Mengenal Alan Turing dalam The Imitation Game

The Imitation Game adalah film yang diangkat dari biographi Alan Turing, The Enigma karangan Andrew Hodges. Alan Turing adalah seorang ilmuwan Inggris pemecah kode sandi Enigma. Mungkin banyak yang belum tahu tentang Enigma. Enigma adalah mesin yang digunakan Nazi Jerman untuk mengkodekan komunikasi militernya. Setiap akhir hari, kode akan diubah, jadi para pemecah kode hanya diberi waktu 24 jam untuk bisa memecahkan kode hari itu. Sebuah mesin yang ‘unbreakable’.

Alur film yang diproduksi tahun 2014 ini dibuat  maju mundur. Dimulai dengan tahun 1951, 3 tahun sebelum Alan Turing meninggal karena bunuh diri. Tiba-tiba gambar adegan akan berpindah ke tahun 1939 saat Alan Turing bergabung dengan tim pemecah sandi di Bletchley Park. Sesekali adegan pindah ke tahun 1927 saat masa-masa sekolah Turing ketika berusia 15 tahun.

Turing memulai kecintaannya pada bidang memecahkan kode sejak bersahabat dengan Christopher Morcom yang sekaligus cinta pertamanya. Persahabatan mereka tidak berlangsung lama karena Morcom meninggal disebabkan penyakit Bovine Tuberculosis.

imitation-game1
Turing dan timnya di Bletchley Park

Ada adegan yang menarik ketika ilmuwan kelahiran London 1912 ini pertama kali menunjukkan minatnya ingin bergabung dengan tim di Bletchley Park. Turing yang saat itu berusia 27 tahun berusaha membuat janji dengan pimpinan fasilitas Alastair Deniston. Awalnya Deniston tidak menghargai Turing yang telah menjadi fellow di Cambrigde saat usia 24 tahun, dan telah mempublish sebuah paper yang judulnya saja susah dimengerti saking canggihnya di usia 23 tahun.

“Newton juga menemukan Teorema binomial pada usia 22 tahun. Einstein menulis 4 paper yang mengubah dunia saat usianya 26 tahun,” Turing berusaha berargumen bahwa seseorang tetap mampu profesional walau usianya masih muda.

Deniston tidak bergeming, hingga Turing mengucapkan kata ‘Enigma’. Saat itu Bletchley Park adalah pusat pemecah kode Inggris selama perang dunia 2 dibawah naungan Goverment Code & Cypher School (GC&CS). Mereka tengah menjalankan sebuah misi rahasia untuk memecahkan sandi Enigma.

“Kamu tahu nggak berapa banyak orang yang saya tolak untuk program ini. Baru minggu kemarin saya menolak lamaran seorang ahli bahasa terbaik,” ucap Deniston dengan dingin.

“Saya tidak bisa bahasa Jerman,” aku Turing.

“Jadi gimana caranya kamu mau bisa bantu memecahkan sandi komunikasi berbahasa Jerman?” kata Deniston dengan tidak sabaran.

“Nggak tau ya…. Tapi saya jago banget Crossword Puzzle loh.”

Dan Deniston pun segera berteriak memanggil sekretarisnya untuk mengusir Turing.

Untung saja Turing segera menyampaikan argumentasinya bahwa sandi kode Jerman itu seperti puzzle. Puzzle yang sangat menggoda untuk dipecahkan.

“You need me a lot more than I need you. I like solving problems Commander. And Enigma is the most difficult problem in the world.”

Deniston akhirnya meleleh dan menerima Turing dalam tim.

Tapi ternyata Turing ini memang bukan pribadi yang menyenangkan. Sombong, angkuh, dan merendahkan orang lain. Dia menuntut ruang kerja pribadi dan meminta teman-teman yang memperlambat kerjanya di pecat.

“If you can’t play together, then I’m afraid we can’t let you play at all,” kata bosnya kesal.

Walau demikian, Turing akhirnya berkesimpulan bahwa untuk memecahkan 159 juta kemungkinan sandi Enigma, diperlukan sebuah mesin. Menurutnya, mesin hanya bisa dikalahkan dengan mesin. Bosnya bilang itu tidak perlu. Tidak putus asa, Turing langsung menghubungi bosnya bos. Tidak tanggung-tanggung, langsung ke Perdana Mentri Winston Churchil di Downing Street.

the imitation game
Christopher, mesin yang diciptakan Turing untuk memecah sandi Enigma

Yang terjadi kemudian adalah Turing diangkat menjadi bos proyek pemecahan sandi Enigma. Hal pertama yang dilakukannya adalah memecat teman-teman yang dia anggap tidak berguna. Ia juga melakukan perekrutan orang-orang brilian dengan membuat lamaran kerja berupa puzzle di koran. Bagi yang bisa memecahkan dalam waktu tertentu, harap menghubungi alamat yang tertera. Dari sini Turing bertemu dengan Joan Clarke, seorang wanita lulusan Cambrigde yang kemudian menjadi tunangannya. Walau pertunangan ini tidak berlangsung lama, setelah Turing mengakui bahwa ia homoseksual, keduanya tetap bersahabat baik.

Menarik sekali bagaimana Turing berdedikasi untuk menyelesaikan puzzle tersulitnya ini. Banyak masalah menerpa, tapi dengan satu tekad, akhirnya sandi itu terpecahkan setelah Turing mendapat inspirasi dari seorang teman yang tidak disangka-sangka.

Sempat terjadi perdebatan ketika Turing dan timnya akhirnya bisa memecahkan sandi, tapi mereka tidak menyampaikan penemuan itu. Karena Turing tidak ingin Jerman tahu dan segera membuat mesin yang lebih canggih dari Enigma. Pekerjaan mereka selama 2 tahun bisa berakhir sia-sia.

Turing dipaksa untuk menjalani terapi hormon pada tahun 1952 setelah terbukti melakukan perbuatan homoseksual. Jika tidak, ia akan dipenjara. Inilah yang menyebabkan Turing depresi dan akhirnya memutuskan bunuh diri di tahun 1954. Selama tahun 1885-1967 ada 49 ribu homoseksual yang dihukum di Inggris.

Semasa hidupnya, Joan Clarke sempat mendatanginya dan sangat prihatin melihat keadaan Turing yang tengah menjalani terapi hormon. Ia tidak suka puzzle lagi.

“Dunia menjadi lebih baik karena kamu tidak normal. Saya pikir, terkadang hanya orang yang paling tidak terduga, yang bisa melakukan hal-hal yang diluar dugaan,” kata wanita itu meniru ucapan Turing saat membantunya masuk ke dalam Tim.

Setelah sebuah proses panjang, akhirnya di tahun 2013, Turing mendapatkan pengampunan dari Queen Elizabeth II (Posthumous Royal Pardon) mengingat jasanya dalam perang dunia 2.

Film yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch sebagai Alan Turing dan Kiera Knightley sebagai Joan Clarke, menjadi box office luar biasa. Bayangkan saja, dengan modal produksi $ 14 juta, mampu meraup pemasukan $ 228 juta dari seluruh dunia. Sebuah film yang membuka mata kita bagaimana perjalanan hidup dari seorang yang ‘tidak normal’ namun mampu berkontribusi bagi dunia. Pemecahan sandi Enigma ini oleh para sejarawan dipercaya menyebabkan perang dunia berakhir 2 tahun lebih cepat dan menyelamatkan lebih dari 14 juta jiwa. Mesin yang dibuat Turing kini berkembang menjadi apa kita kenal dengan nama Komputer sekarang.

ByJu5RxCEAAteaC

 

Sumber informasi tambahan:

Wikipedia The Imitation Game 

Full movie The Imitation Game bisa dilihat di sini.

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Mengenal Alan Turing dalam The Imitation Game

  • January 15, 2016 at 5:23 am
    Permalink

    Serasa dibawa nonton film The Imitation Game bareng teh Shanty.
    nice review teh…

    *kapan punya waktu untuk nonton, teh? Sibuk nulis, sibuk anak-swami, sibuk urusan domestik…

    aaahh…teh Shan keccee badaiii…

    Reply
    • January 16, 2016 at 6:58 am
      Permalink

      Nonton kan doping wajib sambil nyetrika Len. Pokoknya kalau saya pasang status nonton film di FB, itu artinya lagi nyetrika. Kalau nggak pasang status nonton film dalam waktu yang lama, itu artinya terjadi gunung setrikaan di rumah. Ha….ha….

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: