang passing grade-nya lebih rendah. Harus Arsitektur. Karena ini sudah impian dari SD.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi UMPTN 1993, saya rela seminggu 3x dalam 6 bulan terakhir di kelas 3 untuk mondar-mandir Jakarta-Karawang demi mengikuti bimbel. Rela menyalin dengan tulisan tangan semua rumus dan resume pelajaran SMA. Rela bolos sekolah demi bisa belajar dengan tenang di rumah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.

Mungkin Tuhan kasihan, dan diberilah apa yang saya inginkan. Mau kuliah di ITB? Ini sok ambil. Nikmati deh.

Ini seperti ilustrasi yang pernah ditulis Adjie Silarus dalam bukunya mengenai pengamen bersuara cempreng dan merdu. Di sebuah rumah makan seorang pengamen yang suaranya cempreng dan berisik – apalagi pake maksa, biasanya buru-buru kita halau dengan recehan. Tapi kalau ada yang suaranya merdu di telinga, itu akan membuat kita jatuh hati dan ingin menahannya lebih lama. Setelah puas kita baru akan memberi imbalan yang sangat memuaskan.

Seperti itu juga dengan doa kita. Bisa jadi doa yang belum diijabah dalam waktu singkat, karena Allah senang dengan doa kita, dan akan memenuhinya dengan balasan yang luar biasa dan waktu yang lebih tepat.

Kembali ke cerita nasib saya di ITB. Kenyataannya saya terlunta-lunta kuliah di kampus yang terletak di Jl. Ganesha itu. Lulus dengan predikat A (lhamdulillah) bisa keluar dari Sabuga ITB dengan toga setelah nelangsa 6 tahun penuh darah dan air mata. *versi lebay untuk menambah kesan drama.

Karena asyik mempersiapkan UMPTN saya lupa kalau arsitek itu harus bisa gambar. Dan saya nggak bisa gambar. Sama sekali!

Loh kok bisa-bisanya mau jadi arsitek tapi nggak bisa gambar?

Saya suka lihat buku arsitektur yang bagus-bagus. Hanya karena itu. Isi buku arsitektur adalah foto-foto bagus. Nggak ada gambar dengan tangan.  Benar-benar misleading buat anak-anak.

Tau-tau di arsitektur saya dikasih tugas gambar dengan tangan. Bukan seminggu sekali, tapi setiap hari! Teori kalau berlatih setiap hari kamu pasti bisa, itu tidak berlaku dengan saya dan menggambar. Target saya sebatas bukan jadi yang terburuk di kelas, itu sudah bagus.

Saya begitu sok tau dengan pilihan untuk meminta kuliah di Arsitektur ITB. Padahal mungkin saja nasib saya akan lebih baik jika saya kuliah di Jurnalistik UI misalnya. Betapa sok taunya saya.

Bukan hanya soal sekolah, soal jodoh pun saya sering salah meminta. Ceritanya pernah saya tulis di sini.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 2:216)

Ibadah sebagai wujud syukur

Sistematika Ikhlas
Sistematika Ikhlas.

Yang ingin saya sampaikan adalah, sedekahlah dengan ikhlas. Bukan karena ingin sesuatu yang jumlahnya sekian kali lipat dari apa yang kita sedekahkan.

Sedekahlah karena kita ingin menyisihkan sebagian rejeki untuk membantu orang yang membutuhkan. Bukan untuk ustad atau lembaga tertentu yang bahkan keuangannya tidak bisa diaudit.

Sedekahlah karena kita tidak ingin jiwa kita dilingkupi oleh rasa kekurangan dan pelit.

Sisanya serahkanlah kepada Allah yang maha tahu segala kebutuhan hambanya.

Seperti disampaikan Cak Nun – Emha Ainun Najib, “Sedekah itu dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki dan kebahagian, bukan dalam rangka mencari rejeki. Tulisan Cak Nun yang mengkritik konsep sedekah yang dipopulerkan Ustad Yusuf Mansyur bisa dibaca di sini.

“Jika mengharapkan balasan berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang!”

Menurut Cak Nun, kita ini sering salah niat. Naik haji biar dagangan dan karir naik, sholat dhuha biar jadi PNS, sedekah biar mendapatkan rejeki berkali-kali lipat. Walau kita yakin akan dibalas sesuai janji Allah, tapi ketidaktepatan niat menjadikan ibadah bukan lagi ibadah yang penuh keikhlasan. Ibadah menjadi sebatas transaksi jual beli.

Ini yang sering diceritakan Cak Nun dengan Surga itu tidak penting. Kita ini mencari surga atau keridhoan Tuhan? Begitu terpesonanya kita dengan surga, kita mati-matian mengejar surga. Setiba di sana kita di cuekin yang punya Surga. Karena selama di dunia kita cuma minta Surga-Nya, bukan ingin mencari keridhoan yang punya-Nya.

Seperti ilustrasi tentang pedagang miskin yang dagangannya tidak laku, lalu berusaha sabar dan ikhlas. “Kalau saya pantas miskin, ya sudah saya ikhlas. Yang penting Tuhan ridho sama saya.” Biasanya yang seperti ini langsung diganjar dengan kelebihan rejeki.

Tapi kalau ketemu yang model pengeluh yang hanya bisa menangisi diri sendiri, “Saya salah apa ya Tuhan, kok dagangan saya nggak laku-laku? Kok saya melarat? Kok hidup saya susah banget. Apa dosa saya ya Allah?Biasanya malah langsung ditampar sama malaikat sekalian, kata Cak Nun.

Perlu diingat juga, seperti tertulis dalam QS Al Baqarah 2: 216 diatas, kemalangan kita saat ini belum tentu hal yang buruk. Bukankah banyak pengalaman hidup orang-orang yang susah dan penuh kemalangan ternyata menjadi berkah bagi kesuksesan mereka di kemudian hari. Dan lihat juga contoh-contoh bagaimana kesuksesan sesaat ternyata menjadi sumber kemalangan besar di kemudian hari.

Penggalangan dana berkedok sedekah

Hal lain yang sering bikin saya miris adalah penggalangan dana dengan kedok sedekah untuk penjualan sebuah produk. “Beli produk kami, maka hasilnya akan kami sumbangkan 1% untuk umat.”

Gemes banget pengen mengganti iklannya menjadi: “Jangan beli produk kami, sumbangkanlah uang itu 100% untuk membantu orang yang membutuhkan di sekitar Anda.”

Apalagi kalau menyangkut urusan buku. Kalau mau nyumbang, kenapa harus dari pembelian buku? Kenapa tidak si penulis saja yang menyumbang 1% dari royaltinya? Atau penerbit dan toko buku yang menyumbang 5% dari keuntungannya. Kenapa konsumen yang harus sedekah. Ada banyak ladang amal diluar, tanpa harus membeli produk saudara. Makanya saya paling anti beli buku dengan iming-iming seperti ini. Terlalu kelihatan nggak ikhlasnya.

Wallahu A’lam Bishawab (Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui)

BBekerja maksimal dengan penuh keiklasan. Sumber @haikal hassan
Bekerja maksimal dengan penuh keiklasan. Sumber @haikal hassan

Sumber:

http://thayyiba.com/2015/10/27/1716/cak-nun-mengkritik-motivasi-sedekah-yusuf-mansur/

http://thayyiba.com/2016/02/25/4181/dr-daud-rasyid-ma-lc-tentang-yusuf-mansur/

https://muhammadassad.wordpress.com/2011/03/25/sedekah-membawa-berkah/

https://caknun.com/

(1980 words – 5 hours)

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

7 thoughts on “Tentang Keikhlasan Bersedekah

  • May 10, 2016 at 10:17 am
    Permalink

    Suka banget meme itu mba, makasi sharenya. Salam kenal 🙂

    Reply
  • May 10, 2016 at 4:24 pm
    Permalink

    “Jika mengharapkan balasan berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang!” —-> terima kasi sudah mengingatkan?

    Eh, tapi boleh kan ya, mengharap dari Allah balasan. Soalnya ada yg bilang, justru kalau nggak ngarep berarti kita sombong hehe 🙂

    Reply
    • May 11, 2016 at 8:53 am
      Permalink

      Seperti kata Cak Nun yang saya kutip diatas. Kita tidak perlu berharap lagi. Tapi YAKIN akan dibalas sesuai janji Allah. Ketidaktepatan niat yang menjadikan ibadah bukan lagi ibadah yang penuh keikhlasan katanya. Ah…suka deh sama omongannya Cak Nun yang ini.

      Reply
  • May 11, 2016 at 5:15 am
    Permalink

    sedekah ya sedekah aja, karena niat berbagi dan menjadikan itu sebagai good habit. kalau balasannya, Allah sudah menjanjikan kok, tapi diri enggak mau ngitung-ngitung seperti ala ‘sese’ yang ngitung-ngiotung sdekah. soalnya matematika Allah beda dengan manusia. btw, saya baca blognya agak sulit karena bar tulisannya sebelah kanan bikin agak gak nyaman. ini pendapat saya aja loh

    Reply
    • May 11, 2016 at 8:50 am
      Permalink

      Thank you masukannya Rebellina.

      Reply
  • January 17, 2017 at 9:03 pm
    Permalink

    Ijin share tulisannya ya mb…makasiii

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: