Pilih teman yang mana?

Suatu hari saya berkenalan dengan seorang teman baru. Setelah ngobrol ngarol ngidul, saya pun bertanya sebuah pertanyaan yang cukup pribadi.

“Apakah kamu orang yang taat beragama?” tanya saya.

Dia hanya tersenyum, sambil menjawab, “Apa ukurannya taat beragama?”

“Kamu menjalankan ritual agama yang kamu anut lah. Apakah kamu sholat 5 waktu? Apakah kamu baca Al Quran 1 juz setiap hari, dan ritual keagamaan lainnya.”

“Apakah jawaban saya akan mempengaruhi penilaian kamu terhadap Saya?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab saya ragu.

“Apa pandangan kamu jika saya jawab: ‘Ya saya taat beribadah. Saya berusaha sholat 5 waktu di awal waktu. Saya berusaha mengaji 1 juz 1 hari dan menghapalkan Al Quran. Saya baca Al Maksurat setiap pagi dan petang. Saya tahajud puluhan rakaat setiap malam dengan surat yang panjang-panjang’.”

“Wow itu bagus sekali. Itu artinya kamu orang yang taat beribadah. Luar biasa. Saya mengagumi kamu. Tapi kamu beneran nggak bohong kan?”

“Sekarang apa pandangan kamu jika saya bilang ‘saya tidak taat beribadah. Sholat bolong-bolong. Saya bahkan tidak bisa baca huruf Al Quran’.

“Ehm… ya nggak apa-apa juga sih,” kata saya sambil mulai menarik kekaguman saya sebelumnya.

“Jujur?”

“Nggak juga sih. Saya heran saja kenapa kamu sudah dewasa tapi tidak taat beribadah. Emangnya nggak ada yang mengajarin? Apa kamu nggak takut dosa?” jawab saya berusaha untuk berterus-terang.

“Kamu lebih suka berteman dengan saya yang mana?”

“Yang rajin ibadah.”

“Sekarang bagaimana kalau saya sampaikan fakta ini. Apakah ini akan mengubah pandangan terhadap teman yang lebih kamu sukai?

Saya yang rajin ibadah ternyata tidak khusyu dalam sholat. Sholat dilakukan sekedar penggugur kewajiban. Tanpa disadari, tahu-tahu sholat sudah selesai. Saya mengaji sekedar kejar setoran tanpa sempat merenungkan makna dari setiap bacaan Al Quran yang saya ucapkan. Saya hapal Al Quran tapi tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ayat saya bahkan tidak tahu apa artinya.

Sementara, saya yang tidak rajin ibadah, adalah orang yang tengah berlatih keras belajar sholat. Saya sedang berusaha keras menghapal doa-doa dalam sholat. Saya sedang belajar Iqra dari seorang guru agama supaya bisa mengaji dengan benar.

Sekarang siapa yang lebih kamu sukai?”

* * *

Begitu mudah kita terpesona dengan penampilan luar seseorang, termasuk dalam beribadah. Ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT bukanlah hal yang bisa dilihat dengan kasat mata.

Dan memang tidak perlu.

Hanya Dialah – tempat kita mempersembahkan ibadah kita seutuhnya – yang pantas untuk menilainya.

Dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, yang bisa kita nilai adalah sebatas hubungan kita dengan manusia lain. Hablum Minannas. Seberapa banyak kita berarti bagi orang lain. Berarti bagi anak-anak kita, pasangan kita, orangtua kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita.

Urusan ibadah kepada Allah. Hablum Minallah, biarlah menjadi persembahan suci kita kepada Yang di Atas.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: