Refleksi 33 hari kedua #ODOPfor99days

Alhamdulillah 66 hari telah berlalu . Sekarang kami memasuki penggal terakhir dari program #ODOPfor99days. Benar-benar masa-masa penuh perjuangan. Gabungan antara capek, malas, bosan, senang, perasaan get lost, ketagihan, semua tercampur aduk jadi satu.

Apa sukses yang diraih dalam 33 hari kedua?

Saya punya domain dotcom!!!

Sebenarnya tadinya saya tidak terlalu merasa penting untuk punya domain berbayar. James Dashner, penulis novel best seller Maze Runner aja bisa mendunia cukup dengan akun gratisan jamesdahner.blogspot.co.id – nya.

Tapi karena bergabung dengan komunitas blogger yang pada dotcom semua, jadi mulai deh terkontaminasi. Apalagi setelah tahu biaya punya domain dan hostingannya itu sekitar 200 ribuan setahun. Dipikir-pikir, masa iya sih ngaku jadi blogger tapi kok ya nggak modal banget. Nggak mahal-mahal amat gitu loh.

Akhirnya pada 24 Februari (#day38) saya resmi pindahan dari wordpress.com ke wordpress.org dan menggunakan domain shantystory.com. Sekalian buat fanpage Shanty’s Story di Facebook dan mengganti nama beken di Twitter, Instagram, dan Tumblr.

Walau cukup banyak postingan yang bolong pada penggal kedua ini, saya tetap bisa rutin menulis setiap hari. Cuma memang bentuknya tidak postingan yang utuh, hanya sekedar status panjang di Facebook atau komentar panjang di group WhatApp, yang biasanya segera saya copas dalam note. Siapa tahu suatu saat perlu untuk materi tulisan.

Begitulah, saya sekedar mengumpulkan penggal-penggal tulisan. Untuk menulis sebuah postingan utuh ternyata saya butuh waktu sangat lama. Bisa sampai 4-5 jam. Padahal setiap hari waktu menulis rata-rata hanya sekitar 1-2 jam.

Beberapa tulisan kebanggaan saya di penggal kedua ini adalah tulisan tentang pengalaman Sasya di Cikapundung, pengalaman sebagai stay at home mom,dan tulisan tentang tempat olahraga saya, BKOM. Senang sekali rasanya bisa berbagi informasi berharga ini.

Pada penggal kedua ini saya juga membuat 5 tulisan untuk mengikuti lomba-lomba seperti yang saya rencanakan sebelumnya dalam Refleksi 33 hari pertama #ODOPfor99days.  Walau tidak menang, tapi saya senang menuliskannya. Bagi saya, lomba menjadi ‘bingkai’ untuk tulisan yang memang ingin saya bagi. Ada atau tidak ada lomba, toh saya tetap akan menuliskan artikel-artikel tersebut.

Berikut tulisan-tulisan yang saya sertakan untuk beberapa lomba:

List tulisan lengkap untuk 33 hari kedua #ODOPfor99days bisa dilihat di sini.

Statistik Shantystory.com per 16 April 2016
Statistik Shantystory.com per 16 April 2016

Apa yang masih gagal dalam 33 hari kedua?

Yang masih tetap gagal adalah menemukan jam rutin untuk menulis. Khususnya jam rutin menulis yang benar-benar fokus tanpa nyambi bersosmed ria. Saya masih tetap menulis sesuka hati. Bisa menulis seharian hingga melupakan urusan yang lain, bisa tidak menulis apa-apa sama sekali untuk postingan.

Dan benar sekali, saya masih gagal menerapkan ilmu yang pernah disampaikan Dewi Lestari dalam salah satu tipsnya yang pernah saya tulis di sini, untuk tidak bersosmed ria saat menulis. Hadeuh…ini masih susah. Karena saat menulis saya biasa membuka banyak jendela dalam rangka mencari data. Dan sosmed termasuk salah satu tempat pencarian data favorit saya.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu merasa terbebani dengan kewajiban One Day One Post. Karena buat saya targetnya adalah menulis setiap hari. Saya nggak mau jadi stress sehingga harus menuliskan post ala kadarnya demi mengejar setoran. Kalau bisa Alhamdullillah, kalau tidak bisa ya berusaha untuk bisa. Kalau bener bener nggak bisa, ya tidak apa-apa juga. Selama saya bisa menulis dengan hati dan perasaan senang.

Apa rencana untuk 33 hari ketiga?

Entah karena efek membaca tulisan Langit Amaravati tentang blogger atau karena efek membaca buku Sejenak Heningnya Adjie Silarus, menjelang akhir penggal 33 hari kedua ini, saya mulai mempertanyakan lagi tujuan saya nge-blog. Saya kira saya mulai kesasar dan kehilangan kompas.

Apakah saya mau jadi blogger profesional yang websitenya harus mendapat peringkat tinggi dalam mesin pencarian google? Apakah saya mau menjadi blogger yang menjuarai lomba-lomba dari sejumlah brand? Apakah saya mau sekedar menulis dan berbagi? Apakah saya kembali pada tujuan awal untuk menulis sebuah buku?

Semua pilihan itu ada konsekuensinya dan saya harus memilih untuk fokus pada sesuatu kalau ingin berhasil.

Sementara ini saya memilih untuk kembali pada jalur yang lurus, dengan keinginan untuk sekedar berbagi pengalaman dalam bentuk tulisan. Pengalaman saya pribadi. Pengalaman yang pernah saya alami. Minimal bermanfaat buat saya sendiri sebagai pelepas stress dan isi kepala yang sangat banyak ini. Semoga bisa bermanfaat buat orang-orang terdekat saya sebagai rekaman sejarah perjalanan hidup kami. Andai itu bisa bermanfaat buat banyak orang lain, Alhamdullillah.

Pentahapan menulis

Ada ilmu baru yang berusaha saya terapkan pada 33 hari terakhir ini. Yaitu ilmu membagi-bagi pekerjaan menulis menjadi porsi yang lebih kecil-kecil sehingga waktu lebih efisien. Sepertinya saya akan mencoba membagi tahapan menulis seperti ini:

Tahap 1 Membuat draft ide. Semua ide yang ada di tampung dulu ‘sketch book’. Satu ide dalam 1 lembar. Tulisan tangan saja supaya bebas. Disana saya bisa membuat outline tulisan dulu. Saya mau bilang apa sih? Kira-kira isinya apa sih? Perlu data apa saja?

Tahap 2 Mengumpulkan bahan. Bisa dalam bentuk link sumber data, foto, wawancara, quotes, dan sebagainya.

Tahap 3 Menulis. Hanya menulis saja! Tidak pakai cari data, tidak pakai sosmed, tidak pakai editing.

Tahap 4 Editing and Revision.

Tahap 5 Publish di blog. Its only one click away.

Tahap 6 Sharing time. Ternyata berbagi tulisan di sejumlah komunitas yang diikuti ini penting dan perlu waktu khusus.

Untuk menyelesaikan 99 tulisan di program #ODOPfor99days ini, saya berencana untuk membongkar dan menyelesaikan semua tulisan-tulisan lama yang selama ini ditinggal bulukan di dalam laptop. Sayang sekali kalau cuma bulukan di laptop. Baru setelah itu saya akan membuat draft tulisan untuk rencana program 30 hari Ramadan. Menulis itu ternyata memang perlu bertahap. Tidak bisa sekali jadi.

Semangat!!!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: