English Preparation for IATSS Forum Japan

Kalau lihat aplikasi beasiswa berbahasa Inggris banyak orang yang stress duluan. Minder karena bahasa Inggrisnya berantakan. Tos dulu sama saya kalau begitu. Bahasa Inggris saya juga parah sekali. Buat memahami application form saja saya harus buka kamus bolak-balik. Entah kenapa, otak saya pada dasarnya nggak bersahabat banget urusan bahasa. Jangan kan bahasa Inggris, bahasa Sunda aja yang jelas-jelas tinggal di Jawa Barat hingga puluhan tahun lidah ini berasa nggak luwes-luwes ngucapinnya.

Ketika kuliah menjelang semester akhir, saya masih menangis sedih karena nggak bisa baca text book bahasa Inggris. Untung ada dosen yang baik hati dan tidak sombong yang sabar mengajarkan mahasiswanya ini bagaimana cara baca buku berbahasa Inggris dengan melihat index dan daftar isi.

Tapi saya pengen banget bisa lolos program IATSS Forum di Jepang ini. Program ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Jadi bagaimana dong?

Ini yang saya lakukan. Untuk baca formulir, saya buka kamus. Demikian juga untuk menuliskan jawaban saya dalam bahasa Inggris. Setelah itu saya minta proofreading dari teman-teman yang bahasa Inggrisnya jagoan. Beberapa teman biar lebih meyakinkan. Jadi soal formulir aplikasi tidak ada masalah. Terkirim dengan sempurna dengan bahasa Inggris yang di jamin benar. Demikian juga untuk persiapan wawancara seperti sudah saya ceritakan di atas.

Tapi sebenarnya ya, kata para staff IATSS Forum setelah saya di Jepang, sebenarnya mereka nggak terlalu memperhatikan grammar yang betul. Mereka juga orang Jepang kesulitan kok berbahasa Inggris. Yang penting maksudnya ngerti lah, itu sudah cukup.

Tinggal mempersiapkan diri menghadapi acara sebenarnya di Jepang. Saya akan hidup bersama dengan teman-teman berbagai negara selama 2 bulan, berdiskusi, mendengarkan seminar, ngobrol-ngobrol, nge-gosip. Masa harus dihapalkan juga?

English Club

Kalau untuk kursus formal, entah kenapa saya nggak pernah terlalu berminat. Belajar hanya 2 kali seminggu masing-masing 2 jam rasanya tidak akan efektif. Mahal lagi. Tahu kan, saya mah sukanya yang gratisan aja. Akhirnya selama 5 bulan dari sejak wawancara hingga berangkat, saya memilih untuk road show ke sejumlah English Club yang ada di Bandung. Rajin banget dah dari satu klub ke klub lain.

English Club itu seru karena disana kita langsung ngobrol aktif dengan tema tertentu. Favorit saya adalah English Club The Center yang dulu tempatnya di depan RASE FM Setiabudi. Pengelolanya adalah keluarga bule, Pak Steve kalau tidak salah namanya. Di sana banyak bule suka menyasarkan diri, jadi kami bisa berlatih sama mereka juga. Kegiatannya seru-seru, selain tempat hang out anak-anak, ada juga book club setiap hari tertentu, atau acara camping bersama. Saya pertama kali tahu soal budaya bakar marshmellow camping ya dari mereka ini. Teman-temannya juga asyik-asyik. Kemampuan bahasa Inggris saya meningkat pesat di sana.

Ketika searching tentang The Center untuk tulisan ini, ternyata mereka masih ada!!! Websitenya ada di sini, Twitternya ada di sini, dan Facebooknya ada di sini. Mereka sekarang bermarkas di Cihampelas 186 kav 17. Jadi kangen pengen gabung lagi sama The Center.

Singkat cerita, siaplah saya berangkat ke Jepang pada Mei 2003. Saya ingat banget kejadian yang paling bikin deg-degan itu. Saat makan malam di mana saya harus bertemu dengan seluruh partisipan lain di ruang makan IATSS Forum. Aduh, mau ngomong apa ya saya. Saya bisa ngomong nggak ya? Mereka akan ngerti ucapan saya nggak ya? Alhamdulillah, ternyata semua lancar dan cair. Walau bahasa Inggris patah-patah, saya survive lah buat 2 bulan di Jepang. Masih tetap hidup setelah melalui masa-masa penuh peluh untuk presentasi dalam bahasa Inggris, memimpin diskusi, nge-rumpi sama teman, sampai menawar harga barang. Its all in English. So, Bahasa Inggris tidak lah sesulit yang kita bayangkan.

Selamat mengejar beasiswa dan kesempatan berpetualang ke luar negeri!

Pengalaman saya selama mengikuti IATSS Forum bisa di baca di sini ya.

(580 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: