Stay at home mom vs working mom, its My Story (part 2)

Mari tarik napas panjang untuk membaca lanjutan tulisan part 1. Siapkan cemilan dulu dan segelas teh hangat untuk menikmati 1500 kata ke depan.

 

Kekurangan stay at home mom

Tapi memang ada hal yang saya rasakan sebagai kekurangan stay at home mom. Uang salah satunya. Kita jadi harus berlatih menunda kebutuhan 3-6 bulan ke depan. Bahkan mungkin setahun, dan akhirnya kebutuhan itu hilang dengan sendirinya. Di sini kreatifitas kita menjadi terasah. Asli seru. Belajar kreatif tanpa pakai uang! Nggak perlu repot-repot berguru ke Yoris Sebastian atau Kak Andi Yudha Asfandiyar.

 

Menyalurkan Minat stay at home mom

Saya percaya, setiap manusia diberikan keunikan khusus oleh Tuhan. Keunikan yang akan memberinya kesempatan berarti bagi orang-orang diselilingnya. Bahasa sederhananya, bakat dan minat. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai konsep bakat. Bakat itu tidak terlalu berarti banyak. Yang berarti itu adalah minat. Minat terhadap sesuatu membuat orang mampu melakukan sesuatu secara berulang kali.

Illustrasinya seperti ini. A dan B belajar bermain piano. A berminat. Sedangkan B tidak terlalu berminat. Karena suka sekali bermain piano, ia bermain piano 8 jam sehari. Sedangkan B yang tidak terlalu berminat hanya bermain piano selama 4 jam sehari. Saat di tes, A lebih mahir dari pada B. A disebut lebih berbakat dari pada B. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah A memiliki jam terbang yang jauh lebih banyak daripada B. No wonder dong, dia lebih sukses. Karena A melakukannya dengan cinta dan penuh rasa suka. Setiap tantangan berusaha dilewati. Ia melakukannya karena minat dan dengan hati.

Sebagai ibu, keunikan itu terpaksa terbentur dulu.  Ini berat. Hidup ini harusnya bagai air mengalir menurut Nicola Cook dalam bukunya Aku Berubah Maka Aku Sukses. Kita harus mengikuti keunikan kita. Melakukan pekerjaan yang benar-benar kita sukai. Di mana tekanan dan kemampuan kita terasa seimbang. Rasanya asyik sekali jika melakukan hal itu, dan tidak terasa kita telah mengerjakannya berjam-jam. Jadi tentu saja ini bukan berkaitan dengan menyetrika atau mengepel lantai ya.

Salah satu hobi saya adalah membaca. Saya bisa membaca dimana saja dan kapan saja. Saat menyusui, sambil tiduran, di kamar mandi, sambil makan, bahkan sambil menonton tv. Juga saat sambil bermain sama anak. Ini susah untuk dibendung. Saya perlu membaca seperti saya perlu makan. Saya menganggap buku sebagai makanan yang lezat dan nikmat. Padahal dalam keterbatasan, saya jadi jarang beli buku. Tapi saya nggak pernah kekurangan buku yang bisa dibaca. Apakah saya menjadi lebih arif dan cerdas dengan membaca buku? Tidak juga. Saya sering dimarahi karena terlalu banyak membaca tapi tidak bisa mempraktekkannya. Duh, sakitnya itu disini – menunjuk hati.

Masalahnya saya membaca karena suka saja. Karena rasa ingin tahu. Karena rasa lapar. Nantinya jadi kenyang, sehat atau sakit saya tidak terlalu perduli. Saya hanya suka makan. Bisa jadi karena kebanyakan makan saya jadi gendut dan tidak menarik. Bisa jadi. Tapi saya suka makan. Dan saya nggak suka jika ada yang menghalangi saya dari hobi makan saya. Jadi kita lagi ngomongin membaca atau makan ya?

Setelah membaca, saya perlu menulis. Ada ide-ide aneh yang terlintas dikepala. Tapi saya tidak pernah punya waktu untuk bisa membaca dengan benar-benar tenang. Apalagi untuk menulis. ada saja gangguan dari anak-anak yang selalu menempel disamping saya. Ya benar, menempel seperti perangko! Seringkali anak-anak ini saya marahin karena mereka sering ketubruk ketika saya membalikkan badan, saya tidak tahu mereka dibelakang saya. Mending satu. Ini dua-duanya!

Bisa jadi ini merupakan kebanggaan para mama pekerja, ketika melihat anak-anak mereka mandiri. Sampai ke sisi ekstrim, mereka tidak butuh ibunya. Sedangkan ibu yang di rumah, anak-anaknya cenderung nempel seperti perangko.

Tapi saya masih bisa berbesar hati. Usia mereka masih kurang dari 7 tahun. Mereka masih alami. Ketika mereka nempel, itu menunjukkan mereka memang masih butuh ibunya. Ini juga yang membuat saya makin betah dirumah dibanding harus ke kantor. Saya tidak tega menolak keinginan alami anak untuk berusaha dekat dengan ibunya. Dan saya pikir ini tidak mungkin selamanya.

Saat usia sekolah, mereka akan siap memiliki pergaulan yang lebih luas. Mereka akan memiliki kematangan psikologi untuk itu. Jadi masa 7 tahun itu bukanlah masa yang lama. Sebentar sekali. Dan rasanya saya ingin punya rekaman memori yang baik untuk masa-masa ini. Masa-masa yang rasanya tidak akan mungkin terulang saat anak-anak besar. Mereka butuh mamanya. Dan itu sekarang.

Raka & Raisya in bed
Raka & Raisya in bed

 

Stay at home mom = ideal mom?

Semestinya saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya sekarang. Dimasa 7 tahun pertama mereka. Semestinya saya bisa menjadi ibu ideal buat mereka. Membentuk fisik, otak dan ahlak mereka dengan seimbang. Menyiapkan makanan bergizi, mengisi otak mereka agar kreatif, dan mengajarkan kesopanan pada mereka sehingga mereka tampil menjadi anak-anak ideal dalam iklan susu di televisi.

Kenyataannya, anak-anak saya makannya seadanya, karena saya malas memasak dan menyerahkan urusan itu pada bibi yang ada di rumah, saya jarang fokus jika bermain dengan anak, saya tidak bisa disiplin pada anak untuk urusan sikat gigi sebelum tidur, atau menyiapkan bekal suami.

Kenapa?

Saya tidak bisa fokus mengurus semua itu. Saya asyik sendiri membaca atau sekedar curi-curi waktu menulis di laptop. Tapi ya ternyata tidak ada yang beres juga menulisnya. Terlalu banyak gangguan. Minta ditemani main lah, bertanya ini itu lah, minta makan lah, susulah. Ketika anaknya sudah tidur, bapaknya lagi minta dilayani. Duh, pengen banget deh dilempar bantal.

Me time?

Apa itu me time? Waktunya makan mie instan sambil di kasih cengek tanpa diganggu anak-anak yang minta icip-icip. Untuk yang satu ini, kadang-kadang saya bisa punya.

Emangnya anak-anak nggak tidur?

Kalau anak-anak tidur, saya tidur juga. Karena kalau saya bangun, anak-anak akan bangun juga. Kalau tidur bersama kami bisa tidur siang selama 2 jam. Sedangkan kalau saya bangun setelah 1 atau setengah jam, mereka pun akan bangun tak lama kemudian ketika melihat saya tidak ada disamping mereka ditempat tidur. Duh.

Dan kalaupun saya tidur, tidur saya menjadi tidak tenang, karena terlalu banyak ide yang tidak sempat tersalurkan di kepala. Walau aktualnya saya berbaring di tempat tidur sehari 10-12 jam ditempat tidur menemani anak-anak, saya mungkin hanya benar-benar tidur selama  5 jam maksimal. Itu menyebabkan saya tidak maksimal menjalani hari.

Itulah salah satu masalah-masalah stay at home mom. Saya kehilangan me time saya. Me time yang berkualitas. Yang membuat otak tetap waras untuk bisa memberikan yang maksimal bagi keluarga. Bisa saja, jika saya bekerja, saya memiliki me time yang lebih sehat. Walau harus dibayar dengan harga yang mahal. Idealnya para ibu cukup cerdas menyiasati me time, sehingga bisa menyalurkan minat terbesarnya. Membuatnya sehat 3D, Body – Mind – Soul. Profil yang masih jauh dari dari saya.

Raka & Raisya sleep
Melihat anak-anak tidur, adalah salah satu karunia terindah.

 

Passion

Kenapa tidak melakukan hobi yang bermanfaat buat anak-anak, seperti memasak untuk mereka ala chef, mengajar mereka seperti guru, mengurus kesehatan mereka seperti dokter, atau lainnya? Karena ternyata keunikan saya tidak di sana. Itu adalah kewajiban saya. Tapi bukan minat terbesar saya.

Ada kalanya passion seseorang tidak bisa ditemukan dalam rumah tangga. Passion mereka ada di luar sana. Menurut saya, ya sudah kejarlah passion itu setelah anakmu berusia minimal 3 tahun. Saya mengambil angka ini dengan mempertimbangkan ini saat anak bisa bicara dan menyampaikan isi hatinya. Bagusnya sih setelah 5 tahun. Atau bahkan 7 tahun.

Saya sendiri berencana akan kembali ke dunia profesional dan mengejar passion saya saat si anak terkecil 5 tahun dan masuk TK. Saat itu usia saya 40 tahun. Life begin at 40 they said.

Sejak usia menjelang 39 tahun, saya sudah mulai melirik-lirik bidang yang akan diterjuni saat kembali nanti. Perlu persiapan untuk masuk ke dunia itu. Tentu saja saya memilih untuk belajar menulis. Dan kebetulan penulis favorit saya Ahmad Fuadi membuka kelas Akademi Menulis. Wah cucok banget lah. Dan Alhamdulillah lolos seleksi.

Emang agak lucu sih, di saat peserta lain rata-rata berusia 25 tahunan dengan IP 3,8. Lah saya muncul dengan usia 38 tahun dan IP 2,5. Ketika menyusun daftar biodata, saya menemukan kesamaan dengan peserta lain, ternyata kami satu almamater Bimbel. Cuma bedanya, saya belajar di bimbel itu saat teman saya ini belum lahir. Parah! Tapi itu membuat saya jadi ketua angkatan.  Padahal seumur-umur saya belum pernah jadi ketua kelas sekali pun.

Bersama kelas Akademi, saya mulai merancang proposal hidup saya, dan menggunakan otak saya yang mulai berkarat ini. This must be hard. But I will try. Anak-anak sudah mulai besar dan mulai tidak menyita perhatian. Mungkin lem prangkonya sudah mulai habis, jadi mereka sudah bisa main sendiri dengan Abahnya ketika saya tinggal pelatihan ke jakarta seharian setiap 2 atau 3 minggu sekali.

Dan saya pun berencana hamil lagi. WHAT??? Sssstttt tenang, bukan bayi maksudnya.

Saya ingin melahirkan passion saya sekarang. Sebuah buku. Bukan buku biasa. Tapi buku sekelas buku-buku favorit saya. Buku yang akan memiliki posisi tempat terhormat di toko buku. Buku yang akan dibicarakan orang sampai beberapa tahun ke depan. Buku yang akan membuat nama saya di kenal orang. Buku yang akan bisa menjadi bukti bahwa bisa loh, seorang ibu yang mendekam di rumah selama 7 tahun, menghasilkan karya yang luar biasa setelahnya.

Itu Insya Allah beneran bisa. So Mom, jangan ragu, jika ingin mencurahkan waktumu di rumah untuk anak-anak yang membutuhkanmu lebih dari apapun di muka bumi ini.

#ProgramDukungIbudirumahuntukBATITA.

shanty family
Foto keluarga seadanya untuk tugas TK Raka 2012

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

6 thoughts on “Stay at home mom vs working mom, its My Story (part 2)

  • March 3, 2016 at 8:06 am
    Permalink

    Well said mba shanty…very well said!!!
    Saya juga ibu rumah tangga..
    habis saya baca part 1 & 2 nya.

    Reply
  • March 7, 2016 at 5:15 pm
    Permalink

    Teh shanty, saya juga ingin segera ‘mengakhiri’ kerjaan saya setelah proyek yang saya tangani selesai, dan rumah selesai dibangun (sekarang masih tinggal sama ortu). Walaupun anak saya sudah mau menginjak usia 2 taun. Its ok. Mulai dari nol. Buat anaakk!
    Makasih teh shanty, tulisannya bravo dan menginspirasi 🙂

    Reply
  • April 2, 2016 at 1:19 am
    Permalink

    Memang tugas Ibu mulia sekali ya T__T aku jg lagi mengandung, insya Allah jadi Ibu yang baik. Pintu rejeki bisa darimana aja. Ada yg full dr suami, tp kadang kita bisa bantu juga. Teman2 saya yg sejurusan justru bisa buka pintu rejeki dr ngurus anak, dr kreativitas mereka, buka workshop utk ibu2 juga. Keep the faith aja nggak akan kekurangan selama dekat dg Tuhan

    Reply
    • April 3, 2016 at 2:08 pm
      Permalink

      Bener banget Andina. Keep faith is the key. Insya Allah everything’s gonna be Ok. Semoga lancar melahirkannya.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: