My 99days Journal, Nice HomeWork #1 Martikulasi

Tulisan ini dibuat dalam rangka Nice HomeWork #1 Kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Materi Kelas Matrikulasi #1 mengenai Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga dapat di baca pada postingan di sini.

Shanty's Jurnal
Shanty’s 99 days Journal cukup dengan modal kurang dari 40 ribu rupiah.

Kriteria Ibu Profesional dari klien

Seperti hasil diskusi santai bersama teman-teman di grup WhatsApp kelas Matrikulasi, untuk mengerjakan tugas pertama ini, saya putuskan untuk mencoba menggali masukan dari klien spesial saya dulu. Siapa lagi klien seorang ibu jika bukan keluarganya, suami dan anak-anak tercinta. Selama ini  saya begitu sok tau dengan gambaran ideal seorang ibu. Jadi penasaran juga, seperti apa ya Mama yang mereka inginkan?

Jawaban Abah Yogi, 40th:
Ehm….apa ya? Kayanya yang seimbang saja semuanya. Jangan terlalu berat sebelah. Dan ikhlas menjalaninya.

Jawaban Raka, 9th:
Mama yang nggak banyak kerjaan, cukup cuci piring aja. Mama yang nggak banyak melarang dan ngebolehin aku melalukan apa saja. Mama yang menaikkan uang saku aku.

Jawaban Sasya, 5th:
Mama yang seperti ini. (Sambil meluk. Meleleh nggak sih….)

Ternyata bagi mereka, gambaran Mama ideal itu sederhana saja. Nggak rumit.

99days planning for May - August 2016
99days planning for May – August 2016

Bagi saya sendiri, peran sebagai individu (myself), istri dan ibu (my family), dan anggota masyarakat (my community) adalah suatu kesatuan yang tidak bisa dipecah-pecah. Saya tidak bisa mencapai keberhasilan sebagai individu, ketika tidak menjalankan peran saya sebagai istri dan ibu dalam keluarga. Saya tidak akan optimal pula jika hanya berkutat dengan masalah keluarga tanpa mau melihat masyarakat di sekitar. Dan menjadi sebuah lingkaran ketika saya tidak akan bisa optimal berkontribusi pada keluarga atau masyarakat ketika mengabaikan kebutuhan saya sebagai diri sendiri.

Apakah bagi saya penting menjadi kebanggaan keluarga? Entahlah. Yang pasti, saya ingin anggota keluarga saya tumbuh menjadi individu-individu yang berbahagia, bisa menikmati hidupnya dan berarti buat masyarakat disekitar mereka.

Daily to do
Daily to do for 99 days

a. Indikator Profesionalisme sebagai individu (Myself) – Prioritas 1

Untuk peran ini saya alokasikan waktu sekitar 11 jam per hari.

  • Pray time (2 jam perhari): Subuh (30”), Zuhur (15”), Ashar (15”), Magrib (15”), Isya (15”), Al Quran dan ibadah lain (30”). Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Melakukan dengan khusyu. Tujuan kegiatan Ini bukan semata-mata kebutuhan keimananan kepada sang pencipta, tapi juga mempengaruhi peningkatan manajemen waktu dalam kegiatan-kegiatan lainnya.
  • Meal time (1 jam/hari): Breakfast (15”), Lunch (15”), Dinner (15”), Fruit & Snack (15”). Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Makanan sehat dan tidak sambil berkegiatan lain.
  • Exercise time (30”/hari): Jogging, Yoga, atau Senam. Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Melakukan dengan benar.
  • Body care (30”/hari): perawatan tubuh dan kebersihan sebelum tidur. Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Melakukan dengan benar.
  • Sleep time (7 jam/hari) sekitar pukul 20.00 – 3.00 WIB. Penilaian 1 – kurang/lebih dari 8 jam/hari, 2 – tidur cukup 7 jam tapi tidak teratur, 3 – tidur sesuai jadwal.

b. Indikator Profesionalisme sebagai istri dan ibu (My family) – Prioritas 2

Saya tidak bisa memisahkan peran saya dalam keluarga sebagai istri dan ibu. Untuk peran ini saya alokasikan waktu sekitar 6 jam per hari.

  • Quality time with family (2 jam/hari): Wake up Q time (30”), After school Q time (30”), Sleep Q time (60”). Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Melakukan dengan sepenuh hati.
  • Chores time (4 jam/hari): Morning chores (90” – meal preparation, dishes, laundry, sweep floor), Day chores (1 jam – meal preparation), Afternoon chores (1 jam – meal preparation, clothes, dishes, sweep & mop), Night chores (30” – dishes). Penilaiannya 0 – tidak melakukan, 1 – Melakukan sekedar gugur kewajiban, 2 – Melakukan dengan tepat waktu, 3 – Melakukan dengan sepenuh hati. Untuk kegiatan ini, keluarga perlu dilatih untuk terlibat aktif agar bisa mandiri dan tidak bergantung orang lain.

c. Indikator Profesionalisme sebagai anggota masyarakat (My Community) – Prioritas 3

Setelah 2 kegiatan terlaksana, maka saya semestinya memiliki waktu sekitar 7 jam/hari untuk mengembangkan diri dalam lingkup yang lebih luas.

  • Writing time (3 jam/hari): Morning pk 5.00 – 6.00 WIB dan Day pk 8.00 – 10.00 WIB. Penilaiannya adalah jumlah kata dan postingan yang dapat dihasilkan.

Saya percaya, setiap orang diberikan tugas tertentu yang membuatnya berarti bagi masyarakat. Dan bagi saya hari ini, tugas itu adalah menulis. Dengan menulis dan berbagi, saya merasa lebih berarti dalam masyarakat.

  • Community & Learning time (4 jam/hari): Aktifitas mencari informasi seperti belajar dan membaca (2 jam), Aktifitas untuk komunitas seperti Komunitas menulis, IIP, Darul Ilmi, Kompleks Cluster Bali, dan lainnya (1 jam), Aktifitas untuk komunikasi (1 jam).

Dalam komunitas saya dapat saling berbagi dan mengisi dengan orang-orang terdekat saya seperti para tetangga di kompleks perumahan, orang tua murid di sekolah anak-anak, komunitas kepenulisan, komunitas ibu profesional, dan lainnya. Alhamdulillah, dengan kemajuan teknologi, seperti sosial media, silahturahmi dalam komunitas dapat terjaga dengan biaya yang lebih murah dan efisien.

Weekly Ceklist Indikator for 14 weeks
Weekly Ceklist Indikator for 14 weeks

Demikianlah indikator yang saya tetapkan sejak beberapa tahun lalu. Hingga hari ini, saya merasa belum mencapai kemajuan yang terlalu berarti. Seperti jalan di tempat. Tapi tidak masalah. Saya percaya, kita ini seperti berusaha memecahkan batu besar dengan palu. Bertahun-tahun diketok tanpa terlihat hasil yang berarti. Tidak terlihat tanda-tanda keberhasilan, walau sebenarnya batu itu telah retak di dalamnya. Hingga tiba-tiba, dengan suatu ketukan, batu tersebut berhasil dipecahkan. Dan saya menunggu saat itu.

What you can't MEASURE, you can't IMPROVE
What you can’t MEASURE, you can’t IMPROVE

(750 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

6 thoughts on “My 99days Journal, Nice HomeWork #1 Martikulasi

  • January 13, 2017 at 10:59 am
    Permalink

    Teh shantii.. cakep banget..
    ini bikin sendiri? Aku mencontoh ya 🙂

    Reply
    • January 13, 2017 at 12:19 pm
      Permalink

      Yup. Silakan di contoh dan jadi inspirasi. Saya mah nggak bisa pakai template standar. Itu buat pake Excel. Covernya di Canva aja.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: