Belajar menikmati hidup dengan Sejenak Hening karangan Adjie Silarus

Seminggu yang lalu, dalam sebuah diskusi di grup WhatsApp, seorang teman bercerita tentang keberhasilannya Mindfulness untuk hadir di saat ini dalam mengerjakan sesuatu. Buat orang yang susah fokus, banyak keinginan, dan mimpi setinggi langit seperti saya, bisa berkonsentrasi utuh pada suatu pekerjaan adalah hal impian terasa begitu sulit di capai. Ternyata rahasianya kata teman saya Kenny, ada di buku Sejenak Hening karangan Adjie Silarus.

Langsung dong saya penasaran dan mulai googling tentang buku ini di www.adjiesilarus.com. Selain Sejenak Hening, Adjie telah menulis 3 buku lain yaitu: Sadar Penuh Hadir Utuh, Happy Breathing to You, dan Love Out Loud. Di websitenya, kita bisa baca tulisan-tulisan praktisi mindfulness ini dan kiprahnya sebagai founder dan CEO  Sukhacitta, sebuah perusahaan yang membantu banyak orang untuk hidup bahagia dengan pendekatan mindfulness.

Beneran deh, ini orang yang harus saya temui! I really have to meet this guy.

Mulai dari kenalan di Facebook, akhirnya 4 April lalu, kami bisa bertemu muka untuk membahas tentang konsep mindfulness dan buku-buku kerennya itu. Yang kepo dengan obrolan kami bisa baca tulisan teman saya Putri Yudha di websitenya putriyudha.wordpress.com Mengenal Mindfullness Bersama Adjie Silarus . 2 jam membaca Sejenak Hening dan 2 jam ngobrol langsung dengan si penulis, rasanya cukup buat saya untuk memutuskan mencoba mempelajari konsep menarik ini.

Sejenak Hening adalah buku sepanjang 300 halaman yang berisi kumpulan 40-an tulisan pendek yang ditulis Adjie di blognya. Pria kelahiran tahun 1983 ini sempat bercerita bahwa ia tidak pernah meniatkan untuk membuat buku dan menghubungi penerbit untuk diterbitkan. Seperti juga tertulis dalam buku Sejenak Hening, Fachmy Casofa yang juga editor di Penerbit Metagraf Solo, melihat kelebihan dari tulisan Adjie dan memutuskan untuk membukukannya. Fachmy tidak salah duga, buku itu laris manis hingga dicetak ulang sampai 4 kali dalam waktu sekitar 1 tahun sejak penerbitan pertamanya. Saya saja sempat keliling ke beberapa toko buku di Bandung untuk bisa menemukan 1 saja buku Sejenak Hening. Habis di mana-mana!

Saya suka layout setiap lembarnya yang memberikan spasi lebar di setiap paragrapnya. Kita jadi lebih enak untuk membaca dan memahami setiap makna dibalik kata-kata disana. Jadi wajar kalau saya mampu menamatkan buku itu dalam 2 jam saja.

 “There is a saying: yesterday is a history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the PRESENT.”  – Master Shifu dalam Kung Fu Panda. So enjoy your everymoment.

Dalam buku ini, pada dasarnya Adjie mengajak kita untuk menikmati setiap kegiatan yang dilakukan dengan sadar. Jangan terperangkap untuk terburu-buru karena harus mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Seolah-olah apa yang tidak ada dalam to do list adalah pekerjaan yang sia-sia dan mengganggu. Kita jadi kehilangan untuk menikmati setiap momen dengan tenang dan bahagia. Lambatkan ritme kehidupan, karena yang cepat belum tentu sehat. Ingat fast food atau makanan instan lainnya kan?

 

Mencoba praktek

Saya mencoba teori ini saat mencuci piring. Biasanya saya selalu terburu-buru dalam mencuci piring karena masih ada setumpuk pekerjaan lain yang harus dilakukan. Tapi saya mencoba untuk sekali itu untuk menikmati kegiatan mencuci piring.

Hanya ada saya dengan bak cuci piring yang penuh. Hanya kami berdua di dapur saya yang indah. Saya punya waktu 30 menit untuk kencan yang sempurna ini. Saya mencoba hadir utuh untuk piring dan gelas yang minta di elus-elus penuh kasih sayang. Berusaha untuk tidak selingkuh dengan ingatan-ingatan tentang tumpukan setrikaan atau masakan yang telah menunggu. Hanya ada saya dan piring kotor yang ingin segera dibersihkan. Dan rasanya memang luar biasa. Bagaimana mencuci piring dalam keadaan sadar itu tidak melelahkan, bahkan menyenangkan dan bisa dinimati.

Saya mencoba juga teori ini untuk pekerjaan-pekerjaan yang lain. Ternyata memang seperti ada rasa bahagia ketika kita menyadari bahwa kita memang punya hak untuk menikmati setiap apa yang kita kerjakan. Bukan untuk stress memikirkan bahwa pekerjaan itu harus selesai pada jam tertentu. Pekerjaan tersebut tidak harus selesai pada jam yang sudah ditentukan. Bisa saja kita menetapkan batas waktu, tapi itu sekedar patokan yang tidak membuat stress jika tidak terlaksana.

Seperti saat saya menjalani misi suci pendakian gunung setrikaan. Sudah berminggu-minggu rasanya setrikaan saya ini tidak pernah habis-habis. Selalu ada sisa karena waktu yang terbatas. Satu saat saya memutuskan untuk mencoret semua to do list dengan hanya menyisakan satu tugas yaitu menyelesaikan semua setrikaan ini.

Saat saya memutuskan itu, ada rasa lega. Saya pun menikmati pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Rasanya enak sekali. Saat anak mengganggu dengan minta dibuatkan roti atau sekedar ingin ikut bantu setrika, saya bisa santai melayaninya. Biasanya saya stress kalau diganggu saat mengerjakan sesuatu. Karena itu tidak ada dalam to do list, saya tertekan harus menyelesaikan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan saat itu, to do list saya hanyalah setrika, dan menikmati hal-hal disekitar saya mengalir begitu saja.

Saat ini saya tengah mencoba untuk menikmati saat bersosmed. Serius loh, bersosmed itu ternyata lebih nikmat jika kita khusyu dan fokus, daripada diselipkan disela-sela pekerjaan. Yang pada prakteknya bisa terbalik, bersosmed ria sambil disela-sela dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Nggak percaya? Cobain deh sendiri.

berlatih Sejenak Hening
berlatih Sejenak Hening

 

Poin menarik dari Buku Sejenak Hening

Beberapa poin menarik lain dari buku ini, diantaranya:

  • Kita itu hobi banget menunda. Termasuk juga menunda untuk bahagia. Kita hanya bisa bahagia jika tidak ada pekerjaan yang tertunda. Kita hanya akan bahagia jika punya uang banyak, anak sudah besar, prestasi sudah banyak. Kita jadi cenderung fokus pada “ingin menjadi bahagia” daripada “jadi bahagia” beneran.
  • Kita begitu mudah gelisah, baik karena pekerjaan yang belum selesai atau khawatir terhadap apa yang sudah direncanakan. Ini menyebabkan kita sulit untuk hadir secara utuh untuk orang-orang yang kita cintai. Bahkan tersenyum pun kita sering lupa. Padahal senyum kan gratis. Anak-anak itu tertawa sekitar 300x sehari, orang dewasa hanya 4x sehari. Makanya coba deh untuk menonton film lucu.
  • Kita juga punya kecenderungan menularkan stress. Bukan mengatasinya,kita malah mengajak orang lain untuk ikut stress bareng-bareng. To do list kita banyak banget, tahu-tahu anak rewel. Yang biasa terjadi adalah anak di bentak (ini sih saya). Pekerjaan tidak lebih cepat beres, tapi malah menularkan stress ke anak. Menghentikan wabah stress bisa jadi salah satu hadiah berharga yang dapat kita berikan kepada sesama. (hal 58)
  • Yang sering membuat kita tidak sadar dengan hidup kita adalah karena terlalu banyak bermimpi hidup di masa depan, kebiasaan menunda dan sikap perfeksionis.
  • Tips menghadapi hidup: berkumpul dan berdiskusi dengan orang yang memiliki minat yang sama. Jangan malah menguncilkan diri sendirian.
  • Ketika kemarahan datang, ubahlah menjadi tekad untuk melakukan perubahan. Bukan melakukan kekerasan yang malah mendatangkan masalah baru.
  • Terkadang, kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan bukan karena kita tidak pantas mendapatkannya, tetapi karena kita akan mendapat yang lebih baik.

Ilustrasinya seperti pengamen yang suaranya bagus dan cempreng. Ketika mendengar pengamen yang cempreng, kita bawaannya ingin buru-buru mengusirnya pergi dengan recehan. Tapi kalau ketemu pengamen yang suaranya bagus, kita ingin menahannya lebih lama untuk bisa menikmati keindahan suaranya. Setelah puas, kita akan memberinya imbalan yang sangat bagus. Jadi mau recehan atau uang kertas?

daftar isi Sejenak Hening

  • Hidup dapat berubah dalam waktu sekejap. Percaya nggak apa yang bisa terjadi dalam sekejap? Ada tabrakan yang parah atau sebaliknya ide brilian yang berharga jutaan dollar. Jadi percayalah kalau perubahan tidak selalu butuh waktu lama. Ia hanya butuh kesempatan dan waktu yang tepat. (hal 101)
  • Percobaan kelereng. Cobalah beli kelereng sejumlah sisa hidupmu. Kurangilah satu kelereng setiap hari. Tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu. Setiap kelereng yang terbuang, apakah yang kamu dapatkan?
  • Kendalikan diri untuk tidak terburu-buru. Kita tidak perlu menyangkal pendapat tanpa alasan yang jelas, dorongan untuk selalu cek notifikasi HP, dll.
  • Terlalu banyak berpikir itu percuma. Kadang kita terlalu memikirkan sesuatu sampai kita tidak bisa tidur.
  • Selain belajar memberi, kita juga harus belajar menerima. Kita sering merasa beban ketika menerima bantuan. Inginnya hebat sendiri. Padahal dalam kata terima kasih, mengandung makna untuk ‘ngasih’ kita pun harus ‘nerima’.
  • Lakukanlah apa yang kamu lakukan 100%. Termasuk makan. Jangan mulut makan, tapi pikiran ke mantan, kata Adjie. Sebuah sesi yang wajib, kudu, harus saya ikuti!
  • Penulis sempat cerita tentang sakit yang menyebabkan tulang belakangnya tidak berada pada posisi yang semestinya (HNP, Hernia Nucleus Pulposus) dan beresiko kelumpuhan. Sebagai lulusan psikologi, yang mempelajari hynotism, NLP dan meditasi, Adjie mengetahui bahwa tubuh manusia bukan mesin. Tuhan lebih hebat dalam menciptakan tubuh manusia yang memiliki kemampuan self-healing. Konsep meditasi itu bukan pengobatan, tapi latihan yang konsisten.

We are human being, not human doing. Tidak perlu lah mencari hal yang tak dibawa mati. –  Emha Ainun Najib

  • Mengutip kata Eckhart Tolle, bahwa orang cenderung mempertahankan sebuah masalah karena masalah tersebut memberikan identitas siapa diri kita sebenarnya. Tanpa sadar, kita menikmati masalah tersebut. Kita harus menerima bahwa hidup tidak selalu ideal. Ubahlah sudut pandang dengan menganggap sebagai blessing in disguise (anugrah yang terselubung).
  • Hidup di saat ini, tidak berarti kita tidak punya tujuan hidup. Tujuan hidup yang sesuai lentera hati akan memandu hidup kita menjadi lebih berarti. Dengan tujuan hidup, kita bisa menentukan prioritas yang perlu kita kerjakan. Berani mengatakan tidak pada pekerjaan yang memang tidak sejalan dengan tujuan kita.
  • Kebahagiaan itu di dapat secara utuh dengan keberadaan orang lain. Hargai orang-orang di sekitar kita dan hadirlah utuh untuk mereka. Karena kita begitu berarti.

 

Pelatihan

Mindefulness memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dipratekkan. Terlebih pada kita yang sudah terbiasa untuk hidup penuh target dan multitasking. Walau sebenarnya kita juga tahu ini adalah sebuah konsep klasik untuk hidup tidak tergesa-gesa dan tidak multitasking.

“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS Al Insyirah 94:7).

Selesaikan dulu satu pekerjaan, baru berpindah pada pekerjaan yang lain. Kita juga mengenal sunnah untuk makan perlahan dan tidak grasa-grusu. Tapi entah kenapa tetap saja susah mempraktekkannya.

Memahami kesulitan dalam mempraktekkan mindfulness, Adjie juga memberikan pelatihan kepada pihak-pihak yang memerlukan. Baik itu perusahaan, komunitas, maupun online. Lengkapnya bisa dilihat website Adjie atau di website Sukhacitta.

Data Buku:

Sejenak Hening
Sejenak Hening

Sejenak Hening, Menjalani setiap hari dalam hidup dengan Sadar, Sederhana, dan Bahagia

Pengarang          : Adjie Silarus

Penerbit              : Metagraf Solo, Agustus 2013

Halaman              : xviii + 310, 21x14cm

Harga                    : Rp 53.000,-

Geng Kacamata
Putri, Shanty & Adjie di Simpang Dago Bandung April 2016. Geng Kacamata ternyata…

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

5 thoughts on “Belajar menikmati hidup dengan Sejenak Hening karangan Adjie Silarus

Leave a Reply

%d bloggers like this: