Kulwap #ODOPfor99days bersama Tasaro GK

Kulwap bersama Tasaro GK di grup #ODOPfor99days dilaksanakan pada Sabtu, 30 April 2016 pukul 20.00 – 21.00 WIB. Kontak dengan narasumber dilakukan oleh Widitra Maulida dan Resume dibuat oleh Marina Yudhitia Permata

Materi Pembuka dari Tasaro GK

Baik, saya percaya teman-teman sudah lama bersentuhan dengan dunia literasi. Baik sebagai pembaca maupun penulis. Banyak teori dan sharing pengalaman dan proses kreatif dari berbagai narasumber. Maka apa yang akan saya sampaikan malam ini sekedar memperkaya apa yang sudah teman-teman kuasai.

Saya pribadi penulis yang cenderung tidak memilih genre tertentu dalam menulis. Saya suka menulis apa saja. Beberapa buku saya juga terbit dengan berbagai genre. Tapi kemudian memang lebih banyak pembaca yang mengenali saya sebagai penulis fiksi sejarah dan saya tidak menampiknya. Sebab, saya memang menyukai sejarah.

Latar belakang pendidikan saya jurnalistik dan saya belajar banyak dari dunia kewartawanan selama aktif menjadi reporter. Saya menemukan benang merah yang cukup mencolok dalam penulisan jurnalistik terutama “feature” dengan ragam penulisan kreatif utamanya fiksi. Maka malam ini saya akan berupaya berbagi perihal unsur-unsur fiksi yang mesti dikuasai dan bagaimana cara mudah mempraktikkannya dalam konteks novel.

Saya menyebutnya MAKARLUSI sebagai komponen-komponen novel yang mesti ada sebagai syarat sebuah novel memang kuat dan berumur panjang :

TeMAKARakteraLUrdikSI (tema-karakter-alur-diksi)

 

A. Tema

Memilih tema seolah sebuah langkah sederhana. Tapi tema yang menarik pembaca bukanlah hal sederhana.
Mari kita coba bedah karya sang Maestro :

Harry Potter.

Maka yang dilakukan penulis pertama adalah “meraut” tema hingga seruncing mungkin hingga cukup tajam untuk mencuri perhatian pembaca.

💡Dunia sihir (kurang runcing)

💡Dunia sihir britania (kurang runcing)

💡Dunia sihir britania yang fokus pada seorang anak (kurang runcing)

💡Dunia sihir britania yang fokus pada anak misterius di dalam sekolah sihir penuh intrik sihir-sihir kuno

Proses “meraut” tema tadi membuat fokus pembaca terarahkan dengan tajam. Membantu pembaca segera mengetahui beda Harry Potter dengan kisah-kisah sihir lainnya.

 

B. Karakter

Menciptakan tokoh-tokoh yang mudah dikenali dan tak terlupakan merupakan tahapan yang menantang. Tokoh dengan mata berwarna jingga akan lebih mudah diingat pembaca dibanding yang bermata hitam. Tokoh dengan rambut Tiga Helai lebih menancap di imajinasi pembaca dibanding yang berambut biasa saja.

Pada kasus Harry Potter, pembaca akan sangat mudah mengidentifikasi setiap karakter berkat ketangguhan Rowling dalam mendeskripsikan fisik dan tabiat masing-masing.

 

C. Alur

Saya bisa menyebutnya sebagai 7 Pertanyaan Fiksi. Setelah mampu menjawab 7 pertanyaan ini Anda berpeluang untuk menciptakan alur yang kuat.

1. Siapa tokoh Anda?
2. Apa goal hidupnya?
3. Apa/Siapa yang menghalangi tokoh Anda meraih goal hidupnya?
4. Bagaimana tokoh Anda mengalami kegagalan saat berupaya mengejar goalnya?
5. Bagaimana tokoh Anda tercerahkan dan bangkit dr keterpurukan?
6. Bagaimana adegan dramatis tokoh Anda saat meraih goal hidupnya?
7. Ending macam apa yang Anda siapkan sebagai akhir tak terlupakan?

 

D. Diksi

Pilihan kata. Film dinikmati sinematografinya. Sedangkan novel dinikmati diksinya. 10 tahun kemudian baik pembaca maupun penonton hanya akan mengingat alur ceritanya.

Diksi yang baik dan dalam berkaitan dengan pemaknaan. Tak harus puitis. Yang penting penulisnya benar-benar sadar sepenuhnya mengapa dia memilih setiap kata yang tertulis.

 

Sesi Tanya Jawab

#1 Pertanyaan Marina

1. Novel Muhammad yang Mas tulis kan atas permintaan penerbit ya, dalam kondisi begini sejauh mana penulis bisa bebas berkarya? Apa judul, isi cerita (gabungan biografi dan fiksi), sampai deadline ditentukan penerbit atau dari Mas sendiri?

Jawab :
Penerbit hanya menantang. Artinya seluruh konsep, sudut pandang, pengembangan ada di penulis. Penerbit sama sekali tidak mencampuri proses kreatif dalam penulisannya

 

2. Saya jadi penasaran sebetulnya penerbit itu mencari penulis utk buku X biasanya berdasarkan apa Mas?

Jawab :
Intuisi, riset, tren pasar

 

3. Dalam novel Muhammad dan juga beberapa novel best seller lainnya yang memiliki setting di luar negeri, atau daerah-daerah di Indonesia, dgn sisipan budaya setempat yg khas dan kental adatnya, apakah sang penulis harus benar2 pernah menjelajah ke tempat2 tsb? Misal ada yang ingin menulis tentang cerita di sebuah lokasi padahal blm prnh ke tempat itu, risetnya bisa darimana saja ya?

Jawab :
Unsur fiksi: pengalaman, riset, imajinasi. Pada kasua tertentu misal davinci code, riset dilakukan secara langsung krn memang ada sponsor. Jika tidak, riset pustaka atau wawancara jadi pilihan

 

4. Mas Tasaro kan pernah di surat kabar ya. Juga karya2 Mas pernah dimuat di berbagai media. Sebetulnya tema2 seperti apa sih yg disukai dan memiliki kemungkinan besar utk dimuat? Apa beda2 tergantung media nya? Atau ada satu kesamaan, misal saya pernah baca bahwa ‘cerpen koran’ itu katanya yg mengangkat cerita2 aktual (kasus2 terhangat yang jadi berita)?

Jawab :
Tidak ada yg berlaku umum. Menembus sebuah media mesti diawali dg mengenal media bersangkutan: kecenderungan, keberpihakan, selera editor, link

 

5. Sebagai editor, penulis/karya yg seperti apa yg bisa membuat Mas tertarik? Apa titik krusial dari sebuah naskah novel misalnya yg akan langsung dilirik oleh editor?

Jawab :
Sinopsis. Lalu tema, karakter, alur, diksi

 

6. Apa sebaiknya penulis itu menggunakan nama pena dalam karya-karyanya?

Jawab :
Tidak ada yg mutlak. Ditimang-timang saja. Terima kasih:)

 

#2 Pertanyaan Erie

Assalamualaikum, salam kenal mas Tasaro GK. Saya dan suami termasuk salah satu penggemar novel Tasaro terutama yang Galaksi Kinanthi (sampai putri sulung kami, kami namai Kinanthi karena terinspirasi dengan perjuangan Kinanthi hope.

Pertanyaannya saya, apakah mas Tasaro berencana untuk membuat kelanjutan dari serial galaksi Kinanthi / Kinanthi (beda penerbit)

saya dan suami dibuat penasaran selama 5th ini apakah Kinanthi akhirnya menikah dengan Ajuj?

Jawab:
Mbak Erie terimakasih apresiasinya. Saya biarkan mengalir saja Mbak. Hehe…seperti AADC yg menemukan alasan “kembali” setelah 14 tahun.
Kinanthi in person saat ini masih di Amerika dan masih menjalani pendidikannya.

 

#3 Pertanyaan Wita

Assalamualaikum. Saya ada pertanyaan :
1. Hal penting apa saja yg harus di perhatikan dalam mengawali penyusunan naskah novel?

Jawab:
Jawabannya ada di materi ya.

 

2. Peran editor menjadi kunci dalam sebuah naskah layak terbit. Bagaimana pendapat Mas Tasaro tentang penerbit indie?

Jawab:
Bagi saya mau indie mau major yg harus penerbit jawab adalah “bisakah mereka menerbitkan naskah yang bagus?”

 

3. Genre buku apa favorit Mas Tasaro?

Jawab :
Buku anak.

 

#4 Pertanyaan Wini

Malam, Pak. Merujuk ke materi awal. Apakah alur = 5W + H?

Jawab :
Prinsipnya semua fenomena di dunia ini menerbitkan pertanyaan 5W1H. Namun dalam konteks 7 pertanyaan fiksii tidak berkorelasi langsung pada teori jurnalistik itu. Artinya bukan turunan rumus tersebut. Saya kira per poinnya sudah cukup jelas saya tuliskan.

 

#5 Pertanyaan Wita

Tentang diksi. Ada berapa macam kah diksi itu? Apakah ada rumusnya? Misal untuk fiksi anak pake diksi tertentu, fiksi romance pake diksi tertentu? Dan bagaimana tips membuat diksi sesuai adegan? Bagaimana agar diksi yang dipilih terlihat dramatis?

Jawab :
Diksi itu pilihan kata. Tidak ada pengelompokan khusus terhadap diksi. Diksi sesuai adegan maksudnya bagaimana ya? Intinya dengan “show don’t tell”.

 

#6 Pertanyaan Shanty

1. Apa Mas Tasaro punya waktu menulis khusus? Apa rutin tiap hari pada jam tertentu?
2. Siapa penulis buku anak favorit Tasaro GK? Kenapa?

Jawab :
Ndak ada mbak. Kapan selo aja.
Buku favorit saya : The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery. Karena di dalamnya ada unsur yang memenuhi syarat naskah yang baik : implisit dan eksplisit.

 

#7 Pertanyaan Ani Sul

Punten kalau pertanyaannya awam banget. Gimana ya supaya fiksi yang kita tulis gak garing?

Jawab :
Bu Ani Sul mohon dinaca materi di atas. Makarlusi. Itu jawabannya.

 

#8 Pertanyaan Nita

Mau nanya, kalau nulis cerita fiksi butuh waktu berapa lama?

Jawab :
Bisa seminggu, bisa belasan tahun. Setiap penulis punya gaya masing-masing.

 

#9 Pertanyaan Wini

Tentang point of view (POV) penulis. Dalam fiksi. Lebih baik berganti2 POV atau tetap pada satu POV tertentu? Apa ada trik misalnya mau berganti POV biar gak terkesan kagok? Makasih.

Jawab :
Selama penulisnya siap, pilihan POV tak akan menyulitkan. Tapi sebagai awalan, POV orang perama tunggal biasanya yang dianggap paling mudah.
Triknya hanya latihan saja. Kita akan tahu dengan sendirinya.

Marina : Saya mikir kalo orang pertama tunggal kesannya jadi lebih personal dan dekat dengan pembaca. Tapi kalo orang ketiga bisa serba tahu dan menceritakan lebih luas. Tergantung pilihan aja kali ya.

Tasaro GK : Tadi saya sampaikan dianggap paling mudah Bu Marin. Tantanganpenceritaan orang ketiga adalah memecah identitas penulis. Ada tiga karakter berarti penulis menjelma jadi 3 karakter, dst.

 

#10 Pertanyaan Nia Tania

Permisi mau nanya…
1. Motivasi apa yang membuat Mas Tasaro istiqomah nulis terus?
2. Pernah nggak tiba2 nge-‘blank’, nggak tau mau nulis apa dan terasa sulit untuk mulai menulis? Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Terima kasih sebelumnya .

Jawab :
1. Setiap orang memiliki passion dan passion saya adalah menulis. Seperti bernapas.
2. Sering. Ambil jarak dai tulisan. Kerjakan tema yang berbeda. Kembali ke naskah awal dengan kerinduan yang memuncak.

 

#11 Pertanyaan Ani Sul

Lanjut yang tadi. Menurut kita, karakter & tema kita cukup menarik. Tapi setelah selesai nulis, dibaca lagi kok kayaknya gak menarik buat dibaca orang lain yaa.. Hehe.. Apakah ada kiat khusus?

Jawab :
Tentu ada Bu Ani. Dengan mengujinya dalam grup semacam ini. Sebelum tulis panjang, cukup dalam beberapa kalimat ini lebih dulu.

 

#12 Pertanyaan Wita

Berarti dalam buku Muhammad itu ada 2 PoV ya?

Jawab :
1. Orang ketiga tunggal
2. Orang kedua tunggal

 

Penutup dari Tasaro GK

Hmm….tentu setiap penulis berproses dengan jalan nan berbeda-beda. Tapi yang saya rasakan dan alami, saya dulu sedikit sekali berdiskusi. Saya hanya menulis…membaca…menulis…membaca…menulis. Lalu saya serahkan mekanisme penerbit mengadili naskah saya.
Tidak pernah ikut kursus apapun. Tidak banyak bertanya kepada siapapun. Saya hanya menyerap saja bacaan dan pembicaraan orang lalu menulis. Menurut pengalaman…pertanyaan hanya akan melahirkan pertanyaan baru.
Mahir menulis membutuhkan latihan terus menerus.
Selamat menulis.
Terima kasih telah berkenan menyimak.
Wassalamu’alaikum.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: