Cinta dan Doa yang salah

Entah kenapa  hari ini nggak ada angin nggak ada hujan, kok pengen nulis tentang cinta-cintaan. Sok-sok-an kehilangan kalender dan lupa tanggal berapa hari ini. Padahal sejujurnya nggak sudi dibilang ikut palentinan. Malu sama umur.

Sebenarnya saya ini  termasuk makhluk langka yang NGGAK punya mantan pacar. Menikah umur 30  dengan pacar pertama. Walau merana dan nelangsa menjoblo selama 30 tahun, ternyata kalau diingat-ingat saya punya sejumlah cerita cinta juga.

Cerita dimulai sekitar masa SMA. Di hari orang sudah mulai pacaran di usia SMP, saya hanya bisa melongo mendengar satu demi satu teman cerita tentang bagaimana mereka ‘ditembak’.  Awalnya sih biasa saja mendengar cerita seperti itu. Da sadar diri, itu bukan hal yang akan terjadi pada saya yang punya badan kaya papan penggilesan ini. Tapi kok lama-lama tergoda juga. Penasaran juga, sebenarnya ‘ditembak’ itu rasanya gimana sih?

Maka mulailah saya berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, ijinkan saya merasakan diri ‘ditembak’ dong. Pengen tahu bagaimana rasanya?”

Doa itu serta merta dijawab yang di Atas dengan melemparkan laki-laki dari antah berantah tiba-tiba nongol di depan saya dan ‘nembak’.  Apa rasanya? Asli pengen ngelempar. “Duh, Tuhan gimana sih. Bukan yang model begini atuh lah. Nggak ada bagus-bagusnya disukai sama orang dari planet lain seperti ini. Nggak ah, saya nggak suka.”

Di masa kuliah, doanya mulai  ganti. “Ya Tuhan, kayanya saya pengen tahu rasanya disukai sama orang yang kenal sama saya. Mohon jangan dikirimkan orang dari planet lain.”

Kembali doa itu dikabulkan. Nongol dong teman masa SMA. Sebenarnya saya bahkan pernah nge-fans sih sama dia. Eh dia nyatain lagi. Sayang telat beberapa tahun. Trus gimana? Happy?

Asli pengen marah. “Duh, Tuhan jangan becanda dong. Yang ini emang teman yang kenal . Tapi kan kenalnya beberapa tahun yang lampau. Saya yang sekarang sudah beda. Yang ini nggak kenal saya yang sekarang. Walau memang tetap berbadan papan penggilesan, tapi saya punya gaya yang beda sekarang. Anak kuliahan gitu loh. Nggak ah, saya nggak suka.”

Jadi terus bagaimana?

Ya udah, saya mencoba berdoa dengan lebih khusyu dan spesifik. “Ya Tuhan, coba dong berikan saya orang yang kenal sama sayanya sekarang. Yang tahu bagus dan jeleknya saya sekarang. Mohon jangan orang dari jaman pra sejarah.”

Entah kenapa, kalau doa bagian ini Tuhan selalu baik mengabulkan semua permintaan saya. Kucluk…kucluk…kucluk… datang nggak dari jauh-jauh. Seorang sahabat yang selalu ada disamping saya menyatakan suka. Puas? You got what you want?

“Duh Tuhan, kenapa harus sahabat baik yang saya harapkan cuma sekedar sebagai teman. Da saya butuhnya sosok dia sebagai teman, nggak asyik banget nih kalau jadi pacar. Nggak ada chemistry-nya nih. Nggak ah, saya nggak suka.”

Jadi salah lagi? Terus gimana?

Pantang menyerah. Doa harus terus dipanjatkan. “Ya Tuhan, tolong dong sekali aja saya pengen tahu rasanya disukai oleh orang yang saya suka. Sepertinya enak.”

Serius loh, kesampaian juga. Ada juga ternyata laki-laki yang suka sama papan penggilesan. Untung kebetulan saya suka. Tapi kita nggak jadian kok. Cuma sebatas suka-sukaan aja, karena saya keukeuh tidak mau pacaran. Jadi ya sebatas pendekatan aja lah. Namun nggak bertahan lama, karena rasanya nggak cocok.

Akhirnya saya sadar. Sadar sesadar sadarnya. Mungkin kita memang nggak boleh asal berdoa. Dan saya pun berhenti berdoa untuk waktu yang lama. Cukup trauma dengan doa-doa yang salah sebelumnya.

Tak terasa umur sampai menjelang memasuki kepala 3 dengan status Singel, Rich and Happy. Ssssttttt itu rasanya enak banget. No wonder banyak yang keenakan di masa ini hingga lupa untuk menikah.

Tapi kasak kusuk orangtua mulai mengganggu nih. Mama muncul dengan selembar doa yang katanya dapat dari seorang Ustad agar enteng jodoh. OK, that’s it. Itu mungkin sudah waktunya saya berdoa lagi. “Ya Tuhan, saya nggak tahu lagi harus meminta seperti apa. Karena ternyata permintaan saya selalu tidak tepat. Saya pasrah saja lah ya Allah, berikan saya jodoh yang menurut Engkau yang terbaik.”

Eits, pulang dari tugas di Jakarta, seorang cowok item ganteng sok-sok-an mendekati. Pake alasan pengen dibantuin buatin gambar 3D katanya. Berawal dari proposal proyek, cerita cepat berlanjut ke proposal hidup bareng. Dia suka saya – cek. Kami saling mengenal dan punya gaya yang sama – cek. Saya suka dia – cek. Dan tidak terasa kami telah bersama sejak 9 tahun yang lalu. Sejauh ini, dia memang terbukti memang jodoh terbaik. “Terima kasih ya Tuhan. Alhamdulillah hirrabbil alamin.”

jodoh
Sumber: www.online-instagram.com

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Cinta dan Doa yang salah

Leave a Reply

%d bloggers like this: