Kulwap Mindfulness bersama Adjie Silarus di IIP Bandung Selatan

Setelah baca konsep mindfulness Adjie Silarus baik di website ataupun buku-bukunya, muncul banyak pertanyaan di benak kita. Untung saja si penulis buku cukup baik hati dan tidak sombong untuk mau meluangkan waktu menjawab sejumlah pertanyaan teman-teman yang masih penasaran dengan konsep ini.

Pada Jumat 8 April 2016 lalu, ibu-ibu keren di Grup WhatsApp Institut Ibu Profesional (IIP) Bandung Selatan berkesempatan dapat Kulwap bersama Adjie Silarus. Maka ‘murudul’ lah sejumlah pertanyaan. Tidak terasa, waktu 1 jam sesuai perjanjian menjadi perlu diperpanjang lagi selama 30 menit.

Diskusi dibuka dengan menyampaikan materi pembuka pada pukul 20.00 WIB untuk sekitar 40-an Ibu-ibu yang telah mengisi absen virtual. Kelasnya santai kok. Boleh sambil icip-icip penganan virtual yang telah disiapkan.

Materi Pembuka

Berikut Materi Pembuka Kulwap tentang mindfulness dari Adjie:

Di sepanjang hidup saya sampai sekarang, saya paling sering diusik oleh pertanyaan:

“Bagaimana saya bisa merasa tenang, bahagia dan damai di tengah rutinitas sehari-hari yang rentan terhadap stres dan semrawut?”

Saya terus mencari, melalui buku-buku, melalui percakapan-percakapan, melalui pelajaran-pelajaran hidup yang ternyata tak bisa saya dapatkan dengan instan, hingga pada akhirnya jawaban yang saya temukan sangat sederhana—meskipun tidak selalu mudah untuk dilakukan, yaitu: belajar untuk sadar penuh hanya di sini- kini.

Separah apapun hari yang saya lalui di luar kendali, betapa pun kehidupan saya penuh tekanan, memusatkan raga dan pikiran untuk utuh hanya berada di sini-kini dapat menjadi semacam oase di tengah gurun yang terik.

Hanya berada di sini-kini mempunyai kekuatan untuk mengubah secara drastis kehidupan saya, dan sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sederhana.

Saya mengenal “mindfulness” dan membuat saya takjub karena semua pemicu stres atau masalah saya dapat dibantu diatasi dengan cara sesederhana: Sadar penuh hanya berada di sini-kini. Bukan terlalu menyesali masa lalu, bukan pula berlebihan mengkhawatirkan masa depan …

Sejenak Hening
Sejenak Hening

Pertanyaan-pertanyaan

Ada 6 orang yang mengirimkan pertanyaan 2 hari sebelum Kulwap. Dan ada tambahan 3 pertanyaan lagi saat Kulwap berlangsung. Berikut pertanyaan-pertanyaan seputar mindfulness.

Pertanyaan #1 (Yola Widya)

Saya mengetahui bahwa dalam satu waktu lebih baik hanya memikirkan satu hal saja karena bila memikirkan banyak hal dalam satu waktu ternyata buruk untuk daya ingat bisa cepat pikun. Nah bila dengan melatih mindfulness kita sebagai ibu-ibu bisa mendapatkan banyak manfaat bagaimana dengan gelar yang disandang ibu-ibu sebagai multitasking? Rasanya sulit kalau sedang masak tidak sambil cuci piring atau menyapu atau mencuci baju. Apakah mindfulness disini hanya diaplikasikan untuk hal-hal tertentu saja misalnya pada waktu solat atau pada saat kerja di kantor. Mohon penjelasannya.

Jawaban:
Benar sekali, multitasking berdampak buruk daripada single tasking. Ibu rumah tangga juga rentan multitasking. Single tasking tidak harus berarti mengerjakan sedikit kegiatan. Single tasking dan mindful bisa berarti mengerjakan banyak hal, tapi saat mengerjakan satu hal, pikirannya hanya fokus pada satu hal tersebut.
Kalau memang terpaksa masak sambil cuci piring, atau setrika sambil nonton infotainment. Tidak apa-apa, tapi saat tubuh masak, pikiran hanya sadar penuh masak. Saat tubuh cuci piring, pikiran hanya sadar penuh cuci piring, dan sebagainya. Mindfulness tidak hanya diaplikasikan untuk hal-hal tertentu. Mindfulness bisa dan sebaiknya diaplikasikan dalam rutinitas sehari-hari.

Pertanyaan #2 (Kenny Dewi)

Saya ingin bisa mengaplikasikan mindfulness dalam kehidupan saya, tapi masih ada pertentangan untuk menerimanya. Oleh karena itu saya ingin bertanya :

A. Perkataan “Hadir saat ini, karena masa lalu telah terjadi dan masa depan belum tentu terjadi.” Lalu bagaimana pandangan Mas Adjie tentang arti sebuah visi ataupun cita-cita?

B. Perkataan menyelaraskan diri dengan alam adalah sebuah kata yang sangat indah. Tetapi jika sesuatu hal tidak dapat terjadi sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan, apakah artinya kemudian kita harus legowo dan mengatakan bahwa alam semesta belum mengijinkan dan kemudian kita tidak berusaha lagi untuk mencapai tujuan kita?

C. Untuk beradaptasi dengan ritme kehidupan yang serba cepat sekarang ini, maka seringkali saya berperan sebagai seorang yang multi tasking. Tidak terlalu banyak, mungkin hanya memikirkan/mengerjakan 2 atau 3 hal sekaligus. Dan itu masih dalam batas kemampuan saya, meskipun harus diakui terkadang stress jugamengerjakannya. Namun jika tidak demikian, maka ada pekerjaan yang tidak terselesaikan dan itumalah membuat saya lebih stress lagi. Bagaimana menurut Mas Adjie?

D. Pertanyaan ini bisa juga tidak dalam wilayah Mas Adjie, bisa jadi juga justru merupakan fondasi bagi apa yang sudah Mas Adjie lakukan. Menurut Mas Adjie, apakah perbedaan antara spritual dan agama?

Jawaban 2.A.
Manusia dibagi menjadi 2 ranah:
1. Doing
2. Being

Visi, cita-cita, keinginan, juga berharap, bergerak cepat, masa depan, mendapatkan dan berusaha supaya tidak lepas yang sudah didapatkan itu termasuk “Doing.”

Sedangkan yang termasuk “Being” adalah menerima, ikhlas, bersabar, hening, saat ini, di sini-kini.
Pandangan saya tentang visi atau cita-cita, doing, tidak ada yang salah.
Apalagi buat anak-anak muda. Tapi akan kelelahan tanpa dibekali “being”.

Karenanya buat orang-orang yang sudah bertumbuh dewasa mengenal istilah non-doing, effortless doing, action without action, melakukan sesuatu tanpa punya harapan, hanya ikhlas. Ini kekuatannya tak terbendung …

Jawaban 2B.
Berusaha sewajarnya saja, tidak perlu terlalu keras, tidak perlu terlalu dipaksakan.
Kalau memang jalannya harus ke kiri, meskipun berusaha keras belok ke kanan, ya mungkin jalannya agak berbeda, tapi titik akhirnya sama.

Teringat zaman sekolah. Saya mati-matian belajar. Teman saya belajarnya seenaknya. Hasil ujiannya bagus dia.
Setiap orang sudah punya keunikannya sendiri-sendiri. Ikan bahagia jadi ikan. Bermain air riang gembira. Bunga bahagia jadi bunga. Mekar indah terkena sinar matahari. Semoga kita manusia bahagia menjadi manusia apa adanya diri kita …

Jawaban 2C.
Saran saya, kalau memang kelelahan, ya berarti sudah terlalu banyak yang dikerjakan. Sehingga perlu dikurangi.
Caranya?
Tuliskan kegiatan apa saja yang dirasa perlu dikerjakan setiap harinya. Buat daftar. Sejelas mungkin.
Lalu beranikan diri untuk mencoret, merelakan ikhlas, kegiatan-kegiatan yang tidak benar-benar penting.
Mindfulness melatih diri untuk melepaskan ikhlas.
Hanya pilih kegiatan-kegiatan yang istilahnya MITMost Important Task.
Waktu terus berjalan jadi isi dengan hal-hal yang memang benar-benar dirasa penting untuk hidupmu masing-masing …

Jawaban 2D.
Mohon maaf pertanyaan ini tidak saya jawab terlalu lengkap di kesempatan ini.
Sekilas saja, agama dan spiritual saling melengkapi dan saling dukungJadi tidak perlu dipertentangkan …

Pertanyaan #3 (Nadia)

Saya pernah sedikit mempelajari materi mindfulness, tapi keluarga saya belum. Bagaimana untuk menjelaskan pada keluarga, bahwa kita sedang mempraktekan mindfulness.

Misal kasusnya begini:
Setelah punya anak, ibu saya selalu bilang pada saya untuk lebih gesit (*cenderung auto pilot, bayi menangis langsung disusui). Padahal, saya bukannya tidak sigap, tapi saya sedang berusaha “menghela napas, membuat jarak” antara kelelahan dan pengalaman yang saya alami agar saya jatuhnya tidak frustrasi .

Bagaimana ya cara untuk menjelaskan/mengajak kepada keluarga? Karena saya jadi “sering dimarahi” nih.

Jawaban:
Menjelaskan atau mengajak keluarga berlatih mindfulness, cara yang baik adalah bukan memaksa, atau menjelaskan dengan kemarahan. Tapi cara yang baik adalah dengan memberi contoh, menjadi teladan.

Kalau di tengah lingkungan yang menuntut cepat, gesit, ya tetap bersabar menghadapi lingkungan/orang seperti itu. Bersabar ini juga berarti berlatih mindfulness.

Mindfulness bukan hanya berarti mengurangi laju hidup, tapi juga bagaimana kita bersabar, memberikan senyuman, bersikap baik, kepada orang-orang di sekitar kita, apalagi kepada orang-orang yang dicintai …

The best way is the peaceful way.

Pertanyaan #4 (Rosita)

Bagaimana caranya supaya bisa melakukan mindfulness tersebut dalam keseharian kita?

Jawaban:
Sederhana. Bisa dimulai dari makan. Mindful eating. Biasanya kan kalau pas makan, sambil nonton tv, main gadget, dan sambil-sambil yang lain. Atau saat makan, pikiran mikirin tagihan hutang, cicilan rumah, masa depan anak, mikirin suami, dan sebagainya. 

Mindful eating: makan dan pikiran hanya benar-benar sadar penuh menikmati setiap suap makanan yang kita masukkan ke dalam mulut. Muncul rasa syukur yang berlimpah. Tidak harus selama makan melakukan mindful eating. Latihan di awal bisa mencobanya hanya beberapa sendok makan dulu.

Selain makan, misal saat bangun tidur, berhenti sejenak, ga langsung gegabah, dan melakukan rutinitas pagi ini dan itu. Bisa juga melakukan mindfulness saat mandi, saat menyapu, saat memasak, saat menulis.
Dan pastinya saat sholat, sembahyang. 

Mindfulness juga bisa dilakukan saat bermain bersama anak, atau saat mengasuh anak. Melihat anak dan sadar penuh hanya melihatnya sebagai anak. Terlepas dari ketakutan, terlepas dari tuntutan, terlepas dari kekhawatiran akan masa depannya, terlepas dari harapan. Hanya melihatnya apa adanya sebagai anak. Dan peluklah.

Pertanyaan #5 (Iis)

Saya orangnya kalau mengerjakan sesuatu itu selalu sambil mendengarkan musik, karena terasa lebih ringan.*perasaan,mungkin karena senang dengan musik. Misalnya, mengerjakan pekerjaan domestik sambil mendengarkan musik, itu akan lebih cepat selesai karena ga banyak iklan kesana kemari. Apa itu juga bisa disebut mindfulness?

Jawaban:
Mengerjakan sesuatu sambil dengerin musik bisa dikatakan mindful bisa juga tidak. Misal nyuci sambil dengerin musik. Kalau dengerin musik dan pikiran menjadi lebih fokus, sadar penuh, mencuci maka itu berarti mindful. Tapi kalau dengerin musik dan malah bikin pikiran teringat kenangan yang berkaitan dengan musik tersebut, atau bayangin penyanyinya atau teringat seseorang, maka bukan mindful …

Pertanyaan #6 (Shanty Dewi Arifin)

Saya punya 2 pertanyaan:

A. Bagaimana mengatasi rasa bersalah mengecewakan orang lain dengan mengabaikan kewajiban karena kita memutuskan untuk menyedikitkan to do list.

B. Apakah semua orang pasti cocok dan bisa menerapkan mindfulness? Kira-kira kriteria orang yang seperti apa yang mungkin kurang cocok dengan konsep mindfulness?

Jawaban 6A:
Sebelum menyedikitkan to do list, komunikasikan sebaik mungkin, sekali lagi sebaik mungkin, kepada orang-orang yang berkaitan dengan to do list tersebut. Yang perlu kita ingat, the best way is the peaceful way. Jadi sebisa mungkin, tidak mengecewakan, apalagi sampai menyakiti hatinya.

Kalau sudah terlanjur, ya tidak apa-apa. Minta maaflah kepadanya sehingga menyembuhkan rasa bersalahmu …

Jawaban 6B.
Meskipun saya pembelajar mindfulness, tapi mindfulness mengajarkan saya untuk tidak gegabah menggeneralisasi, pukul rata. Tidak seperti praktisi marketing atau bisnis yang menyerukan kalau tekniknya pasti berhasil untuk semua orang. Mindfulness di arah jalan yang berbeda, being bukan doing.

Berdasarkan pengalaman saya, setiap orang ingin hidup bahagia. Dan kebahagiaan menjadi kering dan terasa hampa, saat berusaha diperoleh dengan doing, doing, doing … Kebahagiaan diciptakan dengan being.
Bukan saat mendapatkan, meraih, menggenggam, tapi kebahagiaan tercipta saat melepaskan, mengurangi keinginan, mengurangi harapan, ikhlas, dalam hening. Dan mindfulness melatih diri kita untuk ini.
We are human being, not human doing …

Sadar Penuh Hadir Utuh
Sadar Penuh Hadir Utuh

Pertanyaan #7 (Rosita)

Menikmati setiap proses kehidupan itu gampang-gampang susah dan kesannya menerima apa adanya sedangkan Orang sepertinya lebih “wah” jika bisa melakukan berbagai hal dalam kesehariaannya. Tanggapannya bagaimana?

Jawaban:
Wah belum tentu memang benar-benar wah. Cukup banyak pengingat yang dihadirkan dalam kehidupan kita.
Kehidupan yang terlihat wah, tapi ternyata di dalam dirinya merasa hampa, kering, bahkan hingga memutuskan bunuh diri. Semakin banyak orang memamerkan wah nya melalui media sosial, misal jalan-jalan ke luar negeri, dan sebagainya, tapi juga semakin banyak orang yang di setiap malam seperti ini menangis kesepian.

Arah perjalanan ke luar diri (doing) yang serba wah belum tentu juga merawat jiwa yang ada di dalam diri (being). Semakin wah malah bisa jadi semakin merasa menderita. Karena hidup bukanlah perlombaan wah.
Tapi perjalanan melepaskan, mengurangi, menerima ikhlas, mengalir …

Pertanyaan #8 (Elsa Dzuhuriah)

Saya masih suka berespon spontan (marah, berteriak, bahkan sakit hati), saat ada tekanan baik dalam pekerjaan atau pun dalam peran saya sebagai ibu rumah tangga, padahal bila sudah tenang tidak perlu berespon berlebihan. Pertanyaannya, teknis seperti apa yang bisa saya lakukan dalam mengaplikasikan mindfulness ini dalam kondisi tersebut?

Jawaban:
Tekniknya sederhana. Biasakan diri untuk jeda, berhenti sejenak. Setiap kali berganti kegiatan, berhenti sejenak, diam sesaat. Sehingga memperpanjang sumbu. Kalau sumbunya pendek, maka reaktif. Mudah terbakar. Mendapat perlakuan (stimulus), misal mendengar kata atasan, deadline pekerjaan, perilaku anak, langsung reaktif. Seolah tidak ada pilihan sikap/tindakan lain untuk menanggapi.

Jeda, berhenti sejenak, sesederhana menghela napas, tarik dan hembuskan napas tiga kali, maka membuat kita lebih mampu memilih respon-respon yang lebih baik.

Sekarang ini di Indonesia semakin banyak yang bersumbu pendek. Serba tergesa, dan sebagainya, karena terlatih doing, tapi lemah di bagian beingnya …

Pertanyaan #9 (Hasma)

Apakah mindfulnes bisa dikatakan sama dengan ‘khusyu’?

Saya tipe orang yang selalu “grasak-grusuk”, cenderung kaku dan selalu merasa terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Padahal dalam keadaan tidak diburu waktu. Pertama kenal konsep mindfulness saya sangat tertarik. Mencoba praktek dari hal kecil seperti makan..tapi belum bisa merasakan ‘hadir penuh’.. kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan untuk berlatih?

Jawaban:
Benar. Mindfulness bisa dikatakan sama dengan “khusyu”. Dan diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Seperti contoh saya tadi, melihat anak.

Bersabar ya kalau belum bisa merasakan “hadir penuh”. Ini memang slow fix, bukan quick fix. Dan memang menjadi tantangan buat kita, karena kita terbiasa quick fix. Waktu yang diperlukan untuk berlatih adalah sepanjang hidup.

Kita yang hidup dalam modernitas terbiasa cepat, cepat, cepat, dan sering tanya, manfaatnya/tujuannya apa, supaya dapat manfaat itu perlu waktu berapa lama. Dalam berlatih mindfulness, kita berlatih untuk sadar penuh, hadir utuh hanya berada pada saat ini, di sini-kini. Seolah seperti bola yang jatuh hanya di sini-kini. Pasrah, sumeleh. Sehingga juga melepaskan tujuan, manfaat, harapan, berapa lama.

Semakin punya tujuan, ingin dapat manfaatnya, berharap terlalu tinggi, maka pikiran semakin sibuk dan semakin melewatkan keindahan berupa anugerah kehidupan yang hanya ada di saat ini, di sini-kini …

Bahkan sampai sekarang pun saya masih terus belajar dan berlatih mindfulness. Setiap latihan adalah latihan awal bagi saya. Setiap detik adalah masa yang baru. Menjaga pikiran sebagai pemula. Setiap saat berbeda dengan sebelumnya. Di pikiran seorang pakar, hanya tersedia pilihan yang terbatas. Di pikiran seorang pemulai, pilihannya tak terbatas.

Kalau ada yang bertanya, “Mas Adjie, kapan mulai belajar mindfulness?” Saya akan jawab,
“Saya belajar mindfulness baru saja … Saya belajar mindfulness sejak saya mendengar pertanyaanmu itu tadi.”

Penutup

Sebagai penutup, Adjie menyampaikan sebuah kesimpulan yang menarik.

Jadi mindful atau tidak bukan tentang apa kegiatannya atau berapa banyak kegiatannya.
Mindful atau tidak itu tentang kondisi pikiran.

Contoh sederhana. Baca tulisan WA ini. Tubuh melalui mata membaca. Tapi apakah pikiranmu benar-benar membaca? Seringkali mata membaca tapi pikiran entah ke mana, hanya sedikit porsi pikiran yang benar-benar membaca. Porsi yang lainnya mikirin besok hari Sabtu mau ngapain, Senin ngapain, tadi siang ngapain, dsb. Pikiran lelah. Ketika 100% pikiran hanya sadar penuh membaca, berarti mindful.

Belajar dari alam, hanya air yang terus menetes di titik yang sama di sebuah batu yang bisa memecahkan batu.
Kerjaan maksimal ketika fokus …

Terima kasih, Ibu-ibu, sudah mau baca tulisan-tulisan saya di group WA ini. Semoga tulisan saya mudah dipahami. Memang akan lebih bisa dimengerti kalau bertemu langsung …

Bagi yang ingin ngobrol lanjut bisa melalui media sosial saya:
Twitter: @AdjieSilarus
FB Page: Adjie Silarus – student of life
Instagram: @AdjieSilarus
Website: AdjieSilarus.com

Demikianlah Kulwap bersama Adjie Silarus yang telah bersedia meluangkan waktu 1,5 jam lebih untuk menjawab pertanyaan Ibu-ibu IIP Bansel yang telah duduk manis di kelas virtual hingga pukul 21.30. Sampai bertemu di Kulwap Grup IIP Bandung Utara tgl 15 April 2016. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

(2320 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: