Oleh-oleh Acara Sungai Juga Temanku di Teras Cikapundung Bandung

Karena kebetulan rumah kami dekat dengan Sungai Cidurian yang melintasi Kelurahan Sukapura Kecamatan Kiaracondong Bandung, Raka dan Sasya sudah terbiasa melihat sungai yang penuh sampah. Bukan hanya sungai, aliran air dalam saluran kota di pinggir jalan pun sering terlihat tersendat dan penuh sampah. Kemanapun mereka pergi, sampah yang terbawa aliran air adalah pemandangan yang sangat lumrah di Bandung,

Pemandangan sungai penuh sampah itu bukanlah hal yang seharusnya tertanam dalam kepala anak-anak. Saya benar-benar mengimpikan anak-anak bisa melihat bagaimana seharusnya sungai itu. Sungai yang bersih dari sampah dan airnya mengalir dengan lancar.

Salah satu sungai impian saya adalah Motoyasu River yang membelah kota Hiroshima Jepang. Saya begitu terkesima ketika berkesempatan berjalan dan menikmati sungai ini di tahun 2003. Sungai lebar yang begitu bersih. Menyimpan nilai historis yang sangat dalam. Pada saat bom atom jatuh di kota ini pada tahun 1945, sejumlah orang berlari ke sungai ini untuk berusaha mendinginkan diri dan meninggal di sana. Innalillahi wainna ilahi rojiun.

Walau kota ini pernah rata dengan tanah, tapi ternyata di ground zero ada bangunan yang tetap berdiri reruntuhannya. Dan itu dipertahankan hingga sekarang. Kita bisa menikmati bangunan ini sambil duduk-duduk santai di pinggir sungai. Terasa lebih sakral terlebih setelah kita baru ngobrol-ngobrol dengan para survivor peristiwa bom Hiroshima di museum yang terletak tidak jauh dari sungai.

Motoyasu River Hiroshima
Motoyasu River Hiroshima. (Sumber foto: media.routard.com

Jadi saya harus bawa anak-anak ke luar negeri untuk melihat sungai bersih? Berat di ongkos atuh.

Alhamdulillah doa Mama shalehah diijabah. Sejak awal tahun 2016, mimpi melihat sungai bersih ternyata tidak perlu naik pesawat. Sungai bersih di Bandung bisa dicapai cukup dengan angkot atau bergojek ria saja.

Acara Sungai Juga Temanku

Sebuah acara yang digagas Picu Pacu Creative Community dengan tema Sungai Juga Temanku di Teras Cikapundung, pada Minggu, 21 Maret 2016 lalu akhirnya bisa membuka mata Sasya tentang sungai.

Bahwa sungai itu bukan tong sampah raksasa. Sungai itu bisa bersih. Sungai itu bisa cantik. Sungai itu airnya mengalir dengan lancar.

Sasya di Teras Cikapundung
“Mama, sungainya bersih dan airnya mengalir,” teriak Sasya melihat penggal sungai di Teras Cikapundung.

Sungai sepanjang 28 km ini berhulu di Maribaya Kabupaten Bandung Barat, membelah kota Bandung melalui Babakan Siliwangi, daerah Braga, dan bermuara ke sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot Kabupaten Bandung.

sungai juga temanku
Flyer acara Sungai Juga Temanku

Bekerja sama dengan Komunitas Mahasiswa Budidaya (Karamba) Fakultas Perikanan & Kelautan Universitas Padjadjaran, Picu Pacu Creative Community menggagas acara untuk mendekatkan anak-anak lebih mencintai sungai dan ikan.

Tidak tanggung-tanggung, Dekan FPIK – Bapak Iskandar, dan para dosen seperti Ujang Subhan, Yuli Andriani, Atikah Nurhayati dan Donny Juliandri Prihadi, ikut turun menyampaikan kepada anak-anak tentang edukasi makan ikan sehat dan mengenalkan sejumlah jenis ikan lokal.

Tak ketinggalan, idola anak-anak Bandung Kak Andi Yudha Asfandiyar ikut menghibur dengan unjuk kabisa one line drawing dan mendongeng tentang ikan.

Kemudian anak-anak diajak mewarnai. Uniknya kertasnya berbentuk beragam jenis ikan.  Anak-anak pun bisa memilih jenis ikan yang mereka suka.

Bukan lomba

Tidak ada lomba disini. Anak-anak bebas berekspresi mewarnai ikan mereka. Ada yang asal corat-coret, ada yang menggunakan teknik mewarnai kelas advance. Semua dipajang untuk bisa dinikmati banyak orang.

Saya pribadi sebenarnya kurang setuju dengan anak usia 7 tahun kebawah sudah mulai dikenalkan dengan kompetisi. Kenapa? Ini sih feeling saya saja sebagai ibu. Anak-anak dibawah 7 tahun itu punya banyak keunikan yang siap dikeluarkan. Dan keunikan mereka itu tidak bisa atau belum bisa dikompetisikan.

"Ini gambar Sasya, Kak Andi."
“Ini gambar Sasya, Kak Andi.”

Ketika ikut lomba, mereka akan digiring untuk melihat bahwa hanya ada satu cara untuk menjadi juara. Mereka jadi cenderung mengikuti, atau bahkan dipaksa orangtuanya untuk mempelajari satu cara itu untuk menjadi juara. Ini yang paling tidak saya suka dari konsep kompetisi untuk anak usia 7 tahun kebawah.

Dalam acara Sungai Juga Temanku, Kakak-kakak dari Picu Pacu mengajak anak-anak bebas untuk berekpresi mewarnai. Tidak ada lomba disini. Setelah selesai, mereka pun memamerkan gambar mereka ke Kak Andi. Sepertinya mereka sangat bangga ketika gambar mereka dipajang bersama gambar-gambar teman-teman lainnya.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan favorit anak-anak sejuta umat, yaitu main air. Dengan tujuan restocking  ikan lokal Jawa Barat yang kini jumlahnya mulai sedikit akibat keserakahan manusia, anak-anak diajak untuk ikut melepaskan ikan ke sungai.

Selain anak-anak yang membawa ikan sendiri, ada sekitar 750 ikan yang terdiri dari jenis Ikan Nila (Oreochromis niloticus), Ikan Nilem (Ostechilus hasselti), Ikan Beureum Panon (Puntius orphoides)turut dilepaskan ke sungai.

Go fish…Go… semoga kamu tidak mati ketemu sampah dibawah sana.

Anak-anak melepas ikan di Sungai Cikapundung
Anak-anak melepas ikan di Sungai Cikapundung

Kegiatan sederhana namun sarat makna ini disponsori oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, BBWS Citarum, Komunitas Cikapundung, FPIK Unpad, BCCF, Askara, Cardinal, MQTV, KLCBS, Pikiran Rakyat dan sponsor lainnya. Alhamdulillah, sekitar 500 anak-anak mendapatkan kesempatan luar biasa ini dengan haratis (gratis).

Semoga selanjutnya makin banyak instansi atau perusahaan yang bersedia mensponsori acara-acara seperti ini. Sehingga kebahagiaan para anak Bandung (dan juga emak-bapaknya) akan meningkat.

Hari ini anak-anak berkesempatan melihat sepenggal sungai Cikapundung yang bersih. Insya Allah, di masa depan, mereka akan semangat untuk menjaga kebersihan sungai hingga ke hilir. Sehingga sungai bisa menjadi teman mereka yang bisa memberikan manfaat bagi semua. Insya Allah.

Tentang Teras Cikapundung (Teci)

Tempat yang awalnya banyak dikenal orang Bandung sebagai tempat jin buang anak ini, kini disulap menjadi sebuah amphiteater yang diharapkan bisa menjadi ajang kreativitas atau kemotekaran warga Bandung.

Pertunjukan di Teras Cikapundung
Pertunjukan di Teras Cikapundung

Bertempat di Jl. Siliwangi yang terletak antara Jl. Dago dan Jl. Cihampelas kita bisa melihat daerah terbuka yang asri. Dijamin kalau tiba disini, pasti akan susah untuk tidak selfie. Begitu banyak sudut menarik yang bisa diabadikan disini. Ada Jembatan Merah yang menghubungkan bantaran Sungai Cikapundung, ada Amphiteater yang dapat digunakan untuk berbagai atraksi, ada air mancur, kolam, gazebo , dan taman yang asri. Dijamin, kamu tidak mungkin keluar dari Teci tanpa setidaknya punya 5 foto untuk dipamer di media sosial.

Salut deh sama gaweannya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum yang berada dibawah Kementrian PU dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jendral Sumber Daya Air. Ternyata ini sebenarnya adalah proyek sejak jaman dahulu kala yang seharusnya sudah selesai sejak tahun 2013. Namun sempat terhenti pada tahun 2014 karena masalah relokasi warga. Dibawah pemerintahan kota Bandung yang baru, pada tahun 2015 proyek dilanjutkan dengan kontraktor PT Arjuna.

Ada beberapa kegiatan yang bisa dinikmati di sini seperti naik perahu dan berarung jeram. Naik perahu biayanya Rp 10.000,- untuk orang dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Arung jeram juga ada dengan harga sekitar Rp 75.000,- untuk sekitar 1 jam berarung jeram.

Disini kita bisa botraman sambil gelar tikar. Kalau lupa bawa tikar, boleh sewa saja.

Kemarin Sasya sempat main pancing-pancingan. Harganya Rp 5.000,- untuk main sepuasnya. Ada pancingan ikan-ikanan dan juga yang ikan-ikan kecil.

Mancing di Teras Cikapundung
Mancing di Teras Cikapundung

Dari sebuah papan penjelasan, kita jadi tahu bahwa Sungai Cikapundung digunakan juga untuk:

  1. Objek wisata Bandung di daerah Maribaya, Curug dago dan Kebun Binatang.
  2. Sumber air bahan baku PDAM kota Bandung sebesar 840 liter/detik yang diolah di instalasi pengolahan dago pakar dan Badak Singa.
  3. Sumber listrik yang dikelola oleh PT Indonesia Power Unit Saguling yang mendirikan instalasi di PLTA Bengkok dan PLTA Dago Pojok sebesar 3.85 MW.
  4. Sarana irigasi pertanian yang kini tidak berfungsi seiring pertumbuhan dan perkembangan kota.

Jadi tahu ya, manfaat sungai butek ini. Kok ya tega-teganya kita menyiakan-nyiakan sungai yang telah memberikan sejumlah manfaat pada kita. Pantas saja mereka terkadang marah dan meluap.

Selain di Teci, teman-teman bisa juga menikmati keindahan sungai Cikapundung di Cikapundung Riverspot di daerah tengah kota Jl. Cikapundung Timur (Jl. Ir. Soekarno).

Sedikit efek buruk dari keberadaan Teci ini adalah kemacetan di Jl. Siliwangi. Urusan parkir memang agak repot disini. Tidak adanya fasilitas drop off kendaraan lumayan membuat kecepatan kendaraan di wilayah ini menjadi tersendat. Bagi yang membawa kendaraan, disarankan untuk parkir di daerah Sabuga ITB. Dan jalan agak sedikit jauh ke Teci. Kalau yang pake valet dengan kendaraan umum, bisa enak langsung stop kiri di depan jajaran tiang-tiang cantik dengan tulisan besar Teras Cikapundung. Angkot yang melewati daerah ini adalah jurusan Cicaheum-Ciroyom, Ledeng – Cicaheum.

Kalau sudah foto-foto, boleh mention ke akun twitter @tecibdg atau instagram @tecibdg dengan #terascikapundung. Belum sempat kesini? Ya sudah, nikmati saja videonya di sini.

Highly recommended place to visit in Bandung.

Ibu harus dijunjung, Bandung harus disanjung. Mari kita sayangi Cikapundung yabg agung...
Ibu harus dijunjung, Bandung harus disanjung. Mari kita sayangi Cikapundung yang agung…

 

***

Bacaan lain tentang acara Sungai Juga Temanku bisa dibaca di:

http://www.picupacu.com/2016/03/mari-belajar-melestarikan-sungai.html

http://www.unpad.ac.id/2016/03/karamba-fpik-unpad-lepas-750-ikan-lokal-ke-sungai-cikapundung/

 

Bacaan lain tentang Teras Cikapundung bisa dilihat di sini:

http://www.wisatabdg.com/2015/12/teras-cikapundung-ruang-edukasi-publik.html

(1200 kata)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Oleh-oleh Acara Sungai Juga Temanku di Teras Cikapundung Bandung

  • March 27, 2016 at 11:53 pm
    Permalink

    waah mbak, feb 2017 ntr aku mw ke hiroshima.. emg dr awal udh kepengin bgt liat bangunan hiroshima dome yg jd museum itu.. sungainya deket2 situkah? duuh miris bgt ya kalo inget ribuan org cari perlindungan di sungai dan akhirnya meninggal juga 🙁

    Reply
    • March 28, 2016 at 9:59 pm
      Permalink

      Iya dekat situ Fan. Itu kelihatan kalau di foto dari atas. Museumnya yang kotak memanjang dikelilingi pohon-pohon hijau di bagian tengah atas foto.Banyak banget yang perlu dilihat di daerah ini. Saya waktu itu kebetulan hotelnya deket situ juga. Jadi bisa bolak-balik jalan kaki ke daerah ini pagi sore. Nanti ditunggu ceritanya dari Hiroshima ya Fan.

      Reply
  • March 28, 2016 at 2:55 am
    Permalink

    wah acaranya ini sangat bagus sekali untuk anak-anak. anak-anak bisa lebih peduli lagi dengan sungai, agar kedepannya sungai tidak menjadi sebagai tempat pembuangan sampah yang akhirnya berujung pada kebanjiran.

    Reply
  • April 8, 2016 at 12:44 pm
    Permalink

    Senang membacanya. Makin banyak sungai yang kembali ke kondisi alaminya, makin baik. Tak lagi berfungsi sebagai tempat sampah. TFS

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: