Bento Kartinian Sasya

Peringatan Kartinian di sekolah biasanya selalu menjadi kerjaan ekstra buat para Mama. Yang paling sering, Kartinian identik dengan berpakaian daerah. Maka mulailah para Mama sibuk mencari tempat penyewaan baju daerah dan mengantar anak ke salon untuk dandan. Terakhir saya melalukan ini untuk Raka beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena anak laki-laki, nggak terlalu ribet sih. Cukup meminjam kostum pakaian daerah Sunda dari tetangga sebelah rumah, dan bereslah sudah. Saya sudah siap kalau tahun ini Sasya dapat tugas yang sama. Pasti seru nih, mendandani anak perempuan dengan baju daerah.

Ternyata tema Kartinian pertama Sasya sebagai siswa TK A Has Darul Ilmi bukan berpakaian daerah, melainkan membuat Bekal Sehat Ibuku. Sebagai mama yang biasa membekali anak sekedar buah dan makanan ringan, dapat tugas bikin Bento pagi-pagi, belum apa-apa sudah kebayang susahnya. Apalagi waktu yang diberikan cuma 2 hari.

Tapi siapa sangka ternyata kami – Sasya dan Mama –  bisa belajar banyak dari tugas buat Bento kali ini. Mama jadi belajar buat Bento dan menyiapkan bekal sehat buat Sasya. Maklum saja, selama ini bekal Sasya alakadarnya. Cukup potongan buah, pisang bakar, roti dengan air putih, air madu, atau favorit Sasya Nutrisari yang cukup disiapkan dalam 5 menit. Bahkan Sasya sudah mulai bisa menyiapkan bekalnya sendiri. #mamamalas

Persiapan membuat bento

Untuk bekal sehat kali ini diminta menyiapkan bento dengan bahan nasi, brokoli, telur, ayam, jagung manis, wortel. Setelah browsing contoh Bento yang lucu-lucu, Mama kok malah bingung. Ya bingung milihnya, bingung juga caranya.

“Sya, mau buat Bento apa kita?”
“Bento Bunga!” jawab Sasya pasti. “Ada kelopaknya, batangnya, daunnya, rumput….”
“Mama nggak kebayang, coba gambarin Sya.”
Dan dalam waktu singkat keluarlah rancangan Bento bunga Sasya. Mama mulai kebayang nih buatnya.

Sore sehari sebelumnya, kami sekeluarga belanja dulu ke supermarket. Untung si Abah mau diajak muter-muter ngumpulin bahan bento Sasya. Jagung, wortel, rumput laut, jagung manis, dan selada sebagai pengganti brokoli yang tidak ada. Yup semua bahan sudah lengkap. Tinggal besok pagi Mama harus masak nasi anget dan merebus sayuran.

Sasya sejak pagi sudah mulai tidak sabar untuk membuat bentonya.

“Sudah matang nasinya?” 

“Jagungnya sudah siap?”

“Boleh bantu potong wortelnya?”

“Kok lama banget sih?”

Sasya turun tangan buat mendesain bento sendiri
Sasya turun tangan buat mendesain bento sendiri

Sekitar 30 menit yang selingi Mama main henpon, bahan pun siap. Sekarang tinggal ditata dalam kotak bentonya. Ehm, dan Mama kok jadi bingung melihat banyak bahan dan alat yang berserakan.

“Giginya pakai jagung ya?”

“Matanya pake rumput laut?”

“Hidungnya wortel?”

“Selada buat rambutnya aja kali ya?”

“Kalau telur buat apanya ya?”

“Aha, aku tau, buat potnya saja.”

Dan dalam beberapa menit, bento pun jadi dengan tangan kecil Sasya dan tangan besar Mama.

Wefie-an dulu sama Mama
Wefie-an dulu. Sasya, Bento, dan Mama.

Sasya terlihat sangat puas dengan bentonya. “Pasti bento Sasya yang paling bagus ya Ma?” katanya dengan penuh percaya diri.

Sejujurnya saya tidak bisa bilang itu bento yang terlalu bagus. Masih banyak bento yang lebih bagus dari hasil browsing sebelumnya.

“Bagusan mana dengan bento yang di gambar-gambar ini Sya?” tanya saya sambil memperlihatkan gambar-gambar bento di tablet.
“Ya bagusan punya Sasya dong, itu terlalu penuh. Eneg, nggak enak,” katanya.

Ehm, masuk akal juga. Bento yang bagus di mata mama belum tentu sesuai selera anak. Saya tadinya mau memasukkan sosis biar kelihatan penuh, tapi Sasya nggak mau kelihatan penuh. “Nanti kekenyangan,” katanya.

“Kata Bu Guru, makanannya harus habis, nggak boleh disisakan.”

Akhirnya sosis nggak jadi dimasukkan ke kotak bento. Cukup dimasukkan ke perut Mama saja.

Belajar memberikan penilaian

Pukul 9.00 WIB kami tiba di sekolah.  Ternyata bekal teman-teman Sasya bagus-bagus. Tapi banyak juga yang suka bento bunga punya Sasya.

Beberapa bento teman-teman sekelas Sasya
Beberapa bento teman-teman sekelas Sasya

Setelah semua bento di jajar di atas meja, anak-anak dipanggil bertiga-bertiga untuk meletakkan bendera ke bento yang paling mereka sukai. Disini anak-anak belajar untuk bisa fair menilai bento teman lainnya. Sekaligus menunjukkan perasaan mereka sejujurnya. Apakah mereka tetap menganggap punya mereka sendiri yang terbaik seperti Sasya, atau bisa melihat bento orang lain lebih baik?

Ternyata Sasya memilih bento temannya yang bergambar kucing. Katanya karena ‘lucu’. Demikian juga anak-anak lain diminta menyampaikan alasannya mengapa memilih bento itu. Mereka jadi sekaligus belajar mengungkapkan pendapat. Walau pendapatnya begitu sederhana seperti sekedar ‘lucu’, ‘bagus’, ‘suka aja’, ‘karena punya teman’, atau suka dengan menunya.

"Kenapa Sasya suka bento kucing?" tanya Bu Ana
Kenapa Sasya suka bento kucing?

Alhasil, hampir semua bento ada yang suka. Rata-rata setiap bento dapat 2 bendera merah sebagai tanda like dari temannya. Bento Sasya juga disukai oleh 2 orang.

Pemenang favorit dapat 3 bendera. Mau tau pemenangnya? Menu nasi goreng telur standar. Benar-benar selera anak-anak sepanjang masa.

Hampir semua anak-anak mengerjakan bentonya bersama ortu, tapi ada juga yang mengaku tidak diijinkan membantu oleh orangtuanya. Ha…ha…rasanya kita tau alasannya.

Sasya dan lomba

Setelah para guru kebingungan dan meminta penjurian dari banyak pihak, akhirnya pengumuman pemenang disampaikan sehari setelahnya. Dan bento bunga Sasya dapat juara 3. Wah Sasya pulang sekolah dengan berseri-seri. “Hadiah menang lomba pertamaku,” katanya.

Alhamdulillah, bento Sasya juara 3
Alhamdulillah, bento Sasya juara 3

Sasya memang belum pernah menang lomba apapun. Padahal dia sebenarnya ingin sekali bisa menang lomba dan selalu ingin ikut lomba. Sasya ingin punya piala seperti Raka ketika memenangkan lomba Tahfiz. Apalagi sahabatnya Monera juga punya piala juara 2 lomba mewarnai.

Sebenarnya saya kurang suka Sasya ikut lomba. Bukan masalah kalah menang, tapi saya tidak mau Sasya melihat bahwa yang bagus hanya si juara 1 dengan kriteria tertentu. Saya ingin Sasya PD dengan gayanya sendiri. Dia tidak perlu piala. Tapi ternyata Sasya perlu piala. Sasya ingin merasakan punya piala juga seperti kakak atau temannya.

“Mama kenapa sih nggak mau aku ikut lomba?”
“Sasya kan mewarnainya masih belum bisa, masih banyak putih-putihnya,” saya memberikan alasan.
“Tapi aku kan mau belajar Ma? Monera katanya mau ngajarin cara mewarnai supaya tidak ada putih-putihnya.”

Ah…Sasya…

“Habis ini aku mau ikut lomba Bento lagi Ma. Mau buat Bento Kupu-kupu. Sayapnya nasi, badannya wortel…..”

Sebuah pelajaran dari Kartinian pertama Sasya.

Bersama teman sekelas di TK Has Darul Ilmi dalam rangka Kartinian 21 April 2016
Bersama teman sekelas di TK Has Darul Ilmi dalam rangka Kartinian 21 April 2016

(900 words – 2 hours)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: