Kiat melindungi anak dari kecanduan game

Setelah mendengar penjelasan mengenai Kakatu dan Confession of an ex Gaming Junkie dari Mumu, kini waktunya untuk mendengarkan penjelasan ilmiah di balik masalah ini dan mencari solusinya. Bunda Elly Risman yang telah berpengalaman bertahun-tahun menangani anak-anak yang kecanduan game membuka sesi dengan menyadarkan orang tua atas seriusnya industri games.

Industri game

Dari sebuah site http://www.ligagame.com/ bisa dilihat bagaimana industri games di garap dengan begitu profesional. Ada lomba-lomba yang bertaraf internasional dengan hadiah jutaan rupiah digelar secara rutin.

Bunda Elly mengutip sebuah cuplikan dari artikel yang ditulis tahun 2011 berjudul Pemain game Online di Indonesia akan meningkat pesat.

Dalam tulisan itu disebutkan bahwa:

  • Berdasarkan survey yang mereka lakukan, dalam waktu 2-5 tahun mendatang, jumlah pemain games di Indonesia akan meningkat pesat secara drastis.
  • Hal itu disebabkan karena 70-80% keluarga muda yang memiliki anak berumur 5-12 tahun memainkan game pemula di Facebook maupun Ipad.
  • Tinggal tunggu waktu 2 hingga 5 tahun mendatang, anak-anak ini akan merasa bosan, dan tertarik mencoba games yang lebih menantang seperti games online dan sejenisnya.
  • Peluang ini rupanya dilihat oleh para publisher game online di Indonesia. Bahkan di tahun 2011 saat tulisan ini dibuat, terjadi rekor baru dalam hal jumlah publisher baru yang memasuki market Indonesia.

Jadi kebayang kan betapa seriusnya masalah kecanduan game ini menghantui sekitar 90 juta anak Indonesia. Sadarilah bahwa bencana itu ada di ujung jari anak kita.

“Bahaya yang paling besar sebenarnya bukan pada anak mengakses game dan pornografi seharian, tapi bahaya sebenarnya adalah orang tua yang tidak sadar bahwa itu berbahaya.”

“Saya kemarin dari kantor Wakil Presiden mengenai urusan ini. Sebelumnya Saya sudah berurusan dengan Lemhanas, Satgas Pornografi, Pokja Perlindungan anak. Tidak ada yang tembus! Pemerintah masih lebih serius memikirkan siapa yang bergabung dengan KIH atau KMP,” kata Bunda Elly dengan nada kesal.

Ia kini bersama Yayasan Kita & Buah Hati hanya bisa dengan tidak bosan-bosan mengajak para orang tua untuk kembali merangkul anak-anak kita sendiri demi terselamatkan dari bahaya kecanduan game. Ia merasa terbantu dengan Komunitas seperti SEMAI 2045, AbahAmbu, Kakatu, Fatherhood Forum, Daddycation yang memberikan perhatian besar pada masalah ini.

Tujuan pengasuhan anak

Perlu disadari bahwa orang tua tidak pernah sekolah menjadi orang tua sebelumnya. Bisa jadi ini yang menyebabkan banyak orang tua tidak siap ketika diberi amanah sebagai orang tua. Padahal sebenarnya, para orang tua itu perlu duduk bersama untuk membuat kesepakatan dan merumuskan tujuan pengasuhan anak-anak mereka.

Banyak orang tua yang hanya sibuk mempersiapkan anaknya nanti sekolah dimana dan jadi apa. Tapi lupa bahwa anak itu harus:

  1. Menjadi hamba Tuhan yang baik.
  2. Mempersiapkan diri menjadi calon istri atau suami.
  3. Mempersiapkan diri menjadi calon ayah atau ibu.
  4. Baru setelah itu mempersiapkan mereka untuk siap menghadapi dunia profesional.

4 hal diatas sudah cukup untuk anak perempuan. Untuk anak laki-laki, perlu ditambahkan 3 hal lagi, yaitu:

  1. Mempersiapkan diri sebagai pendidik istri dan anak-anaknya.
  2. Mempersiapkan diri sebagai penanggung jawab keluarga.
  3. Bermanfaat bagi orang banyak.

Jika tujuan diatas menjadi patokan, rasanya anak tidak akan sempat untuk kecanduan games. “Jadi orang tua bukan sibuk cari TK yang Montessori atau tidak Montessori, tapi yang utama adalah anak harus jadi hamba Allah yang sholeh, iman benar dan akhlak mulia,” terang Bunda Elly.

Orang tua adalah baby sitternya Allah

Memiliki anak itu luar biasa. Hanya orang-orang terpilih yang diijinkan Allah untuk menyatukan sel sperma dan sel telur.

“Kita, mentang-mentang kesenggol aja jadi, malah ngegampangin  soal mengurus anak. Orang tua itu baby sitternya Allah. Kenapa malah cari baby sitter yang lain?”

Anak membutuhkan kelengketan (attachment) dengan orang tuanya. Susah dipungkiri, karena tuntutan kerjaan, banyak bayi sudah di sapih dari payudara ibunya pada usia 3 bulan. Padahal bayi yang belum jelas melihat itu, masih sangat membutuhkan pelukan hangat ibunya. Dengan kondisi mata yang masih jereng, bayi mengalami 2 macam kecemasan – Separation Anxiety (cemas karena berpisah) dan Stranger Anxiety (cemas karena orang asing).

Gizi anak itu sebenarnya 3 in 1. Ada gizi fisik, gizi jiwa, dan gizi spiritualnya yang harus seimbang. Banyak orang tua yang hanya ingat gizi fisik anaknya, tapi abai terhadap gizi jiwa dan spiritualnya.

Ditambah lagi usia sekolah yang makin lama makin dini. Otak anak yang belum bersambungan itu, dipaksa untuk menerima beban backpack yang diatas 2 kg dan  tekanan pelajaran sekolah yang luar biasa. Masa sekarang, anak bahkan ada yang mulai disekolahkan pada usia 18 bulan!

Media televisi juga turut memberi peran besar untuk membentuk lazy mind dan bad attitude.

Coba ingat-ingat, sejak usia berapa kecemasan mulai melanda anak Anda?

Kekeliruan dalam komunikasi

Pesan orang tua sering tidak sampai pada anaknya karena sejumlah kekeliruan dalam berkomunikasi. Hal ini disebabkan oleh:

  1. Bicara yang terlalu cepat dan tergesa-gesa.

IMG_8002Ibu-ibu itu hobi banget ngomel panjang lebar dengan suara yang cepat. Pagi-pagi sudah ngomelin anak pertama yang terlambat bangun tidur, anak kedua yang makannya nggak habis, anak ketiga yang selalu kehilangan barang, sampai bapaknya yang minta selalu minta dilayani buat kopi. Susah sekali untuk menahan gelak tawa ketika Bunda Elly, memperagakan adegan ini.

  1. Tidak kenal dengan diri sendiri.
  2. Lupa bahwa setiap individu adalah unik dan tidak bisa dibandingkan.
  3. Kebutuhan dan kemauan berbeda.
  4. Tidak membaca bahasa tubuh anak.
  5. Tidak mendengar perasaan.
  6. Kurang mendengar aktif.

12 gaya komunikasi populer yang harus dihindari, karena terbukti tidak akan efektif!

  1. Memerintah
  2. Menyalahkan
  3. Meremehkan
  4. Membandingkan. “Lihat tu si kakak/anak tetangga rajin sekali, tidak seperti kamu”. Padahal setiap anak berasal dari sel telur dan sperma yang berbeda. Mereka unik dan tidak bisa dibandingkan.
  5. Mencap/label. Coba kepal tangan anda, dan tempelkan ke jidat sambil mengatakan “Kamu pemalas! Kamu bandel! Kamu Nakal!” Kalau sekedar cap fisik mungkin bisa di cuci dengan sabun pencuci muka. Tapi kalau cap di dalam kepala, itu akan bertahan lama. Tegakah kita memberi cap seperti itu pada buah hati kita?
  6. Mengancam. Ingat lirik lagu ini: Nina bobo, o nina bobo, kalau tidak bobo di gigit nyamuk. Itu contoh mengancam.
  7. Menasehati. “Kamu nurut ya apa kata Mama. Surga itu ada ditelapak kaki Ibu!” Menasehati tidak akan pernah masuk ketika emosi anak sedang tidak siap.
  8. Membohongi
  9. Menghibur
  10. Mengkritik
  11. Menyindir
  12. Menganalisa

Positif dan negatifnya game

Berikut kita bahas sisi positif game:

  • Meningkatkan kemampuan bahasa inggris
  • Melatih memecahkan masalah dan penggunaan logika
  • Praktek penggunaan motorik halus dan kemampuan spasial (ruang)
  • Pemain dikenalkan pada teknologi informasi
  • Kemampuan membaca dan mengeja meningkat signifikan dengan games edukasi
  • Meningkatkan kemampuan membuat strategi dan membantu meningkatkan teknik analisa kritis
  • Banyak games memerlukan pemain untuk bekerjasama agar menang sehingga mampu meningkatkan kemampuan sosial pemainnya.
  • Pemain bisa membuat permainan sendiri yang dapat menstimulasi otak dan proses berpikir untuk bisa menciptakan skenarion yang panjang dan rumit.
  • Pemain bisa menggunakan imajinasi untuk menyeimbangkan skenario dalam game seperti realita
  • Banyak games yang mengajarkan anak nilai ekonomi melalui mendapatkan uang dan menukarkannya dengna objek yang bisa memfasilitasi mainan tertsebut.
  • Memberikan kesempatan untuk orang tua dan anak bermain bersama.

Sekarang kita masuk ke sisi negatif game:

  • Secara fisik anak dapat mengalami kejang lengan (Repetitibe Strain Injury), mengikisnya lutein pada retina anak, bahkan mencetuskan ayan/epilepsi.

Banyak orang belum percaya bahwa game dan pornografi merusak otak anak. Bunda Elly mempelajari tentang otak ini sekitar tahun 2008 saat di Amerika. Salah seorang koleganya memberi tahu tentang cara menjaga kerusakan otak yang ia ambil dari kitab sucinya. Dan ternyata cara itu sebenarnya ada juga dalam kitab suci agama Islam. Tepatnya dalam QS An Nuur 24:30-31.

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

  • Game kekerasan menyebabkan tingkat agresifitas yang lebih tinggi
  • Alasan orang bermain games secara berlebihan adalah karena mereka tidak bisa mengatur waktu atau sebagai cara lari dari masalah (Wood, 2008)
  • Banyak games yang didasari dengan plot kekekerasan (tendangan, tusukan, pukulan hingga pembunuhan).
  • Games bisa mengaburkan antara realitas dan fantasi. Masih ingat cerita Mumu tentang menganggap nyawanya ada 3 ketika bertemu truk?

Apa itu kecanduan games?

Definisi: “Penyakit kronis, yang ditandai dengan rusaknya kontrol terhadap penggunaan materi psikoaktif atau perilaku (baik secara biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual).

Walaupun kecanduan games belum dimasukkan dalam DMS (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), tapi para ahli klinis di lapangan menyebutkan adiksi game sebagai gangguan yang menunjukkan gejala yang sama dengan karakteristik yang tampil pada adiksi lainnya.

Ciri-ciri kecanduan games:

  • Tidak bisa berhenti bermain berjam-jam. Diatas 10-15 jam/minggu bisa dimasukkan kategori kecanduan.
  • Lebih peduli pada gamesnya daripada pada keluarga atau teman
  • Berkurangnya perhatian pada kebersihan diri
  • Berbohong pada keluarga terdekat
  • Gangguan dalam siklus tidur
  • Gangguan makan dan berat badan
  • Prestasi akademis dan kesulitan di sekolah maupun di tempat kerja
  • Menarik diri dari pergaulan

Ada 5 saja dari ciri diatas, bisa masuk kategori kecanduan games.

Hasil quesioner

Dalam kesempatan di Auditorium FK Unpad, ibu 3 putri dan nenek dari 5 cucu ini juga menayangkan hasil kuesioner yang disebar kepada seluruh peserta pada awal acara. Dengan jumlah responden 101 orang, terungkap sejumlah fakta yang cukup mengkhawatirkan, seperti banyaknya orangtua yang membiarkan anaknya bermain gadget di usia yang begitu belia.

Cara menjaga anak-anak dari kecanduan game

Kecanduan game umumnya melanda anak-anak BLAST. B – Bored/bosan tanpa kegiatan, Lonely/Kesepian karena tidak ada orang tua atau teman yang menemani, Angry/Marah kepada pihak lain, Stress/Tertekan akan tuntutan yang berlebihan, Tired/Kelelahan karena beban sekolah.

Slide21

Anak-anak BLAST ini memiliki kecenderungan untuk kecanduan pornografi, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), masturbasi, merokok, miras, hingga narkoba.

Untuk menjaga anak kita dari kecanduan game, cobalah untuk merenung dan mengkaji kembali mengapa kita memberi anak game. Bijaklah menggunakan teknologi dengan menyepakati aturan dan konsekuensi bermain game.

Bagaimana solusinya bagi anak yang telah kecanduan?

Keterlibatan aktif orang tua

graveIngatlah liang kubur. Apa ada jaminan Anda dipanggil lebih dulu daripada anak-anak? Siapkah Ayah Bunda saat anak-anak dipanggil duluan dan ditanya mengenai kehidupannya di dunia? Mungkin Ayah Bunda sudah memiliki asuransi pendidikan anak untuk masa depan mereka, tapi apa yang Ayah Bunda investasikan untuk kehidupan akhirat titipan Allah yang luar biasa ini?

Pulangkan ayah ke rumah dan hadirkan ayah dalam pengasuhan. Tanggung jawab rumah tangga itu ada di pundak seorang Ayah. Dan para Ibu, patuhlah pada suami. Ini sebabnya mengapa poin pendidikan anak laki-laki menjadi lebih banyak daripada anak perempuan. Bahkan warisan yang diterima anak laki-laki adalah 2 kali lebih banyak dari anak perempuan.

Berundinglah bersama pasangan. Sediakan waktu untuk membahas masalah ini berdua. Lihat ke belakang bersama. Temukan akar masalahnya. Bagaimana awalnya anak mulai kecanduan games. Apa yang anak butuhkan? Sudah berapa lama anak kecanduan game? Rumuskan kembali tujuan pengasuhan anak.

Tanpa keterlibatan orang tua, terapi psikologis secanggih apa pun tidak akan berhasil. Orang tua yang abai, menurut Bunda Elly, sudah tidak memiliki rasa takut sama Allah.

Banyaklah belajar sebagai orang tua.

Rangkul dan bantu anak untuk sembuh

Mulailah dengan minta maaf! Jelaskan kepada anak dengan hati tentang kekeliruan pengasuhan selama ini. Tanpa meminta maaf, anak akan terus diliputi rasa tidak dihargai, bersalah dan marah. Sembuhkan luka jiwa anak dengan meminta maaf. Mungkin orang tua gengsi minta maaf karena kesalahan yang telah belasan tahun dilakukan. Tapi tanpa itu, masalah anak Anda tidak akan pernah selesai.

Perbaiki komunikasi agar bisa diselesaikan dulu masalah yang menyangkut harga diri dan kepercayaan diri anak.Hargai pikiran dan perasaan anak. Pelajarilah bahasa tubuh anak.  Jangan bebani anak masalah yang bisa ditunda. “Tidak naik kelas juga tidak masalah. Elly Risman dulu juga tidak langsung bisa masuk UI.”

Benahi kehidupan spiritual anak. Jelaskan tentang ketentuan agama. Seimbangkan gizi fisik, jiwa dan spiritual anak.

Harus ada keinginan anak untuk sembuh.

Kurangi secara bertahap waktu bermain games. Sepakati frekuensi dan intensitas anak bermain games. Minta bantuan lingkungan dekat untuk membantu anak menjauhi game. Ganti kegiatan dengan kegiatan bersama seperti piknik, pecinta alam dan kegiatan yang disukai anak.

Kuncinya, keluarga adalah kontrol pertama dan terpenting. Orang tua adalah terapis terbaik.

Help, tolong anak. Rangkul mereka. Bantu mereka mengatasi kecanduannya.

Heal. Bantu sembuhkan mereka. Dukung mereka.

Hope. Jangan pernah berhenti berharap. Bangunlah film harapan dengan anak Anda.

“Kalau anak orang lain bisa sukses, mengapa anak Anda tidak?”

Catatan:

*Materi ini disampaikan oleh Bunda Elly Risman pada Seminar Parenting Bahaya Dibalik Kecanduan Game yang diselenggarakan pada 14 Januari 2016 di Auditorium FK Unpad Jl Eycman 38 Bandung

** Tulisan ini merupakan rangkaian ketiga dari 3 post mengenai kegiatan ini.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Kiat melindungi anak dari kecanduan game

Leave a Reply

%d bloggers like this: