Oleh-oleh Mendidik Anak dengan Cinta oleh Kiki Barkiah

Pada Minggu, 24 April 2016 di Bale Dayang Sumbi Itenas Bandung, Lembaga Muslimah DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat mengadakan sebuah acara dengan tema Love is Wonderful, Giving is Powerful.

Tidak tanggung-tanggung, ada 3 pembicara keren berbagi cerita yang dapat menambah wawasan kita sebagai orangtua. Pembicara utama adalah Kiki Barkiah penulis buku best seller 5 Guru Kecilku yang sekaligus juga praktisi homeschooling. Ada juga istri Gubernur Jabar, Ibu Netty Prasetiyani Heryawan, yang karena datang terlambat, terpaksa menyampaikan keynote speaker-nya memotong materi dari pembicara utama. Dan yang terakhir adalah Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat, Ariyanti Rasmin yang menyampaikan materi Membangun Generasi Terbaik Bangsa.

Benarkah kita mencintai anak-anak kita?

Tema Mendidik Anak dengan Cinta dibuka oleh Kiki Barkiah dengan pertanyaan: Apakah kita mencintai anak?

Jawabannya saya kira pasti jawaban sejuta umat. “Tentu saja. Pasti. Ya iyalah.” Piece of cake. Pertanyaan gampang banget. Pertanyaan model apa itu? Emangnya ada kemungkinan jawaban yang lain?

Sebelum ngedumel dengan pertanyaan klasik bin klise itu, Kiki Barkiah yang juga lulusan Teknik Elektro ITB angkatan 2003 memberikan pertanyaan selanjutnya. Jika benar demikian, bagaimana bukti cinta kita pada anak? Bagaimana cara kita sebagai orang tua membuktikan cinta kita?

Apakah dengan membelikan mereka barang-barang mewah? Mengijinkan mereka bermain gadget tanpa batas sekedar supaya kita punya me time?

#mikir. Ehm…mungkin pertanyaan itu memang tidak terlalu mudah untuk dijawab.

Cinta dalam Islam

Apa sih cinta dalam pandangan Islam?

Mengutip sebuah hadis, cinta tertinggi dari seorang manusia adalah kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Kecintaan kepada manusia lain hakikinya adalah manifestasi kecintaan kita kepada Allah. Kita mencintai pasangan kita, kita mencintai anak kita, semata-mata adalah wujud rasa cinta kita kepada Sang Maha Pencipta. Cinta sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang mereka titipkan kepada kita.

Jika kita telah benar-benar mencintai anak-anak kita karena Allah, apakah kita telah membingkai cinta itu sejalan dengan yang Allah inginkan?

Kenyataannya, kita sering lupa.

Apakah kita dominan pada perkara dunia seperti kemampuan calistung dan bahasa? Atau perkara menguatkan akhlak anak yang dipertanggungjawabkan di akhirat kelak?

Apakah kita lebih pusing mengurus makanan penuh gizi untuk anak-anak? Atau memenuhi rengekan mereka meminta perhatian kita untuk bermain bersama?

Sebuah ayat dalam Al Quran menjadi sebuah pengingat bagi para orangtua yang sering lupa dengan cara mencintai anak yang sebenarnya.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat”.  (QS Ar Ruum 30:7)

Kiki sempat bercerita pengalaman ibunya yang juga guru SMAN 3 Bandung. Betapa apa yang cantik di rapor belum tentu menggambarkan aslinya. Angka boleh saja cantik, tapi akhlak tidak berbanding lurus dengan hal itu. Banyak orangtua menjejal anaknya dengan ilmu duniawi yang remeh temeh.

Kiki Barkiah, Mendidik dengan Cinta
Kiki Barkiah, Mendidik dengan Cinta

Bekal dunia akhirat

Untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, manusia membutuhkan bekal yang cukup. Dalam Al Quran telah disampaikan mengenai 3 bekal tersebut.

1. Fitrah keimanan untuk meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan sebagai bekal dasar

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS Al-A’Raf 7:172)

2. Sesuatu yang di dapat di dunia sebagai bekal tambahan

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An Nahl 16:78)

3. Bakat bawaan dan potensi unik setiap individu sebagai bekal khusus

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut pembawaan/tabiat masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya. (QS Al-Israa 17:84)

Tugas standar

Dalam Al Quran telah disampaikan tugas minimal kita sebagai orangtua:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (QS Al-Baqarah 2:233)

Jika kita benar-benar mencintai anak-anak yang dititipkan kepada kita, tugas sebagai orangtua tidak berhenti hanya pada urusan makan dan pakaian. Tapi masih ada tugas-tugas lain seperti:

  • Merawat dan menjaga fitrah yang Allah berikan. Menghindari segala hal yang dapat merusak kesucian fitrah mereka.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui*.

* Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. (QS Ar Ruum 30:30)

  • Memberi ilmu, memfasilitasi, dan mendukung segala hal yang dapat menjadi bekal tambahan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Mendorong dan mengarahkan agar semua potensi yang dikarunikan oleh Allah menjadi bekal meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Didik anak mengenal Allah dan Rasul

Jadikanlah penanaman akidah dan akhlak sebagai isu besar dalam keluarga.

Adakah dialog seperti ini di rumah kita?

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS Luqman 31:13)

Kiki juga menyampaikan beberapa cara untuk mengenalkan para rasul dalam keluarga. Seperti dengan menjadikan kisah para Rasul sebagai kurikulum wajib pendidikan anak dalam keluarga. Kaitkan kejadian yang kita alami dengan kehidupan Rasullullah, baik perkataan maupun perbuatan beliau. Hadirkan sosok beliau sebagai idola, dan bukan malah mengidolakan yang lain.

Ini tentu saja hanya bisa dilakukan oleh para orangtua yang juga mengenal baik sosok Rasullullah. Kenyataannya, banyak orangtua yang malah menyerahkan urusan ini kepada para guru di sekolah, dan malas untuk memberikan teladan kepada anak-anaknya.

“Mau pahalanya diambil oleh gurunya?” kata ibu 5 anak kelahiran November 1985 ini.

Perlu diingat lagi, bahwa kewajiban mengajarkan anak sholat, adalah kewajiban orangtua. Bukan guru di sekolah. Guru sekedar membantu!

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun; dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat); dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Jami At-Tirmidzy dan Sunan Abu Dawud, Shahih. Ini lafadz Abu Dawud dari Abdullah bin Amr. Lihat Riyadus Salihin (Imam Nawawi) dan Shahih Shahihil Jami’ )Al-Albani)

Usia 7 – 10 tahun adalah usia penting mempersiapkan anak untuk menempa anak siap bertanggungjawab dengan hidupnya. Hanya sekitar 10 tahun waktu kita sebagai orangtua untuk mempersiapkan kemandirian anak. Bukan waktu yang lama.

Insya Allah, tidak perlu ada lagi anak yang sudah menikah atau berpendidikan S2 masih berlindung dibawah ketiak orangtua.

Perbaiki akhlak anak-anak

Bentuk cinta kita pada anak bisa diwujudkan dengan mengajarkan mereka akhlak yang baik. Tentu saja dimulai dari orangtuanya sebagai teladan.

“Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia” (H.R Tirmidzi (IV/2002)

Yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki akhlak anak-anak kita:

  • Hormatilahi hak mereka, keinginan mereka, pendapat mereka. Terlalu sering mengabaikan perasaan, pandangan dan pendapat mereka dapat membuat mereka pun tak merasa perlu untuk menghargai harapan dan keinginan orang lain.

“Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)

 Kutipan hadis terakhir ini sangat menarik. Ini yang mungkin sering sebagai orangtua kita lupa. Hormatilah anak-anakmu! Jangan malah merusak harga diri mereka jika ingin memperbaiki akhlak mereka dengan malah membandingkan mereka dengan orang lain, atau  melukai perasaan mereka. Mulailah dengan menghormati anak-anakmu.

Orangtua seringkali mengabaikan perasaan anak. Sehingga setelah besar, mereka cenderung lari dengan teman-temannya dan tidak menghargai orangtua.

Harga sebuah mangkuk yang pecah atau dinding yang tercoret tidak sebanding dengan perasaan mereka yang terluka karena dimarahin.

  • Meluruskan akhlak dengan penuh kesabaran dan kelembutan

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS Fussilat 41:34-35)

  • Hadirkan sosok Rasulullah sebagai teladan akhlak yang sempurna. Teladani metode Rasulullah dalam mendidik anak.
  • Perbanyak memberi teladan dengan bersikap lembut, tenang, tidak terburu-buru, menahan amarah, perbanyak maaf, dan hindarilah cerewet yang berlebihan. Jika ingin marah, marahlah karena Allah.
  • Toleransi
  • Seimbang dan Proporsional
  • Memperhatikan waktu yang tepat saat menasihati (waktu makan, dalam perjalanan, saat anak sakit)
  • Berprasangka baik pada Allah
  • Bersedekahlah
  • Bersabarlah
  • Tegakkan pendidikan dengan hukuman jika perlu dilakukan, sesuai dengan batasan isla   (Memperlihatkan cambuk, menjewer daun telinga, dan memukul)
  • Doakanlah

Mempersiapkan masa depan anak-anak

Persiapkan anak-anak menghadapi akil baligh adalah hal penting yang perlu dilakukan orangtua sebagai bentuk cinta kepada anak. Sejalan dengan materi Melahirkan Generasi Akil Baligh untuk Peradaban Indonesia yang Hijau dan Lebih Damai oleh Adriano Rusfi pada seminar di Bapusibda akhir tahun lalu, Kiki juga menekankan pentingnya mempersiapkan anak memiliki kemampuan yang cukup saat menghadapi usia akil baligh (sekitar 13 – 15 tahun).

Kita jangan terlena dengan menganggap kenakalan masa remaja anak-anak adalah hal yang wajar. Dengan mempersiapkan masa kecil mereka sebaik-baiknya, Insya Allah anak-anak ini akan siap menghadapi masa akil baligh dengan lebih mandiri dan dewasa.

Upaya yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan masa depan anak:

  1. Membantu anak mendapat informasi yang benar dan penting untuk bekal hidupnya
  2. Melatih anak untuk memiliki kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
  3. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
  4. Melatih anak agar dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
  5. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah
  6. Melatih anak untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan hal baru
  7. Melatih anak untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
  8. Memastikan mereka selalu dalam kegiatan produktif dan terhindar dari kesia-siaan
  9. Merangsang anak untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kondisi umat
  10. Merangsang anak untuk memiliki visi misi hidup dan mengarahkan energi mereka untuk meraih visi misi tersebut
  11. Menyediakan berbagai sarana untuk mengaktualisasikan diri mereka dalam kegiatan yang bermanfaat
  12. Mengajarkan life skill dan melatih kemandirian

Jangan rusak anak

Seringkali tanpa sadar kita merusak anak. Tiba-tiba saja musibah datang dan kita pun larut dalam penyesalan yang menyiksa.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy- Syura 42:30)

Berikut beberapa pesan dari Kiki yang bisa kita lakukan untuk tidak merusak anak tanpa sadar:

  1. Jangan membunuhnya
  2. Bantu ia menjaga mata dan kemaluannya
  3. Ingatlah bahwa Allah lebih berkuasa terhadapmu dari kuasamu terhadap anakmu
  4. Jangan merusak jiwa dan jangan membunuh karakter mereka dengan sikap dan lidah kita
  5. Jangan merusak perkembangan otaknya
  6. Jangan berbuat zholim dan berikaplah adil
  7. Jangan merusak raganya

Bersama di akhirat

Mengapa penting buat kita menanamkan keimanan ini? Dalam Al Quran Allah kembali mengingatkan bahwa kita yang saling mencintai di dunia ini, belum tentu bisa bersama di akhirat kelak.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf 43:67)

Jadi Nak, marilah kita bersama-sama mengenal Allah. Agar kita tetap bisa bersama di akhirat kelak. Insya Allah.

Sebagai penutup, Kiki menyampaikan sebuah kesimpulan indah mengenai apa bukti cinta kita pada anak.

Apa saja yang menjaga mereka dari siksa api neraka, maka itulah bukti cinta kita kepada mereka.”

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim 6:66)

Sudah siap membuktikan cintamu pada anak-anak?

Teman-teman IIP Bandung bersama Kiki Barkiah
Teman-teman IIP Bandung bersama Kiki Barkiah

Sumber:

Materi presentasi Mendidik dengan Cinta oleh Kiki Barkiah yang disampaikan pada acara Love is Wonderful, Giving is Powerful di Itenas Bandung, 24 April 2016.

(1870 words – 4 hours)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Oleh-oleh Mendidik Anak dengan Cinta oleh Kiki Barkiah

  • May 4, 2016 at 5:51 am
    Permalink

    Materi yang sangat bagus agar orangtua memahami cara mendidik anak yang baik dan benar.
    Terima kasih artikelnya yang bermanfaat
    Salam hangat dari Surabaya

    Reply
  • May 6, 2016 at 3:36 pm
    Permalink

    Terimkasih sharingnya teh sy senang dengan tulisan-tulisan yang tth buat…sy sahre ulang d fb ya,teh…hatur nuhun

    Reply
    • May 7, 2016 at 4:24 am
      Permalink

      Thank you for sharing Elaine.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: