Dialog Ayah dan Anak dalam Al Quran

Dalam sebuah seminar parenting berjudul The Power of Superdad dengan pembicara Tjatur Hendry Juliadi yang diadakan di Sekolah Has Darul Ilmi Bandung, 5 Mei 2016 disebutkan mengenai 17 dialog antara orangtua dan anaknya dalam Al Quran. 14 diantaranya adalah dialog ayah dengan anaknya, 2 dialog antara ibu dengan anaknya, dan sebuah dialog lagi tidak jelas apakah itu dialog antara ayah atau ibu.

Pernyataan ini mengandung pesan yang sangat penting mengenai peran serta para ayah untuk ikut berpartisipasi aktif dalam membesarkan putra-putrinya. Para orangtua dibuka matanya untuk lepas dari paradigma menyesatkan yang memberi batas kaku bahwa ayah bertugas mencari uang saja dan ibu mengurus anak saja. Sejumlah ayat dalam Al Quran membuktikan bahwa peletakan dasar tauhid dan keimanan adalah tanggung-jawab seorang Ayah.

Saking terkesannya, saya langsung menuliskannya dalam status facebook. Seorang teman langsung memberi comment, “Mau dilihatin dong contoh percakapannya….”

Benar juga sih, saya sendiri juga jadi penasaran, kira-kira seperti apa detil percakapan yang diabadikan Allah dalam Al Quran? Pastinya bukan percakapan, “Tadi di sekolah belajar apa?” atau “PR-nya sudah dikerjakan apa belum?”

Yang bikin takjub adalah, setelah saya browsing mengenai 17 dialog orangtua dan anak ini, ternyata hanya menemukan 1 tulisan yang membahas detil mengenai hal ini. Ditulis oleh Dwi Rahmi Wijihsanti di blognya tahun 2015. Sisanya hanya sebatas menyebutkan  kesimpulannya saja.

Ternyata pernyataan mengenai dialog ini dikutip dari sebuah tesis S2 karya Sarah binti Halil Al Muthairi di Universitas Ummul Quro Mekah. Judulnya Dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran dan Aplikasi pendidikannya (Hiwar al Aba’ma’al Abna fil Quranil Karim wa Tathbiqotumut Tarbawiyah). Sebuah tesis yang menarik, sayangnya tidak bisa saya browsing keberadaannya. Kalaupun ada, mungkin masih dalam bahasa aslinya.

Jadi, kalau kita ingin tahu mengenai 17 dialog yang dimaksud dalam tesis tersebut, terpaksa harus bolak balik Al Quran dulu. Terus terang saya sendiri punya pendapat yang berbeda dengan yang sudah ditulis Dwi dalam blognya mengenai ayat-ayat mana saja termasuk dalam 17 dialog tersebut. Saya bahkan menemukan lebih banyak dari 17 ayat mengenai percakapan ayah dengan anaknya. Saya tidak yakin apakah yang dimaksud dengan satu dialog itu apakah dalam satu adegan atau dalam satu ayat. Berikut sejumlah ayat mengenai dialog antara orangtua dan anak tersebut yang berhasil saya temukan:

Dialog Luqman kepada anaknya

Siapakah Luqman al Hakim yang namanya diabadikan Allah dalam surat ke-31 Al Quran ini? Sebenarnya ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai orang suci yang bukan nabi ini. Penjelasan tentang ini bisa dibaca dalam sebuah artikel di wikipedia tentang Luqman al Hakim.

Memang dalam rangkaian ayat dibawah ini tidak semua dimulai dengan kata “Wahai anakkku…”, namun karena letaknya berurutan, saya mengambil asumsi ini semua dalam konteks Luqman menasehati anaknya. Berikut beberapa nasehat Luqman kepada anaknya yang terdapat dalam QS Luqman ayat 12-19:

 

#Ayat ke-1 QS Luqman 31:12 (Perintah untuk bersyukur kepada Allah)

Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

 

#Ayat ke-2 QS Luqman 31:13 (Nasihat agar tidak mempersekutukan Allah)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

 

#Ayat 3 QS Luqman 31:14 (Perintah berbuat baik kepada orangtua)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun* (*selambat-lambatnya waktu menyapih ialah sampai anak berumur 2 tahun) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

 

#Ayat 4 QS Luqman 31:15 (Larangan mengikuti perintah menyekutukan Allah, tapi tetap menghormati orangtua)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

#Ayat 5 QS Luqman 31:16 (Allah membalas perbuatan hamba-Nya)

(Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Maha Halus (ilmu Allah meliputi segala sesuatu bagaimanapun kecilnya) lagi Maha mengetahui.

 

#Ayat 6 QS Luqman 31:17 (Nasihat untuk mendirikan salat, mengerjakan kebaikan, dan bersabar)

Wahai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

 

#Ayat 7 QS Luqman 31:18 (Nasihat untuk tidak sombong)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 

#Ayat 8 QS Luqman 31:19 (Nasihat untuk sederhana dalam berjalan dan melunakkan suara)

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan (tidak berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat) dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dialog Ayah anak Alquran Luqman
Dialog Ayah Anak dalam Alquran QS Luqman 31

 

Dialog Nabi Ibrahim dengan putranya Ismail

 

#Ayat 9 QS As-Saffat 37:102  (Berdiskusi tentang perintah dari Allah)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 

Dialog Nabi Nuh dengan anaknya

Dalam penjelasannya, Nabi Nuh memiliki beberapa anak yang diajak naik ke kapal untuk menghindari air bah. Anak yang kafir bernama Qan’an, sedang putra-putranya yang beriman bernama Sam, Ham, dan Jafis.

 

#Dialog ke-10 QS Hud 11:42-43 (Allah sebagai pelindung)

42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

43. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

 

Dialog Nabi Ibrahim dan Yakub kepada anak-anaknya

 

#Ayat 11 QS Al Baqarah 2:132 (Nasehat untuk mati dalam keadaan Islam)

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

 

Dialog Nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim dengan anak-anaknya

 

#Ayat 12 QS Al Baqarah 2: 133 (Wasiat sebelum wafat)

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

 

Kisah Nabi Yusuf dalam QS Yusuf 12

Dalam surat ini ada banyak dialog antara Nabi Yakub dan anak-anaknya (Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya) yang terjalin dalam sebuah kisah yang indah. Terus terang saya tidak bisa memecahnya dalam ayat per ayat, tapi harus dibaca utuh secara keseluruhan.

#Dialog 13 QS Yusuf 12: 4-5 (Mimpi Nabi Yusuf)

 4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

5. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

 

#Dialog 14 QS Yusuf 12: 7-18 (Meminta ijin untuk membawa Yusuf)

  1. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
  2. (yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.
  3. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik* (*bertaubat serta mengerjakan amal saleh).”
  4. Seorang diantara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”
  5. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya.
  6. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.”
  7. Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya.”
  8. Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang Kami golongan (yang kuat), Sesungguhnya Kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi* (*pengecut yang hidupnya tidak berarti).
  9. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.”
  10. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
  11. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.”
  12. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

 

#Dialog 15 QS Yusuf 12: 63-67 (Meminta ijin membawa Bunyamin)

  1. Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata: “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat gandum lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat jatah. Dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya.”
  2. Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah Sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara Para Penyanyang.
  3. Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan gandum seberat beban seekor unta. Itu adalah hal yang mudah (bagi raja Mesir)”.
  4. Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)”.
  5. Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

 

#Dialog 16 QS Yusuf 12: 81-100 (Dialog pertemuan Yusuf dengan keluarganya)

  1. Kembalilah kepada ayahmu dan Katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.
  2. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”.
  3. Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
  4. Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan. Dia diam menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
  5. Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau mengidap penyakit yang berat atau engkau termasuk orang-orang yang binasa.”
  6. Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”
  7. Hai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.
  8. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka penuhilah jatah gandum dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah”.
  9. Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”
  10. Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”. Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”
  11. Mereka berkata: “Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.
  12. Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang”.
  13. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.
  14. Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, Sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”.
  15. Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu “.
  16. Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu Kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.
  17. Mereka berkata: “Wahai ayah Kami, mohonkanlah ampun bagi Kami terhadap dosa-dosa Kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.
  18. Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
  19. Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu (bibi) bapanya, dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman”.
  20. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud penghormatan kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

#Dialog 17 QS Maryam 19:41-50 (Dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya)

  1. Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran dan lagi seorang Nabi.
  2. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
  3. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
  4. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.
  5. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”.
  6. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.
  7. Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.
  8. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”
  9. Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.
  10. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.

***

Demikianlah beberapa ayat yang saya temukan sebagai pemahaman saya terhadap sejumlah dialog antara Ayah dengan anaknya yang terdapat dalam Al Quran. Hingga tulisan ini diposting, saya belum berhasil menemukan dialog antara Ibu dengan anaknya dalam Al Quran. Mudah-mudahan ada teman-teman yang bisa membantu.

Wallahu A’lam Bishawab (Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui)

Sumber:

  1. Al Quran
  2. Blog Dwi Rahmi Wijihsanti, Peran Ayah & Ibu dalam Al Quran

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

9 thoughts on “Dialog Ayah dan Anak dalam Al Quran

  • May 7, 2016 at 2:55 pm
    Permalink

    Waaaah bagus sekali nih postingannya..Makasi sharingya yaaaa

    Reply
    • May 7, 2016 at 4:08 pm
      Permalink

      Thank you for sharing Adriana.

      Reply
  • May 7, 2016 at 3:17 pm
    Permalink

    Aku juga dapat nih di materi pengajian mingguanku. Jadi serasa disegarkan dg postinganmu ini mbak. Makasih ya

    Reply
    • May 7, 2016 at 4:12 pm
      Permalink

      Saya juga baru tahu. Bener, ilmu yang menyegarkan De. Banyak yang belum tau ternyata.

      Reply
  • May 8, 2016 at 4:19 pm
    Permalink

    Terima kasih sharingnya Mbak
    Ini mungkin kalau dibuat bahan buku, bisa jadi buku parenting Islami kali ya 😀

    Reply
  • May 9, 2016 at 11:04 am
    Permalink

    thanks sharingnya.. bisa di buat buku ini mbak. semangat terus.. selalu bekarya.. terus kreatif…. semangat…. salam kenal

    Reply
  • November 7, 2016 at 10:06 am
    Permalink

    izin share ya mbak…

    Reply
  • December 8, 2016 at 8:39 pm
    Permalink

    Afwan Mvak, kalo yang ini gimana..?
    Termasuk dialog ayah & anak atau tidak..?

    Allah SWT berfirman:

    فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا ۙ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ؕ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ ۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ؕ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
    “Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
    (QS. Ali ‘Imran: Ayat 37)

    * Via Al-Qur’an Indonesia

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: