My first week in IATSS Forum

Bisa dibilang mengikuti IATSS Forum adalah pengalaman yang paling mengesankan dalam hidup saya. Selama 55 hari tinggal bersama dengan 17 teman dari 9 negara Asean di Jepang. IATSS Forum adalah kegiatan yang didanai oleh para pendiri Honda Motor Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa yang bertujuan mengajak professional muda dari Asean untuk belajar dan berpikir bersama di Jepang.

Kegiatan yang dimulai tahun 1985 ini menyeleksi 4 orang dari tiap negara setiap tahunnya untuk diberangkatkan dalam 2 angkatan yang berbeda. Alhamdullilah, saya bersama sahabat saya, Ermida Simajuntak (Mida) dari Surabaya mendapat kesempatan untuk berada di Jepang selama 55 hari pada bulan Mei-Juli 2003.

Tanggal 13 Mei tengah malam kami meninggalkan Jakarta menuju Bandara Narita di Tokyo. Buat kami berdua ini adalah pengalaman terbang terlama yang pernah kami alami. Saya ingat bagaimana bingungnya saya ketika terbangun oleh sinar matahari dari jendela pesawat. Masya Allah saya harus sholat subuh, tapi mengapa sudah terang benderang begini. Dan lebih kaget lagi ketika saya melihat ke jam tangan saya yang menunjukkan pukul 3. tentu saja masih waktu Indonesia. Apa yang terjadi? Saya sempat kebingungan beberapa menit dan berusaha berpikir. Saya baru ingat bahwa Jepang punya perbedaan waktu 2 jam dengan Jakarta. Berarti sekarang sebenarnya sudah jam 5. Dan saya juga ingat bahwa subuh di Jepang adalah sekitar pukul 3 pagi waktu setempat. Sekarang sudah pukul 5, jadi tentu saja sudah terang benderang. Bisa dibilang ini lebih tepat untuk sholat dhuha.

Kami tiba di Bandara Narita pukul 9 waktu setempat. Subhanallah, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di negeri ini dengan usaha saya sendiri. Tapi tidak banyak waktu untuk bermelankolis-melankolis, kami harus mengurus transit ke Nagoya.

Kami melalui sejumlah antrian imigrasi dan karantina SARS dengan agak terbata-bata karena ternyata banyak orang di bandara ini tidak bisa bahasa Inggris. Saya sendiri bisa dibilang nol kemampuan bahasa Jepangnya. Tapi untunglah Mida yang telah berpengalaman 2 tahun kursus bahasa Jepang bisa mempraktekkan ilmunya.

Iteung saba Jepang

Sambil menunggu penerbangan ke Nagoya, kami menikmati keindahan Bandara Narita dengan noraknya. Dan persis sama seperti Mater dalam film Cars 2, kami terpesona pada toiletnya. “Ada dryernya!!!” Tapi yang benar-benar saya suka adalah tersedianya toilet paper untuk diletakkan di dudukan toilet. Ini baru bener, jadi kehigienisan sanitary-nya terjaga.

Di Nagoya, kami sudah dijemput oleh staff IATSS Forum. Dari bandara kami naik kendaraan pribadi dan memakan waktu sekitar 1.5 jam menuju Suzuka di Mie Prefecture. Sepanjang perjalanan saya terus terang masih takjub dengan pemandangan di sekitar. Nggak jauh beda dengan Kabayan saba Kota.

Sepanjang jalan saya melihat banyak hutan seperti di Indonesia juga. Cuma bedanya adalah warna daunnya. Di Indonesia warna daun ya hijau. Disini juga hijau, tapi bedanya hijaunya berdegradasi. Ada hijau muda, hijau pucat, hijau tua. Bunganya juga warnanya indah-indah. Yang kuning, benar-benar kuning menyilaukan. Yang pink, benar-benar pink terang. Sayang sekali kami tidak sempat melihat masa mekarnya bunga sakura yang berakhir seminggu sebelumnya.

Rumah Nobita
Rumah Nobita di komplek yang maha bersih. Itu jalan di vacuum cleaner apa ya?

Ketika melewati perumahan, saya merasa seperti déjà vu. Ini kan seperti kompleks rumahnya Nobita di Doraemon. Rumah-rumah kecil yang rapi dengan jalan-jalan yang bersih. Dan yang bikin saya terpesona lagi adalah tidak ada air menggenang di jalan. Saat itu sempat hujan lebat, tapi benar-benar tidak ada air menggenang di jalan. Miringnya sepertinya sudah diperhitungkan dengan benar untuk menjamin air yang jatuh harus langsung masuk ke selokan. Sebagai negara yang memiliki kepadatan 3 kali lipat dari Indonesia, kita memang bisa melihat bagaimana penataan kota mereka terencana dengan baik.

Menjelang pukul 5 sore akhirnya kami tiba di markas besar IATSS Forum di Suzuka Circuit. Suzuka Circuit adalah sebuah komplek besar sejenis Ancol yang terletak di tengah kota Suzuka. Seperti juga Ancol, Suzuka Circuit memiliki taman rekreasi seperti Dufan, Camping ground, Hotel besar dan kecil (lodge),  hutan wisata, dan tentu saja yang paling terkenal adalah Suzuka Circuit itu sendiri.

Di track sepanjang 5.8 km sepanjang tahun selalu dipenuhi oleh balapan motor dan formula berstandar international. IATSS Forum terletak di Lodge Iris. Oh iya, semenjak pimpinan komplek ini diganti beberapa tahun sebelumnya, komplek ini jadi dipenuhi dengan bunga. Nama-nama hotel dan lodge-nya juga diganti. Ada Hotel Flower Garden, Hotel Kalmia, Hotel Jasmine, Hotel Lavender, Lodge Iris. Taman-taman di sekitar kompleks ini juga dipenuhi oleh bunga-bunga berbagai warna. Disini saya pertama kali melihat mawar terbesar dengan berbagai warna ditanam di pinggir-pinggir jalan.

Terus terang rasa hati ini terharu juga ketika akhirnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bangunan IATSS Forum yang gambarnya selalu terpasang di pintu lemari kamar saya selama beberapa bulan terakhir ini. Di bagian depan terdapat sebuah taman berbentuk melingkar. Disekelilingnya berdiri 11 tiang bendera. Disana berkibar bendera dari 9 negara Asean (Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam), bendera Jepang dan tentu saja bendera IATSS Forum. Sebelumnya kami sudah diberitahu bahwa kami bergantian bertugas untuk mengibarkan bendera setiap harinya.

Kami disambut oleh staff IATSS Forum yang lain. Karena waktu Ashar hampir habis, tentu saja yang saya tanyakan pertama adalah dimanakah letak mushola di gedung ini. Ada mushola? Itulah hebatnya IATSS Forum, mereka menyediakan ruang kecil untuk 2-4 orang berbentuk segi 6 sebagai mushola. Salah satu sisi dindingnya ditandai dengan keramik yang berbeda sebagai tanda kiblat. Tidak terlalu buruk untuk negara dimana Islam adalah minoritas.

Kamar sendiri

room3Setelah sholat saya kembali ke kamar untuk beristirahat. Setiap partisipan mendapat kamar masing-masing. Jadi di Lodge Iris ini setidaknya mereka memiliki 20 kamar. Kamarnya tidak terlalu besar. Seperti juga kamar hotel pada umumnya, kamar seluas 4×3 meter ini dilengkapi oleh 1 single bed, 1 meja dan lemari belajar, sofa panjang, tv dan kulkas kecil. Ketika aku membuka jendela, wow, pemandangan hijaunya hutan kecil langsung terlihat. Di kejauhan aku bisa melihat Bianglala nya Suzuka Circuit.

room2

Tidak terasa waktu berlalu, entah berapa lama saya menghabiskan waktu menikmati kamar ini, membongkar barang bawaan saya, menatanya, dan membuatnya senyaman mungkin. Saya akan tinggal dikamar ini selama hampir 2 bulan.

room1

Dan sekarang saya merasa lapar. Wah ternyata memang sudah waktunya makan malam. Tapi dimana ya? Saya lupa menanyakannya. Saya pun menelpon kamar Mida, tidak ada yang menjawab. Pasti dia sudah pergi makan malam. Keluar dari kamar, saya berkeliling sambil mengira-ngira dimanakah cafetarianya.

Ternyata tidak jauh, di lantai 1. Ketika membuka pintu, aduh kaget juga melihat banyak orang disini. Mida ada disana dan memperkenalkan saya pada teman-teman yang lain. Ternyata partisipan dari Malaysia, Thailand, Myanmar dan Kamboja sudah berkumpul disini. Agak grogi juga. Sebenarnya sekitar 3 bulan sebelum ini, kami sudah saling mendapatkan alamat e-mail partisipan yang lain, dan saya sudah berhubungan beberapa kali dengan beberapa di antara mereka.

Rasa grogi saya ternyata cepat hilang, malam itu juga kita sudah seru bertukar cerita tentang penerbangan dan keadaan masing-masing. Terus terang saya pada awalnya sangat takut kalau saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka karena bahasa Inggris saya tidaklah terlalu bagus. Ternyata, ketika bertemu mereka semua, segala aturan tata bahasa Inggris tiba-tiba lenyap dari kepala saya. Saya bicara apa saja yang saya mau dan ternyata mereka mengerti. Itu cukup. Sebenarnya yang fasih berbahasa Inggris itu hanyalah orang Singapura dan  Filipina. Ada teman dari Thailand juga bagus bahasa Inggrisnya, ternyata itu karena mereka memang pernah mendapat pendidikan di Amerika. Sisanya, ya so so lah.

Hanya dengan 7 staff

Ketika sarapan pagi pukul 7.30, kami bertemu dengan partisipan dari Filipina yang baru tiba tadi malam. Joel dari Pepsi Cola Company (bukan Coca Cola katanya berulang kali untuk memastikan) dan Monette dari Commision on Population Manila. Hari ini acara dimulai dengan orientasi di Seminar Hall pada pukul 9 pagi.

Tempat duduk kami sudah diatur berdasarkan alphabet Negara. Saya duduk diantara teman dari Laos dan Mida. Acara dimulai dengan sambutan dari Tommy san, direktur IATSS Forum. Ia memperkenalkan seluruh staffnya.

Bisa menebak jumlah staff sebuah kegiatan berskala ASEAN yang dilaksanakan 2 kali setahun ini? Ternyata cuma 7 orang. Mereka ini lah tulang punggung penyeleksian partisipan, persiapan kegiatan dan mengatur jalannya kegiatan pada hari H. Kantor mereka di Lodge ini juga berukuran tidak lebih dari 3 x 10 meter yang terdiri dari meja kerja untuk 7 orang dan 1 meja bundar untuk rapat.

Memang Tommy san punya ruangan sendiri di lantai 2 tapi dia lebih sering terlihat bersama anak buahnya.  Ruang kerjanya hanyalah untuk menjamu tamu penting atau menyelesaikan persoalan yang betul-betul perlu privacy.

Tepat waktu versi Jepang

Dalam kesempatan ini mereka menjelaskan sejumlah peraturan yang berlaku. Sangat rinci seperti penekanan untuk selalu tepat waktu. Setelah beberapa hari berlalu saya baru mengerti dengan apa yang mereka maksud dengan tepat waktu. Tadinya saya pikir tepat waktu itu artinya bahwa saya berada ditempat pada waktu yang telah dijanjikan tanpa terlewat 1 detik pun.

Ini sudah luar biasa mengingat bagaimana kita di Indonesia tepat waktu itu bisa berarti toleransi 30 menit sampai 1 jam. Ternyata saya salah. Tepat waktu bagi mereka adalah sudah berada ditempat setidaknya 5 menit sebelum acara. Keterlambatan kita benar-benar bikin mereka senewen pada beberapa hari pertama. Namun akhirnya kita mengerti dan mulai terbiasa untuk sudah berada ditempat 10 menit sebelumnya.

Kami juga mendapat penjelasan mengenai SARS. Merebaknya SARS ternyata sangat peka di Jepang. Sebenarnya kegiatan IATSS Forum juga terkena dampaknya. Semestinya ada program homestay dengan keluarga jepang pada salah satu weekend bagi partisipan, namun karena tidak banyak host family yang bersedia, jadi kegiatan itu ditiadakan.

Wah sedih sekali. Tidak hanya itu, kami juga diminta tidak keluar Suzuka Circuit selama 10 hari. Bahkan tidak boleh untuk berkeliaran di daerah hotel. Ya ampun, kami jadi seperti penyakitan begini. Padahal sebelum tiba disini, kami sudah melampirkan surat keterangan dokter seperti yang diminta, dan sudah lolos dari bagian quaranteen di bandara. Kami bahkan terancam diminta untuk memakai masker pada acara opening ceremony. Untung saja tidak jadi. Kebayang betapa jeleknya kalau kami harus berfoto dengan masker di Opening Ceremony. Orang Jepang ini memang suka paranoid berlebihan.

(1550 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: