Confession of an ex Gaming Junkie

Kalau kita baca post sebelumnya tentang Kakatu – sebuah aplikasi untuk melindungi anak dari kecanduan game dan pornografi, mungkin masih banyak para orang tua yang merasa itu belum perlu.

Masih banyak para orang tua yang berpikir seperti ini:

  • Daripada anak mabuk, stress nggak jelas, mending main game saja di rumah
  • Cuma main game doang kok
  • Di rumah aja kok, jadi bisa diawasi setiap saat
  • Mana bisa anak lepas dari gadget?
  • Bener kan anak jadi anteng kalau dikasih game. Rumah bersih nggak pake berantakan lagi.

Tahan pemikiran itu sampai kita mendengar cerita dari Mumu – Muhammad Nur Awaludin, Pendiri Kakatu yang mengaku pernah menjadi pecandu game akut.

Masa kecil

Mumu kecil di tahun 1999 saat masih duduk di kelas 2-3 SD adalah anak yang manis. Ia bahkan juara MTQ se-Kecamatan. Sebagai anak bungsu yang kesepian karena ditinggal orang tua di rumah dan kakak-kakak yang mulai sibuk sendiri, saat kelas 4 SD, ia mulai mengenal yang namanya PS di tempat rental. Karena uang jajan yang terbatas dan bermain PS di tempat rental perlu uang, sekitar setahun kemudian mulailah Mumu kecil berani mengambil diam-diam uang di lemari Ibunya atau di kotak amal Ayahnya. “Sebenarnya orang tua mulai agak curiga, tapi untung masa itu ada yang namanya tuyul. Jadi tuyul lah yang menjadi kambing hitam,” aku Mumu yang memancing tawa para peserta seminar.

Pada usia SMP game yang dimainkan semakin canggih dan mulai terpapar pornografi. Perlu orang tua sadari bahwa pornografi ternyata bisa datang melalui banner iklan dari aplikasi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan situs pornografi itu sendiri. Selain itu, gambar-gambar dari game yang seronok juga turut memicu keingintahuan anak. Bakat berbohongnya juga kini semakin meningkat. Jika dulu masih ada tuyul yang disalahkan, saat SMP atau SMA kemampuan meningkat dengan me-mark up SPP dan kebutuhan sekolah. Bakat sebagai koruptor mulai terasah di sini.

Hebatnya lagi, Mumu tahu sekali bahwa hobinya bermain game bisa dijadikan kambing hitam jika prestasi sekolahnya menurun. Untuk itu, ia berusaha untuk tetap berprestasi. Walau dengan cara yang manipulatif seperti mencontek atau merayu guru. Jadi, jangan pernah terlalu menyandarkan keberhasilan anak pada prestasi akademis semata. Coba pastikan perkembangan lainnya berjalan dengan baik atau tidak. Bagaimana perkembangan sosial mereka, apakah mereka sopan dan berempati dengan orang lain? Apakah orang tua mengenal teman-teman bermain anak-anaknya?

Masa remaja

Pada masa SMA di tahun 2005 – 2008, tingkat kecanduan Mumu semakin bertambah. Ia berani mencuri uang dari rental komputer, bermain judi dengan prestasi yang dianggap hebat. “Lumayan bisa dapat 80 ribu untuk membeli voucher game,” katanya mengenang masa-masa kejayaan semu itu.

Mumu sempat cerita bagaimana saat pelajaran di kelas, seorang teman yang membawa HP menggilirkan Hpnya diantara teman sekelas untuk melihat gambar-gambar ‘3GP’ koleksinya. Kebutuhannya pada pornografi perlahan mulai meningkat dengan keinginan untuk memiliki film biru.

Kocak sekali mendengar cerita pria berusia 24 tahun ini mengenai pengalaman pertama membeli film biru di Kebon Kembang yang menjadi setra film bajakan di kota Bandung.

“Pertama datang, cuma berani lihat-lihat saja. Masih maju mundur karena malu. Terus datang lagi kedua kali. Masih nggak berani juga. Tiga kali, masih malu. Empat – lima kali, akhirnya ada yang nyamperin. Mungkin dia bisa mencium gelagat seorang pembeli yang bisa di prospek menjadi pelanggan setia. Orang itu menawarkan sesuatu. ‘Apaan nih?’ saya pura-pura nggak tahu,” cerita Mumu. Sejumlah peserta tertawa sambil miris mendengar pengakuan betapa mudahnya anak-anak kita mendapatkan materi pornografi.

Kalau orang lain gizinya harus terpenuhi dengan 4 sehat 5 sempurna, Mumu remaja meyakini gizinya terpenuhi dengan 2 sehat, 2 sempurna. Apa itu? Game dan Pornografi.

Karena lingkungan rumah yang dinilai tidak sehat oleh orang tuanya, Mumu remaja di pindah untuk tinggal bersama saudara lain yang lingkungan rumahnya lebih sehat. Ternyata pindah secara fisik tanpa memperbaiki masalah komunikasi, malah membuat kecanduannya menjadi-jadi. Ia malah merasa semakin bebas karena jauh dari orang tua.

Sempat berhenti sekolah selepas SMA tahun 2008 hingga 2010 karena tidak lulus Ujian masuk PTN.

Semakin adiksi game dan pornografi. Mumu sanggup main game 30 jam nonstop. Lupa ibadah. Ia bahkan cerita bagaimana ia tidak puasa satu hari pun di bulan Ramadan. Kesehatan menurun dan mulai acuh tak acuh dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Kenapa sih Mu, bisa suka sekali main game?

“Saya merasa lebih dihargai, dibutuhkan, dan diterima di dunia game dibandingkan di kehidupan nyata.”

Jika dalam dunia nyata dianggap bodoh atau jelek, dalam dunia game, anak seperti mendapat pengakuan. Mumu bahkan cerita ia memiliki Ayah dan Ibu virtual di dunia game. Mereka ini sangat perhatian dan sering memberi tips atau tenaga untuk membimbingnya ke level yang lebih tinggi. Jika tidak bermain selama beberapa waktu, mereka akan sangat memperhatikan dan menanyakan kabar melalui personal message.

Emang bahasa Inggris Mumu bagus ya, bisa chat dengan orang-orang asing?

“Saya belajar bahasa Inggris memang dari game, caranya dengan di copy – paste dengan Google translate,” jelasnya.

Mumu sempat menuliskan dalam salah satu slide yang ia tayangkan,

“Seandainya bisa menuntut dan berkata, saya ingin Ayah dan Ibu dapat meluangkan waktu seperti sebelumnya. Kok makin kesini rasanya makin kesepian saja.”

Mumu sebenarnya ingin berbagi kesedihan hatinya saat diolok-olok teman atau saat disiram kopi oleh gurunya. Tapi ia tidak bisa. Rasanya begitu jauh dan tidak dekat dengan orang tua.

Ada sebuah kejadian yang sangat parah ketika ia santai saja jalan tanpa menghiraukan truk yang lewat. Di kepalanya nyawa kan ada 3. Kalau satu hilang, masih ada 2 yang lain. Adeuh…segitunya game mengacaukan otak anak sehingga tidak bisa membedakan antara realita dan game. Untung supir truknya nggak kecanduan game juga.

Kecelakaan motor

Pada suatu sore di bulan Februari 2010, Mumu mengalami kecelakaan motor. Saat itu walau sudah dilarang orang tuanya untuk keluar karena cuaca yang sangat mendung, tapi ia maksa mau membeli voucher game. Akhirnya karena menghindari sesuatu, motornya menabrak tiang listrik dan ringsek. 2 bulan ia tidak bisa main game karena tangannya cedera. Mulailah kesadaran itu muncul. Apalagi saat melihat status teman-temannya di media sosial yang telah pada kuliah.

“Saya mau kuliah deh,” katanya pada sang Ibu.

Karena sudah menganggur 2 tahun, ia memilih sekolah swasta saja. Itu juga yang masuknya gampang dan tidak pakai ujian yang susah-susah.

Dari saat daftar kuliah di bulan Februari, hingga masa kuliah di bulan Agustus, Mumu mulai mencoba mandiri dengan bekerja di sebuah tempat yang tidak mau ia sebutkan karena masuk dalam daftar blacklist pekerjaan. Setelah membayar 300 ribu rupiah, dengan penuh semangat ia mulai bekerja. Sempat juga menjanjikan kepada orang rumah bahwa ia akan mentraktir mereka jika gaji pertama diterima. Kantornya berada di sebuah bangunan 2 lantai. Lantai 2-nya kosong. Tugasnya adalah mewawancari orang di lantai 1. Setiap wawancara bayarannya 1000 rupiah. Jika berhasil mengajak orang masuk ke perusahaan itu dan bersedia membayar 300 ribu, ia dibayar 50 ribu per orang. Sudah terbayang kan pekerjaan seperti apa itu?

Alhasil, pada akhir bulan, boro-boro bisa mentraktir orang rumah, Mumu hanya mendapat gaji 2000 rupiah atas jasanya mewawancara 2 orang. Dan tidak ada seorang pun yang berhasil direkrutnya. “Habis nggak tega juga, menjerumuskan orang,” jelasnya. Uang itu di simpan Ibunya sambil diiringi doa semoga akan jadi berjuta-juta di kemudian hari. Sempat juga ia bekerja di sebuah mini market sebagai tukang pel dan kasir.

Akhirnya bulan Agustus tiba untuk memulai kuliah. Akibat pergaulan di tempat baru ini, kecanduan gamenya kembali kambuh. Orang tua dipandang sebagai mesin ATM saja. Didekati sebatas kalau perlu uang. Kini yang di mark up adalah uang kuliah yang jumlahnya jutaan.

Kesadaran kedua

Pada bulan Mei 2011, Allah sekali lagi mengingatkan Mumu. Kali ini cukup keras. Akibat menderita kanker, Ibu Mumu meninggal dunia. Ia sempat mengamuk dan tidak percaya pada kenyataan yang menyakitkan itu.

Baru terkenang bagaimana baiknya ibunya. Betapa ibunya mau bersusah payah membelikannya Jaket Naruto, karena jika tidak dibelikan ia mengancam mogok makan. Atau saat jam berapapun ia pulang ke rumah, Ibunya selalu ikhlas bangun untuk memasakkannya nasi goreng. Mumu baru menyadari bahwa itu adalah bentuk perhatian yang luar biasa dari orang tuanya. Perhatian yang begitu ia impikan pada awalnya. Sayang sudah terlambat.

Tissue….mana tissue…

Akhirnya Mumu tobat sepenuhnya dari game dan berhenti menghabiskan waktu percuma. Ia keluar rumah dengan tekad untuk mandiri dan produktif di tempat kuliahnya. Terlebih ketika tahun 2013 ia bekerja membantu badan bencana alam untuk mengantarkan bantuan sambil terus kuliah. Ia benar-benar sibuk dan tidak sempat main game lagi.

Keseriusan Mumu berhasil membuahkan prestasi membanggakan di tahun 2013 seperti Winner INAICTA kategori Digital Interactive Media, Top 10 Innoserve Contest Taiwan, dan Winner Digital Creative Indonesia (DCI) Telkomsel.

Ini yang Mumu sebutkan dalam slide penutupnya,

There is always a hope – untuk keluar dari kecanduan game dan mulai berprestasi. Jangan pernah putus harapan.

Peserta Seminar tengah mendengar Mumu bercerita di Auditorium FK Unpad

Menjelang wisuda

Cerita belum berakhir happy ending sampai disini. Pada bulan Agustus 2014, Mumu harus menghadiri sebuah kompetisi di Jakarta. Kompetisi terakhirnya sebagai mahasiswa karena dalam 2 minggu kedepan, ia akan diwisuda jadi sarjana di Unikom Bandung.

Ayahnya tengah sakit, memintanya untuk tidak pergi. Tapi Mumu benar-benar minta ijin untuk acara penting ini. Sebenarnya sejak ibunya meninggal, Mumu belum benar-benar bisa terbuka dengan ayahnya. Ia pikir, ia akan bisa ngobrol dekat dengan ayahnya setelah ia berhasil membanggakan kedua orang tuanya dengan mempersembahkan ijasah kelulusan 2 minggu lagi. Sebagai mantan pecandu game, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ayah. Hanya tinggal 2 minggu lagi!

Pada hari kedua keberadaannya di Jakarta, ia mendapat telpon dari kakaknya yang mengabarkan bahwa Ayahnya telah dipanggil Yang di Atas…

Manusia berkehendak, Allah yang memutuskan. 2 minggu lagi saja waktu yang ia minta.

“Kemana saja saya selama ini? Andai saja 2 tahun saya tidak hilang percuma hanya untuk bermain game, tentu sekarang saya tidak akan sesedih ini,” ceritanya dengan suara tertahan lama.

Kesedihan itu berubah menjadi tekad untuk mengembangkan Kakatu dengan lebih serius. Jangan sampai ada banyak anak lain yang menjadi korban game dan menyia-nyiakan waktu berharga mereka seperti dirinya.

“Adiksi game telah membuat saya kehilangan banyak hal yang berharga di kehidupan saya.”

Sebuah pertanyaan menarik sempat ditanyakan kepada Mumu, apakah ia tidak malu menceritakan masa lalunya kepada banyak orang?

“Sebenarnya malu dan ragu untuk cerita, apalagi ada Teteh dan Istri saya ikut hadir disini. Tapi banyak orang tua yang tidak sadar dan tidak bisa hanya diberi tahu betapa bahayanya kecanduan game tanpa contoh yang nyata. Saya tidak ingin ada anak lain yang mengalami kejadian seperti saya.”

Bagi saya pribadi ini adalah sebuah cerita yang luar biasa. Ketika saya menceritakan cerita ini kepada orang terdekat, ternyata Raka anak saya ikut menyimak. Entah pengaruh cerita ini atau  yang lain, ia secara sadar mengurangi waktunya bermain game dan lebih memilih bermain di luar bersama teman-teman. Dia bahkan minta segera di-install-kan Kakatu segala. Alhamdulillah. “Mama nggak akan tega membiarkan waktu-waktu berhargamu hilang sia-sia Nak…”

Terima kasih Mumu, telah berbagi dengan kita semua. Semoga Mumu dan timnya tetap istiqomah mengembangkan Kakatu. Dan semoga semakin banyak orang tua bisa terbuka mata hatinya untuk lebih bisa merangkul buah hati mereka.

the more you connect
The More you Connect, The Less you Connect

Catatan:

*Materi ini disampaikan oleh Mumu, pendiri Kakatu pada Seminar Parenting Bahaya Dibalik Kecanduan Game yang diselenggarakan pada 14 Januari 2016 di Auditorium FK Unpad Jl Eycman 38 Bandung

** Tulisan ini merupakan rangkaian kedua dari 3 post mengenai kegiatan ini.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: