Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak bersama dr. Yovi Yoanita

Materi Seminar Menjadi Ibu Bijak dibuka dengan sebuah materi mengenai Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa 15-18% anak di Amerika mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. 7-10% bahkan putus sekolah. 20-30% gangguan ini terdeteksi setelah masa sekolah.

Di Indonesia sendiri, ternyata 30% anak mengalami gangguan perkembangan. Sedihnya, 80% diantaranya disebabkan karena kurangnya stimulasi. Di pedesaan gangguan perkembangan mencapai 30%, sedangkan di perkotaan sekitar 19%.

 

Ganggungan perkembangan

dr yovi yoanitaGangguan perkembangan yang banyak ditemui adalah:

  • Gangguan bicara dialami 8% anak usia sekolah
  • Perawakan pendek dialami 34% anak. Hal ini dapat terjadi karena gangguan gizi, kelainan endokrin atau kelainan kromosom.
  • Autisme dengan prevalensi 1% dari populasi di Asia, Eropa, Amerika Utara. Biasanya muncul sebelum 3 tahun.
  • Disabilitas intelektual dengan IQ <70. Prevalensi 1-3% dari populasi umum.
  • Celebral Palsy 1,5 – 2,5 dari 1000 kelahiran hidup (USA)
  • Sindrom Down
  • ADHD 5% dari populasi.

Semua orang tua berharap anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat, cerdas dan berakhlak mulia. Yang dimaksud dengan tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik secara kuantitatif, sedangkan berkembang mengacu pada bertambahnya kemampuan dan struktur tubuh yang lebih kompleks secara kualitatif. Untuk itu orangtua perlu mengamati proses tumbuh kembang anak yang sesuai dengan umurnya.

 

Faktor tumbuh kembang optimal

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang secara internal adalah:

  • Perbedaan ras, etnik, atau bangsa
  • Keluarga
  • Umur
  • Jenis kelamin
  • Kelainan genetik
  • Endokrin
  • Kelainan kromosom

Sedangkan faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang secara eksternal adalah:

  • Gizi
  • Penyakit kronis/kelainan kongenital
  • Lingkungan fisik dan kimia (seperti wifi, wangi-wangian, obat nyamuk, dll)
  • Psikologis
  • Sosio-ekonomi
  • Lingkungan pengasuhan
  • Obat-obatan

Pemantauan yang paling standar adalah mengukur tinggi, berat badan dan lingkar kepala anak secara rutin dan di catat dalam KMS.

kms baru
KMS yang harus selalu diisi dengan rutin

 

4 Aspek perkembangan

Ada 4 aspek perkembangan yang perlu diperhatikan oleh para orangtua, yaitu:

  • Motorik kasar

Mencakup kemampuan anak dan sikap tubuh yang melibatkan otot besar, seperti duduk, berdiri, berjalan dan berlari.

Perlu diwaspadai jika terlihat gerakan asimetris, refleks primitif hingga usia diatas 6 bulan, gangguan tonus otot, gangguan refleks tubuh, adanya gangguan tidak terkontrol.

  • Motorik halus

Mencakup kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, seperti mengamati sesuatu, mencari benang yang dijatuhkan, memindahkan bola ke tangan lain, dan mencorat-coret.

Perlu diwaspadai jika masih ada refleks menggenggam hingga usia diatas 4 bulan, dominasi 1 tangan hingga usia 1 tahun, eksplorasi oral masih sangat dominan setelah usia 14 bulan, perhatian penglihatan yang inkonsisten.

  • Kemampuan bicara dan bahasa

Mencakup kemampuan memberi respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya, seperti berkata ooh, aaah, tertawa, teriak, menyebut satu suku kata, mengoceh, menyebut papa mama secara spesifik, menyebut gambar, menghitung jumlah kubus.

Perlu diwaspadai jika kurang kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap benda pada usia 20 bulan, ketidakmampuan membuat frase bermakna setelah usia 24 bulan, orangtua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan.

  • Sosialisasi dan kemandirian

Mencakup kemampuan mandiri anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan, seperti membalas senyuman, makan sendiri, membereskan mainan, berpakaian sendiri, menggosok gigi tanpa bantuan.

Perlu diwaspadai jika jarang senyum pada usia 6 bulan, kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah pada usia 9 bulan, tidak merespon jika dipanggil namanya pada usia 1 tahun, belum ada kata pada usia 15 bulan, tidak bisa bermain pura-pura pada usia 18 bulan, belum ada gabungan 2 kata berarti pada usia 2 tahun, tidak ada babling, kemampuan bicara, dan bersosialisasi.

 

Pengamatan terhadap tumbuh kembang anak perlu dilakukan oleh orangtua, pengasuh, keluarga, masyarakat, dan petugas kesehatan.

Tidak lupa dr Yovi mengingatkan untuk mengapresiasi setiap kali anak mampu mencapai kemampuan baru. Bayi menjadi lebih bersemangat ketika kemampuannya diapresiasi.

Luangkan waktu lebih pada 2 tahun atau 1000 hari pertama kehidupan anak. Karena pada saat itu kemampuannya berkembang dengan sangat pesat. Terutama jika terdeteksi ada gangguan.

Usahakan untuk tidak menjauhkan jarak anak pertama dengan anak kedua. Masalah yang sering terjadi saat anak pertama lahir, si ibu masih penuh energi namun belum berpengalaman. Setelah anak kedua, walau sudah berpengalaman, tapi energi ibu sudah keburu habis dan harus menghadapi kecemburuan si kakak. Dengan mendekatkan jarak anak, masalah itu menjadi agak teratasi karena si ibu akan di bantu oleh si anak sulung.

Orang tua sebaiknya jangan terlalu protektif sama anak. Biarkan anak merasakan jatuh. Karena banyak yang dilatih saat ia mencoba hal baru. Jangan juga terlalu ingin rumah bersih dan rapi. Hargai anak yang mencoba merapikan mainannya sendiri, walau itu sekedar digeser ke kolong kursi.

Jika ada perkembangan yang telat, terus saja dirangsang. “Jangan dianteupkeun,” kata dr. Yofi. Perkembangan anak itu harus berurutan. Jangan dilompati. Merangkak itu adalah proses yang penting. Banyak bagian syaraf yang dirangsang saat anak merangkak. Anak yang sudah besar dan melewati fase merangkak, biasanya dilakukan terapi merangkak lagi.

Yang penting berilah anak lingkungan yang bahagia dan aman buatnya bereksplorasi. “70% anak bermasalah datang dari unhappy family, bukan broken family ya.”

Tapi Bunda jangan langsung khawatir jika putra-putrinya mengalami keterlambatan. Menurut sebuah penelitian, otak itu terus berkembang. Prefrontal cortex mengalami perkembangan yang paling lama, dimulai dari usia kecil hingga usia 30-40 tahun (Arah-Jayne Blakemore, University College London). “Bisa jadi ini yang menjadi dasar mengapa ada istilah life begin at 40,” terang dr Yovi.

 

Langkah pemeriksaan gangguan perkembangan:

  1. Surveilans

Suatu proses yang fleksibel, longitudinal, berkesinambungan, dan kumulatif dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga medis profesional untuk mendeteksi anak yang mungkin mengalami masalah perkembangan. Semestinya dilakukan secara rutin.

  1. Skrining

Suatu tindakan singkat dengan menggunakan alat-alat terstandarisasi untuk membantu mengidentifikasi anak yang beresiko mengalami masalah perkembangan. Skrining dilakukan rutin per 3 bulan, atau setidaknya pada usia 9, 18 dan 36 bulan.

  1. Assesment

Evaluasi perkembangan secara komprehensif untuk menentukan perkembangan dan masalah yang dicurigai. Dari sini dapat dilihat apakah terjadi keterlambatan perkembangan (delay), perkembangan yang menyimpang (disosiasi), atau abnormal (keluar dari milestone perkembangan normal).

Demikian materi padat dan lengkap yang disampaikan oleh dr. Yofi dalam waktu 1 jam. Selanjutnya kita akan masuk pada materi kedua mengenai Nutrisi untuk Tumbuh Kembang Optimal bersama dr. Siti Nur Fatimah SpGK.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

5 thoughts on “Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak bersama dr. Yovi Yoanita

  • January 25, 2016 at 10:05 pm
    Permalink

    Lengkap banet ini materi nya
    Saya juga paling semangat di materi ini, selain di awal, materinya bagus banget ya, udah gitu.. Btw themes wp nya enak hihi bagus

    Reply
    • February 2, 2016 at 3:50 pm
      Permalink

      Energi emak-emak cuma sampai di materi kesatu dan kedua kayanya ya Sin. Abis itu mengalir lepas… ha…ha…

      Iya nih, menikmati theme gratisannya WP. Asal nyomot sih, nyari yang asal nggak biasa aja.

      Reply
  • February 2, 2016 at 12:19 pm
    Permalink

    Terimakasih teh, bermanfaat sekali. Namun saya bingung, jadi anak pertama dan kedua itu sebaiknya didekatkan atau dijauhkan jaraknya? Trims

    Reply
    • February 2, 2016 at 3:46 pm
      Permalink

      Kalau kata dr. Yovi sih mending didekatkan. Alasannya kalau yang saya tangkep dari penjelasan dr. Yovi mumpung umur si ibu masih muda, biar si kakak nggak jealousan ke adiknya, dan bahkan bisa jadi teman main bareng adiknya. Katanya sih gitu.

      Kalau saya pribadi sih pakai jarak kelahiran alami. Setelah anak pertama disapih saat 2 tahun, baru hamil lagi. Jadi jaraknya sekitar 3 tahun. Awalnya sempat kepikiran soal takut masalah sekolah SMP dan SMA. Tapi akhirnya jarak sekolah mereka beda 4 tahun. Karena si Kakak masuk TK usia 4 tahun, sementara adiknya usia 5 tahun.

      Reply
      • February 2, 2016 at 3:54 pm
        Permalink

        Oh iya teh, td bingungnya d kalimat supaya nanti kakak bisa bantuin ibunya, hehe… thx teh… keep sharing yaaa

        Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: