Kulwap Mindfulness bersama Adjie Silarus di IIP Bandung Utara

Setelah seminggu sebelumnya Adjie Silarus Kulwap di IIP Bandung Selatan, pada 15 April 2016, teman-teman di IIP Bandung Utara yang kebagian berdiskusi dalam kelas virtual.

Karena tidak mau ketinggalan materi seru ini, saya kutipkan hasil diskusi mereka dengan moderator Lendy Kurnia dan Putri Yudha, serta Notulen Syifa L Zahra.

Profil Adjie Silarus

Diskusi dibuka dengan menyajikan profil Adjie Silarus sebagai berikut:

  • Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dengan predikat cumlaude.
  • Sejak 2012, tinggal di Jakarta.
  • Mulai menulis blog di website adjiesilarus.com sejak Maret 2012.
  • Senang menulis dan membaca serta belajar hidup sesederhana hidup itu sendiri apa adanya.
  • Praktisi mindfulness sejak 2010 sampai sekarang, sering diundang dan diminta berbagi mengenai “mindfulness” melalui pelatihan, seminar, konsultasi kepada orang-orang yang merasa membutuhkan solusi untuk meningkatkan fokus dan produktivitas kerja, menciptakan hidup bahagia dan tenang, cara mengelola stres, cerdas emosi serta hubungan damai dengan sesama.
  • Telah berbagi mengenai “mindfulness” kepada banyak perusahaan ternama, termasuk BCA, Wijaya Karya, Jiwasraya, Kompas, Chevrolet, Adaro Indonesia, Sucofindo dan masih banyak lagi. Termasuk Prasetiya Mulya Business School, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung.
  • Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010.
  • Menjadi founder dan CEO dari SukhaCitta. Perusahaan yang membuat perencanaan, mengelola sesi pelatihan, seminar, dan konsultasi yang berkaitan dengan hidup bahagia dan juga bahagia berkarya melalui pendekatan “mindfulness”. SukhaCitta adalah perjalanan bersama dalam berbagi kebahagiaan dan makna dalam berkarya.
  • Penulis buku national best seller berjudul “Sejenak Hening dan Sadar Penuh Hadir Utuh”

“I don’t pretend I’m more than I am. I’m just a guy who has simplified his life and focused on being mindful.”

Materi Pembuka

Perjalanan mencipta bahagia dalam perjalanan kehidupan adalah perjalanan bersama. Bukan hanya sebagai gelombang ombak yang berlalu begitu saja, tapi menjadi samudera jika kita mampu bergandengan tangan berjalan beriringan.

Saya sangat senang, kita bisa bertemu di sini. Selamat datang dan selamat memulai perjalanan untuk mencipta bahagia dalam hidup ini.

Di sepanjang hidup saya sampai sekarang, saya paling sering diusik oleh pertanyaan: “Bagaimana saya bisa merasa tenang, bahagia dan damai di tengah rutinitas sehari-hari yang rentan terhadap stres dan semrawut?”

Saya terus mencari, melalui buku-buku, melalui percakapan-percakapan, melalui pelajaran-pelajaran hidup yang ternyata tak bisa saya dapatkan dengan instan, hingga pada akhirnya jawaban yang saya temukan sangat sederhana—meskipun tidak selalu mudah untuk dilakukan, yaitu: belajar untuk sadar penuh hanya di sini- kini.

Separah apapun hari yang saya lalui di luar kendali, betapa pun kehidupan saya penuh tekanan, memusatkan raga dan pikiran untuk utuh hanya berada di sini-kini dapat menjadi semacam oase di tengah gurun yang terik. Hanya berada di sini-kini mempunyai kekuatan untuk mengubah secara drastis kehidupan saya, dan sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sederhana.

Saya mengenal “mindfulness” dan membuat saya takjub karena semua pemicu stres atau masalah saya dapat dibantu diatasi dengan cara sesederhana:
Sadar penuh hanya berada di sini-kini.
Bukan terlalu menyesali masa lalu, bukan pula berlebihan mengkhawatirkan masa depan …

Mindfulness adalah kondisi dimana diri kita menjadi Benar benar Sadar penuh hadir utuh atas apapun yang terjadi pada saat ini disini kini tanpa menilai dan menghakimi.

Rasa bahagia yang tercipta membuat kita mampu memberi makna dalam kehidupan.

Melalui sadar penuh hadir utuh di sini-kini (mindfulness); bukan di masa lalu maupun masa depan; dan melatih diri hidup sederhana dan hemat, bukan serakah mengejar kemewahan, kita dapat lebih mempererat hubungan dengan orang-orang yang kita cintai, lebih mampu bersyukur, ikhlas, memperbaiki diri, mengelola marah, tenang, fokus kepada hal-hal yang memang benar-benar penting sehingga kinerja pun meningkat, sehat pikiran dan raga.

Jika anda merasa kewalahan menjalani rutinitas setiap hari dan sering terlalu khawatir akan segala sesuatunya, saya bisa memahami yang anda rasakan. Saya pernah mengalami situasi seperti itu. Saya bekerja terlalu keras, kurang istirahat, serakah dan boros. Sehingga saya telah menghabiskan banyak waktu percuma, sia-sia hanya untuk kelelahan, stres, menderita dan sakit. Saya selalu merasa, untuk bahagia, berarti saya harus mempunyai keinginan lebih, lebih dan lebih lagi. Saya butuh lebih banyak lagi supaya saya bahagia. Hingga tak berkesudahan.

Saya memilih untuk mengubah arah perjalanan hidup saya …

Pertanyaan-pertanyaan

Pertanyaan #1 (Wiwik)

Sekilas saya membaca masa lalu Mas Adjie penuh dengan kemarahan karena konflik keluarga, bagaimana cara Mas Adjie healing dari kondisi yang melukai perasaan itu? Dan bagaimana konsep mindfulness untuk memaafkan orang lain?

Jawaban:
Dengan melatih pikiran supaya lebih berada di saat ini, di sini-kini. Karena masa lalu sudah berlalu. Mindfulness melatih pikiran untuk sadar penuh hanya berada di sini-kini. Dengan kesadaran penuh seperti itu, maka orang lain yang beberapa waktu lalu menyakiti saya, sekarang sudah bukan orang yang sama dengan orang yang menyakiti saya. Sudah berubah menjadi orang yang baru. Setiap saat adalah waktu yang baru.

Tidak ada yang kekal abadi. Dan setiap orang mengalami penderitaannya sendiri-sendiri, yang dibutuhkan adalah uluran tangan, membantu, memaafkan, bukan kemarahan dan dendam.

Pertanyaan #2 (Nita)

Bagaimana cara menghadirkan mindfulness di saat keadaan tak memungkinkan, misalkan saya bisa fokus membujuk dengan sabar di saat anak merengek tapi di suatu keadaan saya bisa malah jadi ikut rungsing bila dalam keadaan kondisi badan tak mendukung (lelah,sakit dll)

Jawaban:
Dengan berlatih mindfulness setiap hari setiap ada kesempatan dengan sabar dan tekun. Sehingga ketika situasi seolah tidak memungkinkan terjadi tetap bisa mindful, karena sudah terlatih dan terbiasa.
Memang keadaan yang tak memungkinkan akan lebih menantang, sehingga perlu latihan dan mempersiapkan diri. 

Pertanyaan #3 (Ai)

Sebelum mengenal mindfulness saya sering melakukan hal seperti makan dengan benar-benar menikmati makanan, mengunyah, merasakan kenikmatan makanan, dan menelannya. Tapi dengan begitu kegiatan makan saya jadi lama. Dan saya dinilai lamban oleh orang lain. Efeknya sering dimarahi oleh orang tua, kakak, atau suami. Saya juga sering melakukan sesuatu sambil berdzikir, membaca doa, surat-surat utama, dengan harapan mendapatkan berkah dari pekerjaan yang saya lakukan. Berusaha khusyu. Tapi kadang sering tidak sadar saat melakukan pekerjaan tersebut tiba-tiba dipanggil oleh anak/suami, efeknya dimarahi laig/ditegur.

Apakah mindfulness itu berarti benar-benar khusyu sampai tidak menyadari akan lingkungan sekitarnya? Bagaimana caranya kita bisa fokus mengerjakan sesuatu, tapi tetap sadar akan lingkungan sekitarnya. Terimakasih atas pencerahannya.

Jawaban:
Mindfulness memang akan melatih kita untuk berada di kecepatan hidup yang tepat. Jadi kalau selama ini laju hidupnya terlalu cepat, dengan berlatih mindfulness akan berdampak mengurangi kecepatan hidup.

Bukan cepat, cepat, cepat,
tapi
tepat, tepat, tepat.

Mindfulness bukan berarti fokus sampai tidak menyadari lingkungan. Fokus yang seperti itu adalah fokus yang tegang. Sedangkan mindfulness adalah fokus yang relax, santai. Kesadaran yang terpusat tapi juga meluas.

Cara latihannya memang diawali dengan fokus terpusat, lalu perlahan melebarkan dan meluaskan perhatian. Ketika fokusnya santai maka secara perlahan fokusnya akan meluas, tetap sadar akan lingkungan sekitar.

Pertanyaan #4 (Uput)

Jaman aku kecil dulu terbiasa disuruh cepat untuk semua kegiatan, makan, siap-siap sekolah dan sebagainya. Efeknya saat ini pun pola yang sama secara tak langsung diterapkan ke anak. Terlebih anak aku terlalu santai anaknya jadi suka bikin aku jadi ngomel-ngomel nyuruh cepet.

Pertanyaannya:
A. Bagaimana melatih mindful agar bisa lebih tahan emosi tapi maksud yang ingin disampaikan ke anak tetap jalan?

B. Menurut psikolog anak, anak aku termasuk anak yang perlu dilatih lagi fokusnya. Apakah mindful bisa dijadikan sarana pembelajaran untuk lebih fokus bagi anak? Bila iya bagaimana langkah-langkahnya?

C. Apakah ketika anak belajar mindfulness pola kehidupannya akan jadi semakin santai? Mengingat anak aku memang dasarnya sudah santai dan bila di beri tekanan sedikit biasanya malah bikin blank?

D. Bisakah belajar mindfulness menghilangkan kecemasan berlebih pada anak? Bila iya bagaimana tahapannya?

Jawaban:
Bukan cepat, cepat, cepat
tapi tepat, tepat, tepat.

Terlalu cepat akan membuat kita lambat.
Tepat, walaupun lambat, akan membuat kita sangat cepat.

A. Mindfulness melatih kita untuk mengurangi harapan, tidak memaksakan kehendak, termasuk kepada anak. Karena pada kesadaran penuh tertentu, anak dihadirkan dalam hidup ini sebagai guru untuk orang tuanya. Mengurangi harapan, mengurangi kecemasan akan masa depan, akan membuat kita lebih mampu mengelola emosi.

B. Iya, bisa. 

Generasi sekarang, termasuk kita semua pun berkurang daya fokusnya, salah satunya karena adanya internet, gadget. Salah satu caranya dengan diajak duduk diam dalam hening, menenangkan diri, hanya menyadari napas dan mengamati pikirannya sendiri. Langkah baik supaya anak fokus adalah orang tua yang memberi contoh. Karena anak kurang lebih sebenarnya hanya mencontoh yang ada di sekitarnya. 

C. Mindfulness akan melambatkan laju hidup orang-orang yang hidupnya terlalu cepat, terlalu gegabah, tapi tidak terus membuatnya sangat lambat. 

Mindfulness membuat laju hidup sedemikian rupa supaya tepat. Tidak terlalu lambat, tidak terlalu cepat. Buat yang laju hidupnya terlalu lambat, dengan mindfulness ia akan lebih sadar penuh apa yang harus dilakukan. Tidak lagi bermalas-malasan.

D. Bisa.
Diawali dari orang tuanya memberi contoh untuk tidak mudah cemas. Cemas karena pikiran terlalu terbayang akan masa depan. Dengan duduk diam dalam hening, latih pikiran untuk lebih sadar penuh hanya berada di sini-kini. Hanya menyadari tarikan dan hembusan napas. Setiap kali pikiran mengembara, ajak perlahan kembali ke napas.

Pertanyaan #5 (Afina)

A. Mas Adjie, sebagaimana diketahui bersama kalau kerjaan ibu-ibu itu selangit. Ditambah yang ibu bekerja. Untuk melakukan mindfulness memang tidak mudah. Pasti lagi apa kepikiran apa. Gitu terus. Dan tetap si pekerjaan selangit itu belum turun juga jadi setengah langit. Bagaimana tipsnya melakukan pekerjaan dengan fokus, tapi dalam sehari bisa sangat efektif.

B. Pasti mas adjie sudah punya jadwal dengan mindfulnessnya kan? Boleh dong dishare jadwal kesehariannya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Jawaban:
A. Cukup sering saya dapat pertanyaan serupa. Tapi saya pun salut dengan ibu-ibu yang tangguh hadapi kerjaan selangit.

Mindfulness bisa membantu. Tipsnya adalah dengan menilai apakah pekerjaan selangit itu semuanya memang benar-benar penting. Atau ada kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bisa dikurangi. Tidak akan bisa fokus dan efektif kalau dalam sehari terlalu banyak kegiatannya.

Di sini perlu kemampuan untuk ikhlas merelakan pergi kegiatan-kegiatan yang tidak benar-benar penting, mengikhlaskan kegiatan-kegiatan yang hanya memuaskan keinginan. Kalau perlu ditulis setiap hari dalam bentuk daftar. Istilah saya, MIT, Most Important Task.

B. Latihan dasar mindfulness ada 4:
– Duduk hening. Saya lakukan pagi hari sebelum melakukan rutinitas yang lain, selama 20 menit. 
– Makan sadar. Makan sadar kalau nggak pas sarapan, ya makan siang, atau malam. Lebih sering pas sarapan.
– Gerak sadar.  Gerak sadar biasanya saya jalan kaki pagi, atau yoga.
– Fokus berkarya. Latihan fokus berkarya saya lakukan sepanjang hari. Tidak selalu mindful, adakalanya ga mindful, namanya juga latihan.

Pertanyaan #6 (Mesa)

A. Di e-book Sadar Penuh Hadir Utuh, saya membaca tentang proses mencipta. Tidak sambil mengonsumsi informasi, maupun berkomunikasi. Idealnya, apakah mencipta perlu dilakukan dengan topik yang spesifik dan berkelanjutan?

B. Saya memiliki bakat dominan input, yang mana mudah sekali menyerap informasi dari luar, dan mudah ingin tahu. Yang membuat saya kurang nyaman, bakat input ini sering membuat saya tidak fokus, dan membuat pikiran menjadi overload informasi. Jadi bingung memilah, mana yang ditindaklanjuti dulu. Akhirnya beberapa waktu lalu saya putuskan untuk mengatur jam online, hanya aktif di jam-jam tertentu di saat fisik dan pikiran saya cukup senggang dan siap menerima informasi. Sedikit dampak negatifnya, saya tidak merespon cepat hal-hal yang mungkin sedang dibutuhkan jawabannya oleh orang lain.

Menurut Mas Adjie, apakah langkah saya sudah cukup tepat untuk diri saya? Atau ada masukan yang mungkin lebih efektif untuk saya terapkan?
Terimakasih sebelumnya.

Jawaban:
A. Iya, isi yang spesifik dan berkelanjutan.
Tekun dan konsisten. Hanya tetesan air di titik batu yang sama dan terus-menerus yang bisa memecahkan batu…

B. Sekilas yang saya tahu dari pertanyaan ini, langkah tersebut sudah cukup tepat. Saran saya: komunikasikan sebaik mungkin kepada orang-orang yang berhubungan denganmu mengenai jammu online dan minta mereka memahaminya. Tidak perlu terlalu cemas kalau tidak segera baca dan balas.

Mindfulness melatih diri kita, salah satunya agar tidak diserang FOMO (Fear Of Missing Out). Tidak tahu semuanya itu tidak apa-apa.  Biar Google aja yang tahu semuanya.

Pertanyaan #7 (Shofia)

Melakukan kebaikan niatnya hanya untuk saat ini- kini, kalau untuk kasus memberikan harta kepada keluarga yang suka memanfaatkan keberadaan anggota keluarga lain yang dianggap lebih berada seperti apa menyikapinya?

Jawaban:
Melakukan kebaikan nggak harus dengan memberikan harta. Kalau kasusnya sudah tahu seperti itu, maka melakukan kebaikannya bisa dengan mengajaknya berbicara baik-baik, diajak belajar berwirausaha, dan sebagainya.

Pertanyaan #8 (Cucu)

Bagaimana mengatasi kekhawatiran disaat kita harus melakukannya dengan cepat, tepat dan mendesak. Misalnya kita sedang berada di suatu tempat mendadak ada pesan penting yang mengabarkan misalnya ada salah satu dari anggota keluarga yang tertimpa musibah di tempat lain dan harus ditangani secepatnya. Kira-kira apa yang harus dilakukan terlebih dahulu?

Jawaban:
Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah berupaya berhenti sejenak, tenangkan diri, baru bertindak.
Memang terasa aneh, tapi tindakan yang kita ambil akan lebih tepat daripada tergesa-gesa ..

***

Bagaimana? Sudah puas bertanya-tanya tentang mindfulness? Kalau masih penasaran, tunggu diskusi selanjutnya tentang Mindfulness special for writer di Kulwap #ODOPfor99days pada 19 April 2006. Sementara itu, mari kita praktekkan ilmu keren ini dalam kehidupan sehari-hari.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: