Perjalanan menemukan passion menulis

Sekarang kalau orang bertanya, “Shanty passionnya apa?”. Nggak usah pakai mikir dan nyontek kiri-kanan, pertanyaan bisa dijawab dengan cepat, “Menulis.” Padahal baru 2 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya bisa menulis tulisan utuh sekitar 600 kata. Sebuah tulisan berjudul Kenapa saya ingin belajar menulis di Akademi Menulis 5 Menara dalam rangka seleksi untuk bisa dapat ilmu gratisan dari novelis trilogi 5 Menara, Ahmad Fuadi.

Sebelumnya, saya hanya punya keinginan untuk menulis yang besar, tapi hanya sebatas keinginan. Tidak ada satu pun tulisan yang utuh diatas 500 kata yang berhasil dibuat. Jadi kan malu, kalau ngaku punya passion menulis.

Saat ini, walau pun belum mendapatkan keuntungan finansial atau prestasi yang berarti dari menulis, saya sudah cukup PD dengan minat di bidang ini. Saya sudah ketemu pekerjaan kalau yang kata Tante Nicola Cook di buku Aku Berubah Maka Aku Sukses, sebagai pekerjaan yang membuat merasa mengalir. Pekerjaan yang nyaman untuk dilakukan. Pekerjaan yang it’s so me. Walau masih meraba-raba seperti apa ujungnya bagai melihat dalam jalan yang berkabut dan harus dilalui dengan kecepatan pelan, saya bisa menikmati perjalanan ini.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana bisa sampai disini?

Kalau melihat perjalanan 2 tahun ke belakang, sepertinya hanya ada 2 faktor dominan yang membantu seseorang menemukan passionnya. Kedua hal itu adalah:

1. Teman

Saya punya teman-teman keren di Akademi Menulis 5 Menara (AM5M). Bergaul sama anak-anak muda belia ini bikin saya terbawa energi positif untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Faktor pertemanan memang punya pengaruh besar untuk bisa terus memompa semangat kita untuk menjadi lebih baik.

Selain di AM5M, saya punya ‘fans-fans fanatik’ di Komunitas Ibu-Ibu Profesional Bandung yang selalu menagih Oleh-oleh setiap saya pulang seminar. Demi para fans, maka saya rela lembur membuat review tulisan untuk men-supply rasa kelaparan Ibu-ibu yang sering berhalangan menghadiri seminar-seminar keren yang diselenggarakan di Bandung. Seneng sekali, ketika tulisan-tulisan itu akhirnya bisa banyak dinikmati orang lain. Seperti Oleh-oleh Mempersiapkan anak akil balig dari Bang Adriano Rusfi yang dibaca hingga hampir 5000 orang atau Oleh-oleh Pendidikan finansial anak sejak dini dari Teh Patra yang dibaca hingga hampir 2000 orang. Alhamdulillah.

passion1

2. Konsisten menyediakan waktu untuk menulis

Jangan pernah sekali-sekali bilang mau belajar menulis tapi tidak mampu menyediakan waktu untuk menulis dengan rutin. Entah itu setiap hari atau senin-kamis. Pokoknya harus menulis. Karena tanpa itu, ya tidak akan mungkin bisa.

Semua kemampuan itu harus memiliki waktu untuk diasah dan dilatih. Setelah hampir 2 tahun menulis senin-kamis, baru ada tuh segelintir orang yang bilang “Shanty, tulisannya bagus,” atau “Seneng deh baca tulisannya Shanty, enak bacanya, mengalir.”

Baru ada yang bilang begitu setelah pengorbanan berangkat subuh pulang malam, 2 atau 3 minggu sekali untuk setor muka ikut pelatihan di Jakarta. Dan itu 2 tahun yang lalu!

Jadi kalau ada yang ingin versi instan, hari ini bilang mau belajar menulis, bulan depan langsung jadi orang yang yakin dengan passion menulisnya, saya kira dia butuh tongkat ibu peri Cinderella.

Tapi ada 1 cara untuk mempercepat proses itu secara alami tanpa suntikan penambah hormon.

Memperbanyak waktu latihan.

Kalau orang menulis senin-kamis perlu waktu 2 tahun, kamu bisa mencoba dengan setiap hari. Memang susah dipercaya, tapi saya menemukan keajaiban itu dengan teman-teman di #ODOPfor99days. Dengan setoran rutin setiap hari, dalam 33 hari, kelihatan dan terasa sekali perbedaan tulisan teman-teman. Makin hari makin matang dan enak dibaca. Baru 33 hari saja kelihatan bedanya. Apalagi kalau sudah 99 hari. Apalagi kalau sudah setahun. Wow, senang membayangkannya.

Setiap orang pada dasarnya diberikan keunikan masing-masing. Keunikan yang membedakannya dengan orang lain dan membuatnya bisa berkontribusi positif untuk masyarakat di sekitarnya. Keunikan itu biasanya ditandai dengan minat kita pada sesuatu.

Sesuatu yang ketika kita kerjakan memberikan rasa yang nyaman dan menyenangkan. Kita bahkan tidak bisa untuk tidak melakukannya. Kita bisa stress jika tidak menyalurkan minat kita tersebut. Itulah passion. Minat yang akan memaksa kita untuk selalu mencari jalan untuk mengasahnya secara konsisten untuk waktu yang lama. 10 ribu jam kalau kata Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers.

So, selamat berburu passion masing-masing dan menjalani kehidupan ini dengan lebih bermakna.

passion2

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Perjalanan menemukan passion menulis

  • February 28, 2016 at 3:20 am
    Permalink

    huaaa makasih yaa teh shanty.. udah bikin program ODOP untuk kita2.. saya juga baru nulis 2 bulanan ini dan memang menulis itu menyenangkan dan kayaknya passion saya juga di bidang ini.. nggak akan jadi beban kalau memang ini yang kita suka ya teh 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: