Stay at home mom vs working mom, its My Story (part 1)

Ini perdebatan klasik. Tapi saya gatal sekali untuk tidak urun memberikan pendapat.

Saya adalah ibu rumah tangga  murni sejak anak pertama berumur 6 bulan. Alasan berhenti bekerja karena ASI tidak keluar ketika stress memikirkan pekerjaan. Padahal waktu itu pekerjaan saya hanyalah part time sebagai 3D Artist yang membuat gambar-gambar presentasi cantik di sebuah konsultan Arsitektur.

Saat ada deadline, saya bisa 3 hari sampai 1 minggu harus bekerja sampai larut malam. Walau bisa mengerjakan pekerjaan di rumah, bagaimana pun saya tetap harus bolak-balik ke kantor untuk mendapat revisi dari arsiteknya.  Saya menjadi sangat tidak profesional dengan pekerjaan dan tidak optimal juga memberikan ASI yang sangat diperlukan bayi saya waktu itu.

Apakah saya akan terus-menerus berada di tengah-tengah, atau saya akan memilih?

Raka & Raisya dalam seragam kebangsaan
Raka & Raisya dalam seragam kebangsaan

 

Kenapa saya perlu bekerja?

Pertama bisa jadi alasan ekonomi. Kami ingin menambah penghasilan. Saat itu kami baru membeli rumah dengan cara mencicil Bank. Saat wawancara sudah dipertimbangkan 2 pemasukan. Nah bagaimana kalau kini hanya dari 1 pemasukan? Tentunya kelayakan itu menjadi berkurang.

Kedua, saya adalah lulusan Arsitektur ITB. Selayaknya saya perlu berkontribusi pada dunia. Sayang kan kalau ilmunya disimpan di dalam laci.

Ketiga, saya suka pekerjaan saya. Cukup menantang dan menjanjikan. Saya bekerja secara part time, dimana dapat tugas saat ada jadwal presentasi saja. Biasanya dalam 1 bulan rata-rata saya harus mengerjakan 2-3 proyek dengan durasi sekitar 1 minggu/proyek. Cuma kalau lagi ada proyek, saya harus mengerjakannya hampir 24 jam full time. Bisa seru kalau lagi tidak punya anak. Kalau sudah ada anak yang menangis minta nyusu, sementara gambar ditunggu jadi dalam 3 jam kedepan, itu ceritanya jadi lain. Yang ada adalah stress berat.  Sebelumnya saya juga sempat sekitar 4 tahun bekerja full time di Konsultan Arsitektur sebagai Arsitek. Sama stress juga.`

 

Kenapa saya perlu di rumah?

Pertama, anak saya perlu saya. Makhluk kecil mungil yang telah 9 bulan dalam perut saya ini, memerlukan saya lebih dari apapun di dunia ini. Dia butuh ASI saat perutnya lapar. Dia perlu pelukan saya. Dia tidak paham apa itu namanya deadline. Andai bayi bisa dikasih tahu arti deadline dan bersabar.

“Nanti Mama akan kasih hadiah yang banyak dari gaji Mama. Mama akan belikan baju keren dari Mothercare atau mainan bayi canggih dari Early Learning Center.”

Tapi dia belum butuh apapun yang bisa dibeli dengan uang. Ia perlu ASI dan pelukan mamanya. Itu saja. Harganya? Priceless.

Kedua, saya perlu waktu untuk menikmati hidup. Leyeh-leyeh menikmati uang suami dalam pelukan hangat bayi montok saya. Kalau saya bekerja, saya akan sangat kelelahan.

Ketiga, Ini waktunya saya menguji kualitas suami saya dalam memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Sanggupkah ia? Dan sekaligus menguji diri sendiri. Sanggupkah saya hidup seadanya a.k.a menurunkan standar gaya hidup? Hal ini akan menjadi pendidikan mental yang luar biasa bagi kami berdua sekaligus membangun pondasi rumah tangga.

Sama-sama memiliki 3 alasan kuat.

Tanya suami?

“It’s up to you. Its your life, its your choice,” katanya. Menurutnya sudah kewajiban suami untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, asal istrinya pengertian dan bisa menerima gaji suami seadanya, ya tidak ada masalah. Asal jangan nggak kerja, tapi menuntut gaya hidup tetap tinggi.

Ok, jadi pilihan ideal dekat anak, leyeh-leyeh, banyak duit, menyalurkan ilmu tanpa dirundung stress namun tetap profesional, adalah tidak mungkin. Setidaknya selama anak masa menyusui 2 tahun. Indonesia tidak seperti Finlandia/Skotlandia, dimana para ibu yang baru punya bayi, mendapat gaji dari pemerintah untuk serius menjaga anaknya dan tidak bekerja di kantor.

 

We need working mom

Saat  memeriksa kehamilan di dokter kandungan yang kebetulan perempuan, saya pun melihat betapa banyak orang yang memerlukan jasanya. Ternyata ibu dokter ini baru punya bayi juga. Kembar lagi. Saya tidak bisa bayangkan jika ibu dokter ini tidak profesional. Ia meninggalkan pasiennya yang telah menunggu berjam-jam, karena harus memeluk anaknya. Oh tidak, ada begitu banyak ibu-ibu yang perlu ditolongnya disini.

Ada banyak perempuan yang sangat dibutuhkan energinya oleh banyak orang. Ada ketua partai yang ditunggu konstituennya, ada walikota yang ditunggu jutaan warganya, ada pemimpin perusahaan yang ditunggu client dan karyawannya, ada guru yang ditunggu murid-muridnya.  Perempuan seperti ini memang perlu banget untuk ‘mengorbankan’ keluarganya. Menempatkan keluarganya pada urutan kedua demi urusan yang lebih besar. Dan biasanya pada posisi mereka, keluarga mereka bisa memahami bahkan turut mendukung peran ibunya.

Tapi selama kita cuma mengerjakan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, sekedar mengais recehan, dan kita kerjakan dengan ngedumel. Itu jelas jawabannya: “You have to Quit.”

Profesionalitas in a job and a baby itu 2 keping mata uang yang tidak bisa sejalan. Tugas kantor ada deadline dan target yang harus ditepati. Ada komitmen. Anda dibayar untuk itu. Sedangkan bayi, tidak kenal itu semua.

Raka & Raisya bath
Berendam! Acara favorit anak-anak.

 

Memutuskan berhenti bekerja

Singkat kata saya memilih berhenti bekerja untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Saya pun tenggelam dalam kesibukan sebagai ibu seorang anak laki-laki. Kami bermain berdua seharian, tidur siang, menonton TV, membaca buku, jalan-jalan, otak dipakai sedikit untuk berpikir pilihan masakan hari ini yang paling murah meriah. 3 tahun kemudian, lahir lah anak ke-2. Kini ditambah kesibukan 2 balita. Tak terasa 7 tahun sudah saya jadi ibu rumah tangga full time.

No complaint.

Saya menikmati masa-masa di rumah bersama anak. Hanya bisa berusaha berempati melihat teman-teman yang panik dengan deadline pekerjaan atau asisten rumah tangga yang tiba-tiba mogok bekerja. Saya tidak pernah mengalami itu.

Sesekali anak saya bilang, “Mama kerja dong, biar Akang bisa di rumah sama Mbak dan bisa beli mainan yang banyak.” Entah karena bosan lihat Mamanya atau karena iri melihat teman-temannya yang jika tinggal sama mbak di rumah, bisa lebih santai dalam banyak hal seperti jam tidur siang, menonton tv, jajan di warung dan dapat mainan ‘kompensasi’ dari sang mama sepulang kerja. Sementara ia merasa terbatasi karena mamanya selalu ada dirumah dan selalu dapat alasan tidak punya uang jika ingin meminta mainan baru.

Ada yang menanyakan, “Apa nggak sayang Bu, ilmunya kalau hanya bekerja dirumah?”

Wah ini pasti belum kenal Ibu Ainun Habibie ya? Istri pak Habibie yang lulusan Kedokteran UI dan memilih menjadi ibu rumah tangga.

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang.

Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya?

Anak saya akan tidak mempunyai ibu.

Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya merima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.” (Ainun Habibi pada buku A. Makmur Makka)

Asli, sama Bu Ainun. Saya juga berpikir begitu. Kok ya nggak tega anak saya diasuh 8 – 10 jam oleh orang yang dibayar ½ gaji UMR dan lulusan SMP.  Makanya, saya pun melamar ke suami saya pekerjaan ini.

Saya lebih bangga karena anak saya memiliki pengasuh lulusan ITB yang penuh cinta dan kasih sayang daripada memakaikan anak saya baju atau sepatu bermerek.

Capek bacanya? Kalau sudah tarik napas, mari kita lanjut ke part 2 di sini. Tenang, masih ada 1500 kata lagi.

Shanty & Kiddos TSM
With my precious at TSM Bandung

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

12 thoughts on “Stay at home mom vs working mom, its My Story (part 1)

  • March 3, 2016 at 7:05 am
    Permalink

    Bacaan ini adalah jawaban kegalauan saya yang masih berjuang beradaptasi menjadi full time mom at home sejak kelahiram anak kedua akhir Okt 2015.

    Saya bookmark, untuk mengingatkan dan menyemangati saat perlu suntikan semangat hehe..

    Thanks Teh Shanty! 🙂

    Reply
  • March 3, 2016 at 10:47 am
    Permalink

    Terharu mba bacanya. Keputusan ini juga saya ambil 3 hampir 5 bulan yang lalu. Murni hanya sekedar pilihan hidup.

    Nice share Mba.

    Reply
    • March 6, 2016 at 8:27 pm
      Permalink

      Semoga sabar menjalaninya Des. Segala sesuatu tetap perlu pengorbanan.

      Reply
    • March 6, 2016 at 8:25 pm
      Permalink

      Amin. Semoga bisa selalu istiqomah. Itu yang susah ya Muna.

      Reply
  • March 3, 2016 at 11:17 am
    Permalink

    Salam kenal teh Shanty. Eits manggilnya gitu yak.

    Saya sejak Maret 2012 memutuskan jadi IRT sejati. Dikomplain?bangeeet. Mulai dari nenek, ibu mertua, teman, tetangga dan bahkan orang lain yang gak kenal saya dengan baik.

    Sekarang mah udah bisa lebih cuek

    Reply
    • March 6, 2016 at 8:24 pm
      Permalink

      Hanya waktu yang bisa menjawab. Semoga sabar juga Sally. Been there.

      Reply
  • March 3, 2016 at 7:48 pm
    Permalink

    ternyata dari pas kecil Raka dan Sasha miriip yaa teh….

    *bener kata Mesa, teh Shan engga berubah.
    hawwuu….kok bisa teh….?

    Reply
    • March 6, 2016 at 8:29 pm
      Permalink

      Iya, memang mirip banget bayinya. Cuma yang satu putih (Raka), yang satu rada gelap (Sasya). Makanya Sasya langsung rajin direndam air daun belimbing setiap hari biar rada mencrang kaya kakaknya. Ha…ha…

      Reply
  • March 4, 2016 at 2:56 am
    Permalink

    Saya saya saya *ngacung*
    Suka banget tulisan ini.. isi hati saya tertuang semua di sini.. Makasih ya mbak 🙂

    Reply
    • March 6, 2016 at 8:30 pm
      Permalink

      Sama ya? Tulis juga dong Yoanna. Sayang kalau curahan hati kita hilang begitu saja.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: