Menulis untuk Keabadian

Saya ini sebenarnya sangat takut sama yang namanya mati. Ikutan Give Away-nya Desi Namora: 8 Hari menuju Kematian aja bikin rada takut. Kebayang, ini tulisan pasti akan di share banyak orang saat hari kematian saya.

Inna lillahi wa inna ilahi rojiun.

Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan berpulang kepada-Nya. (QS Al Baqarah 2: 156)

Kematian adalah sesuatu yang pasti. Apa yang ditakutkan?

Takut bagaimana cara ajal menjemput. Takut meninggalkan apa-apa yang kita cintai. Takut kalau di alam sana masuk neraka. Takut tidak bisa menjawab pertanyaan malaikat yang menjemput.

Ketika masih kecil, saya berusaha menghapal 3 jawaban untuk pertanyaan malaikat di alam kubur tentang siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Lengkap dengan bahasa Arabnya. Jaga-jaga kalau malaikat tidak bisa bahasa Indonesia.

Sakit sedikit saja seperti flu atau panas, saya sudah berpikir mengenai kematian yang akan menjelang. Suatu hari saya merasa sakit di bagian mulut. Langsung terlintas di kepala bahwa itu sejenis kanker mulut yang akan segera merenggut nyawa. Saya pun langsung ke dokter dengan hati galau.

“Dokter mulut saya kok nggak enak ya? Rasanya sakit sekali,” keluh saya dengan sedih.

“O…itu sariawan. Banyak makan buah saja,” kata dokter dengan datar.

WHAT?

“Bukan kanker mulut Dok?” kata saya masih tidak percaya.

Dokternya hanya bisa menatap bingung.

***

Tapi dipikir-pikir, apa pengaruhnya rasa takut itu? Kematian adalah sesuatu yang sudah pasti. Mau takut atau pun tidak, tidak akan menggeser kontrak hidup kita di muka bumi ini.

Umur kita bisa diambil sewaktu-waktu. Dalam 1 tahun terakhir ini begitu banyak orang-orang disekeliling saya yang hidupnya terenggut dengan tiba-tiba. Almarhum Si Bibi asisten rumah tangga kami, meninggal dalam tidurnya. Bapak satpam kompleks meninggal saat bekerja di rumah seorang tetangga. Seorang senior meninggal saat tengah berolahraga. Seorang teman yang masih memiliki anak balita terserang jantung dan meninggal secara mendadak.

Sesaat mereka ada, setelah itu tiada. Jiwa terpisah dari raga untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Siapa yang siap?

Apa yang perlu kita persiapkan?

San diego hills cemetary
Sumber: sales-sandiegohills.com

Kalau orang kaya, mereka bisa langsung booking tempat pemakaman yang harganya puluhan juta. Memastikan kalau anggota keluarga cukup nyaman jika nyekar ke tempat peristirahatan terakhir.  Bila perlu sekalian beli selusin makam untuk kompleks keluarga. Percaya nggak, ternyata memang ada diskon khusus kalau kita beli selusin makam dan boleh dicicil dari sebelumnya. Mungkin ini susah masuk ke pikiran orang-orang yang masih sibuk dengan cicilan rumah di bumi.

Tapi sesiap-siapnya seseorang menghadapi kematian – baik itu yang meninggal maupun yang ditinggalkan, duka tidak akan bisa dihapus. Dalam Islam kita diminta untuk tidak menjatuhkan air mata berlebihan di pusara.

Saya mengagumi kearifan masyarakat Baduy dalam memandang kematian. Kematian pada suku Baduy dikenal dengan istilah Kaparupuhan atau kehilangan. Keluarga yang berduka hanya diberikan kesempatan untuk sekedar tersenyum dan menitikkan air mata (ceurik panglayuan). Kebudayaan Baduy menganggap bahwa rasa suka dan duka hanyalah penghias kehidupan yang tidak perlu diekpresikan berlebihan. Apalagi membuat menjadi stres dan depresi yang berkepanjangan pada keluarga yang ditinggalkan. Live must go on.

Amanat Buyut Baduy
Wejangan yang tertera di perkampungan menuju Baduy Dalam. Sumber: bluezevas.wordpress.com

Sekarang apa yang terjadi jika kita tahu hidup kita tinggal 8 hari lagi? Di kepala saya langsung muncul banyak pertanyaan. Bukan jawaban.

Apakah kondisi saya dalam 8 hari itu sehat wal afiat atau terbaring koma di rumah sakit?

Apakah prioritas saya untuk menyiapkan bekal saya sendiri dengan banyak ibadah, melakukan safari permintaan maaf, dan melunasi sejumlah hutang?

Atau saya perlu melaksanakan Bucket List – catatan yang ingin saya lakukan sebelum mati? Keliling dunia dan melakukan hal-hal impian seperti yang dilakukan Jack Nicholson dan Morgan Freeman dalam film The Bucket List.

Atau mempersiapkan bekal untuk orang-orang yang saya cintai agar tidak galau kalau saya tinggalkan? Mungkin bisa dengan membuat surat, video atau asuransi seperti yang dilakukan Gunawan Garnida dalam novel Sabtu Bersama Bapak-nya Adhitya Mulya.

Atau mempersiapkan 3 amalan yang royaltinya bisa dinikmati di alam kubur yaitu sedekah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh?

Yang mana yang harus saya kerjakan dulu?

Kelamaan mikir, curiga waktu 8 hari bisa berlalu begitu saja. Jika waktunya masih tak terhingga, saya kira saya bisa menyiapkan semuanya. Tapi kalau waktunya hanya tinggal 8 hari terakhir, saya putuskan untuk menghabiskan waktu dengan menulis. Ya MENULIS!

Menulis rasa terima kasih atas kehidupan yang sempat diberikan kepada saya. Menitipkan sedikit ilmu yang pernah disematkan ke dalam kepala dan hati saya. Menulis pesan untuk kehidupan. Untuk mereka yang masih hidup.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dalam sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Saya jadi teringat kata-kata Captain Jack Sparrow dalam film Pirates of the Carribbean On Stranger Tides ketika ditanya mengapa ia tidak memilih meminum Air Mancur Keabadian yang dapat memanjangkan umurnya.

Johnny Deep sebagai Captain Jack Sparrow dalam Pirates of the Caribbean On Stranger Tides
Johnny Deep sebagai Captain Jack Sparrow dalam Pirates of the Caribbean On Stranger Tides. Sumber: www.filmweb.no

“Kau bisa saja hidup selamanya. Tapi lebih baik kau tidak tahu kapan kematianmu. Setiap bagian hidupmu dihadapkan pada misteri tiada akhir.

Anyway, siapa bilang saya tidak akan hidup selamanya? Saya akan selalu dikenal sebagai si penemu Air Mancur Keabadian.”

“Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway”

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Menulis untuk Keabadian

  • March 31, 2016 at 9:13 am
    Permalink

    wihhh keren tulisannya mbak.
    inspiring banget hheee
    salam kenal ya mbak.
    sukses utk GA nya mbak shanty ^_^

    Reply
  • April 7, 2016 at 3:17 am
    Permalink

    Terimakasih tulisannya Mba, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: