Mindfulness for Moms oleh Adjie Silarus

Setelah puas dengan 3 Kulwap untuk sesi tanya-jawab (IIP Bansel, IIP Banut, dan #ODOPfor99days)  bersama Adjie Silarus, akhirnya kami berkesempatan bertemu langsung dengan praktisi mindfulness yang tahun ini berusia 33 tahun. Kebetulan Adjie bisa mampir ke Bandung setelah memberikan materi di Bhineka Yoga Festival yang berlangsung di Maribaya 23-24 April 2016.

Disambut dengan hujan maha lebat di daerah Bandung Utara yang membuat jalanan Bandung berubah menjadi tempat uji nyali berarung jeram (sayang ini arung jeram dengan mobil bukan perahu karet), akhirnya kami bisa bertemu di Jagad Alit – Waldorf Playgroup & Kindergarten Babakan Jeruk IIIE , Terusan Pasteur Bandung.

Selama 2 jam lebih, kami ngobrol banyak tentang Mindfulness. Mulai dari pengertiannya sampai prakteknya.

Jadi mindfulness itu apa sih?

mindfulness for moms Jagad Alit Adjie
Adjie Silarus di Jagad Alit

Karena beragamnya pemahaman orang terhadap mindfulness, timbul juga anggapan bahwa konsep ini adalah ajaran Budha yang tidak selaras dengan ajaran Islam.

Adjie hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Sudah banyak saya mendapatkan pertanyaan yang sama,” katanya.  Sebenarnya mindfulness itu adalah ilmu yang universal, dan ada di sejumlah ajaran agama. Dalam Islam mindfulness bisa dikenal dengan nama tafakur. Tafakur untuk melakukan perenungan ke dalam diri kita.

Caranya bagaimana?

Dimulai dengan melatih duduk diam selama 1 menit sehari. Merasakan setiap napas yang dihirup dan dikeluarkan. Secara sadar. That’s it.

Serius, begitu saja?

Ya, begitu saja. Mungkin pada 3-4 kali tarikan napas itu mudah, selanjutnya pikiran kita mulai mengembara. Ingat cucian, ingat tulisan, ingat anak, ingat baju baru, dan lain sebagainya. Kemampuan untuk duduk diam dan sadar atas keberadaan kita saat ini, di sini, kini, tidaklah sesederhana yang kita duga.

“Saat kita menghirup napas, rasakan dan sadari bahwa kita sedang menghirup udara. Kemudian saat mengembuskan udara, rasakan dan sadari pula bahwa kita sedang mengembuskan napas. Lakukan terus-menerus dan jadikan napas sebagai ‘jangkar’ pikiran kita, sehingga pikiran kita tidak berkeliaran ke mana-mana. Hati, pikiran, perasaan, dan pikiran telah menyatu dalam napas yang kita tarik dan kita lepaskan.” (dari Sadar Penuh Hadir Utuh, hal 4)

Tarik napasnya seperti apa?

Sebagai praktisi Yoga, saya diajarkan olah pernapasan dari hidung, kemudian dimasukkan ke dada, dan turun ke perut. Setelah ditahan sebentar, baru dikeluarkan dari perut, naik ke dada, dan dikeluarkan melalui mulut. Apakah tarik napasnya perlu seperti itu?

Ternyata tidak juga, “Cukup bernapas secara alami saja,” jelas Adjie. Bisa sambil duduk di kursi, bersila, atau berdiri.

Apakah perlu pada waktu yang tetap setiap hari?

“Sebaiknya begitu. Bagi muslim mungkin bisa sebelum sholat, untuk memusatkan pikiran,” lanjutnya lagi.

Dalam buku Sadar Penuh Hadir Utuh, Adjie menganjurkan untuk latihan pernapasan dan menyadari napas setidaknya 2 kali sehari. Dalam sebulan biasanya akan terasa manfaatnya (hal 82).

Apa hubungannya Yoga dan Mindfulness?

Tidak ada hubungannya sebenarnya. “Saya juga heran kenapa sekarang sering diajak-ajak mengisi acara Yoga,” jawabnya.

Yoga umumnya dikenal orang dipusat-pusat olahraga sebagai jenis olah tubuh dengan asana/sejumlah pose-pose yang ajaib. Mulailah orang saling pamer, “Wah teman saya sudah bisa asana ini, saya juga mau bisa. Trus setelah bisa fotonya di upload di sosmed.” Ah ini mah si Adjie, nyindir saya.

Mindfulness sebenarnya kebalikannya. Tidak ada gerak disini, kita diajak untuk duduk diam. Tidak ngapa-ngapain. Hanya bernapas dan menyadarinya. Bukan waktunya membandingkan diri dengan orang lain, tapi melihat ke dalam diri. T A F A K U R.

Mindfulness dan Keseimbangan

Pada dasarnya mindfulness mengajak kita untuk kembali pada keseimbangan dalam hidup. Prinsip Yin dan Yang. Hidup ini tidak hanya urusan Doing (melakukan), tapi juga Being (menjadi). Tidak hanya sibuk untuk meraih dan mendapatkan, tapi juga keikhlasan untuk melepaskan dan merelakan. Tidak hanya bergerak dalam kesibukan, tapi juga diam dalam keheningan. Tidak sekedar tergesa-gesa dalam bertindak, tapi juga sabar untuk menunggu. Bukan sekedar meletakkan mimpi setinggi langit untuk masa depan yang lebih baik, tapi juga menikmati saat ini, di sini – kini.

Yin Yang
Yin Yang

Dalam hiruk pikuknya kehidupan, kita perlu mengobrak-abrik kembali pemahaman kita yang terbiasa tergesa-gesa dan tidak fokus. Ingin meraih banyak hal, walau pada akhirnya hanya berakhir tanpa mengerjakan sesuatu tanpa arti dengan kelelahan yang luar biasa.

Kita perlu belajar tentang Kaizen, alon-alon asal kelakon, biar lambat asal selamat. Dalam bukunya Adjie juga cerita bahwa hidup ini seperti TTS. TTS tampak apik dan komposisinya lebih enak dipandang karena pertanyaan sulit untuk kotak-kotak panjang diimbangi dengan pertanyaan  mudah pada kotak-kotak pendek 3 huruf. Bahkan ada kotak-kotak hitam yang bukan untuk diisi jawaban. Dalam hidup tidak selalu diisi dengan hal-hal yang rumit, tapi juga hal-hal sederhana. Bahkan ada waktunya untuk sekedar diam dalam hening.

Seni menetapkan prioritas

Bagaimana caranya menentukan prioritas mana yang penting mana yang tidak penting? Mana yang harus didahulukan antara urus anak menangis, mencuci, menulis, atau FB-an? Karir atau keluarga? Rejeki yang sudah didepan mata atau mimpi besar di masa depan? Semua hal terasa penting.

Bayi ketika lahir dengan tangan menggenggam. Ketika meninggalkan dunia, tangan kita pada posisi terbuka. Selama hidup kita belajar untuk bisa melepaskan. Mengikhlaskan. Jangan serakah semua mau diraih. Tidak semua penting. Tidak semua prioritas nomor 1. Belajarlah untuk mengikhlaskan.

Saat mencuci, ya mencucilah dengan sepenuh hati. Saat anak menangis, ya berhentilah mencuci. Peganglah anak dengan sepenuh hati. Ikhlaskan pikiran untuk berhenti atau menunda mencuci terlebih dahulu. Tarik napas – hembuskan – dan tersenyumlah.

Pilihlah prioritas hidupmu. Ikhlaskanlah apa yang belum bisa diraih saat ini. Tidak perlu ngoyo. Nikmatilah saat ini, di sini – kini.

Ini untuk membantunya fokus pada apa yang menurutnya penting,  Adjie menuliskan apa yang tengah ia lakukan di blognya.

Keluarga
Menulis blog: AdjieSilarus.com
Menulis buku
Sesi hening 2 jam dan 8 jam untuk umum maupun perusahaan
Menjalin komunikasi dengan penikmat karya.
SukhaCitta
Komunitas Sane Step
Baca buku
Belajar bahasa asing
Jalan kaki, meditasi, yoga, makan sehat

Adjie tidak berminat menjadi endoser produk tertentu, atau hal-hal lain diluar itu, walau memang menggoda dan memberikan nilai finansial yang lumayan misalnya.

Mindfulness membantu melepaskan amarah

Berasal dari keluarga broken home, Adjie menceritakan pengalamannya dipenuhi amarah. Tapi baru kemarahan itu terasa tidak ada gunanya ketika orang yang menimbulkan kemarahan akhirnya meninggal dunia. Tidak ada gunanya. Orang yang kita temui saat ini, adalah orang yang berbeda dengan orang yang kemarin. Dan bukan pula orang di masa depan yang masa depannya kita khawatirkan.

Hadir penuh saat ini untuk orang yang kita cintai adalah sebuah persembahan paling berharga. Dan itu sebenarnya gratis.

Mengenai pikiran

mindfulness for moms Jagad Alit
Mindfulness for moms Jagad Alit. Photo oleh Dwie Rahmatanti.

Pikiran adalah sekedar pikiran. Tidak perlu melabeli dengan pikiran negatif dan postif. Ketika kita memaksakan untuk berpikir positif, pikiran negatif akan selalu mencari jalannya untuk masuk kedalam pikiran kita. Pikiran bukanlah kenyataan.

Dalam bukunya Adjie menulis tentang kecenderungan kita untuk terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita, ketimbang bagaimana kita sendiri dapat jujur pada diri kita sendiri dan menikmati hidup apa adanya tanpa harus melakukan hal-hal artifisial hanya untuk sekedar terlihat lebih keren dan hebat.

Misalnya komentar sepatu jogging kita yang tidak bermerek terkenal. Sesungguhnya merek sepatu jogging tidak akan mempengaruhi kecepatan kita saat jogging kan? Kecuali jika hal itu kita ijinkan terjadi pada diri kita.

Hidup menjadi membosankan jika kita hanya terus mencari pengakuan.

Mindfulness bagi perusahaan

Sekilas mindfulness yang berprinsip tidak ngoyo atau alon-alon asal kelakon tidak sesuai dengan perusahaan kapitalis yang berusaha mengejar target setinggi-tingginya. Tapi ternyata kita salah. Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Prentice Hall Publishing, Google, Nike, P & G, HBO dan lain-lain, telah menerapkan konsep mindfulness untuk pelatihan bagi karyawannya. Dan percaya atau tidak, kinerja perusahaan malah meningkat. Ini yang kini menyebabkan sejumlah perusahaan mulai melirik metoda yang telah dipopulerkan oleh penelitian Jon Kabat Zinn, PhD dari MIT yang menggagas program Mindfulness Based Stress Reductioan (MBSR) pada tahun 1976.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa minfulness meningkatkan kekebalan tubuh dan dapat mengurangi stress sebesar 30% hanya dalam 20 menit pelatihan. Dengan mengikuti 8 minggu pelatihan MBRS, menunjukkan kemampuan kita belajar dan mengingat menjadi meningkat.

Say no to multitasking

Dalam menulis, saya terbiasa mencampur aduk kegiatan bersosial media, mencari data dan menulis. Niatnya cuma menulis, tapi sambil mencari data. Karena datanya ada di media sosial, tanpa sadar dilakukan sambil juga tergoda memberi komentar.

Say no to multitasking
Say no to multitasking

Adjie sangat tidak merekomendasikan kegiatan multitasking seperti itu. Mengonsumsi informasi, berkomunikasi dan mencipta adalah 3 hal yang berbeda dan perlu dilakukan satu persatu. Mengonsumsi informasi seperti browsing data, baca buku, atau belajar dari menonton, dikerjakan pada satu waktu khusus.  Berkomunikasi seperti menjawab komentar di sosial media, chatting di grup whatsapp dilakukan terpisah. Demikian juga untuk berkarya atau menulis.

Adjie memperlihatkan setelan wordnya saat menulis di laptop apple-nya. Benar-benar bersih tanpa ada jendela apapun. Bahkan tidak toolbar standar di word yang akan menggoda kita untuk utak-atik font, membuat italic, bold, atau mengatur paragrap. Jadi dibiarkan bersih dengan menggunakan view Full Screen reading (dan mengaktifkan allow typing pada view optionnya). Jangan lupa matikan semua koneksi internet, dan simpan HP jauh-jauh dari jangkauan.

Bagaimana kalau lupa bahan? Ya sudah, nanti dicari lagi. Pokoknya saat itu cukup menulis saja, tidak nyambi yang lain.

Benar-benar saran praktis yang penting.

Full screen reading view di word yang polos
Full screen reading view di word yang polos

Penerbit major vs Indie

Setelah sukses dengan 2 buku, yaitu Sejenak Hening (Metagraf, 2013) dan Sadar Penuh Hadir Utuh (TransMedia Pustaka, 2015), Adjie kembali menulis 2 buku. Yaitu Happy Breathing to You dan Love out Loud. Dua buku ini sengaja diterbitkan indie dan tidak diedarkan melalui toko buku. Alasan Adjie agar ia bisa lebih mengenal siapa yang membeli buku itu. Karena Adjie merasa perlu mendapatkan feedback dan saling belajar dengan orang-orang yang membaca bukunya.

Buku-buku Adjie Silarus
Buku-buku Adjie Silarus

Untuk tujuan itu pula Adjie membuat grup Sane Step di FB. Tujuannya untuk berbagi pengalaman dan berkonsultasi mengenai kesehatan jiwa untuk menciptakan hidup yang waras dan bahagia. Di grup itu kita bisa berbagai cerita inspirasi, tips, cara sederhana dan gambar bermakna berkaitan dengan mencipta bahagia, ikhlas melepaskan pergi, bersyukur, mengelola marah, welas asih, cinta dan kasih, dan tentu saja  mengenai sadar penuh hadir utuh (mindfulness).

Selanjutnya bagaimana?

Kami ternyata masih nagih untuk terus belajar tentang mindfulness. Sempat nanya juga sih ke Adjie, jadi kapan kita bisa merasakan manfaat mindfulness?

“Berlatih sajalah, tidak usah di target, setiap orang akan mencapai waktunya masing-masing. Saya pun masih belajar hingga sekarang,” kata Adjie.

Setelah minta ijin dari yang empunya ilmu, dibuatlah Facebook grup Sane Step Bandung, untuk memudahkan koordinasi jika kita ingin belajar lebih tentang mindfulness di Bandung. Jadi kalau Adjie mampir ke daerah sekitar Bandung, bisa kontak-kontak kita di grup untuk menyedekahkan waktunya berbagi dengan teman-teman di Bandung.

Mari kita belajar bersama untuk bisa Sadar Penuh Hadir Utuh menikmati hidup ini secara lebih bermakna.

Mindfulness for Moms Participants
Mindfulness for Moms Participants

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

3 thoughts on “Mindfulness for Moms oleh Adjie Silarus

  • April 28, 2016 at 12:56 am
    Permalink

    “Adjie sangat tidak merekomendasikan kegiatan multitasking seperti itu. Mengonsumsi informasi, berkomunikasi dan mencipta adalah 3 hal yang berbeda dan perlu dilakukan satu persatu. ” … Mungkin kah karena dia laki2? Yang secara umum skillnya di level single tasking?

    Reply
    • May 2, 2016 at 3:58 pm
      Permalink

      Bisa jadi Li. Itu pertanyaan pertama saya pas ketemu Adjie. Tapi beberapa teman penulis senior, memang merekomendasikan seperti itu. Jangan disatukan 3 hal itu. Dapat saran itu dari Dewi Lestari, Monica Anggen, Carolina Ratri, dan beberapa penulis senior lainnya. Jadi ya mungkin pantas untuk dicoba.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: