Ibu sebagai Fasilitator Handal Keluarga bersama Dita Wulandari

Pada suatu pagi hari yang cerah di markas Learning Center Institut Ibu Profesional (IIP) Bandung Cigadung – yang sekaligus kediaman teh Vaya Izzati, ada acara bagi oleh-oleh hasil TOT (Training of Trainer) dengan tema Ibu, Fasilitator Handal Keluarga. Ketua IIP Bandung pertama, Dita Wulandari yang berkesempatan menghadiri TOT Ibu Profesional dan Talents Mapping 2016 di Salatiga 22-24 Januari 2016 berbagi materi ini untuk teman-teman pengurus IIP Bandung. Makanya ayo bergabung menjadi pengurus IIP di kota masing-masing (pesan sponsor lewat).

Value Ibu Profesional

Acara dimulai dengan mengingatkan kembali mengenai 5 value Ibu Profesional. Kelima value yang selalu diingatkan oleh Bu Septi sebagai  penggagas Institut Ibu Profesional itu adalah:

  1. Sharing Dita lagi disimak serius.

    Never stopped running, THE MISSION ALIVE

Ibu Professional tidak akan pernah berhenti menjalankan misi dan tugas hidupnya, dengan sukacita. Teruslah bergerak, misi tak pernah mati.

  1. Don’t teach me, I LOVE TO LEARN

Ibu Professional adalah ibu yang senang belajar, tak pernah berhenti hingga mati, proaktif mencari ilmu untuk kemaslahatan diri,suami dan anak-anaknya.

  1. I know, I can be BETTER

Ibu Professional bertekad untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin.

  1. Always ON TIME

Ibu Profesional adalah ibu yang menghargai waktu, dan selalu berusaha untuk menepati waktu yang telah disepakati.

  1. SHARING is CARING

Ibu Profesional sayang sesama, tak segan-segan untuk berbagi pengalaman, dan hanya membagikan pengalaman apa yang sudah dijalankannya.

Suasana belajar sambil jaga anak.

Dalam acara yang diselenggarakan pada Kamis, 11 Februari 2016 lalu, Dita mengangkat tema Ibu, Fasilitator Handal Keluarga. Kenapa istilahnya fasilitator? Kenapa bukan trainer? Atau guru? Atau pembimbing keluarga?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Dita malah mengajak para peserta untuk melipat sebuah kertas bujursangkar. Pertama lipat menjadi 2, kemudian lipat lagi menjadi 2, kemudian lipat lagi menjadi 2, dan lipat lagi menjadi 2. Udah cukup, jangan keterusan. Setelah itu buka lagi kertasnya dan coba hitung ada berapa bujursangkar disana?

bujursangkar fasilitator
Ada berapa bujursangkar di sini?

Ada yang jawab 16. Ada yang 17. Ada yang 22. Bahkan ada yang bilang 30. Semua memiliki argumentasi masing-masing yang bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Jadi mana yang benar?

Disitulah kita perlu peran seorang fasilitator. Bukan sekedar trainer yang akan memberi tahu mana yang benar dan salah.

Fasilitator akan membantu melihat dari sudut pandang lain. Fasilitator tidak akan ‘menjudge’ bahwa hanya ada 1 jawaban yang benar.

Penting untuk seorang Ibu bisa menjadi fasilitator bagi keluarganya. Bukan sekedar ibu tukang perintah yang sok tahu dari A – Z. Yang diperlukan seorang fasilitator untuk bisa mengadakan diskusi yang baik adalah:

  • Interaktif, sehingga memungkinkan semua anggota terlibat aktif dengan cara bertanya dan bebas mengeluarkan pendapat.
  • Ilmunya aplikatif untuk dipraktekkan sehari-hari.
  • Sesuai yang dibutuhkan oleh anggotanya.
  • Belajar dari yang ahli.
  • Saling berbagi pengalaman dengan anggota lain.

Senjata perang fasilitator

Ada 7 alat yang dapat digunakan para fasilitator untuk bisa efektif menyampaikan tujuannya:

  1. Question

Bertanya ini penting buat fasilitator karena akan membangkitkan intelectual curiosity. Dikenal istilah Power Questions untuk mengajukan pertanyaan How (Bagaimana caranya?), Where (Dimana tempatnya?), What (Apa bentuknya?), When (Kapan waktunya?), Who (Siapa yang bisa membantu?), Why (Kenapa terjadi seperti itu?), dan Which one (Yang mana yang akan kita pilih).

  1. Story (cerita atau kasus menarik)
  2. Game Simulation (simulasi dengan permainan)
  3. Visualization (membayangkan)
  4. Music (musik)
  5. Joke (banyolan)
  6. Example (contoh)

Kenapa sih kita sering nggak PD sebagai fasilitator? Bisa jadi karena kita tidak menguasai materi dan kurang persiapan. Memang perlu banyak berlatih untuk menjadi fasilitator yang handal. Mari kita memulainya berlatih di rumah untuk keluarga tercinta. Sekarang juga, bukan besok!

Berbagi kartu nama

Sebelum acara ditutup untuk siap menyantap hamparan hidangan yang bertebaran dan bikin ngiler, para peserta diminta untuk saling berbagi kartu nama.

Kartu nama? Emang siapa ibu-ibu yang punya kartu nama? Jadi ya udah, pada buat dulu di atas kertas origami. Boleh memilih warna kertas yang kita sukai dan menuliskan siapa kita. Kita ingin dikenal orang lain sebagai siapa? Percaya apa tidak, jika tahu kita ingin dikenal sebagai siapa, rasa percaya diri bisa meningkat. Dita sempat berbagi cerita bagaimana anak-anaknya begitu bangga jika ditanya siapa dirinya dan bisa menyampaikan bahwa mereka ingin dikenal sebagai siapa.

Ehm, jadi kepikiran bikin kartu nama beneran nih.

Sekilas TOT Ibu Profesional 2016

Acara TOT Ibu Profesional dan Talents Mapping 2016 angkatan pertama diadakan di Hotel Grand Wahid Salatiga Jawa Tengah pada 22-24 Januari 2016.

Para ibu dari berbagai daerah selama 3 hari 2 malam mendapat ilmu untuk menjadi trainer nasional ibu Profesional dan trainer Talents Mapping dari Bu Septi peni wulandani dan Pak Dodik Mariyanto (Founder Ibu Profesional) serta Abah Rama Royani (Founder dan penemu Talents Mapping).Worth it banget lah dengan investasi Rp 960.000,- saja.

Simak deh, pesan bu Septi Peni Wulandini mengenai Training for Fasilitator. dalam video di sini.

*Kunci jawaban jumlah bujursangkar di atas:

Jika kita melihat 1 unit bujur sangkar terkecil sebagai 1 satuan, maka kita akan melihat ukuran 1×1 = 16 buah, ukuran 2×2 = 9 buah, ukuran 3×3 = 4 buah, ukuran 4×4 = 1 buah. Total ada 30 buah. Kalau kita melihat bolak balik kertas, bisa dianggap 60 buah. Semua jawaban yang telah dipertanggungjawabkan dunia akhirat benar juga kok.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Ibu sebagai Fasilitator Handal Keluarga bersama Dita Wulandari

Leave a Reply

%d bloggers like this: