Menulis untuk Kesehatan

Ada sebuah artikel yang menarik di Kompas, 5 Maret 2016 lalu. Sebuah artikel dalam rubrik Psikologi yang ditulis oleh Kristi Poerwandari mengenai bagaimana menulis bisa membantu menyehatkan diri. Jadi urusan sehat bukan hanya sebatas makan sehat dan olahraga saja. Menulis pun bisa menjadi terapi murah meriah berhadiah untuk membuat kita sehat.

Percaya nggak, ternyata hal itu memang ada penelitian resminya. Pada tahun 1999, Pennebaker dan Seagal melakukan sebuah penelitian yang berkesimpulan bahwa menulis pengalaman personal secara afektif-emosional itu dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik.

Menulis pengalaman traumatik

Dalam penelitian itu, sejumlah mahasiswa diberi instruksi untuk menulis suatu topik tertentu, selama 4 hari berturut-turut, 15 menit setiap harinya. Mereka diyakinkan bahwa tulisannya akan dirahasiakan dan tidak akan dikomentari apapun. Bahkan para mahasiswa boleh menulis tanpa memedulikan tanda baca, struktur kalimat ataupun pengejaan.

Kelompok mahasiswa ini kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kelompok eksperimen, diminta menulis tentang pengalaman paling traumatik yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Dan kelompok kedua sebagai kelompok kontrol, diminta menulis tentang topik non emosional seperti mendeskripsikan ruang laboratorium atau rumahnya sendiri.

Hasilnya, hampir semua mahasiswa dari kelompok pertama merasakan manfaat dari kegiatan menuliskan pengalaman traumatik mereka itu selama 4 hari. Mereka bahkan berminat untuk ikut jika akan diadakan eksperimen lagi. Pengalaman traumatik para mahasiswa seperti kekerasan dalam rumah tangga, korban perkosaan, mencoba bunuh diri, atau terlibat narkoba.

Menarik untuk dicoba?

Lagi stress nggak punya uang, mungkin bisa di coba menulis. Menulis tentang perasaan melarat, menulis tentang mimpi-mimpi. Siapa tahu tulisan itu malah bisa menghasilkan uang kan? Banyak contoh karya penulis sukses karena mengangkat kegalauannya. Seperti Raditya Dika yang urusan kegalauannya sebagai jomlo bisa membuatnya seperti sekarang.

Masih berdasarkan penelitian yang sama, menulis pengalaman traumatik mungkin membuat seseorang tertekan beberapa jam setelah menulis. Tetapi efek jangka panjangnya positif.

Peneliti mencatat kunjungan rawat jalan para mahasiswa 1 bulan sebelum dan setelah menulis. Ternyata, mahasiswa yang telah menuliskan pengalaman traumatik menurun drastis kunjungan rawat jalannya.

Karena penasaran, dicoba juga dilakukan pada kelompok lain seperti korban kriminal, orang yang sakit kronis, orang yand baru di-PHK, dan peremmpuan yang baru saja melahirkan. Hasilnya sama. Pengukuran pada fungsi imun dalam darah menunjukkan efek positif. Bahkan dapat mengurangi rasa sakit dan penggunaan obat.

Wow, luar biasa kan? Mungkin ini solusi yang bisa dicoba buat yang males ngantri dokter di rumah sakit.

Mengekspresikan emosi

Selama ini kita mengenal olahraga sebagai sarana pelepas stress yang menyehatkan. Tidak hanya olahraga, kegiatan olah tubuh seperti menari juga bisa dijadikan usaha untuk membuat tubuh lebih sehat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Krantz dan Pennebaker tahun 1995, ditemukan bahwa gabungan ekspresi dalam menari, gerak tubuh, dan menulis memberikan efek kesehatan paling besar daripada hanya melalui olah tubuh saja. Bisa jadi alasannya karena ekspresi bisa dimaknai lebih utuh melalui bahasa.

Tindakan memindahkan emosi dan bayangan visual mengenai kejadian traumatik dalam kata-kata dapat membantu seseorang mengorganisasi dan memaknai pengalamannya. Orang yang lebih banyak menggunakan kata-kata bernuansa emosi positif lebih terliaht kemajuan kondisi kesehatannya dibanding yang menggunakan kata-kata bernuansa negatif. Tapi terlalu banyak kata-kata positif dan tidak ada kata-kata negatif juga ternyata tidak bagus, karena bisa dianggap tidak mampu mengidentifikasi dan mengakui emosi mereka.

Seiring waktu, seseorang cenderung menuliskan pengalamannya dengan cara yang berbeda. Ia makin menemukan pemahaman yang lebih utuh dan positif dari kejadian tersebut. Pada dasarnya manusia memerlukan penjelasan yang lebih masuk akal terhadap apa yang menimpa dirinya. Dan itu bisa didapat dengan menulis.

Jadi tunggu apa lagi? Mari kita menulis dan mengeluarkan emosi melalui bahasa. Karena mewarnai terlalu mainstream sekarang ini.

quote-writing-my-blog-has-saved-me-thousands-on-therapy-phil-cooke

Sumber:

Menulis untuk menyehatkan diri, Kristi Poerwandari untuk Rubrik Psikologi Kompas, 5 Maret 2016. E-versionnya bisa dilihat di sini.

(1 hour – 580 words)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Menulis untuk Kesehatan

  • March 11, 2016 at 5:02 am
    Permalink

    Setuju banget mbak.menulis selalu jd terapi paling menyenangkan buatku selain jalan2. Sekarang klo ga nulis rasanya ada yg kurang

    Reply
  • Pingback: The List of My #ODOPfor99days – Shanty's Story

  • March 16, 2016 at 2:02 pm
    Permalink

    yup yup daku sudah membuktikannya..mewarnai yang katanya buat therapy ternyata ga teerbukti ilmiah.. lha aku ga suka mewarnai, gimana dung..heee..

    Reply
    • March 16, 2016 at 11:20 pm
      Permalink

      Kalau kata saya sih mewarnai hanya bisa dinikmati diri sendiri. Kalau menulis ada orang lain yang akan ikut menikmatinya juga.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: