Talkshow & Bedah Buku Creative Parenting Today bersama Andi Asfandiyar

Siapa sih yang nggak kenal Kak Andi Yudha Asfandiyar? Kalaupun ada yang nggak kenal Kak Andi, mestinya kenal sama Mio, kucing putih dengan belang-belang hitam yang jadi buku sejuta umatnya anak-anak. Tapi masa iya sih Kak Andi kalah beken sama tokoh ciptaannya sendiri?

Saya dapat kabar, katanya CEO Picu-Pacu Kreativitas ini membuat buku berjudul Creative Parenting Today dan akan mengadakan Talkshow & Bedah buku di Panggung Utama Bandung Book Fair Landmark Braga Bandung 31 Januari 2016. Wah langsung dong tertarik. Kalau urusan kreativitas dan anak-anak, Kak Andi adalah orang yang paling terpercaya lah.

Talkshow & Bedah Buku Creative Parenting Today

Sayang sekali saya agak telat sedikit tiba di lokasi, jadi tidak sempat dengar bagian awalnya. Walau begitu banyak pesan penting dari pembina PAS Salman yang juga lulusan Desain Grafis ITB ini yang menarik untuk disimak.

Kak Andi mengingatkan untuk mengapresiasi sekecil apapun kemampuan anak. “Kita jangan underestimate sama anak. Anak memang punya kelemahan karena mereka masih muda. Tetaplah berbaik sangka pada mereka”.

Anak ketok-ketok panci, emaknya ribut. “Eh jangan…jangan… nanti rusak!”

Kak Andi sempat cerita mengenai seorang anak yang ia apresiasi nyanyiannya. Alhasil si anak menyandera Kak Andi untuk mendengar kemampuannya bernyanyi. Awalnya 1 lagu, 2 lagu, dan sampailah pada lagu ke-18. Ketika diminta berhenti oleh orangtuanya, si anak memohon untuk memperdengarkan lagu terakhir. Sayang itu bukan benar-benar terakhir. Kak Andi akhirnya baru bisa pamit pulang setelah lagu ke-26.

Begitulah, saat kita mengapresiasi anak, semangat anak untuk mengekpresikan dirinya keluar. Sebagai orangtua, kita sering mudah berburuk sangka sama anak.

“Nanti kotor”

“Nanti rusak”

“Nanti Mama repot”

Tidak seperti orang dewasa yang perlu konsentrasi tinggi dalam melakukan sesuatu, anak-anak itu mampu mendengarkan sambil bermain. Seluruh indranya bekerja dengan optimal.

Biasakan juga untuk merekam aktivitas anak. Ini bermanfaat untuk catatan anak kalau sudah besar. Ia akan punya tabungan aktivitasnya di saat kecil.

Ehm, jadi saya jadi teringat rekaman album kegiatan anak-anak di Facebook yang biasa saya lakukan sekedar sebagai catatan perkembangan anak, ternyata ada dasarnya. Kenapa ditaruh di Facebook dan bukan di laptop dirumah yang tidak bisa diakses orang lain? Kalau ini alasannya untuk jangka panjang. Suatu saat nanti, saat mereka besar, dan mungkin sudah berada pada belahan dunia yang lain, mereka tetap bisa mengakses kegiatan-kegiatan itu kapan saja dan dimana saja. Selain itu tujuannya untuk saudara dan kerabat yang tersebar dari ujung ke ujung Indonesia. Rekaman itu membuat jarak jadi terasa dekat. Teknologi memang bisa benar-benar membantu connecting people jika digunakan dengan bijaksana.

Kalau saya buat rekaman kegiatan belum ada dasarnya. Nah beda dengan Kak Andi yang sudah malang melintang di dunia kreativitas anak dan menuliskan pengalamannya dalam Buku Creative Parenting Today. Dalam buku 176 halaman ini, Kak Andi menyampaikan mengenai apa itu kreatif, kenapa harus menjadi orangtua yang kreatif, dasar-dasar mendidik anak, mengenal dunia anak, bagaimana cara memicu karakter positif dan kreativitas anak, hingga ke tips praktis untuk mendapatkan anak yang kreatif dan cara berkomunikasi dengan anak.

Semuanya tentu based on experience beliau selama bertahun-tahun sebagai pendidik, orangtua, bahkan sebagai anak itu sendiri.

Ciri kreativitas

Pria dengan 3.850 jam terbang presentasi ini menggambarkan sebuah lingkaran kreativitas. Dimulai dengan berani mencoba. Pokoknya berani mencoba dulu! Ketika anak minta ayahnya gambar Dinosaurus, ayahnya mentang-mentang nggak sejago Kak Andi dalam menggambar, langsung nyerah.

“Gambar gajah aja ya, Ayah nggak bisa gambar dinosaurus.”

Tunjukkan ke anak bahwa harus berani mencoba dulu.

“OK Nak, Ayah coba gambar Dinosaurus.” Mau nanti jadinya gambar kucing, ya nggak masalah. Yang penting berani mencoba. Mental berani mencoba ini yang penting dilatih pada anak-anak.

Orang yang berani mencoba punya kecenderungan untuk sukses.

Orang yang tidak takut gagal, dan selalu mencoba dan mencoba lagi lebih besar kemungkinan suksesnya daripada orang yang tidak pernah mencoba.

Setelah sukses demi sukses kecil diraih, otomatis rasa percaya dirinya meningkat. Dan rasa percaya diri ini akan membangkitkan kembali rasa berani mencoba. Demikianlah lingkaran kreativitas bekerja.

Jangan orangtua membandingkan kesuksesan kecil anak dengan kesuksesan besar orang lain. Banyak orangtua yang menyepelekan keberhasilan kecil anaknya yang tidak seberapa. Anak jadi patah semangat dan tidak berani mencoba.

Kak Andi menunjukkan kemampuannya ber-oneline drawing – menggambar tanpa mengangkat tangan dari atas kertas.

Contoh berpikir kreatif

Pernah suatu ketika anak-anak melihat tayangan kerusuhan di Kalimantan dari televisi. Gambaran yang cukup menyeramkan bagaimana kepala manusia yang telah dipenggal dijajarkan di tempat umum. Pastinya cukup traumatis untuk anak-anak yang sudah keburu melihat.

Terus gimana dong? Apa yang harus dilakukan orangtua yang kreatif?

Besoknya, Kak Andi membawa anak-anak ke pasar tradisional. Khusus untuk melihat menyembelihan ayam. Disinilah diterangkan apa yang semestinya disembelih, sekaligus mengajarkan anak-anak bagaimana menyembelih hewan yang benar dalam Islam.

Jadi jangan dibatasi segala sesuatu itu belum waktunya. Masa anak kecil diajarkan menyembelih hewan? Atau seperti sekarang yang dipermasalahkan banyak orang mengenai apakah calistung atau bahasa inggris boleh diajarkan pada anak-anak TK? Semua itu tergantung caranya. Ya iya nggak boleh ketika caranya mengajar anak TK sama seperti mengajar anak SMP. Ketika itu masuk dalam keseharian, anak tidak akan bisa membedakan mana yang belajar dan mana yang bermain.

Kak Andi juga sempat cerita bahwa ia pernah mengajak ratusan anak ke sebuah lapangan di Arcamanik. Ia mengumpulkan sejumlah binatang dari kuda, sapi, kambing, dan banyak lagi. Ngapain? Main sama binatang? Bukan sekedar itu. Tapi melihat bagaimana e’e-nya. Jadi anak-anak tahu seperti apa kotoran setiap binatang. Mereka juga bisa belajar bahwa perbedaan ciptaan Tuhan secara utuh.

Benar saja, tidak semua orangtua bisa menerima itu. “Ih, kok anak saya diajarkan yang jorok-jorok sih Kak Andi,” protes beberapa orangtua. Tapi begitulah cara Kak Andi mengajarkan konsep kebersihan pada anak-anak. Dengan menunjukkan e’e binatang.

“Coba apa yang akan kita lakukan jika melihat kecoak,” tanya kak Andi kepada para hadirin di Panggung Utama Bandung Book Fair Landmark Braga Bandung.

“Biasanya orang langsung refleks ingin segera mengubah binatang malang itu dari 3 Dimensi menjadi 2 Dimensi,” lanjut alumni Seni Rupa ITB angkatan 1985 ini. Kenapa harus dijadikan 2 Dimensi? Kan cukup disingkirkan saja. Sampai-sampai kita tidak tahu kalau ditanya berapa jumlah kaki kecoak. Berapa coba? Tanpa sengaja, kita sering memberikan pemahaman yang salah pada anak-anak.

Itu beberapa contohnya cara berpikir kreatif. Dalam buku Creative Parenting today, masih banyak lagi tips cara berpikir kreatif yang ceritakan. Tidak diragukan lagi, must read book for parent nih. *Waktunya Mama ngitung recehan di dompet.

Mengenai pamer

Kita ini terkadang sering salah kaprah juga dalam mendidik anak-anak. Anak-anak ditekankan untuk tidak boleh pamer atau riya terhadap kemampuan mereka.

Coba bayangkan, ada seorang anak yang pintar berenang. Saat dia melihat temannya hampir tenggelam di tengah kolam, dia tidak mau menolong. “Takut nanti dikira riya karena pintar berenang.” Nah loh bisa bahaya kan kalau sampai salah kaprah begini.

Ada saatnya anak perlu perlu diajarkan untuk berani mengekpresikan kemampuannya. Dan itu bukan pamer.

Creative Parenting Today di Landmark Braga

Terus terang, saya juga melihat ini sebagai fenomena yang kurang sehat. Pamer itu berbeda dengan mengekpresikan kemampuan atau menginspirasi orang lain. Ketika kita melihat postingan teman mengenai perjalanan mereka ke suatu tempat baru, apakah kita menilainya sebagai pamer atau sebagai informasi dari tempat tersebut? Ketika kita lihat teman share tentang kemampuan anak mereka, apakah kita menilainya sebagai pamer atau menginspirasi kita untuk memodifikasi idenya? Atau ketika saya sharing tentang oleh-oleh dari seminar yang saya ikuti, apakah yang terpikir bahwa saya pamer atau saya berbagi informasi untuk sahabat-sahabat saya yang tidak bisa hadir?

Coba bayangkan apa jadinya jika tidak ada orang yang mau berbagi informasi tentang tempat rekreasi baru, ide-ide permainan edukatif, atau sharing materi-materi menarik. Hanya karena alasan takut dibilang pamer. Repot banget nggak sih, kita harus mendatangi tempat baru bagai kucing dalam karung, kurang update dengan ide-ide permainan yang keren-keren, atau bahkan harus keliling dari satu seminar ke seminar lain dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit.

Jadi catet ya, mereka bukan pamer!

Mengajarkan anak tentang ketuhanan dan seksualitas

Ketika mendapat pertanyaan mengenai bagaimana caranya menerangkan kepada anak usia 5-6 tahun mengenai ketuhanan dan seksualitas, pria yang mengaku diterima di Universitas Brawijaya Malang tanpa tes melalui program PMDK dan APDN, tapi memilih sekolah yang ada gambarnya di Seni Rupa ITB ini memberikan jawaban menarik.

“Kalau kita jelaskan ‘Allah itu adanya di Arsy’, kemungkinan besar anak-anak dengan keterbatasannya tidak akan memahami dengan mudah. Anak-anak itu berpikirnya konkrit.” Untuk mengenal Tuhan bisa dengan menunjukkan bagaimana Ayah Sholat setiap hari, atau mengajak anak memperhatikan ciptakaan Allah seperti menumbuhkan tanaman atau menurunkan hujan.

Untuk masalah seksualitas, bagaimanapun juga kita memiliki adat ketimuran yang tidak merasa nyaman jika terlalu terbuka seperti cara orang barat menjawab pertanyaan dari mana adik lahir misalnya. Kak Andi memberi contoh, pertanyaan ini bisa dengan mengajak anak melihat proses reproduksi binatang. Bagaimana kucing lahir, bisa memberikan anak pemahaman yang konkret dan sesuai dengan usia mereka.

“Anak itu jujur. Makanya, mungkin ketua KPK itu harusnya anak-anak,” kata Kak Andi yang dirumahnya ada 12 ular, 6 musang, dan 3 kura-kura.

Nah, jadi coba deh untuk belajar mengajari anak-anak dengan praktek nyata. Orangtuanya juga harus berani berekspresi. Show your potential, nanti anak-anak akan mengikuti. Atau para orangtua mau belajar dari anak-anak? Jangan karena kitanya pemalu dengan alasan tidak mau dibilang riya, kita mau anak-anak kita juga tumbuh seperti itu.

Kalau ingin berguru lebih jauh dengan kak Andi bagaimana cara menjadi orangtua yang kreatif, coba deh ikutan PaRafting – Parenting Rafting di Sungai Cipunegara Subang  6 Februari 2016. Kak Andi mau berbagi ilmu bagaimana caranya memupuk sikap pemberani anak, dimulai dari orangtuanya dulu. Are you dare to rafting?

PaRafting

Review mengenai buku Creative Parenting today saya tuliskan dalam tulisan terpisah ya. Mohon sabar menunggu.

*just info, kaki kecoak jumlahnya 6. Sudah saya cek.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Talkshow & Bedah Buku Creative Parenting Today bersama Andi Asfandiyar

  • February 2, 2016 at 8:33 pm
    Permalink

    kebiasaan anakku bgt pukul panci, aku jarang melarang anak asal tidak membahayakannya aku biarkan 😀

    Reply
  • February 3, 2016 at 3:37 am
    Permalink

    asyi ya banyak ilmu yang didapat

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: