Review buku Bicara Bahasa Anak karangan Rani Razak Noe’man

“Mengapa anakku selalu membantah?”

“Mengapa aku harus berteriak marah dulu, baru anakku menurut?”

Mungkin ini curhat klasik banyak orang terutama ibu-ibu. Kalau teman-teman termasuk salah satu yang mengalami kasus diatas, ada baiknya baca buku keren karangan Bunda Rani Razak Noe’man berjudul Bicara Bahasa Anak – Menjadi Orangtua Asyik, Membentuk Anak Hebat (Noura Books 2014).

 

Kasus dalam Bicara Bahasa Anak

Yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah karena banyak contoh kasus yang diangkat dari kejadian yang sehari-hari kita temui. Apalagi beberapa kasus yang dialami sendiri oleh penulis  yang lulusan Teknik Industri ITB. Misalnya saja kasus keterlambatan belajar yang dialami Lala putri bungsunya dan bullying yang dialami Ceuceu putri pertamanya.

Saya sharing sedikit tentang 2 kasus ini ya.

Lala ceritanya sejak kelas 1 hingga 6 SD selalu mendapat rangking 3 besar…dari bawah! Tapi berhubung emaknya sudah dapat ilmu parenting yang cukup untuk memisahkan masalah anak dan orangtua, jadi bisa tidak terlalu panikan menghadapi masalah seperti ini. Walau sebenarnya panik dan malu punya anak langganan 3 besar dari bawah, tapi Bunda Rani berusaha istiqomah dengan prinsip:

Ini bukan masalah saya, saya tidak boleh panik dan mengambil alih masalah anak. Biarkan kesadarannya muncul sendiri dan ia mencari jalan keluarnya sendiri.

Selama bertahun-tahun yang bisa dilakukan Bunda Rani hanya sebatas mengingatkan, “Lala, sudah belajar?” atau “Lala, yuk belajar dengan Bunda.” Dan jawaban anak sekedar “Aku udah belajar kok!” padahal sebenarnya belum.

Hingga suatu hari, 5 bulan menjelang ujian akhir SD, penantian itu pecah telor. Kesadaran si anak muncul pada suatu siang. Bunda Rani tidak pernah melupakan kejadian itu. Lala pulang dan menangis guling-guling di lantai. Rupanya nilai try-out ujiannya paling jelek. Biasanya ada orang lain yang lebih jelek.

Disitulah kesadaran si anak muncul. Ia mulai merasa itu menjadi masalahnya. Bukan masalah orangtuanya. Akhirnya si anak berinisiatif untuk meminta les tambahan. Bahkan mengatur waktunya sendiri untuk mengikuti sejumlah les demi mengejar ketertinggalannya. Lucu juga melihat pada awalnya Lala begitu bernafsu mengikuti sejumlah les, ternyata ia kelelahan sendiri dan mulai mengatur jadwal yang lebih masuk akal. Seiring waktu, perhatian Lala pada dirinya sendiri dan pelajarannya semakin meningkat. Apalagi Lala sadar ia dimasukkan ke kelas berisi anak ‘bodoh-bodoh’. Dari situ anak ‘bodoh-bodoh’ ini menyepakati jam les bersama untuk menghadapi ujian.

Hasilnya sungguh luar biasa. Seluruh anak ‘bodoh-bodoh’ lulus ujian dengan nilai bagus. Bahkan, Lala meraih rangking ke-8 (kali ini dari atas!). Sejak itu Lala menyadari potensi dirinya. Sejak SMP hingga SMA, Lala selalu meraih rangking 3 besar dari atas!

Gigit lidah, jangan intervensi, biarkan anak mengambil keputusannya sendiri. Biarkan anak belajar dari pengalamannya. Biarkan ia menemui kegagalan agar ia termotivasi untuk mencari jalan keluar. Bantu mereka dengan doa agar Tuhan selalu melindungi mereka, menyegerakan kesadarannya, dan memberikan kesabaran kepada orangtua untuk membesarkan anak-anak dengan cara yang baik. (hal 130)

Kasus menarik yang lain adalah masalah bullying yang dialami Ceuceu saat baru masuk SMP. Suatu hari ia pulang dengan kaki kiri lecet, besoknya tangannya memar, besoknya lagi kaki kanannya membiru. Ketika ditanya jawabnya “jatuh” atau “kejedot”. Hingga suatu saat Ceuceu mengalami luka hingga berdarah. Disitu ia baru cerita bahwa ia di bully temannya bernama Retno. Menurut Retno yang sering memukuli anak laki-laki dan membuat anak perempuan menangis, setiap anak harus menangis dulu sebelum menjadi anggota kelas. Innalillahi, anak siapa sih ini?

Dan Ceuceu menolak aturan itu. Jadilah Ceuceu di-bully setiap hari oleh Retno.

Kalau kita kayanya langsung ke sekolah untuk marah dan melabrak ke sekolah. Bunda Rani juga sebenarnya pengen begitu. Tapi ia berusaha menghormati pilihan Ceuceu untuk melawan ‘kezaliman’ Retno. “Jika saya mengambil alih masalah, berarti saya tidak menghormati pilihan Ceuceu,” ungkap Bunda Rani.

Dengan tenang Bunda Rani hanya mengatakan, “Wah, aneh juga ya, kok anak perempuan galak begitu?”

“Bukan, Bun… Retno itu anak laki-laki!”

Dijamin teman-teman juga susah untuk tidak tersenyum kan?

Dari cerita Ceuceu terungkap ternyata Retno adalah anak yang telah 2 kali tidak naik kelas. Dari sana Bunda Rani mengajak Ceuceu untuk bisa melihat Retno dari sudut pandang yang berbeda. Dan empati Ceuceu muncul terhadap Retno. Alhasil, keduanya bisa bersahabat dan menyelesaikan masalah bullying itu tanpa harus ada intervensi ‘panikan’ dari para orang tua.

Bagaimana? Menarik kan? Masih ada banyak kasus lain lagi seperti masalah anak yang sulit makan, anak manja, anak lelet, anak suka maksa, anak ngamuk dan banyak lagi. Semua itu kuncinya ada di seni berkomunikasi dengan anak.

 

Materi lengkap

Pembahasan di buku ini cukup lengkap. Mulai dari pentingnya keharmonisan dan kesamaan visi orangtua dalam mendidik anak, kesalahan komunikasi yang sering kita lakukan selama ini dan dampaknya pada anak, hingga ke prinsip-prinsip komunikasi yang efektif untuk anak.

Bahkan menurut saya, konsep komunikasi yang ditawarkan dalam buku ini tidak hanya berlaku untuk untuk anak, tapi juga untuk pasangan dan orang lain.

 

Amazing Parenting

Di bagian awal, kita akan diajak untuk menyatukan visi mengenai pengasuhan anak. Tentu semua orangtua ingin anaknya sukses. Tapi kesuksesan anak itu tidaklah selalu berbentuk materi, dia sekolah dimana atau kerja dimana. Melainkan yang lebih utama adalah kepribadian yang matang, kebahagiaan, kemampuan untuk bersyukur, dan akhlak yang mulia.

Untuk mencapai itu diperlukan kerjasama dari kedua orangtua. Kita sering terjebak pada mitos Ayah mencari nafkah dan Bunda mengurus anak. Padahal sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang diasuh orangtuanya secara seimbang akan tumbuh menjadi anak yang jauh lebih cemerlang jika dibandingkan anak dengan pengasuhan dari bunda saja.

 

Tujuan pengasuhan anak

Tujuan pengasuhan anak itu sebenarnya ada 3, dan digambarkan dalam bentuk piramida:

  1. Tujuan pertama adalah menumbuhkan anak yang tangguh dan memiliki spiritualitas tinggi. Mereka mengenali esensi kehidupan, memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan, beriman kepada Tuhan, beretika, berkarakter, serta berakhlak mulia. Tujuan ini letaknya di puncak piramida karena yang paling sulit dan memakan waktu lama.
  2. Tujuan kedua adalah menumbuhkan anak-anak berperilaku baik. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang mampu berdisiplin, memiliki etika dan tata krama, sopan santun dan hidup sehat. Tidak sesulit yang pertama, tapi tidak terlalu mudah juga.
  3. Tujuan ketiga adalah menumbuhkan anak yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Ini cukup mudah dicapai dengan menyekolahkan anak di sekolah terbaik, membawa mereka ke tempat les terbaik, menyediakan rumah yang nyaman, makanan yang bergizi, dan buku-buku yang berkualitas.

 

Gaya komunikasi tradisional

Seperti juga disampaikan Bunda Elly Risman mengenai bentuk komunikasi yang tidak efektif dalam Seminar di Auditorium FK Unpad, Bunda Rani juga membahas lengkap tentang materi tersebut dalam buku setebal 200 halaman ini. Materi Seminar Bunda Elly bisa dilihat di sini.

Bunda Rani menyampaikan 15 gaya komunikasi tradisional yang harus dihindari ketika berhadapan dengan anak. Seperti:

  1. Memerintah
  2. Mengancam
  3. Menceramahi/menasehati
  4. Menginterogasi
  5. Mengecap/melabeli anak
  6. Membandingkan
  7. Menghakimi
  8. Menyalahkan
  9. Mendiagnosis
  10. Menyindir
  11. Memberi solusi
  12. Mengalihkan perhatian dengan menyuap
  13. Menghibur
  14. Menjamin
  15. Membohongi.

Kok semua nggak boleh?

Karena ini tidak akan pernah efektif. Maksud orangtua bisa jadi agar masalah cepat selesai, memberitahu anak apa yang harus dilakukan, anak patuh, orangtua kepo-an, memberitahu kekurangan anak, memotivasi, mencari sumber kesalahan, membantu anak mencari jalan keluar, dan sebagainya.

Tapi ternyata pesan yang ditangkap anak bisa sangat berbeda. Anak akan merasa bahwa hidup tidak ada pilihan dan harus patuh pada orangtua, anak jadi penakut, orangtua cerewet, orangtua tidak bisa dipercaya, anak merasa tidak dicintai, anak merasa bersalah dan terhina. Intinya, nggak nyambung.

Kok bisa nggak nyambung? Salahnya di mana?

Perlu dipahami bahwa komunikasi itu bukanlah “apa yang kita sampaikan”, melainkan “apa yang ditangkap oleh orang yang kita ajak berkomunikasi.”

 

Komunikasi efektif

Ada 3 hal yang mempengaruhi pesan yang ditangkap orang yang kita ajak bicara, yaitu: kata-kata sebanyak 7%, cara mengucapkan 38%, dan bahasa tubuh 55%. Jadi terjawab sudah kenapa walau kita ngomong berbusa-busa tapi anak-anak tidak mendengarkan. Hanya 7% pesan yang masuk ke kepala mereka!

Jadi bagaimana caranya menyampaikan pesan yang efektif?

Coba deh untuk tidak menyampaikan dengan terburu-buru, lihat dulu suasana hati anak apakah sedang mood buat di’omelin’ atau nggak. Demikian juga sebaliknya, saat anak ingin menyampaikan pesan kepada orangtua, sebaiknya orangtua menampilkan bahasa tubuh yang bisa membuat anak merasa nyaman, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, empati pada perasaan anak, menjaga kontak mata, dan menghadap tubuh anak.

Berikut prinsip komunikasi yang efektif:

  • Memperhatikan bahasa tubuh

Banyak orangtua tidak memiliki cukup waktu untuk memahami bahasa tubuh anak. Padahal di tahun-tahun awal kehidupannya anak hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Seperti menangis tanda ia lapar, bosan, sakit atau sedih; melempar benda tanda ia kesal, marah dan bosan; diam tanda ia sedang sedih atau menginginkan sesuatu; menggigit jari tanda ia gugup atau takut; atau meremas tangan tanda ia gelisah.

Pesan tanpa bicara ini bisa terlihat melalui ekspresi wajah, gerak dan postur tubuh, isyarat anggota tubuh, kontak mata saat bicara, sentuhan maupun intonasi suara. Andai ada aplikasi yang bisa dipakai untuk men-scan suasana hati anak kita, tentu akan sangat membantu ya.

  • Jadilah pendengar aktif

Untuk bisa memahami bahasa tubuh anak, cobalah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian, jangan sambil mengerjakan yang lain; beri nama perasaan yang anak rasakan, jangan malah meminta anak memendam perasaannya; dan cukup katakan Ooh atau Hmmm saat anak bercerita, jangan langsung menyalahkan atau menghukum.

Sebenarnya saya sangat ingin membedah tuntas isi buku, hanya saja akan terlalu panjang. Karena setiap halaman begitu menarik dan penting. Alih-alih nanti malah menyalin isi buku lengkap. Silakan menikmati sendiri suguhan menyehatkan dari buku kategori “Must Read for Parents” ini. Dan selamat menikmati serunya menjadi “Amazing Parent.”

“Apa pun jadinya anak kita kelak, sangat tergantung pada cara kita mengasuhnya saat ini.” (hal 31)

bicara bahasa anak

Data buku Bicara Bahasa Anak – Menjadi Orangtua Asyik, Membentuk Anak Hebat

Pengarang          : Rani Razak Noe’man

Editor                    : Dyota Lakshmi

Penerbit              : Noura Books, 2014

Halaman              : xxviii + 174 hlm, 15x20cm

Harga                    : Rp 39.000,-

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Review buku Bicara Bahasa Anak karangan Rani Razak Noe’man

    • January 27, 2016 at 5:07 am
      Permalink

      Mestinya sih ada. Saya nemunya di Rumah Buku Supratman Bandung. Di sana suka banyak nyelip buku-buku parenting menarik. Diskonan lagi. #komentar ini mengandung unsur iklan terang-terangan. ha…ha…

      Reply
      • January 27, 2016 at 7:37 am
        Permalink

        Okke makasih ya mbak Shanty… sukaaa sama tulisan2nya mbak ^-^

        Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: