Belajar dari Raka, menghadapi anak yang self-centered

Ini sebenarnya adalah pengalaman sekitar setahun lalu. Di bulan Februari 2015, saya diundang oleh guru BK sekolah, Ibu Iis Tjuhartika dan guru kelas Raka di kelas 2, Ibu Nur.  Banyak pencerahan yang saya dapat dari pertemuan itu dan ingin saya bagi dengan teman-teman yang mungkin memiliki permasalahan yang sama.

Pembicaraan dibuka dengan pertanyaan bagaimana Raka sehari-hari dirumah. Apa saja kebiasaannya? Bagaimana aktivitasnya dari bangun tidur pagi hari hingga tidur lagi saat malam? Sempat bingung juga jawabnya. Anak saya ngapain aja ya seharian? Kayanya ya standar-standar aja.

“Standarnya gimana Bu?” tanya bu Iis.

Saya sampaikan kalau Raka bangun pagi sendiri pukul 5.30 pagi atau kurang. Sebenarnya kalau bisa Raka ingin dibangunkan pukul 4 pagi. Tapi saya tidak pernah membangunkannya sepagi itu. Alasan sejujurnya karena saya perlu waktu sendiri untuk menulis dan tidak ingin ada yang mengganggu.

Kedua, menurut saya, Raka masih boleh tidur kalau memang masih mengantuk. Biar saja Raka bangun sendiri sesuai jam tubuhnya. Toh masih sangat pagi ini. Mungkin kalau sampai pukul 6 tidak bangun, baru akan dibangunkan. Tapi itu hampir tidak pernah terjadi. Kalau sampai bangun dan melihat matahari terbit, Raka bisa menangis karena terlewat sholat subuh. Air mata pun bercucuran. Mamanya yang kurang saleh ini, selalu menenangkan kalau Raka bisa langsung sholat subuh saat bangun kesiangan.

Our Raka
Our Raka

Setelah sholat subuh, Raka biasanya main game di Ipad sebentar. Baru kemudian minta mandi sendiri. “Sekarang boleh mandi Ma?” katanya sekitar pukul 6 . “Ya boleh,” jawab saya. Kadang-kadang saya memarahi Raka kalau dia minta mandi terlalu subuh. Bukan apa-apa, karena kalau dia siap pagi-pagi, dia menjadi sangat menuntut untuk cepat-cepat sarapan dan cepat-cepat ke sekolah. Dia pernah kepingin tiba di sekolah pukul 6 pagi. Padahal masuk sekolahnya pukul 7.20. Jarak dari depan pintu kamar tidurnya sampai pintu kelasnya hanya sekitar 2-3 menit dengan sepeda. Jadi, saya berusaha melambatkan waktunya mandi dan sarapan. Sarapan saya usahakan pukul 6.15 an.

Raka selalu ingin berangkat sekolah pukul 6.30. Buat dia berangkat ke sekolah pukul 6.45 itu sudah terlambat. Dia akan kembali panik berlebihan jika baru saya lepas dari rumah pukul 6.45.

“Aduh, gimana ini. Sudah terlambat ini. Terlambat sekali,” katanya panik. Aslinya dia memang suka hiperbola. Keterlambatan versi Raka biasanya terjadi karena saya terlambat membuat sarapan.

Soal sarapan, dia kembali ribut dari jam 6.00. “Mama, sarapannya mana?” Biasanya menu dia yang tentukan. Dia sukanya nasi goreng, kentang rebus/goreng, wortel rebus atau roti dengan lapisan mentega dan mesis.

Saya suka stress nih, kalau dipaksa bikin sarapan pagi-pagi. Padahal Mama kan masih pengen menulis dan bersosmed ria. Saya maunya santai menulis sampai jam 6 pagi. Nanti jam 6 pagi baru siapkan sarapan buat Raka makan jam 6.30 an. Menurut saya idealnya Raka ke sekolah jam 7 saja. Tapi anak itu menghiba-hiba dengan negosiasi yang alot untuk melakukan semuanya 30 menit lebih awal. Sering karena begitu terburu-buru, dia lupa banyak hal di dalam tas sekolahnya. Terkadang dia bahkan lupa sikat gigi atau memakai sepatu. Dia pakai sandal kesekolah!

Saya ingat suatu hari ketika Raka kembali ke rumah pukul 7 sambil menangis berurai air mata. Pintu di gedor dengan hebohnya. “Mama, aku lupa pakai sepatu. Bagaimana ini, aku terlambat! Ayo Mama antar ke sekolah,” katanya panik.

Tentu sama Mama dan Abah menjadi sangat marah melihat reaksi Raka yang sangat berlebihan. Santai saja kali ya, ini baru pukul 7.00. Masuk sekolah baru pukul 7.20. Kimmy sepupunya saja belum tiba di sekolah jam segini kata saya. “Raka nggak mau kaya Kimmy, Kimmy datangnya pas 7.20,” dengan nada seolah-olah itu hal yang haram untuk dilakukan.

Saya sempat punya pikiran buruk kalau Raka mendapat intimidasi di sekolah yang mengharuskannya datang pagi-pagi, terus dia di bully orang di sekolah. Ii… serem. Kebanyakan baca berita bullying ini sepertinya. Tapi untuk memastikan saya antar dia ke sekolah hari itu. Raka masih paling pagi di kelasnya. Dia tenang ketika sudah sampai kelasnya.

“Kenapa Raka harus sekolah pagi-pagi?

“Mau main sama teman-teman, biar punya banyak waktu main sama teman-teman,” jawabnya.

“Tapi teman sekelasnya kan belum datang.”

“Itu main di bawah sama kelas 3,” katanya.

Saya sampaikan kekhawatiran saya sama guru-guru yang sudah datang, tapi menurut mereka Raka memang senang datang pagi di sekolahnya. Sepertinya beberapa anak senang menjadi yang paling pagi di sekolahnya.

Ok cerita berlanjut. Ini baru pagi saja. Dan sudah 1000 kata.

Gerakan Yoga favorit Raka
Gerakan Yoga favorit Raka

Pulang sekolah Raka resminya pukul 2 siang. Tapi biasanya dia tiba di rumah sekitar 20 menit setelahnya. Main dulu di sekolah katanya. Ketika tiba di rumah ia akan melempar baju dan tasnya. Sudah berulang kali disuruh menyimpan tas ditempatnya dan baju langsung ditaruh ke tempat baju kotor. Tapi hingga hari ini, masih susah pelaksanaannya. Selalu Mama yang jadinya meletakkan baju ke keranjang kotor. Terkadang Raka suka tidak langsung bersalin baju rumah dan masih berbaju sekolah. Setelah dimarahin, baru ganti. Tapi sering juga langsung ganti tanpa disuruh. Suka-suka hatinya sajalah.

Terkadang langsung main game atau menonton Disney Channel. Ini biasanya jam berbaring Mama. Mata Mama selalu banyak lemnya jam segitu. Itu istilah saya buat ingin berbaring. Maunya sih tidur, tapi bagaimana mau tidur kalau 2 anak setiap 15 menit sekali minta ini itu. Ada yang mau pipis lah, ambilkan minumlah, buatkan rotilah, dan banyak lagi. Terus sampai menjelang magrib. Ada-ada saja permintaan yang harus dilayani.

Walau Raka tidak suka, setiap sore Abahnya jika ada dirumah selalu menyuruhnya mandi sore. Mamanya tidak pernah menyuruh mandi sore. Kenapa? Karena mamanya juga tidak suka mandi sore. Ha…ha… Hanya saat weekend atau sesekali saat pulang kantor sore, Abahnya akan memaksa Raka dan Sasya mandi sore. Kenapa Mamanya tidak suka mandi sore? Ah sudahlah, pembahasannya bisa 1000 kata sendiri. Bahasa sederhananya hemat air, malas dan dingin. Nanti kalau mamanya bisa punya hobi mandi sore, baru mama akan menyuruh Raka mandi sore. Jangan menyuruh apa yang tidak kamu lakukan kan katanya.

Setelah atau menjelang magrib Raka akan ribut minta makan. Seringkali bukan makanan yang sudah disiapkan tadi siang. Bisa minta nasi goreng, telur atau apa saja.

Sekitar 7.30, dia sudah ingin bersiap tidur. “Jangan ribut ya Raka mau tidur,” katanya. Menurut Bu Nur (wali kelasnya), anak-anak sudah harus tidur pukul 8. Biasanya sekitar pukul segitu Abah pulang. Abah mandi, makan malam dan nonton tv sambil ngobrol. Sasya main sendiri di kamarnya. Raka tidur di kamar utama sama Abah.

“Jangan ada suara sedikitpun ya,” Raka mulai memperingatkan.

Kami mengecilkan volume suara, volume tv, dan beraktifitas sangat perlahan. Tapi kami kan masih bangun dan bergerak. Raka menjadi sangat sensitif. Dia menjadi uring-uringan dan panik kalau jam 8 belum bisa tidur. Apalagi kalau lewat jam segitu. Wah, drama kepanikan kembali terjadi.

“Mama temani aku tidur sebentar”

“Mama minta pijit dulu”

“Aku harus tidur dengan siapa?”

Saat saya menemani Raka sebentar, Sasya akan rewel minta ditemani juga. Sasya sepertinya tidak rela saya menemani kakaknya. Sasya pun ribut di kamar Raka. Raka makin tidak bisa tidur. Saya tinggal Raka supaya bisa tidur dengan tenang untuk menemani Sasya dikamarnya, ternyata gantian Rakanya rewel dan panik.

“Kenapa aku belum tidur juga? Ini sudah jam 8.15.”

“Ya nggak usah tidur dulu,” kata abahnya.

“Tapi aku mau tidur jam 8. Tapi kenapa aku nggak bisa tidur.”

“Itu artinya Raka belum mengantuk. Baca buku saja dulu. Main saja dulu. Nonton tv saja dulu,” usul si Abah.

“Tapi aku mau tidur jam 8,” Raka mulai keluar keukeuh surekeuh-nya.

Setelah drama penuh linangan air mata dan bentakan-bentakan cetar membahana yang menguras emosi berlangsung beberapa babak, akhirnya Raka bisa tidur. Sampai jumpa dalam episode selanjutnya malam berikutnya dan berikutnya pada jam yang sama.

Demikianlah keseharian Raka. Sekarang kembali ke wawancara di kelas bersama Bu Iis dan Bu Nur.

“Apa Raka punya tugas atau kewajiban dirumah Bu?”

“Ha? Kewajiban bagaimana maksudnya?”

“Seperti membersihkan tempat tidur sendiri, dan lain-lain.”

“Nggak ada.”

“Anak itu nggak bisa disuruh, dia lakukan apa yang dia mau.”

“Nah mungkin disini masalahnya,” kata Bu Iis  sambil menatap wali kelas dengan senyum. Ekspresi yang sama dengan Sasya ketika baru menemukan puzzle yang hilang.

Apa yang terjadi?

“Jadi begini Bu. Kami melihat Raka begitu self-centered. Ketika anak lain rebutan untuk membantu, Raka akan cuek saja. Kalau disuruh, dia akan jawab, ‘Kenapa harus Saya?’

Memang Need of achievement-nya tinggi sekali. Keinginan untuk menjadi paling baik besar sekali. Itu bagus, namun membuatnya sekaligus menjadi begitu kaku.

Sekolah harus jam 6.30. Tidur harus jam 8. Dia tidak bisa toleransi pada keadaan yang mungkin tidak sesuai. Dia hanya melakukan apa yang dia mau, namun kurang fleksibel mengikuti keadaan yang ada. Rasa empati terhadap orang lain kurang terlatih.”

Ehm, sebuah analisa yang menarik dari sudut pandang orang lain.

Raka adalah cucu pertama dari Mama dan Abahnya. Dengan kemampuannya yang luar biasa, dia menjadi pemimpin kecil dalam keluarga. Kesayangan om dan tantenya. Pemimpin sepupu-sepupu dan adiknya. Paling besar, paling pintar dan paling ajaib. Center of attention.

Akang Raka si kepala suku
Akang Raka si kepala suku

Raka sangat fokus jika menginginkan sesuatu. Ketika ingin membeli mainan ke TSM misalnya. Kami sekeluarga inginnya sekalian jalan-jalan dan menikmati TSM. Mama mau lihat buku di Gramedia, Abah mau lihat sepatu di Metro, Sasya mau beli cemilan di Giant. Tapi begitu tiba, kita harus langsung ke lantai mainan. Tidak bisa lihat kiri atau kanan dulu, walau itu sekalian dalam perjalanan menuju ke lantai toko mainan. Raka akan memaksa untuk segera beli mainan. Dia akan menjadi begitu rewel dan menjengkelkan. Setelah dibeli, dia merasa perlu untuk langsung membongkar dan memainkannya. Karena tidak boleh di bongkar sambil jalan di TSM, maka kita harus segera pulang. Sibuklah dia minta kita cepat pulang. Sampai dirumah. Dia akan serius membongkar dan memasang mainannya berulang-ulang.  Dia jarang perduli kebutuhan orang lain. Dan itu memang tidak dibiasakan. Saya tidak pernah benar-benar sadar bahwa itu benar-benar penting.

Jadi bagaimana kita menanamkan rasa empati dan melepaskan kekakuan pada diri Raka? Mumpung dia masih kelas 2 SD.

Sejauh ini sekolah mencoba dengan cara memberikan syok terapi ke Raka dengan tidak selalu menuruti apa yang dia mau. Seperti saat ada lomba antar kelas. Raka tidak suka belut, dia maunya yang bersih-bersih seperti tarik tambang. Tapi setiap anak hanya boleh mengikuti satu pertandingan. Dan Raka kebagian lomba tangkap belut.

Atau ketika ada pembacaan puisi. Raka merasa dirinya yang paling bagus. Ketika ditanya siapa yang paling bagus puisinya. Raka menganggap dirinya yang paling bagus, sementara semua temannya menganggap puisi Azis yang paling bagus. Akhirnya Raka mengakui bahwa puisi Azis yang paling bagus.

Sebenarnya Raka diminta untuk ikut catering di sekolah dengan harapan dia bisa mengikuti aturan yang berlaku. Selama ini Raka bawa makanan dari rumah sesuai permintaannya sendiri. Dia tidak suka nasi. Hanya suka sayur dan buah. Kemudian ada sejumlah aturan saat makan yang diikuti.

“Kami minta tolong di rumah untuk dibantu mengikuti sederet peraturan yang dibuat bersama. Sesuatu untuk orang lain, bukan sekedar untuk dirinya sendiri. Misalnya membantu meletakkan baju pada tempatnya, menyalakan lampu di waktu sore, dan lain-lain. Intinya membantu orang lain dan tidak egois,” lanjut bu Iis.

Guru kelas Raka, Bu Nur juga akan membantu untuk melonggarkan aturan tidur jam 8. Akan disampaikan ke Raka kalau tidur jam 8 boleh juga jam 8.30 kalau memang belum mengantuk. Raka akan diajak sering relaksasi untuk melepaskan ketegangannya. Kalau relaksasi, kayanya Mama juga perlu nih.

Sebagai orang yang tidak suka berdebat (sukanya langsung membentak kalau kesabaran sudah habis hi..hi…), saya tadinya berpikir biarlah anak menemukan sendiri jalannya. Saat kepentok dapat masalah, anak akan menemukan sendiri solusinya. Ternyata masalah itu datang. Raka panikan menghadapi keadaan yang tidak mendukungnya. Dia merepotkan dan menjengkelkan orang disekitarnya. Dia tegang.

Deep down, he must be sad. Tapi dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Dalam kondisi seperti ini, kita sebagai orang tua dan guru perlu membantunya. Membawanya kembali pada relnya. Membantu dia mencari solusi masalah yang mungkin belum bisa dia analisa sendiri. Mungkin akan terasa pahit buat Raka saat ini, tapi itu proses dari kehidupan. Pilihannya, kalau dia tidak belajar sekarang, dia akan melakukannya di umur yang lebih tua. Saya pun terbayang apa yang terjadi jika Raka memupuk sikap seperti ini hingga dewasa.

Pertemuan hari ini merupakan awal dari sebuah proses panjang membentuk perilaku anak ke arah yang lebih baik. Berdasarkan kasus Raka waktu TK, proses seperti ini akan berlangsung selama beberapa bulan dengan komunikasi yang intensif antara orang-tua dan guru. Kami akan terus memberi masukan dan menelaah apa yang bisa dilakukan. Saya sangat menghargai kemampuan pihak sekolah untuk sama-sama bertukar pikiran dan tidak memaksakan kehendak. Ini komunikasi 3 pihak, orangtua, guru dan Raka.

Insya Allah, win-win-win solution akan terwujud. Raka bahagia, Mama-Abah bahagia, Guru bahagia.

Raka cuci baju
Raka cuci baju
Raka cuci piring
Raka cuci piring

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

3 thoughts on “Belajar dari Raka, menghadapi anak yang self-centered

  • March 1, 2016 at 1:28 pm
    Permalink

    Ini tulisan total berapa kata mbak? Akhirnya selesai juga bacanya :)) Aih, Raka keren ih bisa sedisiplin itu bangun shubuh dan tidur tepat jam 8. Saya pikir memang dia disiplin dalam segala hal, tapi rupanya soalnya ganti baju saat pulang sekolah belum bisa ya mbak 😀
    Saya malah baru tahu istilah self-centered ini, bagus juga karena pihak sekolah mau membahas persoalan Raka ini 😉

    *btw, paling salut sama Raka yang nangis gitu karena telat bangun shalat shubuh 🙂

    Reply
  • March 2, 2016 at 1:47 pm
    Permalink

    Ponakanku Azka ini!

    Mungkin kerasnya papanya mendidik Azka nggak salah seperti kritikku selama ini. Budhenya ini cenderung membiarkan dia melakukan apa yang dia mau.

    “Kalau di rumah Aka hebat. Di sini [rumah budhenya] Aka nggak hebat. Gitu, Budhe.” Itu kata-katanya sendiri tiap budhenya memprotes kuatnya kemauannya dan tipisnya toleransinya.

    Pernah menangis berteriak, membentak, memukul dan menendang selama 15 menit cuma karena budhenya ini membuatkan mi instan TIDAK sesuai urutan yang dia tahu.

    Tapi yang sedikit mengejutkan, beberapa hari setelah itu, saat diingatkan, “Sudah lupa ngamuknya kemarin? Budhe masih ingat sampai sekarang. Sedih Budhe lihat Aka seperti itu.”

    Azka tersenyum malu…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: