Oleh-oleh Ngobras bersama Septi Peni Wulandani di Cibiuk Bandung

Nggak ada angin, nggak ada hujan, Nca Nisa Nurarifah ketua Institut Ibu Profesional (IIP) Bandung malam-malam memberikan pesan di group Fasilitator IIP Bandung, bahwa besok pagi (Kamis, 28 April 2016) Bu Septi Peni Wulandani ingin bertemu dengan teman-teman mumpung sedang berada di Bandung. Langsung dong semua bersemangat. Semangat untuk menentukan dress code apa yang paling pas agar bagus di foto. Percayalah, ini adalah pembahasan yang penting, karena menyangkut momen yang akan diabadikan di media sosial sepanjang hidup.

Dalam acara ngobrol santai (ngobras) di RM Cibiuk Soekarno Hatta Bandung, Founder Institut Ibu Profesional (IIP) dari Salatiga ini menyampaikan beberapa hal menarik, seperti keunikan IIP, sharing pengalaman bu Septi dan curhat-curhat penuh gizi.

Ngobrol Santai bersama Bu Septi Peni Wulandani
Ngobrol Santai bersama Bu Septi Peni Wulandani

IIP berbeda dengan komunitas sejenis lainnya

Perbedaannya terletak pada keluarga. IIP diharapkan bisa berfungsi sebagai komunitas yang menguatkan fungsi ibu dalam keluarga. IIP bukanlah sebuah organisasi yang membuat keluarganya keteteran.

“Kalau aktivitas seorang ibu di IIP malah memicu protes keluarga, itu artinya ada yang salah.” 

Program-program yang dikembangkan adalah program-program yang muncul dari kebutuhan para anggota untuk memaksimalkan fungsi seorang ibu dalam keluarga.

Untuk itu mengapa program di IIP dibuat berjenjang. Dimulai dari pertama Bunda Sayang, kedua Bunda Cekatan, ketiga Bunda Produktif, dan keempat Bunda Sholehah yang menekankan kebermanfaatkan kita bagi sesama. Bagaikan sebuah tangga, harus kuat dulu dasarnya. Jangan terburu-buru ingin produktif, tapi urusan Bunda Sayang masih berantakan.

Apa kita tidak boleh produktif saat anak masih kecil?

Tentu saja boleh. Apalagi jika keadaan memaksa kondisi harus menambah penghasilan keluarga. Bu Septi sempat cerita pengalamannya harus berjualan sambil mengurus anak yang masih kecil-kecil.

Fokusnya tetap ke anak. Berusahalah mencari aktifitas yang bisa melibatkan anak dan tidak meninggalkan mereka. Segala sesuatu dikemas dalam bentuk kegiatan yang menarik buat anak. Misalnya saat harus belanja barang-barang jualan ke Tanah Abang. Acara itu dianggap sebagai bentuk field trip untuk mengenalkan anak pada dunia perdagangan. Yang utama mengajarkan anak-anak, beli barang dagangan bonusnya. Jangan dibalik.

Jadi jangan aktivitas bekerja ibu menjadi hal yang membatasi perkembangan anak. Apalagi sampai mengeluh, “Kamu jangan nakal, ibu harus keliling biar kita bisa makan.” Nanti dalam mental anak bisa tercipta, ibunya harus sibuk dan pantang diganggu.

Dari kebersamaan dengan anak pertamanya Enes, Bu Septi melahirkan produk Jarimatika. Dengan anak kedua – Ara, lahir produk Abacada. Dan Jari Quran lahir adalah produk anak ketiga, Elan. “Percayalah, kesungguhan kita mengurus anak-anak diberi bonus sama Allah,” cerita bu Septi.

Putri Yudha, Shanty & Nisa
Putri Yudha, Shanty & Nisa. Siapa tahu ada yang belum kenal para ‘pejabat’ IIP Bandung.

Apa patokannya kita sudah beres Bunda Sayang?

Anak sudah bisa mandiri dan tidak mau diajak-ajak. Semakin dini kita mengenalkan kemandirian pada anak, semakin cepat pula kita lulus Bunda Sayang. Menurut pengalaman Bu Septi, Bunda Sayang dan Bunda Cekatan itu bisa selesai saat anak pertama sekitar usia 12 tahun. Patokannya anak pertama ya. Bukan anak terakhir?

Loh kok begitu?

Karena kalau kita pegang si kakak sulung, adik-adiknya akan mengikuti lebih dini. Elan, putra bungsu Bu Septi sejak umur 8 tahun sudah tidak mau ikut-ikut ibunya lagi. Waktu yang tepat untuk Bu Septi mewujudkan mimpinya mendirikan komunitas IIP pada tahun 2011.

Jadi apa ibu tidak merekomendasikan IIP jika kita masih punya anak kecil yang belum mandiri?

Kembali lagi ke perbedaan IIP dengan komunitas lain. IIP menjadi cocok untuk ibu-ibu yang masih punya anak kecil, karena disini kita akan belajar bersama untuk menjadi ibu yang lebih profesional.

Materi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan

Karena masih banyak teman-teman yang kesulitan mencari materi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, berikut saya tuliskan kembali 12 materi yang terdapat dalam buku Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak (Gazza Media, 2013) dan Bunda Cekatan, 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga (Gazza Media, 2015).

Dalam 2 buku tersebut, setiap materi dijabarkan mengenai kompetensi dasar, hasil belajar, indikator keberhasilan, dan pengalaman anggota.

Buku Bunda Sayang dan Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional
Buku Bunda Sayang dan Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional

Materi Bunda Sayang

#1 Komunikasi Produktif

#2 Memandu Kemandirian Anak

#3 Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual

#4 Mengenal Gaya Belajar Anak

#5 Mendidik anak suka membaca dan menulis

#6 Saya suka matematika

#7 Semua anak adalah bintang

#8 Cerdas Finansial sejak dini

#9 Memacu kreativitas anak sejak dini

#10 Membangung Karakter anak lewat dongeng

#11 Pendidikan seks yang tepat dan benar sejak dini

#12 Keluarga Multimedia: membangun kebersamaan melalui teknologi

Materi Bunda Cekatan

#1 Learn how to Learn

#2 Mind Mapping

#3 Manajemen Waktu

#4 Manajemen Menu 10 hari

#5 Menata rumah dengan konsep 5R

#6 Emergency First

#7 Safety walking, Riding, and Driving

#8 A Home Team

#9 Meraih mimpi menata masa depan

#10 Public Speaking

#11 Personal grooming

#12 Table Manners for kids

Pengalaman tinggal dengan orangtua

Obrolan juga melebar ke masalah masih tinggal dengan orangtua atau mertua. Dalam 1 rumah punya 2 ibu negara itu memang sering kali menimbulkan masalah-masalah yang mungkin tidak akan terjadi ketika kita memiliki rumah sendiri. Mau jungkir balik juga, nggak ada yang protes.

Bu Septi sempat berbagi cerita mengenai pengalaman beliau tinggal 2 tahun di mertua karena harus mengurus mertua yang sakit. Sebenarnya orangtua Bu Septi juga tinggal di kota yang sama, tapi karena sudah menikah, tentunya harus ikut suami. Sebenarnya memang kurang sehat jika berlama-lama tinggal serumah. Tapi jika itu harus terjadi, ya harus diakali.

Bu Septi meminta sebuah daerah kekuasaan kepada mertuanya. Kepada anak-anak, ia membuatkan sebuah permainan seolah-olah itu sebuah negara. Negara kita, adalah tempat yang diberi kekuasaan oleh Nenek. Aturan yang berlaku adalah aturan di negara kita. Jika akan bermain ke negara lain, harus membawa buku paspor yang siap untuk di cap. Di negara lain, harus siap menaati aturan di negara tersebut. Tidak boleh seenaknya.

Terkadang anak-anak protes dan merasa lebih nyaman dengan aturan di negara tetangga. Itu adalah waktunya untuk kedua ibu negara melaksanakan perundingan. Ah…bu Septi ini emang bisa aja….

Ide komunitas Nenek Profesional

Sekarang kita mungkin ketawa dengan ide bu Septi ini. Tapi bu Septi memang berencana ingin mewujudakan ide ini dalam 10 tahun kedepan. Menurutnya diperlukan dukungan dari para nenek-nenek ini untuk menjamin anak dan cucunya bisa terus berkembang dengan lebih produktif. Jangan sampai keberadaan para nenek menjadi batu sandungan bagi anak-anaknya.

Bagaimana dengan komunitas Bapak Profesional? Ternyata berdasarkan pengalaman, para bapak ini belum terlalu cair untuk bisa diajak berkomunitas dalam hal penguatan keluarga. Tapi kalau diajak tanding futsal bareng, wah langsung pada semangat.

Saya sempat iseng menanyakan beberapa bapak mengapa mereka tidak berminat mengikuti komunitas parenting. Ternyata alasannya cukup beragam. Ada yang menyebutkan bahwa itu mungkin lebih cocok untuk para ibu, si Bapak sudah terlalu lelah mencari uang, merasa tidak mampu berurusan dengan dunia parenting, ilmu parenting adalah ilmu yang dijalankan saja dan tidak perlu kebanyakan teori. Pendapat yang menarik untuk menjawab pertanyaan mengapa para Bapak tidak berminat bergabung dengan komunitas parenting atau penguatan keluarga.

Tidak terasa waktu 2 jam berlalu dengan cepat. Thanks untuk sharingnya Bu Septi. Jangan kapok mengabari kami kalau mampir ke Bandung lagi.

IIP Bandung Cibiuk
Setelah ratusan chat membahas soal dress code, dan inilah kostum yang kami pakai. Bisa menebak pilihan dress code kami?

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: